Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Bab 33


__ADS_3

Hampir menjelang sore Mega baru sampai di rumah. Tubuhnya terasa lengket dan ingin segera mandi. Sesaat langkahnya harus terhenti oleh ulah kedua saudara tirinya.


"Minggir, aku mau lewat!" seru Mega saat Loli dan Sasa menghalangi jalannya.


Sasa dan Loli saling senggol membuat Mega jengah melihat keduanya.


"Anu, itu, kami ...." ujar Sasa terbata.


Mega masih sabar menunggu kalimat selanjutnya.


"Itu ...."


"Cepat katakan, aku mau mandi!" Sentak Mega membuat Sasa kaget dan lancar bicara.


"Kami mau melunasi hutang, tapi,"


"Tapi apa?"


"Uangnya belum cukup, beri kami kelonggaran waktu sehari lagi."


"Terserah, yang terpenting uangku bisa kembali." Mega melenggang begitu saja meninggalkan Sasa dan Loli.


"Jika kami telat sehari saja, apa Lo bakal memenjarakan kami?" tanya Loli.


Mega berbalik dan menatap Loli, "Aku tidak pernah mengingkari ucapanku. Beberapa hari ini aku sering bolak balik ke kantor polisi karena suatu urusan. Sangat mudah bagiku jika hanya memenjarakan orang saja, tapi melihat kalian begitu takut pada polisi seharusnya membuat kalian lebih bersemangat lagi untuk mengembalikan uangku."


"Jadi, Lo bakal memenjarakan kita?"


Mega mengangguk saja kemudian berbalik masuk ke dalam kamarnya. Senang sekali bisa mengerjai mereka. Jika jadi Mega yang polos mungkin nasibnya tidak semujur yang sekarang.


Sasa dan Loli ketar - ketir dibuatnya, masalahnya besok adalah jatuh tempo terakhir bagi mereka mengembalikan uang Mega.


"Bagaimana ini Kak?" rengek Loli.


"Uang yang mama beri belum cukup dan masih kurang 2 juta lagi, mending kita jual perhiasan kita." ujar Sasa menyampaikan idenya.


Sonya datang, ia baru saja pulang dari arisan. Wajah nya begitu berseri.


"Sasa, Loli !"


"Mama!" seru Sasa dan Loli kompak.


"Mama baru saja dapat uang dari ikut arisan, ini," Sonya mengeluarkan uang 2 juta dari dalam tasnya.


"Mama, terimakasih, kalau nggak ada Mama kita bakal di penjara!" Sasa mulai mewek diikuti Loli.


"Iya, sekarang mana Mega?"


"Baru saja datang, katanya mau mandi."


"Ya udah, kita makan dulu yuk! Mama beli ayam panggang tadi." Sonya menghibur kedua putrinya dan menggiring mereka ke ruang makan.


...****************...


Siang ini Kikan mendapatkan kunjungan pertamanya dari seorang wanita yang tak mau diketahui identitasnya.

__ADS_1


Polisi membawa Kikan menemui seseorang itu.


"Sebenarnya siapa Pak yang ingin menemui saya?" tanya Kikan penasaran, sudah seminggu ini ia jarang sekali dikunjungi.


"Nanti kamu akan tahu sendiri." sahut polisi dan menjaga identitas sosok yang ingin menemui Kikan.


Setelah sampai di ruang tunggu, terlihat jelas body seorang wanita yang ramping dengan rambut tergulung ke atas sedang memunggunginya. Polisi pun pergi, memberi ruang kebebasan untuk berbicara diantara keduanya.


"Siapa Anda?" rasa penasaran Kikan tak terbendung lagi untuk bertanya siapa wanita di hadapannya ini.


Wanita yang tak mau disebut namanya itu pun balik badan menghadap Kikan.


Mata Kikan membola menatap wanita cantik itu. "Kamu, untuk apa kamu menemui aku lagi!" bentak Kikan setelah tahu wanita itu adalah wanita yang mengaku sebagai ibunya.


Kikan sangat marah dan hendak berbalik pergi. Dengan sigap, Monalisa menahan lengan Kikan untuk mencegahnya pergi.


"Tunggu Kikan, mama ingin bicara sebentar denganmu! Ku mohon beri kesempatan padaku untuk saling memahami diantara kita, sebagai ibu dan anak," Monalisa menatap penuh damba.


Kikan menoleh dan menjawab dengan ketus, "Ibu? Ibu seperti apa yang Anda maksudkan, apakah ibu yang pergi meninggalkan putrinya demi pria lain, hah! Kupingku merasa geli mendengar lelucon ini!"


"Kikan, aku tidak pernah pergi meninggalkan kamu, percaya sama mama. Baik. Agar kamu bisa percaya, duduklah sebentar di sisi mama. Mama akan memperlihatkan kamu sebuah album foto." Monalisa meminta Kikan untuk duduk disamping.


Kikan dengan malas meladeni keinginan wanita ini.


Merasa Kikan sudah mulai bisa diajak bicara, Monalisa membuka retsleting tas nya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah album foto yang telah usang.


Di halaman pertama, Monalisa memperlihatkan foto Kikan setelah lahir, begitu imut dan sangat cantik, mirip dengan Monalisa kecil. Lembaran demi lembaran, Monalisa buka dan terlihat kumpulan foto - foto Kikan di album itu mulai Kikan lahir sampai usia 5 tahun.


Monalisa memang tidak secara langsung bisa menemui Kikan kecil waktu dulu, karena memang kesepakatan antara Bara dengan Monalisa. Mona tetap berusaha mengambil gambar dan tak ingin melewatkan pertumbuhan putri kecilnya, hingga Bara mengetahui perbuatan Mona dan membuat Bara mengajak Kikan untuk pindah rumah tanpa sepengetahuan Monalisa.


Melihat kenangan masa kecil membuat Kikan menangis pilu.


Begitu pula dengan Monalisa. Mona memberanikan diri merangkul lalu memeluk Kikan untuk pertama kali setelah berpisah. Kikan tak keberatan diperlakukan begitu, justru ia merasakan kembali kehangatan yang menjauh selama ini dari sebuah kata yang bernama keluarga.


Setelah adegan tangis menangis berlalu, Kikan membuka suaranya yang terdengar serak.


"Lalu, mengapa papa dan mama berpisah?"


"Keadaan yang membuat kita harus berpisah, " sahut Monalisa sambil menekan sudut matanya dengan tisu.


"Keadaan yang seperti apa?" tanya Kikan, sudah seharusnya ia tahu masalah orang tua dan agar bisa memahami keadaan yang dimaksud.


Mona belum langsung menjawab, hingga Kikan berujar, "Apakah karena pria lain? Jika itu benar, lantas mengapa Mama memilih papa sebagai pasangan hidup?"


Monalisa tersenyum simpul ke arah putri nya yang sudah dewasa ini, Mona mengambil kedua tangan Kikan.


Sebelum bercerita, Mona menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Dulu, kami menikah karena sebuah kecelakaan. Papamu, mama temukan setengah sadar di sebuah pos kampling. Bajunya basah, dan mama merasa kasihan dan melepas bajunya dan mama mengganti nya dengan jaket mama. Warga yang kebetulan lewat menyangka kami yang bukan - bukan. Dan akhirnya kami menikah."


"Lalu, bagaimana kalian bisa jatuh cinta dan jadilah aku?"


"Eum, kami pun melakukan itu juga tanpa sadar."


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Yah, seperti itulah!"


Waktu yang membuat mereka harus berpisah.


Polisi datang dan menghentikan obrolan mereka.


"Waktu kunjung habis!" seru polisi mengingatkan.


Monalisa melihat arloji di pergelangan tangannya. "Apakah sekarang kita bisa berteman?" tanya Mona seraya menunjukkan jari kelingking.


Kikan tersenyum kecut lalu sedetik kemudian berubah ekspresinya.


"Baiklah, kita bisa berteman sekarang !" Kikan menautkan jari kelingkingnya.


Masalah cinta memang sangat pelik. Mungkin seiringnya waktu seseorang akan paham mengenai arti cinta yang sesungguhnya.


...****************...


Ayu sudah diperbolehkan pulang sore ini. Raditya menggendong Ayu saat memasuki mobil.


"Egan, mana Kian ?" tanya Ayu ketika Egan membukakan pintu mobil.


"Sejak siang tadi, Egan nggak lihat Kian kok!" sahut Egan yang memang tak tahu keberadaan adiknya itu.


"Mungkin Papa tahu?" Ayu melontarkan pertanyaan yang sama pada suaminya.


Raditya menyadari pasti Kian sangat marah dan tak ingin berada di dekatnya untuk sementara ini.


"Kian? Papa juga tidak tahu Ma," sahut Raditya sedikit berbeda reaksinya. Datar dan ambigu.


"Apa Kian lupa kalau mamanya keluar rumah sakit?" Ayu merasa sedih tak ada Kian disampingnya.


"Nanti kalau aku ketemu Kian, akan aku jitak kepalanya!" ujar Egan bercanda.


Ayu tahu jika Egan tidak serius dengan ucapannya.


Raditya membungkuk untuk menaruh Ayu di kursi belakang.


"Ma!" panggil seseorang yang ditunggu kedatangannya.


"Nah, tuh anak panjang umur juga!" seru Egan yang merasa senang melihat adiknya datang.


Ayu yang baru saja masuk ke dalam mobil menoleh ke sumber suara. "Kian! Mama pikir kamu lupa,"


Raditya ikut menoleh, begitu tahu Kian yang datang, Raditya memberi jalan untuknya.


"Kian tadi masih ada urusan,"


Kian menghambur ke arah mamanya.


"Mama sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah."


"Iya, Kian akan menyusul nanti."


Kian menutup pintu mobil dan melewati Raditya begitu saja tanpa kontak mata sedikit pun.

__ADS_1


Hati Kian sangat sakit mengingat peristiwa tadi siang.


__ADS_2