
Sore hari saat Raina sedang membaringkan tubuhnya karena kelelahan usai menemani ibunya Raihan. Dia mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
Siapa sih?, ganggu aja deh, padahal ini mata sudah berat, aku lelah. Pikir Raina
Bibi yang dipekerjakan untuk membersihkan rumah dan memasak sore hari sudah pergi berpamitan, membuat wanita itu memaksakan kakinya untuk membuka pintu.
"Mas Raihan..." Raina
Wanita itu terkejut melihat pujaan hatinya datang, seketika rasa kantuk dan lelahnya hilang.
"Aku kesini mampir sebentar, aku juga mau bertanya apakah kamu tidak apa-apa?" Raihan
"Aku tidak apa-apa? Memangnya kenapa?" Raina
Raina bertanya sambil berjalan menuju kursi yang ada di teras rumahnya, dia juga mempersilahkan Raihan duduk.
"Aku khawatir jika ibuku berbuat hal yang menyakitimu, bukankah kamu tadi pergi bersamanya?" Raihan
"Oh itu, ibumu memperlakukan aku dengan baik, aku rasa ibumu merasa tidak enak hati sama Bapakku." Raina
"Syukurlah, aku juga tak menyangka jika Pak Hendra akan memanfaatkan balas budi ibuku yang bahkan tidak perlu ibu ku lakukan, karena yang menolong ayahku adalah orang tuamu." Raihan
"Iya aku paham, mungkin memang Imelda yang banyak menghasut ibumu, sehingga ibumu membenciku." Raina
Saat mereka asyik mengobrol di teras depan, ibu-ibu tukang gosip pun lewat, mereka bahkan mengeker mereka berdua dengan tangannya, membuat dua bulatan dengan tangan dan menempelkannya di kedua mata mereka.
Mereka begitu bersemangat dengan gosip baru, melihat ada lelaki yang mengunjungi rumah janda di komplek mereka, membuat mereka penasaran.
Mereka berjejr bahkan menungging untuk mencari posisi yang aman saat mengintip.
"Ganteng ya cowoknya?"
"Itu Bos nya kali."
"Iya kalau single, kalau sudah beristri kan berabe."
"Iya bener tuh Bu, kita lapor pak RT aja, gimana?"
"Ish, mereka cuma mengobrol di teras depan, kita tunggu sampai mereka berdua masuk ke dalam rumah, kita grebek aja biar seru..!"
"Oke, setuju, lumayan ada tontonan. Hehe"
Melihat Raina beranjak pergi ke dalam rumah, membuat para ibu-ibu bersorak ria dalam hatinya, berharap akan terjadi sesuatu. Namun saat Raihan hanya berdiam diri menunggu Raina di luar tanpa mengikuti wanita itu ke dalam rumah, membuat para penonton itu kecewa.
__ADS_1
"Aduh kapan nih adegan digerebeknya?, pegel nih."
"Tunggu sebentar lagi, ini masih pemanasan, belum seru nih."
Namun mereka harus kecewa lagi saat melihat Raihan akhirnya pamit dan pulang menaiki mobilnya.
"Yahh… gak seru, gak seru, bubar…. bubar…!"
Raina yang melihat ibu-ibu bergerombol di depan gerbang rumahnya hanya melihat sekilas lalu mengabaikannya. Dia memilih masuk ke dalam, berendam air hangat.
***
Pagi ini Raina nampak segar, dia memulai rutinitas paginya, setelah merasa dia sudah rapih, bahkan bercermin memutar tubuhnya, memastikan penampilannya sempurna, setelah itu dia pergi bersama sopirnya menuju kantor.
Raihan membawa bekal makanan pagi ini, dia tidak sempat sarapan di rumah. Dan lisa yang mulai perhatian pada Raihan, membekalinya makanan porsi banyak agar bisa dimakan berdua dengan Raina.
"Kamu udah sarapan belum?" Raihan
"Aku makan sandwich aja sih di rumah, kenapa?" Raina
"Bagus, kamu temenin aku sarapan ya?" Raihan
"Tapi aku gak mau jadi bahan gosip, ini di Kantor." Raina
Akhirnya mereka makan bersama dengan ditambah orang ketiga yang sedang bete.
Pasalnya mereka terlihat romantis namun hanya Lani yang tahu, saat Raihan menggenggam tangan Raina di bawah kolong meja, menyuapi Raina saat melihat kondisi aman.
Ya ampun, kalian anggap aku ini apa? Aku baper woy..! Batin Lani
Gadis itu tersiksa karena statusnya yang masih jomblo itu. Dia seperti kambing congek, atau makhluk tak kasat mata di hadapan mereka.
Ya, aku cuma figuran, Bos kan bebas dan karyawan harus nurut. Keluh Lani dalam hati
Setelah drama pagi selesai, Lani bernapas lega, dia lebih baik bekerja di depan komputernya dari pada harus menyaksikan dua insan dimabuk cinta itu.
***
Sore ini Pak Asep (supir Raina) sudah ada didepan kantor menunggu Nyonya mudanya keluar, namun ada yang mengetuk kaca mobilnya dan meminta tolong untuk mengganti ban yang bocor.
Tanpa rasa curiga Pak Asep membantunya karena waktu jam pulang kantor masih setengah jam lagi, dia mempunyai waktu luang.
Setelah selesai membantu, Pak Asep lalu pergi ke toilet untuk mencuci tangannya, dan kembali secepat mungkin.
__ADS_1
"Bapak dari mana saja?" Raina
"Dari toilet Non." Pak Asep
"Oh, yaudah jalan sekarang Pak!" Raina
"Baik Non." Pak Asep
Selama perjalanan Raina bahkan tertidur didalam mobil, karena sore ini jalanan begitu macet. Tidak ada firasat apapun yang dirasakan wanita itu.
Sampai dimana mobil itu melaju di jalanan yang lengang dengan kecepatan sedang, Pak Asep yang ingin menghentikan mobilnya karena lampu merah menyala, seketika wajahnya pucat.
"Non bangun Non! Ini rem nya ko blong gini ya?" Pak Asep
"Apa? Bapak jangan bercanda dong!" Raina panik.
"Beneran Non, giman ini? Non pegangan yang erat, pasang sabuknya yang benar!" Pak Asep
Dengan susah payah Pak Asep mengendalikan mobil itu, meski rem blong, pria itu mampu mengendalikan mobilnya agar tidak menabrak pengendara lain, pria itu berharap mobilnya cepat berhenti, hingga dimana dia melihat harapan.
Pria itu membelokan mobilnya ke lahan kosong yang luas terus berputar hingga mobil itu bisa berhenti sendiri.
Saat mobil berhenti, Raina pingsan dan membuat Pak Asep cemas.
Dengan segera pria itu berlari ke jalan dan memberhentikan salah satu taksi yang lewat, membawa majikannya ke Rumah Sakit.
Raihan yang mendengar kabar itu, dia langsung menuju Rumah sakit bersama Lisa, ibunya itu ingin ikut, membuat Raihan tidak bisa menolak.
Di RS, Raina di infus, dia muntah-muntah, sepertinya efek dari mobilnya yang terus dikendarai dengan jalur memutar, namun anehnya Pak Asep itu biasa saja.
Raihan datang dengan wajah cemas, dia mendapatkan penjelasan tentang semua kejadian yang menimpa Raina dari pak Asep, membuat pria itu ingin menyelidiki kasus ini.
"Untung saja kamu memperkerjakan supir yang handal." Raihan
"Iya, aku bersyukur aku selamat." Raina
"Sepertinya ada yang menyabotase mobilmu, mana mungkin rem nya tiba-tiba rusak? Mobil kamu kan mobil bagus pasti diservis terus." Lisa.
Mereka saling bertukar pandang, hanya satu nama yang ada dipikiran mereka berdua.
Memang benar mobil Raina itu mobil keluaran baru, dia juga selalu rutin menyervisnya jadi kecil kemungkinannya kalau tiba-tiba rusak, padahal tadi pagi masih baik-baik saja.
Saat sore hari , saat Pak Asep membawanya ke kantor untuk menjemputnya pun, mobil itu aman-aman saja.
__ADS_1
Raina semakin yakin ada seseorang dibalik ini semua. Ya… musuhnya cuma satu, siapa lagi kalau bukan dia.
Bersambung...