Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Tidak Ada


__ADS_3

Raihan melihat jika wanita di depannya itu, memang mirip Imelda hanya saja lebih tua.


Sepertinya dia memang ibunya. Pikir Raihan


Lisa juga memikirkan hal yang sama, dia melihat wanita itu dan yakin jika dia ibu dari wanita pembunuh suaminya.


"Maaf cari siapa ya?" Ibunya Imelda


"Maaf Bu, Imelda nya ada?" Raihan


"Anak saya sudah lama tidak pulang, sempat kemari beberapa hari yang lalu tapi pergi lagi." Ibunya Imelda


"Ibu gak bohong kan?" Tanya Lisa, dia sudah merasa menggebu-gebu ingin menemukan Imelda dan jangan sampai dia dibohongi.


"Mamah… ," Raihan mencoba mengingatkan ibunya agar tidak emosi.


"Siapa tahu kan dia bohong, dia kan ibunya, pasti menyembunyikan anaknya dari kejaran polisi." Lisa


"Apa? Maaf Bu memangnya anak saya salah apa?" Ibunya Imelda


"Jangan pura-pura gak tahu deh, bukannya tadi bilang dia sempat kemari, pasti pembunuh itu sudah menceritakan masalahnya." Lisa


"Apa? Pembunuh?" Tanya Ibunya Imelda dengan terkejut, dia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan tak berselang lama wanita itu pingsan di tempat.


Datanglah suaminya dari arah rumah, lelaki itu langsung mengangkat istrinya ke dalam dan membaringkannya di ranjang, memberikannya minyak kayu putih. Menepuk-nepuk pipinya dengan lembut agar istrinya cepat bangun, namun belum sadar juga.


Teringat ada tamu didepan, lelaki itu segera pergi menuju teras rumahnya.


"Maaf sebenarnya kalian siapa? Dan kenapa istri saya bisa pingsan begitu?" Ayahnya Imelda


"Maaf Pak kami kesini hanya mencari Imelda." Raihan


"Anak itu sudah tidak ada, aku mengusirnya, dia anak yang tak tahu diri dan selalu membuat istri saya sakit, dia tidak ada disini, saya permisi karena istri saya masih tak sadarkan diri." Ayahnya Imelda


Pintu itu ditutup rapat, membuat mereka terpaksa meninggalkan rumah itu, namun sepanjang jalan jika mereka menemukan orang lewat mereka menanyakan keberadaan Imelda dengan foto yang ada di ponsel Raihan, namun mereka mengaku tidak pernah melihat Imelda.


Raihan merasa putus asa, harapannya bisa cepat bersama Raina pun kandas. Ternyata dia harus bekerja lebih keras lagi untuk menemukan mantan istrinya itu.


"Gimana dong Han, apa kita pulang aja?" Lisa


"Kita pulang aja Mah, sepertinya Imelda memang tidak ada disini, dan sepertinya keluarganya pun tidak menerima kehadiran dia." Raihan

__ADS_1


Mereka pulang dengan wajah lesu, padahal saat berangkat mereka begitu bersemangat.


Kemana lagi aku harus mencarimu Imelda? Pikir Raihan


***


Sementara di Rumah Raina, mereka sedang sibuk membereskan sisa sisa acara tadi. Karena terlihat masih banyak yang harus dibereskan sementara Raina sudah lelah, dia akhirnya menyerah dan pergi ke kamar untuk merebahkan tubuhnya, dia membiarkan para karyawannya yang bekerja membereskan Rumahnya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk..!" Raina


"Kak.." Farhan


"Iya Dek ada apa?" Raina


"Kak kenapa Bapak gak suka sama Kak Raihan? Aku kok penasaran, apa ada alasan lain, siapa tahu ada kesalahpahaman yang harus diluruskan." Farhan


"Hmm, entahlah… kamu gak usah mikirin masalah Kakak..! Kamu fokus belajar aja..!" Raina


Farhan beranjak pergi dari kamar Raina dan tak lupa menutup pintunya.


Sementara Raina masih rebahan, dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Raihan, dia juga penasaran tentang kabar imelda.


Namun berulang kali dia menelepon nomor kekasihnya tapi tidak bisa dihubungi.


Raina tidak tahu kalau tempat yang dikunjungi kekasihnya itu jauh dan tidak terjangkau internet.


Tapi Raina mengira jika terjadi sesuatu yang buruk pada Raihan, membuatnya tidak bisa tidur, dia gelisah sepanjang malam.


Dia berguling ke kiri dan ke kanan namun tak bisa tidur juga, "Semoga Mas Raihan gapapa".


Dia mencoba menelpon lagi setelah beberapa jam berlalu, "syukurlah akhirnya nyambung juga."


"Hallo Mas? Kamu gapapa kan?" Raina


"Aku gapapa, kenapa kamu panik begitu?" Raihan

__ADS_1


"Ditelepon dari tadi susah sih, jadi aku khawatir." Raina


"Hmm, aku gapapa kok, tadi memang dari daerah yang terpencil dan tidak ada jaringan internet." Raihan


"Oh.. gimana kabar Imelda, udah ketangkep kan Mas?" Raina begitu penasaran, berharap jawabannya iya.


"Belum, aku tidak menemukannya disana, aku gak tahu kemana lagi harus mencarinya, aku bingung Na, padahal aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita." Raihan


"Pasti ketemu Mas, kalau sudah waktunya dan jodohnya kita pasti bisa menikah Mas. Kamu pasti lelah, ya udah kamu istirahat aja Mas..! Aku juga udah lega denger kabar kamu yang baik-baik saja." Raina


"Iya, selamat istirahat juga sayang." Raiha


***


Keesokan harinya Raina bangun seperti biasanya, dia berniat sarapan lalu pergi ke tokonya, dia lupa kalau masih ada keluarganya disini, dia bangun dengan rambut acak-acakan menuju dapur.


"Astaga, anak perempuan bangun siang begini." Pak Nino


"Eh Bapak, hehe… semalam aku begadang Pak, ini mau mandi terus sarapan kok," ucap Raina lalu dia terbirit-birit lari ke kamarnya.


"Bi, apa Raina memang biasa seperti itu?" Pak Nino


"Gak ko Tuan, mungkin Non Raina capek habis ada acara kemarin." Bi Risma


"Oh…" Pak Nino


Setelah mandi, Raina dengan segera sarapan, perutnya sudah melilit karena belum diisi makanan, apalagi semalam dia tak nafsu makan karena memikirkan kekasihnya.


"Na, Mamah pulang besok ya, Farhan kan sekolah?" Bu Ana


"Yah Mamah cepet banget nginepnya," protes Raina, dia merasa ingin lebih lama bersama keluarganya.


"Tapi Bapak pengen disini Mah, Bapak mau mengawasi anak kita, siapa tahu dia tetap berhubungan dengan suami orang." Pak Nino


"Pak, Mas Raihan udah bercerai sama istrinya." Raina


"Tapi kamu pacaran sama dia udah lama kan? Gak baik Na kalau pacaran sama suami orang, belum resmi bercerai kan, masih proses itu?." Pak Nino


"Uhuk..uhuk … ," Raina sampai tersedak mendapat tuduhan yang tak mengenakan meski itu fakta.


"Minum dulu Na..!" Bu Ana

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2