Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Menyambut


__ADS_3

Raina melangkahkan kakinya ke luar dari kamar, mencari tahu siapa tamu malam ini.


Dia melihat sosok wanita yang menunggunya.


"Tante Lisa…" Raina


Darimana dia tahu alamat Rumah ini? pikir Raina


"Raina, apa kabar? Tante nyariin kamu loh dari kemarin." Lisa


Raina ikut duduk disofa, dia sedikit heran kenapa bisa Lisa tahu alamat baru rumahnya ini, bahkan Raihan saja tidak pernah mengunjunginya.


"Hmm, ada apa ya Tante nyariin saya?" Raina


"Ya, kangen… kan kamu calon mantu Tante. Hehe.. kenapa kamu mengundurkan diri? Bahkan pindah rumah juga? Apa kamu punya masalah sama Raihan, hubungan kalian baik-baik saja kan?" Lisa


Pertanyaannya kaya rel kereta api. Pikir Raina


"Saya hanya ingin fokus dengan usaha saya Tante, hubungan saya dengan Mas Raihan baik-baik saja kok." Raina


"Syukurlah, tante berharap besar kamu jadi istrinya Raihan." Lisa


"Hehe, mudah-mudahan ya tante." Raina


Bi Risma membawa minuman hangat untuk tamu yang datang dan juga majikannya.


"Silahkan diminum..!" Bi Risma


"Makasih ya Bi." Raina


Setelah melihat pembantu itu ke belakang rumah, Lisa mulai mencerca Raina dengan banyak pertanyaan lainnya lagi. Seakan dia ingin tahu apakah calon menantunya ini benar-benar menghindari Raihan atau masih berharap bersama menjalin hubungan dengan anak lelakinya.


"Raina, kok rumahnya sepi? Kamu tinggal sama siapa aja?" Lisa


"Cuma sama Bi Risma aja yang bantu-bantu di rumah, tapi besok keluarga saya akan datang kesini." Raina


"Wah kebetulan sekali, Tante juga ingin bertemu mereka untuk silaturahmi, membicarakan hubungan kalian, biar bisa dapet tanggal nikah secepatnya, hehe.." Lisa


"Tapi Tante, apa gak terlalu cepat? Aku masih mau menunggu sampai Mas Raihan benar-benar resmi bercerai, dan juga melihat Imelda dipenjara, lagi pula akhir-akhir ini Mas Raihan sepertinya sudah menemukan wanita yang lebih baik dari saya." Raina


"Siapa bilang? dia bahkan galau gara-gara kamu, dia sampai stress karena ingin secepatnya menangkap mantan istrinya itu, dia sampai mengejar Imelda ke Bali tapi ternyata gak ada disana, entah kemana wanita itu lari." Lisa

__ADS_1


Pernyataan Lisa membuat hati Raina berbunga-bunga, kekecewaannya seakan hilang setelah tahu Raihan masih peduli padanya.


Tetap saja yang jadi masalah kini adalah restu sang ayah.


Setelah Lisa lumayan lama berada disana, dia akhirnya pamit pulang, ternyata di depan rumah Raina sudah ada mobil Raihan yang terparkir, sepertinya memang lelaki itu tidak mau menampakan dirinya kali ini sebelum apa yang diinginkan kekasihnya terwujud. Bahkan perceraian Raihan masih dalam proses.


"Gimana Mah?" Raihan


"Gimana apanya?" Lisa


"Raina masih menunggu aku kan mah?" Raihan


"Mamah gak tahu pasti, tapi sepertinya dia masih berharap sama kamu." Lisa


"Syukurlah," Raihan tersenyum senang.


Mereka pulang dengan perasaan lega. Lisa juga sangat menginginkan Raina sebagai menantunya, dia merasa bersalah akan masa lalu dimana dia begitu membenci bahkan mencaci maki pacar anaknya itu.


***


Keesokan harinya saat pagi datang, Raina begitu terburu-buru pergi untuk memeriksa tokonya, karena Mila menelpon dan ada sedikit masalah disana.


Sesampainya disana dia melihat tokonya yang di coret-coret dengan pilox, tertulis jika toko itu harus segera ditutup dan tidak boleh beroperasi lagi.


"Hmm, abaikan saja peringatan ini, kita disini kan usaha, halal, tidak merugikan orang lain juga, kalau ada yang merasa tersaingi itu kan masalah rezeki yang sudah terukur, sebaiknya di cat ulang saja, kita buka toko besok saja, dan sebagian packing pesanan online di gudang..!." Raina


Raina menyuruh semua karyawan membereskan kekacauan ini, membeli cat baru dan mulai mengecat ulang tokonya. Sementara Raina memilih pulang menunggu kedatangan Ibu dan Adiknya.


Bapak pasti gak ikut, dari dulu selalu begitu. Pikir Raina


Raina kini sudah berada di Rumahnya, menyiapkan banyak makanan bersama bi Risma untuk menyambut kedatangan keluarganya.


Wanita itu segera mandi karena bau asap di bajunya, setelah selesai berpakaian dia merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Lelahnya…" Raina


Saat mata itu mulai terpejam.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Hmm, baru saja mau menikmati mimpi indah," keluh Raina


Dia melangkahkan kakinya, membuka pintu itu dan melihat Bi Risma sekarang berada tepat di depannya.


"Ada apa Bi?" Raina


"Ada tamu Non." Bi Risma


"Wah, keluargaku ya Bi? Cepat sekali mereka datang." Raina


Raina melewati Bi Risma dengan begitu saja, padahal pembantunya ingin menyampaikan jika yang didepan bukan keluarga majikannya.


"Eh Non Raina malah main nyelonong aja, saking senengnya kali ya, tapi tamu didepan cuma seorang lelaki muda kok." Bi Risma


Bi Risma, segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan minuman.


Betapa kagetnya wanita itu saat melihat sosok lelaki yang dia rindukan, hatinya berkata untuk memeluk lelaki itu sekarang juga, namun pikirannya menolak, menyuruhnya mengabaikan lelaki itu.


Lelaki itu berbalik, "Raina, apa kabar sayang?" Raihan


"Aku baik-baik saja Mas." Raina


Wanita itu mempersilahkan tamunya duduk di kursi yang berada di teras depan, dia tidak mungkin membiarkan pria masuk ke rumahnya secara sembarangan, karena akan menimbulkan fitnah.


Entah apa yang dipikirkan Raihan, semalam dia berpikir untuk tidak menemui kekasihnya sebelum semua urusannya selesai namun sekarang dia sudah berani menemui Raina.


"Kamu masih mengabaikanku? Nomor ponselku kamu blokir ya? Kenapa?" Raihan


"Bukankah aku sudah mengatakannya Mas, aku tidak mau berhubungan dengan kamu selama kamu masih berstatus suami orang, selama Imelda belum tertangkap dan…" Raina


"Dan aku harus mendapatkan restu dari bapakmu dulu?" Raihan


"Itu Mas tahu, kenapa masih saja bertanya." Raina


"Tapi kan setidaknya kita masih bisa berkomunikasi lewat ponsel, kamu terkesan membuangku Raina." Raihan


"Hmmm…." Raina


"Oh … jadi kamu masih berhubungan dengan lelaki yang beristri ini Raina? Apa kamu tidak mendengarkan nasehatku kemarin?"

__ADS_1


Raihan dan Raina begitu kaget, mereka langsung menundukkan kepalanya, di satu sisi merasa bersalah dan disisi lain bingung menghadapi orang tua yang keras kepala, padahal Raina ingin sekali membela dirinya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2