Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Bab 34


__ADS_3

Egan sudah tak sabar lagi menunggu balasan pesan dari seseorang yang kini sukses membuatnya tak bisa tidur. Ia masih betah memandangi layar ponselnya meski jam sudah menunjuk pukul 11 malam. Kadang tengkurap, terlentang dan terakhir Egan memposisikan tubuhnya duduk bersila. Sungguh malam ini ia seperti anak kecil yang sedang menunggu mainannya datang.


Satu notif yang masuk kini membuat Egan bisa tersenyum lebar, ternyata itu balasan pesan dari Mega.


Sebelum Mega membalas pesan, Egan terlebih dahulu yang mengirim pesan. Menanyakan jadwal Mega besok. Meski Mega sulit sekali diajak keluar, tapi Egan senantiasa sabar menunggu waktu yang senggang.


[Baiklah. Kita bertemu di resto besok siang.] Balasan pesan dari Mega. Sebenarnya Mega sangat sibuk besok, tapi ya demi teman baru sesekali saja menemani makan siang.


Mega juga sedikit pusing memikirkan perasaannya sekarang, apakah ia sendiri juga sudah jatuh hati pada Kian. Keseringan bersentuhan fisik dengan Kian membuat aliran - aliran listrik di tubuhnya kembali terhubung.


Meski Mega mengingkari untuk berkata tidak, tapi hatinya berkata lain, seolah tidak mau diajak berkompromi untuk menolak Kian.


Kian adalah pria baik yang sudah banyak berubah, tidak seperti dulu yang suka mengejek dan membulinya. Lantas bagaimana dengan teman baru yang terakhir ini sering mengirimi pesan? Mega tak terlalu menanggapi lebih, ia hanya mengganggap sebagai teman saja meskipun pria itu juga masuk kategori tampan. Sebelas dua belas lah dengan Kian, tapi banyak Kian. He he he 😁😁😁.


[Oke.] Balasan dari Egan untuk Mega.


Senyum Egan mengembang lebar, lalu ia menarik tangannya dan berteriak, "Yes!"


Sambil melompat ke udara beberapa kali di atas kasur.


Suara pintu yang terbuka lebar membuat Egan menghentikan aksinya, Egan menoleh dan dilihat adiknya sedang memandangnya dengan penuh tanya.


"Apa yang sedang Kak Egan lakukan? Teriakanmu sampai terdengar dari luar." tanya Kian sambil melipat tangan di depan dada.


Egan turun dari kasur dan menarik tangan Kian, "Kemarilah!"


Kian menurut saja saat kakaknya menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Kian, eum, mungkin aku belum pernah mengalami hal sebahagia ini." ujar Egan mencoba mengontrol rasa bahagianya.


Kian mengangkat alisnya, tak bisa menduga hal apa yang membuat Egan sebahagia ini.


Egan melanjutkan kalimatnya yang terjeda, "Besok aku mau ketemuan sama cewek yang udah nolong aku."


"Wah, bagus itu! Kak Egan mau nembak dia?"


"Kita baru saja kenal, masa langsung pake acara nembak - menembak, enggak lah! "

__ADS_1


"Kalau cewek itu suka sama Kakak, buat apa nunggu lama - lama, langsung sikat aja!" ujar Kian memberi saran. Kian memaksakan senyum dan itu terlihat oleh Egan.


"Idemu boleh juga." Egan melihat kesedihan di wajah Kian.


"Kamu kenapa?"


"Eum, enggak kok, aku capek, aku balik ke kamar dulu ya," Kian beranjak lalu ke luar kamar, tak lupa pula menutup pintu.


"Sepertinya Kian sedang ada masalah, pasti dengan pacar nya yang kata papa tak bermoral itu," Gumam Egan.


Sejauh ini Egan belum tahu kalau pacar Kian yang diangap tak bermoral itu adalah Mega, cewek yang juga ia kagumi.


Egan menyimpan ponselnya di samping bantal. Barulah demikian Egan bisa tidur pulas, menyambangi alam mimpi.


Kian hendak memasuki dapur untuk mengambil air minim, langkahnya terjeda saat seseorang duduk sambil minum di dapur juga.


Kian malas untuk bertemu dan membalikkan badan hendak melangkah pergi.


"Kian tunggu!" panggil Raditya seraya berdiri setelah tahu yang datang adalah Kian.


Raditya berjalan mendekati Kian. "Papa tahu kamu sangat membenci Papa, tapi ini tidak boleh berlarut - larut. Terserah kamu mempercayai fakta itu atau tidak, yang jelas papa tidak akan memperpanjang masalah ini. Jika saja mama kamu tahu yang sebenarnya, kondisinya akan memburuk dan papa tidak mau itu terjadi. Tante Sendy adalah masa lalu papa yang sudah terkubur, dan kewajiban papa adalah membesarkan kamu sampai sekarang."


Kian memang benar masih mendengarkan tapi ia sama sekali tak merespon bahkan tak menoleh dan memilih pergi begitu saja.


Raditya serba salah sekarang, haruskah ia memberi tahu kebenaran ini pada Ayu ataukah membiarkan seperti ini saja?


Raditya salah jika Ayu tak tahu apa - apa dan menganggapnya lemah. Ayu yang tadinya mencari keberadaan Raditya yang tak ada di kamar, kini berdiri dalam ruang yang gelap hingga Raditya tak menyadari keberadaan Ayu.


"Fakta apa yang tersembunyi? Sendy masa lalu mas Raditya? Apa maksud semua ini?" Ayu sempat merasakan nyeri di ulu hatinya saat memikirkan ini tapi ia sebisa mungkin menahannya agar persembunyiannya tak diketahui Raditya.


Raditya berbalik hendak mematikan lampu dapur, seketika itu juga Ayu bergegas kembali ke kamar dan pura - pura tidur lagi.


.


Keesokan paginya, Egan sudah terlihat rapi dan kini sedang duduk di ruang makan. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan Raditya, bakalnya nanti Egan lah yang akan menjadi penerus perusahaan. Secara Egan anak pertama dan pewaris asli.


Tak lama kemudian Kian ikut bergabung juga, di susul Ayu dan Raditya.

__ADS_1


Ayu tak menunjukkan reaksi aneh, dan bersikap sewajarnya.


Berbeda dengan Kian, terlihat agak kusut dan berantakan.


"Kamu rapi banget, Egan?" sapa Ayu ketika melihat penampilan Egan yang berbeda dari biasanya.


"Iya Ma, Egan hari ini mau bergabung dengan perusahaan papa." sahut Egan.


"Benar Pa?" Ayu menoleh ke arah Raditya.


"Yah, dari pada aset kita diambil orang lain ya mending bekerja sama dengan papa saja." sahut Raditya.


Ayu memperhatikan Kian yang tak bersemangat sekali. Meski Ayu tak tahu pasti masalahnya, Ayu mencoba untuk menghibur Kian.


"Nah Kian, kamu bagaimana kapan wisuda?"


"Belum ada jadwal, Ma," sahut Kian datar.


"Ya dari pada nganggur mending ikut kakak kamu kerja, selain bisa mengisi luang dapet pengalaman juga kan! Bagaimana Pa?" Ayu menyikut lengan Raditya yang sepertinya tak langsung merespon.


"Eum, kalau papa nggak memaksa, suka - suka dia maunya bagaimana ?" sahut Raditya yang memang merasa kikuk jika langsung berhadapan dengan Kian yang dalam kondisi dingin seperti ini.


"Bagaimana Kian?" tanya Ayu yang melihat Kian sepertinya tak tertarik sama sekali.


"Kian pikir - pikir dulu nanti." sahutnya datar.


Kemudian keheningan tercipta setelah Bik Atun menyajikan menu sarapan.


Kian mengambil nasi dengan porsi sedikit lalu mempercepat sarapannya. Seperempat jam belum ada Kian sudah selesai makan lalu beranjak dari sana menuju kamar.


Raditya dan Ayu hanya bisa diam. Masing - masing larut dalam pikiran tentang fakta yang sebenarnya dan status Sendy.


Egan dan Raditya pergi bersama ke kantor.


Setelah suasana sepi, Ayu mengambil tas dan pergi ke luar tanpa sepengetahuan orang rumah.


"Mama pergi ke mana?" gumam Kian dari balik koridor kamarnya yang tanpa sengaja menatap ke arah luar.

__ADS_1


__ADS_2