
Sesampainya di Rumah, Raina disambut oleh Bi Ruminah dan juga Pak Asep karena selama wanita itu pergi, merekalah yang menjaga rumah.
Raina memberikan beberapa oleh-oleh untuk mereka, tak lupa dia memberikannya pada karyawan yang lainnya, dia mendatangi tokonya setelah selesai mandi, rasanya sudah lama dia tidak memantau tokonya secara langsung.
"Bu Raina, apa kabar?" Tanya Lili (salah satu karyawannya)
"Saya baik, ini oleh-oleh untuk kalian," ucap Raina sambil mengulurkan 3 kantong kresek besar oleh-oleh.
"Wah… makasih banyak loh Bu." Pandi
"Sama-sama, bagaimana toko, apakah minggu ini ramai?" Raina
"Alhamdulillah Bu ramai, malah lebih ramai dari minggu lalu." Mila
"Alhamdulillah kalau begitu, saya berniat membuka cabang di tempat lain, karena disini juga sepertinya barang-barang yang baru datang begitu menumpuk, perlu tempat yang lebih luas." Raina
"Bagus itu Bu, sebaiknya dibuatkan gudang khusus juga Bu untuk barang-barang yang baru datang dan perlu pengemasan lagi." Lili
"Iya, sepertinya begitu, hehe.." Raina
Wanita itu mulai memeriksa kualitas-kualitas barangnya, memastikan jika bahan yang diambil sama seperti sebelumnya, dia tidak mau mengecewakan banyak pelanggannya.
Dia juga memeriksa stok barang yang tinggal sedikit, tak lupa memeriksa pemasukan bulan ini.
"Alhamdulillah usahaku semakin maju." Raina
"Iya Bu berkembang pesat, tapi kenapa Ibu malah bekerja, apa keuntungan dari usaha Ibu kurang?" Mila
"Hmm, gak kurang ko, alhamdulillah lebih dari cukup, saya juga berniat untuk fokus dengan usaha saya saja, ternyata lebih enak jadi bos. Hehe.." Raina
"Iya dong bu, mending disini aja enak." Mila
Mereka saling tersenyum sambil ngobrol, baru kali ini Raina merasakan kebebasannya lagi, tidak merasa tertekan dengan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.
Memang aku yang bodoh, padahal lebih enak kerja di tempat usahaku sendiri. Pikir Raina
Wanita itu berencana mencari rumah baru, dia ingin segera pindah dari rumah yang saat ini ditempati, rumah itu akan dijual karena Raina tidak ingin mengenang masa kelamnya, masa teror dan masa dimana dia bersikap layaknha pelakor yang kehausan cinta.
__ADS_1
"Aku akui aku melakukan kesalahan besar," Ucap Raina
Dia tidak pulang ke rumah malam ini, dia menginap bersama semua karyawannya, mereka lembur untuk menyiapkan pesanan yang belum di packing, Raina juga menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin membalas pesan Raihan apalagi mengangkat teleponnya.
Wanita itu sedang memerlukan waktu sendiri, dia sedang berusaha menata hidupnya yang mulai berantakan. Dia tidak mau keegoisannya membawanya ke jalan yang salah lagi.
Jika memang jodoh, kita pasti dipertemukan, tapi aku tidak mau dengan jalan yang salah. Pikir Raina
***
Keesokkan harinya Raina menyempatkan pulang ke rimah, lalu menyuruh salah satu karyawannya untuk mengantarkan surat pengunduran dirinya ke perusahaan Raihan melalui Lani.
"Surat apa ini?" Lani
"Itu dari bu Raina, saya tidak tahu surat apa, tapi katanya suruh dititipkan ke mbak Lani untuk disampaikan lagi kepada bapak Raihan." Feri
"Oh, iya saya mengerti, tapi dia baik-baik saja kan? Sudah beberapa hari ini dia susah dihubungi." Lani
"Alhamdulillah baik ko mbak, makasih ya mbak, saya permisi." Feri.
Lani mengangguk, dia bertanya-tanya tentang isi surat itu. Apakah ini surat sakit atau jangan-jangan pengunduran diri? Pikir Lani
Raihan sedikit mengerutkan keningnya.
"Dia tidak menyalakan ponselnya dan tiba-tiba mengirimkan surat."
Lalu pria itu membukanya, membiarkan Lani tetap di ruangan karena dia butuh lebih banyak informasi.
Setelah membaca surat itu raut wajah Raihan berubah, "apa kamu masih bisa menghubungi sahabatmu itu?"
"Maksud Bapak, Raina?" Lani
"Iya." Raihan
"Tidak Pak, sudah beberapa hari saya tidak menghubunginya, terakhir kali kemarin itu pun tidak bisa karena sepertinya ponselnya tidak aktif." Lani
"Hmm ya sudah, kamu boleh keluar." Raihan
__ADS_1
Raihan mengacak-ngacak rambutnya, merasa bingung dengan tingkah kekasihnya itu, dia merasa tidak melakukan kesalahan namun kenapa Raina menjauh darinya, bahkan dia sedang mengurus kasus perceraiannya, bukankah itu awal yang baik untuk hubungan mereka.
***
Setelah waktu bekerja habis, Raihan pergi menuju Rumah Raina, namun disana dia tidak menemukan kekasihnya. Pak Asep bilang jika majikannya keluar dari pagi hari dan tidak tahu pergi kemana.
Memang Raina menyibukan dirinya ditempat usahanya itu.
Raihan pulang dengan rasa kecewa, untuk bertemu saja rasanya sulit sekali.
Saat lelaki itu tiba di Rumahnya, dia disambut oleh tamu yang penting, detektif Gio bersama beberapa polisi.
Mereka membahas soal Imelda yang kabur dan sampai saat ini belum ditemukan.
"Ini minumannya, silahkan..!" Bi Sri
Namun bi Sri berhenti melangkahkan kakinya saat mendengar jika majikannya yang bernama Imelda menjadi buronan. Dia seperti mendapatkan kesempatan kedua yang tak boleh dilewatkan.
Bi Sri membalikkan badannya, dia memberanikan diri untuk menatap mata semua orang.
"Ada apa lagi Bi?" Raihan
"Ini Den, tentang nyonya Imelda." Bi Sri
"Iya kenapa dia? Apa dia sempat kembali ke rumah ini?" Raihan
"Bukan itu Den." Bi Sri
"Lalu apa? Bicaralah dengan cepat dan jelas, saya sedang ada keperluan sangat penting dengan tamu-tamu saya Bi..!" Raihan
"Sebenarnya… saat dulu pak Bram jatuh dari tangga, saya ada di lokasi kejadian dan menyaksikan kejadian itu Den." Bi Sri
"Apa? Lalu kenapa Bibi baru bilang? Jadi bagaimana kejadian yang sebenarnya?" Raihan
"Sebenarnya, ada yang mendorong tuan Bram saat itu," Bi Sri
"Apa? Siapa Bi? Kenapa Bibi baru mengatakannya sekarang," tanya Raihan dengan nada emosi bercampur sedih, dia menggoncang-goncangkan tubuh bi Sri dengan kedua tangannya yang diletakan di bahu bi Sri, membuat wanita itu kaget dan juga sedikit ketakutan.
__ADS_1
Bersambung…