
Mega sampai di rumah sekitar pukul 10 lebih lima belas menit, Kian berjalan mengiringi Mega, mengantarnya dan memastikan Mega masuk ke dalam rumah dengan aman.
"Aku tidak apa-apa, kamu bisa pulang sekarang!" kini Mega berada di muka pintu lalu berbalik menatap Kian.
"Kamu tak ingin menawari ku secangkir kopi?"
"Kian, ini sudah malam!" Sentak Mega sambil melotot. Kian terkekeh melihat reaksi Mega seperti itu.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan pergi sebelum aku melihat kamu masuk ke dalam rumah." Kian berdiri di belakang Mega.
"Ya Ampun Kian, aku bukan anak kecil lagi sekarang, ini juga sepi nggak akan ada orang yang akan mencelakaiku! Jika pun ada aku akan menghajarnya dengan kedua tanganku ini." Mega menunjukkan kepalan tinjunya.
"Itu menurutmu," Tangan Kian tergerak menurunkan tangan Mega. "Mega, mulai detik ini juga aku akan memantau dan mengawasimu dari jarak jauh." Kian tak ingin kejadian seperti penyiraman air keras terulang kembali.
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan! Sekarang aku sudah masuk dan kamu boleh pergi sekarang!" Mega membuka pintu lalu masuk. Tangannya yang sebelah menahan daun pintu agar tak terbuka lebar.
Kian mengamati keadaan sekitar sebelum pergi. "Baiklah, aku pulang sekarang, mimpikan aku malam ini ya!"
"Ogah!" Mega muntah udara. Setelah Kian melangkah pergi meninggalkan rumahnya barulah Mega bergegas menutup pintu.
Detik berikutnya terdengar suara mobil Kian yang pergi menjauh.
Mega mengintip kepergian Kian dari balik koridor. Saat Mega membalikkan tubuhnya hendak pergi ke kamar, Sonya menegurnya.
"Bagus ya keluyuran nggak jelas sampai malam begini!" Sonya berkacak pinggang dan melotot ke arahnya.
Mega memutar malas bola matanya, jengah meladeni ibu tirinya yang selalu membuatnya tensi. "Mama pasti sudah mendengar berita hari ini kan, jadi aku tak perlu menjelaskan lagi. Cukup. Aku ingin istirahat dan aku harap Mama tak mengusik kehidupan aku lagi. Entah aku pulang atau tidak itu bukan urusan Mama. Seharusnya Mama dan kedua anak Mama bersyukur bisa menumpang gratis di rumahku. Atau jika Mama sudah bosan, bisa kok sekarang langsung pergi dari rumahku,"
Bagai tersambar petir rasanya mendengar ucapan Mega, kedua bola mata Sonya membulat dan mulut nya terbuka lebar. "Kamu mau mengusir Mama!"
Mega memperlihatkan jemari kuku - kuku nya yang lentik. "Yah, kalau kalian merasa keberatan tinggal di sini!" kemudian Mega melangkahkan kaki meninggalkan Sonya.
Sonya terdiam mengepalkan tangan. "Anak itu harus segera aku binasakan. Kalau begini terus aku bisa keluar rumah dengan tidak membawa apa - apa."
.
__ADS_1
Setelah mendorong pintu kamar, Mega berjalan menuju ranjang, menghempaskan bobot tubuhnya ke atas kasur hingga memantul. Menatap langit - langit. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian sore tadi.
"Aku tidak menyangka jika putri seorang rektor ternyata seseorang yang sangat ambisius. Motif yang Kikan ungkapkan di kepolisian sangat membuatku tercengang. Masa hanya karena urusan cowok, dia sampai mau ingin mencelakaiku. Dunia ini tak selebar daun kelor, Kikan. Kamu terlalu dibutakan oleh cinta." Mega bergumam sendiri hingga terlelap dalam tidurnya kurang dari waktu lima menit.
Serangkaian kejadian hari ini begitu melelahkan, ia harus bangun pagi esok karena ada ujian skripsi. Seharusnya jika menjadi mahasiswi yang baik ia belajar malam ini bukannya malah keluar. Tapi perkataan itu sangat tidak tepat untuk seorang Mega Elias yang sebenarnya adalah seorang MUA.
......................
Sasa dan Loli belum tidur. Kedua gadis itu sedang membahas Kikan.
"Kak, bagaimana jika Kikan menyeret kita dalam polisi?"
"Diamlah! Jangan memperkeruh keadaan dengan pertanyaanmu yang membuatku pusing. Aku sangat yakin, Kikan hanyalah gadis manja yang bekerja tanpa berpikir itu tidak akan membawa nama kita dalam urusan polisi."
"Kak Sasa yakin?"
"Yah, aku pun punya alibi jika Kikan suatu waktu nanti menyeret nama kita. Aku sudah menghapus sidik jari pada botol kemasan air raksa itu dan hanya tinggal sidik jarinya saja. Aku tidak bodoh."
"Kak Sasa sangat pintar. Aku mendukung jika Kakak bersanding dengan Kian. Satu penghalang sudah dibereskan."
...****************...
Siang ini semua mahasiswa tingkat akhir sedang mengikuti ujian skripsi.
Mega berjalan cepat menuju ruangan ujian. Dia terlambat bangun pagi tadi. Padahal ia sudah memasang alarm agar bisa bangun pagi.
Mega curiga ini pekerjaan Loli dan Sasa. Buktinya kedua saudara tirinya ini tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan.
Dosen penguji nya kebetulan pak Teguh.
Pak Teguh sangat menyukai perubahan yang dialami Mega, termasuk dalam bidang akademik nya.
Tiba - tiba saja memori ingatan Mega terlintas begitu saja. Seolah Mega sudah pernah melakukan pergerakan seperti ini. Terlambat dan tergesa - gesa.
"Aneh. Aku seperti sudah mengalami hal seperti ini dulu saat aku masih berada di duniaku." Gumam Mega yang segera bergegas memasuki ruangan ujian. Mega membenahi penampilan sebelum membuka pintu.
__ADS_1
Mega sudah terlambat seperempat jam, tapi pak Teguh masih setia menunggunya. Jika mahasiswa lain sudah pasti akan mendapatkan amukan dari beliau.
Pak Teguh menyuruh Mega untuk menerangkan makalahnya setelah menerima naskah dari Mega.
Mega menjelaskan sangat detail dan jelas hingga mampu membuat pak Teguh takjub. Mega sangat luar biasa dan mendapatkan applaus dari pak Teguh.
Di luar ruangan, Sasa pikir Mega terlambat dan tak bisa mengikuti ujian, mendapatkan omelan dari dosen super killer itu, nyatanya malah keluar dari ruangan ujian begitu cepat dengan wajah yang ceria.
Tentu saja kemunculan Mega dari ruangan ujian membuat para mahasiswa lain terheran - heran dibuat nya.
Sesil dan Cila mendatangi Mega.
"Apakah pak Teguh memberikan pertanyaan yang sangat sulit sehingga kamu tak bisa menjawabnya lalu diusir dari ruangan?" terka Cila.
Mega masih belum menjawab, hanya memperhatikan ekspresi Cila.
"Kamu sudah datangnya terlambat dan begitu cepat keluar, pasti pak Teguh tak menerima naskah skripsi mu dan langsung menyuruh mu keluar, benar kan?" tukas Sesil juga.
Mega hanya menimpali dengan senyuman.
"Kalian berdua terlalu memandang negatif diriku, lihatlah ini, aku mendapatkan nilai A plus dari dosen yang selalu kalian anggap killer itu." Mega menunjukkan selembar kertas.
Sesil dan Cila melongo.
Mega mengabaikan mereka lalu melangkah pergi melewati Sasa dan Loli.
"Lagi - lagi si jelek itu berhasil lolos, aku tidak terima jika dia mendapatkan nilai sempurna dari pak Teguh!" Sasa mengumpat dan bergegas menuju ruangan ujian karena gilirannya.
Sasa menyerahkan naskah skripsinya begitu dia sampai dihadapan pak Teguh.
Kening pria berkacamata itu berkerut sambil menaikkan kacamatanya ke atas kepala.
"Ini naskah punyamu?" tanya pak Teguh dengan galak.
Sasa mendelik mendengarnya.
__ADS_1