
"Tenang Pak, jangan emosi begitu..! Kasian Bi Sri." Pak Gio
Raihan melepaskan tangannya, dia seketika merasakan tubuhnya lemas, lemas karena mengetahui jika Ayahnya meninggal secara tidak wajar, bukan karena kecelakaan seorang diri, namun karena ada yang sengaja ingin membuat Ayahnya tiada.
Raihan menghempaskan tubuhnya ke sofa, dia diam sejenak dengan lamunanya, terlintas jelas wajah Ayahnya dibenaknya saat ini, tersimpan rasa bersalah karena baru mengetahui hal ini sekarang.
Seharusnya ada keadilan untuk Ayahnya, dan orang yang mencelakai ayahnya itu mendapatkan hukuman saat itu.
"Apakah orangnya Imelda?" Tanya Raihan pelan.
"Emm.. iya Den." Bi Sri
"Astagfirullah, jadi benar dia, dia penjahat yang selama ini bersembunyi di Rumah ini." Raihan
Kini hati Raihan diliputi rasa amarah bahkan mengutuk wanita itu didalam hatinya.
"Siapa penjahat yang bersembunyi Han?" Tanya Lisa dari arah kamarnya, wanita itu baru keluar kamar, dia bahkan tidak tahu kalau ada tamu.
"Imelda Mah, Imelda yang mendorong Papah sampai meninggal waktu itu, Bi Sri saksinya." Raihan
"Apa? Astaga … ," seketika Lisa jatuh, dia benar-benar merasa tidak dapat berpijak, Raihan langsung menolong ibunya dan membantunya duduk.
"Han, kamu harus bisa menemukan wanita jahat itu segera! Hiks….." Lisa langsung menangis histeris, dia ambruk seketika.
Suasana seakan kacau seketika, Lisa yang pingsan dengan segera dibawa ke dalam kamar, diberi minyak angin agar cepat sadar.
Sementara Bi Sri sedang dimintai keterangan lebih lanjut oleh petugas kepolisian yang datang, bahkan Pak Gio juga mengajukan beberapa pertanyaan.
Memang sekarang yang jadi masalah adalah keberadaan Imelda yang belum diketahui.
***
Raina membereskan barangnya, dia akan segera pindah ke rumah yang baru, namun tetap mempekerjakan Bi Ruminah untuk membersihkan rumah lamanya setiap dua hari sekali sebelum rumahnya laku terjual.
Dan Pak Asep diberhentikan oleh Raina, pasti Raihan akan mempekerjakan Pak Asep di tempat lain mengingat dia sudah lama bekerja dengan Raihan membuat wanita itu tidak merasa khawatir lagi.
Dia memberitahu alamat barunya pada keluarganya, namun tidak dengan Raihan, dia berpikir untuk memberi jarak dan waktu dulu untuk hubungan mereka.
__ADS_1
Jika dia serius, pasti dia akan mencariku, dan jodoh pasti bertemu. Batin Raina
Pokoknya Raina akan mengikuti kemauan ayahnya, dia pindah rumah dan fokus pada usahanya itu. Dia menjauh dari kekasihnya itu, meski hatinya terluka, namun sebisa mungkin Raina mencoba mengalihkan kesedihannya dengan kesibukannya bekerja.
Wanita itu tidak mengganti nomor ponselnya, hanya saja mengabaikan semua pesan dari kekasihnya, namun ada yang berbeda dengan hari ini, Raihan sama sekali tidak menghubunginya.
"Tumben gak ada pesan ataupun panggilan dari Mas Raihan." Raina
Wanita itu men scroll ponselnya, lalu menyimpan ponselnya di meja kerjanya, 3 detik kemudian mengambil ponsel itu, hanya untuk mengecek pesan dari Raihan, namun tidak ada.
wanita itu masih berharap pada kekasihnya, hati kevilnya tidak bisa dibohongi, memang Raina menginginkan kekasihnya selalu ada didekatnya, bukan seperti ini.
Apa dia menyerah dengan hubungan ini? Apa dia melupakanku? Apa dia telah menemukan wanita lain? Pikir Raina.
"Ah sudahlah, semua lelaki sama saja." Raina
"Sama bagaimana bu? dalamnya ya sama Bu, begitu. Hehe…" Mika
"Astaga, kamu nih ngagetin aja, sama-sama, so tahu gitu deh." Raina
"Gak kok, biasa aja." Raina
"Ibu memang seharusnya menikah lagi..!, sudah lama sendiri, kesepian dan galau deh." Mika
"Kamu ini ribet ngurusin masalah percintaan orang, tapi kok masih jomblo aja?. Hahaha.." Raina
"Ish Ibu mah gitu, aku itu lagi pilih-pilih dulu , mencari yang terbaik." Mika
"Iya iya, percaya.." Raina
"Ah bilang percayanya gitu, gak meyakinkan." Mika
"Hahaha… emang gak yakin dan gak percaya." Raina
Raina masih bisa tertawa dengan karyawan-karyawannya, dia sebisa mungkin menutupi kesedihannya.
Raina menghabiskan waktunya di toko usahanya itu, usaha yang berawal dari berjualan online seadanya, bahkan mengambil barang lagi dari orang lain, sekarang dia mempunyai beberapa toko dan gudang penyimpanan barang-barang jualannya, ada yang dijual di toko dan sebagian dijual online di berbagai aplikasi.
__ADS_1
Tentu saja dia bisa sukses seperti sekarang dengan semua kerja kerasnya. Dia pun bangga pada dirinya sendiri.
Saat sore tiba, Raina kembali ke rumahnya yang baru, bahkan beberapa karyawan wanita disuruh menginap untuk menemaninya.
"Bu, biar saya saja yang menginap, ada banyak makanan gak Bu? Hehe.." Mila
"Hmm, kamu ini, jangan gitu sama Bu Raina!" Lili
"Hehe.. bercanda kok, tapi lebih bagus kalau dianggap serius sih." Mila
"Dasar.." Lili
"Kalian ini malah bertengkar, tenang aja, kalian boleh pesan makanan melalui aplikasi online kok, bebas! Karena kalian udah mau temenin saya." Raina
"Wah… makasih Bu." Mila
Saat diperjalanan menuju rumah, ponsel Raina berdering terus menerus, ternyata dari nomor kekasihnya.
Angkat gak ya? Pikir Raina
"Halo Mas, ada apa?" Raina
"Apa di Rumah Sakit? Oke aku kesana sekarang." Raina
Akhirnya wanita itu membatalkan rencananya untuk pulang, bahkan dia ke Rumah Sakit membawa Mila dan Lili.
"Bu, kita juga ikut ke Rumah sakit?" Lili
"Hemm iya, temenin saya dulu, nanti kita pulang lagi sama-sama..!" Raina
"Oke deh Bu asal dihitung lembur ya Bu? Hehe" Mila
"Iya kalian tenang aja." Raina
Wajah Raina yang khawatir itu sama sekali tidak tersenyum saat diajak bercanda oleh Mila, wajah wanita itu begitu serius menatap ke arah depan, membuat Mila dan Lili kini diam.
Bersambung….
__ADS_1