Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Menginap Di Kantor


__ADS_3

Raihan bingung harus bagaimana, jika masalah ini diperbesar bahkan berlanjut ke ranah hukum, maka Raina yang akan jadi korbannya, tentulah Raihan akan menolongnya dan bukti mengarah pada Imelda, lelaki itu bingung haruskah dia menyeret Imelda sekarang? Tapi… dia merasa harus menyelidiki sesuatu.


Mungkin saatnya dia harus berusaha bernegosiasi dengan para karyawan disini, terutama Raina.


Ya, aku harus bicara dengan mereka. Pikirnya


"Kalian tidak usah khawatir, perusahaan ini tidak mengalami kebangkrutan, tidak ada yang akan di PHK saya jamin itu, jangan gampang terpengaruh berita hoax!" Raihan


Para karyawan yang demo kini merasa puas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, mereka bisa terus mencari nafkah diperusahaan ini.


"Sepertinya berita tentang sekretaris Bos itu bohong juga deh." Salah satu karyawan


"Iya, buktinya keadaan perusahaan baik-baik saja, bahkan Raina masih bekerja seperti biasanya."


Lani yang berada diantara kerumunan itu merasa bingung, prihatin juga pada Raina.


Kenapa jadi seperti ini? Pikir Lani


Lani tahu jika keadaan ini memang lebih baik, tapi seharusnya memang Bos nya itu mengatakan yang sebenarnya, memberikan keadilan pada Raina, memberikan kepastian atas berita itu, dan seharusnya bisa melaporkan pelaku yang sebenarnya.


Wanita itu merasakan emosi atas nama sahabatnya itu.


"Bener-bener tuh laki, aku ulek aja ya saking kesalnya," ucap Lani pelan sambil menatap punggung Bos nya itu.


Raihan berjalan menuju ruangan Raina, namun wanita itu tak menghiraukan kedatangan Raihan, dia fokus dengan laptopnya sendiri, entah sedang bekerja atau apa.


"Na.. dengarkan aku dulu.., Sebentar saja..!" Raihan


"Katakan saja, lalu pergilah..!" Ucap Raina tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki itu, dia benar-benar kecewa.


"Aku tahu kamu bukan pelakunya, aku tahu Imeldalah pelakunya, aku baru tahu jika masalah ini tersebar di perusahaan, aku berniat merahasiakannya terlebih dahulu karena dua hal, pertama kerugiannya sudah teratasi, ke dua … ," belum sempat Raihan meneruskannya, wanita di depannya menyela pembicaraan.


"Kamu ingin melindungi Imelda." Raina


"Bukan, aku hanya ingin menundanya saja, berpura-pura tidak tahu dihadapan Imelda, aku hanya ingin mencari tahu kejahatan apalagi yang dilakukan dia jauh sebelum kejadian ini terjadi, dan aku berharap kamu juga bisa ikut bekerja sama denganku." Raihan


Raina menatap pria itu, mendekat , lebih dekat, mencari kejujuran dimata lelaki itu.


"Oke, tapi kamu tetap salah dengan memperlakukan aku secara kasar kemarin, dan aku tidak mau menjadi korban atas masalah ini." Raina

__ADS_1


"Iya maaf, harus dengan cara apalagi aku meminta maaf padamu." Raihan


"Jika kau memang tidak mencintai Imelda, maka.. malam ini kamu jangan pulang, tapi.. kau bisa bermalam di kantor seminggu penuh." Raina


Aku akan menghukummu Han, dan aku harap kamu benar-benar tidak peduli pada istrimu itu. Pikit Raina


"Hmm… oke, siapa takut, tapi kamu janji akan membantuku 'kan dan kita berbaikan?" Raihan


Raina mengangguk kecil, dengan kesepakatan itu akhirnya mereka berbaikan.


***


Sore itu Raina pulang sendirian dengan mobilnya, dia sengaja menyuruh beberapa karyawan perempuan menginap dirumahnya, dia masih takut jika mantan suaminya datang menerornya lagi.


Saat wanita itu baru saja ingin merebahkan tubuhnya, terdengar suara dering handphonenya, Bu Ana meneleponnya.


Ah, mamah pasti mengkhawatirkanku, baru saja tadi pagi bertemu. Pikir Raina


Namun ternyata tebakan Raina salah, ibunya itu menelepon dengan nada panik.


"Na, tadi pagi Agus datang mengancam mamah dan Bapak kamu, dia bilang karena dia bercerai denganmu, maka dia akan menagih uang pinjaman bapakmu dulu, dan bahkan harus segera dibayarkan, kalau tidak, dia ingin rujuk denganmu lagi." Bu Ana


"Astaga benar-benar keterlaluan, ya sudah mah, biar aku yang bayar beserta bunganya." Raina


"Tapi apa mah?" Raina


"Dia bilang bunganya sudah menumpuk karena terlalu lama, semuanya menjadi 1M." Bu Ana


"Astaga, dia pikir mencari uang itu mudah, gapapa bu, aku ada uang segitu." Raina


"Tapi itu 'kan uangmu." Bu Ana


"Gapapa bu, biar aku benar-benar terbebas dari dia, toh uang itu dulu aku yang pakai untuk kuliah." Raina


"Makasih ya Na, mamah khawatir dengan bapak kamu yang selalu diancam." Bu Ana


"Iya Bu, secepatnya aku akan mengurusnya." Raina


Raina pikir setelah dia bercerai dengan susah payah dia bisa bebas, namun nyatanya tidak. Dia masih saja hidup tidak tenang selama Agus masih hidup.

__ADS_1


Haruskah aku membunuhnya? Menyebalkan sekali. Pikir Raina


Dia yang berniat tidur, kini tidak bisa tidur karena kabar itu, saat melihat pesan masuk, Raihan mengirimnya video singkat dimaan dia sedang tidur di sofa yang berada di kantor.


Raina tersenyum memandang foto itu.


Ternyata dia serius, baguslah. Pikir Raina


Kini lelaki itu malah melakukan video call, wanita itu tanpa ragu mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" Raina


"Aku hanya ingin membuktikan jika aku mau menerima hukuman darimu, tapi ternyata ini enak juga, kita bisa bebas berkomunikasi tanpa ada gangguan dari Imelda.hehehe.. kamu pintar sayang," puji Raihan.


"Ya ampun, bukan begitu maksudku, aku tidak berniat membuat kita memiliki waktu bebas berkomunikasi seperti ini." Raina


"Hmm.. benarkah? Maafkan aku untuk kejadian waktu itu." Raihan


"Iya, ini kesempatan kedua, aku tidak mau kamu mengulanginya, sudah ya.. aku mau tidur." Raina


"Sebentar, kamu panggil aku dengan panggilan Mas, yang mesra ya, oke..!" 


"Gak ah, aku masih marah, nanti saja minggu depan," ucap Raina sambil menampilkan wajah betenya itu.


"Kamu semakin lucu kalau marah," goda Raihan.


Namun Raina yang tidak ingin terlihat wajah yang tersipu malu, dia memilih menutup teleponnya dengan cepat.


"Wah… dia pemalu," ucap Raihan pelan.


Selama menginap di kantor, lelaki itu tidak mau menimbulkan kecurigaan di mata Imelda, dia memberi alasan jika karena kerugian itu, dia harus bekerja lembur terus, bahkan dia akan melakukan video call dengan istrinya itu saat tengah malam, untuk memastikan jika suaminya benar-benar lembur di kantor, Raihan pun terpaksa mengangkat panggilan itu demi rencananya.


Dengan menginap di kantor juga, dia bisa melakukan penyelidikan tentang Imelda tanpa rasa khawatir ketahuan.


Detektif sewaannya itu akan melaporkan semua hal yang ditemukan di kantor, di ruangan Raihan saat malam tiba.


Seperti malam ini, Pak Gio (Detektif) datang melapor di jam 8 malam.


Dia datang membawa bukti dan beberapa informasi penting.

__ADS_1


"Apa? Jadi dulu mereka bersahabat juga," ucap Raihan menatap Foto lama itu.


Bersambung...


__ADS_2