Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Episode 40


__ADS_3

"Kamu ingin mengakhiri hubungan ini di saat aku mulai menyukaimu." ujar Mega dalam diam. Mega menunduk merasakan hatinya yang mulai berdenyut. Meski matanya terasa panas tapi ia berusaha agar rasa panas itu tidak berair.


"Bahkan kamu tidak menyangkal sama sekali, dan itu artinya benar." sambung Kian seraya memperhatikan raut wajah Mega yang terlihat biasa saja.


Mega tak sanggup untuk merasakan sakit hati yang kedua kali, ia harus memperjuangkan sesuatu yang bisa disebut dengan cinta ini. Mega mendongak menatap Kian dengan intens, ingin ia berucap bahwa kali ini ia mulai menyukai dia. Tapi, sangat sulit untuk merangkai tiga kata itu.


"Dulu, saat hubungan kita berjalan sebagai status palsu aku tak merasakan rasa apapun terhadapmu. Lambat laun hubungan itu terus berjalan dengan berbagai hal yang kita lewati bersama. Aku mulai merasakan ada getaran di hati saat kita bersama. Mulai merasakan resah jika kita tak bertemu. Merasakan ... rindu juga. Malu, mungkin itu salah satu yang aku alami dan aku tutupi untuk menyampaikan rasa ini padamu." ujar Mega mencoba menjelaskan perasaannya.


Kian mendengar jelas setiap kata yang diucapkan Mega, tapi hatinya seolah tertutup untuk menerima penuturan itu. Terlambat sudah untuk mengakui perasaannya. Mengapa baru sekarang ia mengatakannya?


Kian menunggu kalimat Mega yang sempat terjeda.


"Untuk pertemuan ku dengan pria yang kamu lihat di restoran itu, seharusnya kamu langsung menegurku. Dengan begitu kamu tahu yang sebenarnya bahwa aku dengan pria itu hanya sebatas teman makan biasa, tidak lebih." ujar Mega dengan berkaca - kaca berharap Kian percaya dengan ucapannya itu.


"Teman biasa? Penjelasanmu malah justru membuat hatiku semakin sakit. Dulu kamu juga mengatakan hal yang demikian kan sewaktu kita menjalani hubungan yang busyet ini." Ucap Kian mulai terbawa emosi. Wajahnya menegang.


"Lalu aku harus menerangkan yang seperti apa padamu? Aku dan dia memang tak ada hubungan apa pun!" Mega meninggikan volume suara nya.


"Cukup! Aku tak ingin mendengar penjelasan darimu lagi. Mulai sekarang hubungan kita berakhir." ujar Kian setelah mengatakan itu ia memalingkan muka. Ia tak sanggup menahan air matanya yang perlahan mulai menitik. Tangannya terangkat untuk menghapus sudut matanya.


Mega tercengang tak percaya mendengar hal itu. Haruskah kisah cintanya kandas seperti ini hanya sebuah kesalah pahaman?


Kian mengambil ponselnya lalu menghubungi Egan.


"Kak, buka pintu kamarku sekarang, aku sudah tidak betah berada di kamar!" katanya dengan lantang begitu panggilan itu terhubung.


Egan belum sempat bertanya panggilan pun sudah terputus oleh Kian.


Egan menaiki tangga. Ia merasakan aura kurang baik saat tiba di muka pintu kamar Kian.


"Semoga hubungan mereka baik - baik saja!" Gumam Egan seraya membuka pintu.


Begitu pintu itu terbuka lebar, Egan melihat suasana menegangkan di kamar Kian.


Kian keluar dengan bersungut - sungut. Bahkan kehadiran kakaknya tak dianggapnya ada. Egan yang berdiri di muka pintu itu hanya merasakan kalau adiknya sedang marah.


Detik berikutnya di susul Mega yang keluar kamar. Hal ini pun terjadi juga, Mega tak menghiraukan adanya Egan.


Egan memberanikan diri menyapa Mega.


"Mega, tunggu!"


Merasa namanya dipanggil, Mega pun menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Egan menghampiri Mega. "Kamu sama Kian gimana?"


"Hubungan kami sudah berakhir." sahut Mega lalu melangkahkan kakinya lagi.


Egan tak percaya lalu mengejar Mega. "Kamu diam saja dan nggak mempertahankan hubungan kalian?"


"Dia terlalu keras kepala untuk mendengar apa pun dari mulutku." ujar Mega kemudian pergi.


Egan merasa bersalah dalam hal ini. Ia harus melakukan sesuatu agar hubungan Mega dan Kian kembali terjalin.


.


"Loh, Kian! Kamu baik - baik saja kan?" Ayu menempelkan telapak tangannya ke dahi Kian. "Tidak demam," Gumam Ayu.


Kian diam saja saat mamanya menanyai keadaannya.


"Mega!" seru Ayu yang melihat Mega menuruti tangga menyusul Kian.


"Tante, aku langsung pulang saja. Mendadak aku nggak enak badan."


"Kamu sakit?"


"Sepertinya begitu." Mega menekan keningnya.


"Tidak Tante. Aku bisa pulang sendiri." Setelah pamit, Mega bergegas pergi tanpa berpamitan pada Kian yang memunggunginya.


Ayu mengajak Kian makan. Ia menahan pertanyaan pada Kian, apa yang terjadi pada mereka berdua. Egan datang dengan penampilan aslinya. Ia ikut bergabung juga. Disusul Raditya yang pulang dari joging.


"Ma, besok aku akan kembali ke luar negeri." ucap Egan ketika selesai makan.


Ayu menoleh kaget, "Kenapa secepat itu?"


"Bisnis Egan kembali ramai di sana, sangat disayangkan jika ditinggal terlalu lama."


Tak hanya Ayu yang kaget, Kian dan Raditya pun sama kagetnya.


"Aku pikir Kak Egan nggak akan balik lagi ke sana. Secara di Indonesia ada gadis yang sedang Kak Egan incar." ucap Kian.


Egan tersenyum tipis, "Tidak. Gadis itu kurang cocok untukku. Dia ternyata sudah punya kekasih. Dan aku tidak mau mengganggu hubungan dia dengan kekasihnya."


.


Keesokan paginya. Kian sudah tak mendapati Egan di kamar. Sepucuk surat berada di meja kerja nya.

__ADS_1


Kian, maaf kan aku.


Aku pergi tanpa pamit padamu.


Jika kamu menemukan surat ini, aku mungkin sudah berada di pesawat.


Sebenarnya gadis yang aku ceritakan padamu adalah gadis yang sama dengan gadis yang menjengukmu saat sakit.


Aku baru tahu kalau gadis itu adalah pacarmu.


Sebenarnya, dia sudah menolakku saat aku menembaknya tempo hari.


Jangan salahkan dia, dia gadis yang baik. Ku mohon pertahankan hubunganmu dengan dia.


Egan.


Kian menatap surat itu seketika itu juga bayangan Mega muncul.


Kian memang harus meluruskan masalah ini. Sebenernya dia tak sengaja mengucapkan kata perpisahan kemarin.


Kian segera ke luar kamar melewati Ayu yang sedang menata makanan.


Kian mengabaikan panggilan Ayu dan bergegas pergi menaiki motornya menuju rumah Mega.


Mega, maafkan aku. Aku sungguh masih mengharapkan hubungan kita bisa diperbaiki. Ini salahku yang terlalu egois.


Kian mengebut melewati berbagai jenis pengendara termasuk anak sekolah juga.


Tanpa sadar dari arah berlawanan seorang ibu - ibu menikung jalan dan terjadilah tabrakan. Kian mengerem mendadak.


Untungnya ibu - ibu itu tak terluka parah dan perkara itu bisa diatasi seketika di tempat kejadian.


Kian mengabaikan rasa sakit di bagian lengan kirinya. Ia menyalakan lagi mesin motornya menuju rumah Mega yang tinggal sedikit lagi sampai.


"Mega!" sapa Kian begitu pintu rumah Mega terbuka lebar.


Mega yang sedikit pusing tak percaya dengan kedatangan Kian yang seolah halusinasi baginya.


"Kian?"


Kian tersenyum lebar, ternyata dia masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Mega lagi.


Detik berikutnya, Kian tak sanggup menopang tubuhnya. Ia ambruk tepat di dekapan Mega.

__ADS_1


"Kian! Kamu kenapa ?" panik Mega.


__ADS_2