Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Penyesalan Imelda & Kebahagiaan Raina


__ADS_3

Lisa kini terbaring lemah, tapi untungnya keadaanya tidak parah, hanya perlu menginap hari itu saja dan besoknya pun sudah diperbolehkan pulang.


Pak Nino merasa lega, seandainya terjadi sesuatu yang gawat pada wanita yang menolong anaknya itu, maka dia akan dihantui rasa bersalah karena wanita yang dia acuhkan ternyata begitu peduli pada Raina.


Mungkin memang mereka pilihan yang tepat, Lisa akan menjadi mertua yang baik untuk Raina. Pikir Nino


"Mah, apa yang Mamah rasain sekarang?" Raihan


"Tangan dan kaki Mamah sakit Han, kepala Mamah juga pusing." Lisa


"Mamah dirawat dulu saja disini, besok kita pulang..!, Mamah jangan bikin aku khawatir lagi, jangan melakukan hal yang berbahaya lagi..!" Raihan


"Mamah refleks Han, tadi Raina gak tahu kalau dibelakangnya ada motor." Lisa


"Makasih ya tante, aku gak tahu harus mengatakan apalagi." Raina


"Hmm, iya terimakasih karena sudah menolong Raina anak saya." Pak Nino


"Sama-sama.." Lisa


Karena Raina dan Pak Nino merasa bersalah mereka tidak mau pulang, mereka bahkan menginap disana.


Raihan juga merasa bersyukur ibunya tidak mengalami hal yang serius, bahkan hubungan mereka dan Pak Nino semakin membaik.


***


Keesokan harinya saat sore hari tiba, Lisa diantar pulang, bahkan pak Nino dan Raina pun ikut hingga mereka sampai di kediaman Lisa untuk pertama kalinya.


Pak Nino mulai menerima Lisa dan Raihan, mulai bersikap baik pada mereka. Membuat Raihan dan Raina merasa senang, seakan mereka mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.


Hari demi hari terlewati, Raihan bekerja keras memperjuangkan kekasihnya itu, setiap hari dia datang ke toko Raina untuk memberi perhatian pada pacarnya itu dan juga agar lebih dekat dengan calon ayah mertuanya.


Pak Nino juga kini bersikap ramah pada calon menantunya itu.


Raihan masih berusaha mencari keberadaan Imelda, dia merasa masih mempunyai beban sebelum berhasil memenjarakan wanita itu.


"Kamu kenapa Mas?" Raina


"Imelda masih belum ditemukan juga, padahal aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencarinya, ini juga demi ibuku." Raihan


"Gapapa Mas, hidupnya pasti juga tidak tenang, biarkan waktu yang menjawab yang penting Mas sudah berusaha." Raina


"Iya.." Raihan


"Tapi Mas, Bapak sudah setuju dengan pernikahan kita, sebaiknya dipercepat saja sebelum Bapakku berubah pikiran..!" Raina


"Cie yang maunya cepet-cepet dihalalin, hehe.." Raihan menggoda kekasihnya.


"Mas… kamu nyebelin, aku cuma gak mau melewatkan kesempatan ini Mas." Raina


"Hmm, iya Mas juga seneng, dan secepatnya Mas akan datang melamar kamu," ucap Raihan sambil memegang kedua tangan kekasihnya.


"Hmm… hmmm… ," Pak Nino datang dari luar ruangan memergoki anaknya yang bermesraan itu, membuat dua insan itu langsung saling menjauh dan salah tingkah.


"Ingat kalian belum sah!" ucap Pan Nino yang melewati mereka.

__ADS_1


***


Farhan yang libur sekolah selama 2 minggu memutuskan menemui Kakak dan ayahnya, sehingga pak Nino tidak perlu pulang ke kotanya, mengingat akan ada lamaran dari Raihan membuatnya tertahan di rumah anak perempuannya itu.


Farhan tiba di Rumah Kakaknya itu saat siang hari, tentu saja dia datang bersama ibunya.


Raina begitu senang dengan kedatangan keluarganya, tentu saja yang lebih membuatnya bahagia adalah hari pernikahannya.


Mereka makan bersama diruang makan.


"Kak beneran nih Kakak mau nikah sama kak Raihan? Aku seneng banget loh kak." Farhan


"Semoga aja ya Dek, doakan saja..!" Raina


"Kata siapa akan ada pernikahan? memangnya Bapak sudah setuju?" Pak Nino


Raina kaget dengan ucapan Ayahnya itu, dia kira sejak kecelakaan itu akan ada restu, bukankah bu Lisa juga sudah menunjukan kalau mereka serius dan begitu menyayangi Raina.


Raina tertunduk lesu, membuat Farhan penasaran ada apa sebenarnya, bukankah Kakaknya semalam telah memberitahu jika Pak Nino sudah setuju.


"Memangnya, Bapak masih gak setuju?" Farhan


Namun pak Nino hanya diam.


"Jadi ada acara lamaran gak sih Pak?" Tanya Bu Ana yang juga bingung.


"Hmm, iya Bapak setuju," jawab Pak Nino sambil tersenyum.


Semua orang pun senang, terutama Raina, membuat Farhan protes dengan lelucon yang dibuat ayahnya itu, karena dia mengira kalau Kakak nya akan terus menjanda.


Saat sore hari Raina mendapatkan telepon dari Raihan, lelaki itu mengajak Raina datang ke kantor polisi.


"Iya hati-hati Nak, mudah-mudahan kasusnya cepat selesai ya Nak." Bu Ana


"Iya Mah, assalamu'alaikum..." Raina


"Wa'alaikumsalam… ," jawab Farhan, Bu Ana dan Pak Nino serentak.


Sudah hampir 20 menit Raina menyetir mobilnya hingga dia sampai di tempat yang dituju. Disana sudah ada Raihan yang menunggu kedatangannya, bahkan ada Bu Lisa juga, mereka masuk bersama-sama.


Raiana sedikit tegang, dia penasaran dengan seseorang yang akan ditemuinya di dalam, pasti orang itu akan marah dan mengamuk saat melihat dirinya dan Raihan datang bersama, apalagi dia sudah resmi diceraikan oleh kekasihnya itu.


"Gapapa sayang, gak usah takut..!" Raihan


"Aku gak takut kok Mas, cuma tau aja gimana dia kalau marah, nyeremin Mas." Raina


"Hmm, dia gak bakalan bisa ngapa-ngapain kamu." Raihan


Sementara Lisa hanya sibuk dengan lamunannya, dia mengepalkan erat tangannya, dia ingin menyerang wanita itu secepatnya.


Mereka pun akhirnya dipertemukan dengan Imelda, begitu terkejutnya mereka saat melihat wanita yang ada di depannya itu, penampilannya yang berbeda benar-benar membuat mereka tidak bisa mengenali Imelda. Hingga terdengar suara lemah dari balik cadar itu.


"Na, maafin aku ya, sejak dulu aku selalu jahatin kamu dan memanfaatkan kamu, padahal kamu selalu menjadi teman yang baik." Imelda


"Kamu benar Imelda kan?" Bu Lisa

__ADS_1


"Iya Mah, eh tante, maafkan aku.. hiks.. hiks.." Imelda


"Kemari kau, kau yang telah membuat suamiku meninggal, maka aku akan melenyapkanmu sekarang juga, kemari kau!" Teriak Lisa


Lisa menghampiri Imelda, namun wanita bercadar itu pasrah, sepertinya Imelda memang telah menyesali perbuatannya.


Sebisa mungkin Raihan menahan ibunya, dia tidak mau jika terjadi kerusuhan dan ibunya malah akan mendapatkan masalah.


"Tenang Mah! Biarkan hukum yang menyelesaikannya! Dia pasti mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, Mamah gak usah mengotori tangan Mamah!" Raihan memegang tangan ibunya dengan kuat, dia tidak mau ibunya sampai menyerang Imelda dengan brutal.


"Tapi Han, dia yang sudah membunuh ayahmu, Mamah gak terima." Lisa


"Tante tenang dulu ya..! Sabar dulu..!" Raina merangkul tubuh Lisa dengan lembut karena melihat kini bahkan Lisa menangis karena mengingat Pak Bram yang telah tiada.


"Maafkan aku, aku benar-benar menyesal, hiks… hiks.. hiks… , aku menyesal telah membunuh om Bram dan aku menyesal telah merebut Raihan darimu Raina, aku berharap kini kalian bahagia." Imelda


Imelda terus saja menangis, sampai dia tak terlihat lagi dari pandangan Raina, wanita itu sepertinya benar-benar bertaubat.


Jelas terlihat dari penampilan Imelda yang tertutup, dia bahkan menyerahkan dirinya sendiri ke polisi, dia ingin mendapatkan hukumannya. Bahkan selama dia kabur dari pencarian polisi, dia berada di sebuah  pesantren di desa ibunya, menimba ilmu keagamaan yang membuatnya benar-benar kembali ke jalan yang benar.


Raina terus menenangkan Lisa yang kini menangis terus menerus didalam mobil.


***


Hari kebahagian Raina pun tiba selang sebulan lamaran, kini dia sudah siap dengan gaun pernikahannya , gaun putih bersih dan sangat indah, sangat cocok di tubuh Raina.


Semua orang memuji kecantikan wanita itu, Pak Nino melihat anaknya dengan tersenyum, dengan banyak doa baik dalam hatinya, Lisa juga bahagia seakan bebannya hilang, beban karena dulu dia seakan merenggut kebahagiaan pasangan sejoli itu.


Mudah-mudahan dengan lelaki pilihanmu, akan membuat rumah tanggamu bahagia Nak. pak Nino


Seharusnya kalian menikah dari dulu, Mamah yang menjadi penghalang kalian, menjadi penyebab luka dihati kalian, maafkan Mamah Han, semoga kamu kini bahagia selamanya. Bu Lisa


Raihan nampak gagah, dia dibalut jas hitam dengan senyum bahagia dari hatinya. Sangat jelas berbeda aura lelaki itu dengan pernikahannya yang pertama.


Raihan benar-benar bahagia dan menganggap ini adalah pernikahannya yang pertama dan terakhir, bahkan untuk seumur hidupnya.


Kini mereka telah sah menjadi suami istri, mereka sibuk menerima ucapan selamat dari tamu undangan.


"Mas aku lelah, berapa banyak tamu yang kamu undang Mas?" Raina


"11.000 undangan." Raihan


"Apa? Serius Mas?" Raina


"Iya, dan aku ingin 11 anak darimu nanti," ucap Raihan dengan senyum nakalnya.


Membuat Raina kaget dengan refleks dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya itu. Bahkan ekspresinya itu sempat diabadikan kamera, namun dibalik ekspresi itu Raina merasakan kebahagiaan yang amat luar biasa.


*


*


*


*

__ADS_1


TAMAT


Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini sampai akhir. :)


__ADS_2