Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Penolong


__ADS_3

Dulunya saat Mega bekerja sebagai pembantu di keluarga Raditya, Raditya hanya sekali saja bertemu Mega dan itu pun tak pernah bertegur sapa. Jadinya Raditya tak mengenali wajah Mega yang semakin cantik seperti sekarang.


Raditya terhenyak dan segera berdiri begitu pun dengan Ayu.


"Hei kamu, bersikaplah sopan. Dia adalah calon istri Kian!" Raditya memberi tahu. Tapi Mega seolah tuli.


Kikan menjerit histeris. Rambut dan penampilannya berantakan. "Dasar cewek gila!" umpatnya, tangannya terulur hendak mencakar wajah Mega, segera mungkin Mega menghindar dari kuku - kuku tajam milik Kikan.


Kian buru-buru menghampiri Mega, khawatir jika Kikan mencelakai Mega.


"Impas bukan? Aku tegaskan sekali lagi padamu, NONA KIKAN, berhati - hatilah kamu dengan mulut mu karena pepatah bilang mulutmu harimau mu. Mungkin orang lain tak bisa membalas apa pun yang kamu lakukan terhadap mereka yang kamu tindas, tapi salah jika kamu mencoba menindas ku. Karena aku bukanlah wanita lemah yang hanya diam saja disaat mendapat perlakuan seperti ini. Aku akan membalas setiap apa pun bentuk kekerasan baik itu fisik atau pun bukan, dan itu karena aku adalah MEGA ELIAS."


Mega langsung balik kanan dan pergi. Kian berusaha mengejar Mega namun langkahnya terhenti, Raditya mencekal Kian. "Gadis seperti itu yang ingin kamu kejar, tidak berpendidikan sama sekali, putuskan dia sekarang!"


"Kikan jauh lebih sempurna dari pacarmu itu!" imbuh Raditya.


"Tidak Pa, Kian akan tetap pacaran sama Mega. Kian tidak mau ditekan terus seperti ini. Kian juga punya pilihan Pa. Jika Papa mau menyelamatkan perusahaan kenapa tidak Papa saja yang tunangan dengan Kikan."


Kian menepis tangan Raditya dan mengejar Mega.


Ayu hanya mampu membelalakkan mata mendengar ucapan putra nya itu.


"Dasar sinting!" Raditya mengepalkan tangan. Batinnya akan mencari cara agar Kian bersatu dengan Kikan.


Ayu menghampiri Kikan dan membantunya membersihkan diri.


Kian berhasil menghadang taksi yang dihentikan oleh Mega. Taksi itu pun pergi.


"Ga, Lo nggak apa - apa kan?" tanya Kian dengan penuh kekhawatiran.


"Dengan keadaan seperti ini kamu masih bertanya? Hei, kamu buta atau apa! Kamu tak perlu mengkhawatirkan aku seperti ini. Aku kuat. Lebih baik kamu tetap berada di tempatmu sana bersama calon ISTRI MU." Mega menepis tangan Kikan yang mencoba menyingkirkan anak rambut di pipinya.


"Gue nggak mau nikah sama dia. Gue nggak nyangka jika akan begini jadinya. Sorry, Gue akan antar Lo pulang. Tapi sebelumnya kita makan dulu yuk, Gue laper banget nih!" Kian meringis menahan perutnya yang perih.


Mega tak bisa egois jika menyangkut rasa sosial. Dan benar saja, Kian sudah ada di salon sejak pukul 5 sore tadi. Sekarang pukul 8 malam, hampir lewat jam makan malam. Mega mengangguk patuh. Untuk urusan perut, ia tak menolak. Jujur ia juga lapar.


Kian mengajak Mega makan di tempat lesehan, dan itu tak masalah sekalian meluruskan persendian di kaki. Selama makan, Mega tak membahas masalah di restoran tadi. Selesai makan, Kian mengantar Mega pulang.


"Sekali lagi Gue minta maaf, gara - gara gue, Lo jadi kayak gini!"

__ADS_1


Mega menyebik, "Nggak masalah!" kemudian Mega buru - buru masuk ke dalam rumah. Kian hendak menghentikan langkahnya, ada sesuatu yang ingin ia ucapkan tapi tertahan di ujung tenggorokan.


Di dalam rumah Mega.


"Bagus ya, sekarang keluyuran nggak jelas! Pukul berapa ini! Seharusnya kamu sudah berada di rumah siang tadi." omel Sonya sambil berkacak pinggang.


Mega tak menghiraukan dan melewati wanita itu begitu saja tanpa melihat ke arah nya.


"Mega! Mama sedang bicara denganmu!"


"Oh, bicaralah, aku akan mendengarnya. Tapi sebaiknya yang penting saja. Aku capek dan ingin segera tidur." sahut Mega, memutar bola matanya malas.


Sonya mengangkat kedua alisnya dan mulai membuka mulutnya lagi.


Mega ingin sekali menyumbat lubang telinganya setiap wanita itu bicara.


"Sasa dan Loli bilang, kamu telah memukul mereka? Mau jadi apa kamu, preman kampus atau preman jalanan, hah? Sia - sia aku memelihara mu di rumah ini jika pekerjaan kamu hanya menyusahkan orang lain saja."


"Menyusahkan mana yang Mama maksudkan, bukankah aku setiap hari makan dengan uangku sendiri dan mencuci bajuku sendiri. Jadi, bagian mana yang menyusahkan?"


"Kamu mulai kurang ajar ya, bukannya mengucapkan terimakasih malah menyalahkan?"


"Sudah, cukup atau masih ada lagi yang ingin Mama katakan?" Mega mengorek telinganya dengan jari kelingking.


Dengan secepat kilat Mega menangkis tangan Sonya dan memutarnya ke belakang punggung. Sonya mengaduh kesakitan.


"Jika kamu merasa rugi memeliharaku, kenapa bukan kamu dan kedua anakmu itu yang pergi dari rumahku? Jangan pernah mengatur atau pun mengusik kehidupanku. Jika saja kedua putrimu yang sok cantik itu tidak memulai duluan tentu saja aku tidak akan bertindak kasar terhadap mereka."


Mega melepas tangan Sonya dan pergi menuju kamarnya.


Sonya mengusap bekas pelintir tadi. "Anak itu semakin susah dikendalikan. Jika begini terus aku bisa di depak dari rumah ini. Tidak. Aku tidak ingin pergi sebelum membawa semua harta ayahnya."


Keesokan harinya.


Rena Dan Mega tengah berjalan menuju perpustakaan. Mereka melihat Leni ditindas oleh Kikan di belakang tempat parkir.


"Hentikan!" teriak Mega yang melihat Kikan tengah mencoret spidol ke wajah Leni. Gadis berkacamata yang kini terlihat acak - acakan.


Kikan dan kedua geng nya menghentikan aksinya dan menoleh bersamaan ke arah Mega.

__ADS_1


"Apa, Lo mau membela cewek cupu ini, mau jadi pahlawan Lo?" Kikan mendekati Mega, mendorong dada dengan ujung jarinya.


Mega menepis jari itu. "Semua apa pun yang menyangkut penindasan, aku akan maju sebagai orang nomor satu yang akan menghentikanmu."


Kikan menepuk tangannya sambil tersenyum. "Bagus. Mungkin di tempat lain aku tidak bisa bergerak bebas. Tapi ini adalah kekuasaan ku, kamu tidak akan menang melawanku."


Mega tersenyum tipis. "Sangat mudah untuk memberimu pelajaran NONA!"


Bela dan Dea maju menyerang Mega. Rupanya anak buah Kikan jago silat juga.


Tapi tak masalah bagi Mega, siapa pun lawannya yang salah harus tetap diberi pelajaran.


Dea dan Bela sudah kewalahan menyerang, namun Mega hanya menghindar saja.


Kali ini giliran Mega yang menyerang. Dengan hanya sekali pukul dan tendang saja, kedua lawannya jatuh tersungkur.


Dea dan Bela mengaduh kesakitan, mereka bangkit dan sembunyi di belakang Kikan.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu." setelah mengucapkan itu, Kikan and the geng pergi.


Leni dibantu Mega dan Rena untuk berdiri.


"Lain kali, jangan pernah mau ditindas, sekali - kali lawanlah!" Mega mengambil kacamata Leni yang jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rena mengangguk membenarkan ucapan Mega. "Benar, kamu harus menjadi wanita kuat seperti Mega sekarang!"


Leni mendorong kacamatanya dengan ujung jari. "Terimakasih, tapi aku tidak punya kekuatan untuk melawan mereka."


Mega menggeleng samar. "Itu karena penampilanmu. Mari kita coba dengan langkah pertama."


"Apa itu?" Leni menatap Mega.


"Iya, langkah pertama apa yang kamu maksud?" tanya Rena.


Mega mengajak kedua gadis itu ke tempat kerjanya.


"Salon CANTIKA?" Leni mengedarkan pandang setelah memasuki area salon.


"Kamu mengajak kita ke sini buat nungguin kamu bekerja?" protes Rena.

__ADS_1


"Eh, siapa bilang, justru ini langkah pertama kita,"


"Leni, coba kamu lepas kacamata mu dulu, setelah itu duduklah di sini, aku akan mulai menyulap mu menjadi gadis cantik."


__ADS_2