
Saat di dalam mobil di area cafe itu.
"Perasaan sebelum aku berangkat ke kampus tadi nyonya Raditya baik - baik saja, kok sekarang mendadak sakit?" tanya Mega dengan ekspresinya yang penasaran.
Kian menggaruk kepalanya yang seolah gatal. "Eum, lo lihat sendiri aja lah!" Kian menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Mega dan Kian diam saja tanpa ada obrolan. Suara pesan masuk di ponsel Mega membuat Mega mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Kian bertanya. "Pesan dari siapa?"
"Liam."
"Apa katanya?"
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Hah! Kalau gue pilih mau tahu banget?"
"5 juta."
"Gila lo, kalau mau tau aja?"
"Sama, 5 juta."
"Hah, dasar lo ya, gitu aja nggak boleh tahu,"
"Emang!" Mega kembali menatap layar ponselnya dan mengetik balasan untuk Liam. Kian yang merasa diabaikan pun berdecak kesal.
Setibanya di rumah, Kian turun lebih dulu dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu.
Mega yang merasa Kian bersikap berlebihan padanya menatap tak suka. "Aku bisa buka pintu sendiri, lain kali kamu tak perlu repot - repot begini."
Kian melongo mendapati sikap Mega yang bahkan tak tersentuh dengan kebaikannya. Wanita dengan sepatu flatshoes itu berjalan meninggalkan Kian yang mematung. Merasa diabaikan, Kian segera menutup pintu dan menyusul langkah Mega yang panjang.
Sesampainya di dalam rumah. Mega mendapati nyonya Raditya tengah menikmati secangkir teh melati. Mega mengucapkan salam dan langsung bicara pada intinya.
"Selamat siang Nyonya, ada yang bisa saya lakukan? Mungkin Nyonya perlu pijatan di bagian bahu atau kaki?" tawar Mega yang sudah mengganggap wanita paruh baya itu seperti ibu yang melahirkan nya, karena sikap keibuan dan kebaikan ibu Kian mampu meneduhkan Mega setiap kali ia memandangnya.
Terkadang Mega begitu rindu dengan ibu kandungnya, hanya dengan berbuat baik pada nyonya Raditya rasa rindu nya perlahan menghilang.
"Mega, kamu bisa pijat juga?"
"Ah, tidak terlalu juga, tapi saya jamin pijatan saya enak kok!"
Nyonya Raditya menepuk bahu, Mega pun menyingsing kan lengan bajunya dan segera memijat.
Kian melewati mereka hendak menaiki tangga.
"Kamu kembali lagi ke sini? Aku pikir kuliah kamu sampai sore,"
__ADS_1
"Loh, kata tuan muda Kian, Nyonya sakit,"
"Kian! Kamu doain mama cepat mati, hah!" nyonya Raditya berteriak hingga membuat tubuh Kian berbalik.
Sambil menggaruk kepalanya yang terasa tak gatal. "Eum, anu, itu, e... tadi Kian lihat mama sakit, pas mama lagi berbaring di sofa,"
"Dasar anak nakal! Mama sehat dikatain sakit, mama emang sengaja rebahan sambil nunggu balasan WA dari papa."
"Loh, emang papa nggak ada di rumah?"
"Papa sudah berangkat ke bandara satu jam yang lalu."
"Kemana papa pergi?"
"Singapura. Ada bisnis yang harus dipantau secara langsung oleh papa kamu sendiri."
"Oh, ya udah, Ma, Kian ke kamar dulu mau istirahat. Capek banget." Kian berlalu meninggalkan dua wanita yang sedang asyik mengobrol.
Nyonya Raditya dan Mega asyik membicarakan tentang acara televisi yang mereka tonton. Tak terasa pijatan Mega membuat nyonya Raditya tertidur pulas.
Mega berjalan jinjit meninggalkan ruang tamu agar tak mengganggu majikannya.
Sekarang sudah pukul 1 siang, Mega harus segera pulang, perut nya keroncongan minta diisi. Di cafe tadi, ia belum sempat memesan makanan karena Kian terlanjur datang dan mengajaknya pergi.
Hari semakin panas terlebih make up yang Mega gunakan tak bisa terlalu lama di bawah sinar matahari. Akhirnya Mega menggunakan uang sakunya untuk menghentikan taksi.
"Mega, bisa kita bicara dulu, sejak sepulang dari acara reuni kita belum bertegur sapa sama sekali, seolah kamu menghindari mama." ujar Sonya.
"Mama mau bicara apa, Mega capek mau istirahat." sebenarnya Mega enggan bicara dengan wanita yang sok peduli terhadapnya ini.
"Sasa dan Loli bilang, kamu sangat pintar bermake up. Kok bisa, dari siapa kamu belajar? Terus uang dari mana kamu bisa beli make up yang pasti sangat mahal harganya itu."
"Hedeh, si mak lampir ini kepo juga. Aku kerjai ah," batin Mega.
"Mama mau belajar?" Mega langsung bisa menangkap arah pembicaraan yang basa - basi tadi.
Kedua mata Sonya langsung berbinar. Ternyata si jelek ini bisa tahu isi hatinya. batin Sonya.
"Tapi prosesnya tak semudah yang Mama bayangkan, kita harus memiliki jari emas terlebih dahulu. Jari emas yang aku maksud adalah ketrampilan bermake up yang tidak semua orang bisa memilikinya."
"Katakan saja apa yang harus mama lakukan agar bisa bermake up seperti kamu." Sonya tampak antusias sekali.
Sudut bibir Mega tertarik ke atas, si lampir sudah masuk perangkap. Mega tak segan mengambil tangan Sonya dan mengangkatnya ke udara memperhatikan dengan seksama.
"Tangan Mama terlalu lembek, butuh latihan agar trampil saat memegang peralatan make up nanti." Mega membandingkan dengan tangannya.
"Masa sih, pantas hasil riasan mama nggak sebagus punyamu. Tapi, setelah dilihat tangan kamu juga biasa saja."
__ADS_1
"Eh, Mama jangan salah kira, ini jari emas loh. Sekali memegang make up, aku langsung bisa menyulap wajah siapa saja jadi cantik. Mama mau bukti."
Sonya mengangguk harapannya terwujud juga, "Iya, mama mau!"
"Baiklah, pertama aku akan merias wajah Mama seperti artis korea. Setelah itu aku akan mengajari Mama mendapatkan jari emas seperti punyaku."
Lagi, Sonya mengangguk antusias. Ia yakin setelah berguru pada si jelek akan bisa merias wajah sendiri dan akan menunjukkan hasil karya pada teman sosialitanya.
Mega pamit untuk makan siang setelahnya mempersiapkan peralatan make up. Sonya sudah tidak sabar untuk dipermak wajah kerutnya.
Dan benar saja, jari emas Mega menari di setiap sisi dari wajah Sonya dalam hitungan kurang dari sejam.
Kebetulan Sasa dan Loli sepanjang Mega bekerja tak keluar kamar, mereka tengah tidur siang di udara yang cukup panas ini.
Sonya membuka mata dan melihat pantulan wajah nya di depan cermin yang Mega tunjukkan.
"Mega, tolong kamu ambil gambar mama! Mama akan memosting di instragam." Sonya menyerah kan ponsel ke Mega, Mega menerimanya dengan malas.
Beberapa jepretan dari berbagai gaya Sonya sudah Mega ambil.
"Bagus nggak?" Sonya menerima ponselnya kembali.
"Yah, bagus," sahut Mega dengan sedikit mencibir.
Setelah sekian menit berkutat dengan ponselnya, Sonya meminta Mega agar mengajarkan cara bermake up yang bagus.
Pertama Mega menyuruh Sonya untuk berolah raga tangan dulu seperti menyapu atau membersihkan rumah lainnya.
Sonya semangat sekali dan bergegas melakukan apa yang dikatakan Mega.
Ketika Sonya membersihkan toilet, Sasa menegurnya.
"Mama ngapain?"
"Eh, Sasa, kamu lihat nggak ada yang berubah dari wajah mama?"
"Wah, make up Mama bagus banget! Mama kelihatan lebih muda dan cantik, mirip artis korea!"
"Iya, si jelek yang membuat wajah mama jadi secantik ini."
"Hah, Mega, kok bisa?"
"Iya, dan sekarang mama lagi latihan buat pemanasan otot tangan. Agar bisa make up wajah sendiri seperti si jelek itu."
"Pemanasan? Mana ada sih Ma, yang ada Mama dikerjai sama dia."
Sonya melempar sikat toilet, "Hah, kurang ajar anak itu, awas nanti mama kasih pelajaran dia!"
__ADS_1