Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Berjumpa dengan Keluarga Raditya


__ADS_3

Setelah Kian dan Mega melakukan perjanjian hitam diatas putih keduanya pun kembali berpisah dengan urusan masing - masing.


Kian buru - buru pergi setelah mendapat kabar dari pembantu rumahnya, kalau mamanya mendadak sakit.


Mega membawa selembar formulir lomba itu lalu menggulungnya.


Mega sangat senang dengan berita ini, ia tak berhenti bersenandung. Dari arah belakang seorang gadis berteriak memanggil namanya. Tapi gadis itu tak berhasil membuat Mega menoleh. Gadis itu berlari dan mengagetkan Mega.


"Kyaak ...!" Jeritan Mega menyita perhatian mahasiswa yang berlalu lalang.


"Sorry, aku sengaja! Habisnya kamu sih aku panggil dari tadi nggak denger juga." ujar Rena.


Mega masih mengelus dada, menata detak jantungnya. "Kalau aku kena serangan jantung dan mati, kamu orang yang pertama kali aku hantui." jari telunjuknya menuding.


"Hehehe, kalau hantunya secantik kamu, aku nggak takut deh." gurau Rena.


"Eh, apa itu yang kamu bawa?" Rena melihat gulungan di tangan.


Mega menunjukkan apa yang ia bawa. "Ini formulir lomba make up artis, 2 hari lagi pendaftaran akan ditutup dan aku harus segera mendaftar."


"Keren, kamu pasti bisa menang dan membawa pulang hadiahnya. Ntar jangan lupa traktirannya ya kalau menang,"


Tertera dalam formulir lomba itu, hadiahnya nominal uang seratus juta dan kesempatan menjadi MUA di luar negeri.


"So pasti, udah dulu ya Ren, aku harus segera pergi! Kamu tahu kan sekarang aku sibuk?"


"Oke, aku juga harus pulang, soalnya ibuku nyuruh aku buat antar pesanan kue." Rena melambaikan tangan dan berlari meninggalkan area kampus.


Kedua sahabat itu berpisah. Sasa dan Loli yang mendengar percakapan mereka memulai rencana agar Mega tak bisa mengikuti lomba tersebut.


"Loli, kamu ambil formulir itu dari tangan Mega!" titah Sasa.


"Siap Kak, serahkan tugas itu padaku!" Loli bergegas menghampiri Mega yang sudah berjalan jauh meninggalkan area kampus.


Loli berteriak kencang mengaduh kesakitan, lengkingan suara Loli berhasil membuat Mega membalikkan tubuhnya untuk melihat secara langsung pemilik suara jeritan itu.


Karena Mega memiliki jiwa sosial yang tinggi, tergerak hatinya untuk menghampiri Loli yang tengah mengaduh kesakitan. Yah, meski Loli saudara tiri yang jahat Mega tak mempermasalahkan itu.


"Kamu nggak apa-apa kan, Loli? Kenapa dengan kakimu? " Mega mengulurkan tangan sebelahnya.


Loli duduk terdiam sambil memegang tumit kakinya yang tak sakit. "Gue, eum, sepertinya kaki gue terkilir,"


"Aku bantu kamu berdiri ya," Mega berusaha mengangkat Loli agar bisa berdiri.


Loli memperhatikan gulungan yang masih ada dalam genggaman Mega. Dan ... set set set. Loli berhasil merebut gulungan formulir itu.


"Wek!" ejek Loli.


Mega membelalak dan geram karena telah dikerjai. Mega berusaha merebut kembali gulungan itu. Namun Sasa segera datang dan menahan tubuh Mega dari belakang.


"Lepasin Sasa, atau kamu akan menyesal telah berurusan dengan ku!" pekik Mega.


"Hiii, takut! Tapi sorry, Gue amat benci ama Lo dan apa pun akan Gue lakukan buat Lo yang akan menyesal. Loli, lanjut!" Sasa memberi kode.


Loli tahu apa yang harus ia lakukan. Tangan nya merogoh saku tas dan mengeluarkan korek api.


Mega membelalak kedua matanya tak percaya jika kedua saudara tirinya ini begitu tega mengusik kehidupannya.

__ADS_1


Mega berteriak agar Loli tak membakar formulir itu. Loli seolah tuli tak menghiraukannya. Loli menyalakan korek api dan mulai membakar ujung formulir itu.


Mega sudah habis kesabarannya dan amarahnya sudah di ubun - ubun.


"Kalian berdua sudah kelewatan padaku, aku takkan memberikan ampun!" Mega bergerak cepat. Mulai menyikut perut Sasa lalu menginjak kakinya cukup keras.


Pegangan Sasa mengendur dan Mega berhasil lepas. Mega bisa saja melakuan itu dari tadi, tapi Mega masih cukup sabar menghadapi dua gadis manja itu.


Sasa meringis dan mengaduh sakit di bagian perut dan kaki.


Mega berlari cepat menyambar kertas di tangan Loli, menyelamatkan masa depannya.


Tak hanya Sasa yang kena amukan Mega, Loli pun sama. Sikutan di bagian perut juga berhasil mengenai Loli.


Kedua gadis manja itu terduduk lesu dan mengaduh sakit.


"Gue, aduin mama Lo!" ancam Sasa.


"Silahkan, aku nggak takut!" Mega pun pergi.


...****************...


"Mama, masih sakit kah?" Kian menghampiri Ayu yang tergeletak pucat di atas ranjang kamarnya.


Ayu yang masih terjaga mengulas senyum, "Mama nggak apa-apa kok," Ayu bangkit dan menyambut putranya.


"Loh, Mama terlihat sehat padahal bik Idah bilang Mama sakit?" Kian menatap pembantu yang kini menundukkan kepalanya. Pembantu itu merasa bersalah karena harus bohong agar tuan mudanya segera pulang.


"Kamu jangan salahkan bik Idah, mama yang meminta agar bik Idah berbohong padamu."


"Kian bukan anak kecil lagi Ma, kenapa nggak jujur saja sih kenapa meminta Kian pulang dengan cara berbohong?" Kian meninggi kan suaranya melampiaskan kekesalannya.


Kian menepis tangan Ayu. "Tidak Ma, aku tetap tidak mau menikah dengan Kikan. Pernikahan ku dengannya justru akan menyiksa hidupku. Aku sudah punya pilihan sendiri dan kami baru saja jadian."


"Tapi Kian, perusahaan papamu sedang diambang kehancuran dan keluarga Kikan lah yang bisa menolong papamu,"


"Pasti ada cara lain Ma," Kian mencoba menghibur.


"Lantas siapakah pacar barumu itu?" Ayu sedikit terkejut mendengar kabar putus dengan Kikan waktu dulu, dan Kian belum pernah bersama dengan seorang cewek lagi yang membuat Ayu penasaran dengan cewek itu.


"Ntar malam Kian akan perkenalkan dia untuk Mama."


...****************...


"Pokoknya Lo harus dateng!" Kian menemui Mega di tempat salon saat jam pulang.


"Ogah, buat apa aku ke sana lagi, mau memfitnahku lagi?" Mega menolak.


"Eh, mamaku sakit, dan mama butuh Lo sekarang."


"Eh, Kian yang sok ganteng, orang sakit itu butuh nya obat dan obat itu adanya di rumah sakit, kok butuh aku,"


"Mega, plis ..." Kian berlutut di depan kaki Mega dan itu menyita semua perhatian karyawan lain.


"Bangun Kian, malu - maluin saja kamu!"


"Gue nggak akan bangun sebelum Lo mau dateng ke rumah gue malam ini!"

__ADS_1


Paksaan Kian akhirnya membuahkan hasil. Mega mau juga.


Setelah pulang dari salon Mega langsung ikut masuk ke dalam mobil Kian.


Selama perjalanan menuju restoran bersama keluarga Raditya, Kian dan Mega tidak banyak bicara. Entah mengapa lidah Kian terasa terkunci.


Gila, si jelek ini cantik banget sekarang. Apalagi pakai baju warna biru langit, nambah cantiknya.


Salah satu kalimat yang ingin Kian sampaikan.


Saat tiba di restoran barulah Mega membuka suara. "Loh, kita kok belok ke sini, bukanya rumah kamu masih jauh?"


"Iya, Gue ingin ngajak makan Lo dulu, " Kian buru - buru turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu Mega.


Mega sudah dulu membuka pintu disaat Kian akan menarik handel pintu.


"Nggak usah, aku bisa buka pintu sendiri." ujar Mega terdengar menegur.


Kian mengangkat kedua tangannya.


Mega berjalan lebih dulu.


"Gue jamin semua orang yang kenal sama Lo bakal pangling."


"Kenapa?" Mega menoleh tepat saat Kian berjalan sejajar dengannya.


"Lo cantik malam ini." Kian buru - buru pergi mendahului Mega. Meski Kian mengucapkan itu dengan nada berbisik, tapi telinga Mega mampu menangkap gelombang suara itu.


Mega hanya acuh dan mempercepat langkahnya.


"Ma, Pa, kenalin ini Mega Elias pacar Kian yang baru." ujar Kian membuat semua orang di meja 44 menoleh ke arahnya.


Ayu begitu terpukau dengan sosok Mega apa lagi nama itu begitu familiar dengannya. Ayu sangat senang bisa bertemu dengan Mega lagi.


Sementara Raditya memicingkan sebelah mata saat melihat kedatangan Mega. Ia mengakui Mega cukup cantik, tapi apakah ia cukup kaya dan bisa menjamin kebahagian putra nya.


Mega mengulurkan tangan kepada orang tua Kian.


Rupanya Raditya tak mengenali Mega yang sekarang, kalau dia adalah pembantunya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu?"


Mega tercengang dan menoleh ke arah Kian. Keduanya pun saling pandang.


Ayu tahu jika suaminya akan marah jika mengenali Mega adalah dulunya pembantu di rumah ini.


Di sana tak hanya orang tua Kian yang ada di restoran MD, tapi juga ada Kikan.


"Loh, Kian! Sejak kapan kamu berpacaran dengan si jelek ini!" maki Kikan tak terima jika Kian memilih wanita lain ketimbang dirinya.


"Dia punya nama, Mega!" Kian menegaskan.


Kikan tak terima dengan semua ini, ia bangkit dan menarik tangan Kian namun Kian tetap tak mau pindah dari posisinya berdiri di samping Mega.


Kikan menyiram Mega dengan segelas minuman dingin milik nya. "Rasakan ini, dasar jelek!"


Sikap Kikan membuat semua orang yang ada memperhatikan ke arahnya.

__ADS_1


Mega tak tinggal diam. Ia melirik di meja sebelahnya ada baskom berisi air kobokan.


"Jangan panggil aku jelek!" Mega membalas Kikan dengan menyiramkan air bekas kobokan persis seperti apa yang Kikan lakukan padanya.


__ADS_2