
Raina yang sedang ketakutan, dia berdiam diri di sudut kursi dengan posisi memeluk kedua lututnya.
"Non gapapa?" Pak Asep
"Tolong Pak, singkirkan benda itu!" Raina
Pak Asep menghampiri kotak tersebut yang ternyata berisi boneka hantu dengan noda-noda merah di bajunya.
"Astagfirullah, ada aja yang jail begini," keluh Pak Asep mengambil kotak beserta isinya itu, lalu membuangnya ke tong sampah yang berada di depan komplek.
Ya lelaki itu sengaja membuangnya ke tempat sampah yang jauh dari rumah.
Raina yang kini ditenangkan oleh Bi Ruminah yang biasa membantu membersihkan rumahnya dua hari sekali di rumah itu, wanita itu baru datang namun langsung disuguhi kekacauan di rumah majikannya.
Ruang tamu yang berantakan karena bantal sofa yang dilempar-lemparkan oleh Raina karena rasa takut, dan kesal bercampur jadi satu.
Bi Ruminah membawa nyonyanya ke kamar, memberinya teh manis hangat untuk menenangkan majikannya itu.
Datanglah Pak Asep yang kembali setelah membuang paket tadi, dia berjalan dengan cepat karena mengkhawatirkan Non Raina.
"Pak Asep ini sebenarnya ada apa?" Bi Ruminah
"Ada orang iseng nakut-nakutin Non Raina dengan paket boneka berdarah, ya saya buang aja, cuman sepertinya Non masih kaget." Pak Asep
"Udah tidur sih, tadi saya kasih teh hangat, Non Raina juga minum obat, gak tahu obat apaan tapi dia langsung tenang dan tidur." Bi Ruminah
"Syukurlah, selama Bibi kerja disini memang sering ada kehebohan gini ya?" Pak Asep
"Gak sering, tapi dulu pernah juga ada teror dari mantan suaminya, ya udah saya mau beres-beres rumah lagi ya? Dan sepertinya malam ini saya nginep disini aja, kasihan Non Raina." Bi Ruminah
"Iya, silahkan…" Pak Asep
Pak Asep merenungi perkataan Bi Ruminah, dia menyimpulkan jika banyak yang mengincar majikannya itu. Sebenarnya ada apa dengan Non Raina, sampai banyak yang berniat jahat begini?, pikir lelaki itu.
Kemudian Pak Asep merogoh ponsel dari saku celananya, menelpon Raihan untuk melaporkan situasi terkini.
"Kamu perketat penjagaan ya! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, pastikan semuanya baik-baik saja, jika ada paket mencurigakan jangan langsung diberikan pada Raina!" Raihan
"Iya Pak, saya mengerti." Pak Asep
__ADS_1
Raihan mengutus dua orang pembantunya menginap di rumah kekasihnya itu, untuk bertugas menemani dan menyiapkan segala yang dibutuhkan wanitanya.
Saat hari mulai gelap Raina bangun dari tidurnya, dia bergegas ke kamar mandi, badannya terasa lengket, bahkan dia masih memakai pakaian kantornya.
Setelah selesai mandi, dia memakai baju rumahannya, dia masih mengingat kejadian tadi saat pulang dari kantor, namun dia berusaha mengalihkan bayangannya itu, lagipula boneka itu sudah tidak ada dirumahnya.
Dia pergi ke dapur, untuk sekedar memasak mie instan, karena dia tahu dia tidak mempekerjakan pembantu untuk memasak makanan untuknya, jika memesan online itu terlalu lama, karena dia sudah kelaparan.
"Hmm, siapa yang masak?" Raina
"Nona sudah bangun? Itu semua saya yang masak, silahkan dinikmati..!" Bi Rita
"Ibu siapa?" Raina
"Perkenalkan nama saya Rita, saya sebenarnya asisten rumah tangga di rumah Den Raihan, namun diutus kemari selama 2 hari untuk menemani Nona." Bi Rita
"Oh ulah Raihan, makasih ya Bi sudah masak sebegitu banyaknya, mana bisa saya menghabiskannya, hehe… Bibi ikut makan ya, temenin saya?!" Raina
"Emm, saya makan nanti saja Non setelah anda selesai." Bi Rita
"Jangan sungkan, ayolah temenin saya?" Raiana
Raina yang penasaran, dia membuka pembicaraan saat makanannya tinggal sedikit lagi, dia mulai menanyakan seberapa lama Bi Rita bekerja di rumah kekasihnya itu, dan bagaimana suasana disana.
Raina mengaku jika dia juga mengenal almarhum Pak Bram, karena memang gadis itu sempat bertemu dengan ayahnya Raihan diluar rumah beberapa kali saat masih berpacaran dengan lelaki itu.
Bi Rita nampak aneh saat Raina membahas Pak Bram, membuat wanita itu merasa curiga.
Apakah ada yang disembunyikan? Apakah pembantu ini mengetahui sesuatu? Pikir Raina
"Menurut Bi Rita, almarhum orangnya seperti apa?" Raina
"Baik Non, saya kasihan saja melihat hari-hari terakhir Pak Bram yang sempat sakit, bahkan harus didorong dengan kursi roda." Bi Rita
Bi Rita sampai menangis, dia tidak tahan meratapi nasib majikannya yang meninggal karena dibunuh. Rasa sesak memenuhi hatinya, dia rasanya ingin berbagi rasa sesal di hatinya karena dulu dia tidak bisa mengungkapkan kebenaran itu.
Andai aku memiliki keberanian waktu itu, kini aku selalu merasa bersalah pada Tuan besar. Pikir Bi Rita
Raina memberikan tisu, dia merasa tidak enak karena membuat wanita yang ada di depannya menangis sesedih itu. Bi Rita membereskan meja makan lalu pergi mencuci piring yang kotor.
__ADS_1
Setelah makan, Raina mendapat telepon dari kekasihnya, tentu saja menanyakan keadaannya sekarang, tampaknya lelaki itu begitu khawatir bahkan menawarkan diri untuk menginap dirumahnya.
"Apa? Gak perlu Mas, kalau kamu menginap disini itu akan membuat suasana makin heboh." Riana
"Gapapa, kalau di grebek kan kita tinggal langsung nikah aja, hehe.." Raihan
"Lalu rasa malunya gimana? Aku gak mau lah menikah dengan diawali rasa malu." Raina
"Syukurlah kalau kamu sudah bisa marah-marah berarti kamu baik-baik saja." Raihan
"Astaga, kamu ngerjain aku Mas cuma demi memastikan ini? Aku kan sudah bilang kalau aku baik-baik saja, boneka itu sudah dibuang." Raina
"Iya… iya sayang." Raihan
Namun telepon itu berakhir saat Lisa mengetuk ruang kerja Raihan, dimana anak lelakinya sedang menelpon kekasihnya.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" Raihan
"Ini Mamah." Lisa
Raihan mendekati pintu, memutar kunci dan membuka pintunya.
"Ada apa Mah?" Raihan
"Mamah dari tadi gak lihat Imelda, kemana dia?" Lisa
"Aku gak tahu Mah, biarin aja lah Mah itu gak penting buat aku." Raihan
"Bukan gitu Han, tapi kan tadi pagi Mamah sempat keceplosan, apa jangan jangan…." Lisa
"Jangan-jangan apa Mah? Yang jelas dong Mah..!" Raihan
Sampai dimana mereka berdua saling berpandangan, memikirkan hal yang sama, mereka segera berlari menuju kamar dilantai atas, membukanya dengan cepat lalu memeriksa semua barang yang ada disana.
__ADS_1
Bersambung...