Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Saling Beradu Akting


__ADS_3

Saat Raina sedang marah sendirian di kamarnya, ada pesan datang dari Lani, sahabatnya itu memberi bukti rekaman antara Imelda dan Riri, meski yang terdengar hanya suara Riri, tapi wanita itu yakin jika yang berbicara dengan Riri adalah Imelda. Seketika wajahnya berubah, dia tersenyum mendengar isi rekaman itu.


Wanita itu sedikit lega, namun apakah Raihan akan percaya padanya? Raina takut menemui kekasihnya itu lagi, dia seakan tidak percaya lagi setelah dibentak dan tidak dipercaya pria itu.


Apakah aku harus terus memperjuangkannya? Aku harap dia percaya padaku, tapi aku masih sedikit takut padanya. Batin Raina


Bu Ana datang dengan langkah cepat.


"Na ada apa? Ibu dengar kamu berteriak tadi." Bu Ana


"Tidak ada apa-apa bu, mungkin ibu salah dengar, apakah dokter Rianti sudah datang?." Raina


"Belum Na, mungkin sebentar lagi, apa kamu merasa kesakitan?" Bu Ana


"Tidak bu, tidak usah khawatir." Raina


Dokter Rianti adalah dokter yang menangani trauma Raina, psikiater yang biasa Raina datangi.


Beberapa bulan yang lalu keadaan wanita itu sudah membaik, namun karena bentak 'kan dari Raihan traumanya kambuh lagi.


Dokter Rianti pun datang, Raina konsultasi selama 1 jam penuh. Dokter itu adalah kakak kelasnya dulu, membuat mereka lebih leluasa, Raina bahkan bercerita tanpa ragu.


Setelah konsultasi itu hati Raina lebih tenang, dia memutuskan untuk menjaga jarak dulu dari Raihan, untuk menstabilkan dulu kondisinya.


Namun wanita itu tidak mau disalahkan, dia mengirimkan bukti itu pada Raihan, dia juga izin untuk tidak masuk kerja, lalu menonaktifkan ponselnya untuk menenangkan diri selama dua hari dirumah.


***


Bu Ana yang sempat mengambil nomor ponsel Raihan, dia mulai menghubungi lelaki itu, mengajaknya bertemu disuatu tempat.


Sebenarnya dokter Renata menyarankan agar Bu Ana bisa membatasi pertemuan antara Raina dan Raihan, karena untuk kasus ini, lelaki itulah penyebab ketakutan Raina.


Raihan terkejut dengan dua pesan yang masuk, pertama dari Bu Ana yang tiba-tiba mengajaknya bertemu, dan pesan kedua datang dari pacarnya itu, dia merasa bersalah karena pacarnya itu sampai sakit karenanya.


Kenapa aku b0doh sekali, bisa-bisanya aku tidak percaya pada Raina. Pikir Raihan


Lelaki itu merasa frustasi dengan kekacauan hari ini, dia juga belum bisa mengatasi kerugian yang dialami perusahaan karena kasus ini.

__ADS_1


Imelda, aku harus mengumpulkan banyak bukti, aku harus pastikan kamu masuk ke dalam sel jeruji besi dingin. Batin Raihan


Saat hari sudah sore, Raihan segera menuju tempat yang telah disepakati untuk bertemu dengan Bu Ana.


Ternyata Bu Ana datang lebih dulu, "Nak Raihan…"


Lelaki itu tersenyum dan menghampiri wanita yang memanggilnya lalu memberi salam.


"Bagaimana kabar ibu?" Raihan


"Alhamdulillah baik, kamu sehat Nak?" Bu Ana


"Alhamdulillah bu." Raihan


Bu Ana memang tidak pernah menentang hubungan anaknya dengan lelaki ini, namun tidak ada pilihan lain waktu itu sehingga Bu Ana menyetujui perjodohan anaknya dengan Agus yang dikiranya lelaki baik.


Saat ini pun sebenarnya Bu Ana merasa senang jika Raina bisa menggapai cintanya, namun mengingat status Raihan yang masih memiliki istri, membuat Bu Ana harus cepat bertindak.


"Ibu tahu anak ibu bekerja diperusahaan kamu, Ibu hanya khawatir jika Raina mendapatkan masalah, apalagi jika istrimu atau Ibumu tahu." Bu Ana


"Iya bu, saya mengerti, bagaimana keadaan Raina saat ini bu? Saya merasa bersalah sekali padanya." Raihan


"Iya bu maafkan saya, itu kesalahpahaman dan saya yang salah, saya ingin meminta maaf secara langsung, namun pasti kedatangan saya hanya memperburuk keadaan." Raihan


"Sejak pernikahannya dengan Agus Raina memang mengalami hal menyedihkan dan sekarang dia trauma berat pada laki-laki, Ibu harap kamu bisa mengerti dan menjaga jarak juga dari anak Ibu..!" Bu Ana


Raihan mengangguk pelan, meski sebenarnya dia tidak bisa melakukan itu semua. Setelah Raina bisa ditemui, dia akan bekerja keras mendapatkan maaf dari wanita itu.


Sekarang dia yakin untuk menceraikan Imelda yang ternyata mempunyai motif jahat, namun lelaki itu perlu mencari banyak bukti dan motif yang sebenarnya dibalik kejahatannya itu.


Raihan mengantar Bu Ana pulang, menurunkan Ibu itu di depan komplek perumahan karena Bu Ana tidak ingin ketahuan oleh anaknya itu.


***


Raihan tidak mau bertindak gegabah, dia harus bersandiwara dulu, dia menyewa detektif dan mata-mata khusus untuk mengetahui kehidupan Imelda dulu, keluarganya, bisnisnya, dan kehidupannya yang sekarang tentang dengan siapa saja dia berkomunikasi.


Dia pulang ke rumahnya menjelang malam, terlihat Imelda yang menunggunya bahkan dengan tangisan palsunya, padahal Bu Lisa saja yang lebih dulu ditemui Raihan, ibunya itu tidak tahu masalah ini, namun Imelda mengetahuinya lebih cepat, membuat pria itu curiga.

__ADS_1


"Mas, apa benar perusahaan kita sedang dalam masalah besar? Kamu yang sabar ya Mas, pasti ada jalan keluarnya..!" Imelda


Apa-apaan dia? Akting?, dia pikir aku juga tidak bisa berakting. Pikir Raihan


"Iya, aku lagi pusing sekarang." Raihan


"Aku dengar itu ulah sekretaris mu Mas, kalau begitu pecat saja dia Mas..!" Imelda


"Iya, nanti akan ku laporkan masalah ini ke pihak berwajib." Raihan


Jika kasus ini ditelusuri lebih lanjut, apakah akan tercium jejakku? Astaga, ini tidak boleh terjadi, kenapa aku jadi resah begini?, aku yakin sudah membuat bukti itu semua mengarah pada wanita itu. Pikir Imelda 


"Emm, pecat secara tidak hormat saja Mas, kasian kalau sampai dikasuskan..!" Imelda


"Kenapa kamu tiba-tiba kasihan padanya?" Raihan


"Ah aku hanya… emm.. ya sudah terserah kamu Mas, laporkan saja jika kerugianmu memang banyak." Imelda


Semoga saja kasus ini semua mengarah pada wanita itu, dan aku tidak akan terlibat. Batin Imelda


Sudah kuduga, dia juga merasa khawatir pada dirinya sendiri. Pikir Raihan


"Iya, akan kupastikan orang yang menipuku hidup menderita." Raihan


Lelaki itu menampilkan raut wajah marahnya, bahkan tangannya mengepal keras, dia sengaja memperlihatkan ekspresi itu pada istrinya yang jahat itu.


Deg 


Imelda merasa kaget dengan ancaman Raihan itu, karena jika lelaki itu tahu, makan ancaman itu adalah ancaman untuk dirinya sendiri.


"I-iya, a-aku setuju," ucap Imelda terbata-bata.


"Ya sudah aku mau mandi lalu tidur, hari ini sangat melelahkan." Raihan


Imelda tak menjawab ucapan suaminya itu, dia terdiam mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri, sementara Raihan berjalan menuju kamar mandi dengan senyuman kemenangannya.


Kamu mau bermain-main denganku Mel? Ok siapa takut. Batin Raihan

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2