Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Demo Para Karyawan


__ADS_3

Imelda yang cemas jika kejahatannya terbongkar, dia dengan segera menelpon Riri, untuk memastikan sesuatu.


"Hallo Ri.." Imelda


"Iya bu , ada apa menelpon di malam hari?" Riri


"Aku cuma mau tanya, apakah pekerjaanmu benar-benar rapi? Apakah tidak ada yang aneh di perusahaan?" Imelda


"Aneh bagaimana bu? Rencana kita sesuai dengan apa yang kita inginkan, walaupun kita ketahuan pasti aku sudah mendapatkan masalah dan mencari ibu." Riri


"Iya juga sih, mungkin aku terlalu khawatir, suamiku juga bersikap biasa saja, lalu kenapa Raina bilang aku pelakunya, jelas-jelas aku tidak ada disana." Imelda


"Mungkin dia hanya asal bicara saja bu." Riri


"Kamu benar, ya sudah kalau nanti ada yang mencurigakan, langsung kabari saya oke!" Imelda


"Oke bu." Riri


Panggilan telepon itu pun berakhir, wanita itu berusaha melupakan kekhawatirannya. Dia berbaring dan menarik selimutnya, bersiap untuk tidur.


Raihan yang masih di ruangan kerjanya pun enggan untuk tidur satu kamar dengan istrinya itu, dia memilih tidur di ruangan kerjanya, di sana ada sofa yang lumayan besar, meski begitu itu nyaman untuk digunakan tidur.


***


Sementara di rumah Raina, Bu Ana sedang menginterogasi putrinya itu, dia tidak tahu jika ada masalah besar di perusahaan tempat anaknya bekerja, apalagi dengan kasus pidana yang menyeret Raina.


"Mamah kan sudah bilang kalau kamu tidak usah bekerja Na! Kan uangmu sudah cukup untuk kehidupan kita sekeluarga, bahkan kamu bisa membeli barang lain, seperti mobil, rumah." Bu Ana


"Tapi mah, sayang kan aku sudah kuliah, aku ingin memanfaatkan ilmuku saja, biar aku tidak lupa juga kan, syukur-syukur ilmuku bertambah dan berkembang di tempat kerja." Raina


"Bisnismu saja sudah cukup, kamu jangan terlalu lelah, enak jadi Bos, kamu malah mau menjadi bawahan lelaki itu, apalagi dengan sikap keluarganya yang seenaknya itu." Bu Ana


"Sudahlah mah, Raina yakin tidak akan terseret masalah itu, lagian bukan Raina pelakunya. Soal berhenti bekerja diperusahaan Raihan, nanti aku pikirkan lagi ya mah?" Raina


"Hmm.. mamah jadi bingung mau pulang apa enggak, ibu lebih mengkhawatirkan kamu yang lebih banyak masalahnya." Bu Ana


"Gapapa mah, mamah pulang aja, kasian Farhan dan Bapak." Raina


Raina juga sedang berpikir keras, apakah dia harus berhenti bekerja disana dan berhenti mengejar pria yang dia inginkan itu.


Apa dia harus memberi Raihan kesempatan satu kali lagi, itu membuat Raina benar-benar bingung. Untuk saat ini dia akan menjalani apa adanya saja, tergantung isi hatinya nanti apakah siap kembali menerima lelaki itu lagi.

__ADS_1


Raina ingin melihat sejauh mana Raihan mempertahankannya, dan lebih memilih siapa apakah dia atau istrinya itu.


***


Pagi itu Raina berangkat kerja, sementara Bu Ana sudah bersiap dengan baju-bajunya, 


"Na, mamah pulang hari ini ya? Kamu yakin ditinggal sendirian tidak akan kenapa-kenapa kan?"  Bu Ana


"Iya mah, lagipula banyak karyawan yang menemaniku di rumah, aku bisa menyuruh mereka menginap lagi." Raina


"Iya, kamu mau berangkat kerja sekarang? Hati-hati ya, nanti mamah pergi ke stasiun diantar oleh Mang Kardi aja." Bu Ana


"Iya mah, pake aja mobil yang satu lagi yang memang khusus buat keluarga yang datang, aku berangkat ya mah, assalamualaikum." Raina


"Waalaikumsalam." Bu Ana


Hari ini Raina membawa mobil kesayangannya yang berwarna merah, menunjukan jika dia wanita berani. Mobil itu membuatnya lebih percaya diri.


Sesampainya dikantor, ada sesuatu yang berbeda. Semua karyawan yang sudah tiba lebih dulu menatap tajam pada wanita itu.


Ada apa dengan mereka? Pikir Raina


Namun Raina yang cuek, dia santai saja menuju ruangannya, hingga disana dia bertemu Lani sahabatnya.


"Ada apa sih Lan?" Raina


"Entah siapa yang memulai, semua orang kini tahu masalah yang kamu hadapi." Lani


"Masalah yang mana? Masalahku banyak." Raina


"Astaga, masalah tentang data perusahaan itu loh, padahal kan Pak Raihan saja menutup masalah ini, kenapa bisa ada yang tahu?" Lani


"Biar saja Raihan yang meluruskan masalah ini, bukankah pria itu tahu siapa pelaku sebenarnya!" Raina


"Tapi, bagaimana jika si Bos tutup mulut, kamu akan dianggap penjahat oleh semua karyawan Na." Lani


"Aku juga bingung, kenapa dia belum melakukan apapun pada istrinya itu? Apa dia begitu mencintai istrinya, sehingga menutup rapat masalah ini, dan tega membiarkan orang lain sebagai korbannya?" Raina


"Ya ampun, bagaimana kalau benar begitu? Aku gak tega ngeliat kamu diperlakukan seperti ini Na." Lani


Raina merasa kesal sekali, dia tidak mengerti apa yang diinginkan lelaki itu, ya kekasihnya itu karena dia belum putus dengan Raihan.

__ADS_1


Harusnya Raihan bisa membela dirinya yang benar, kenapa malah menutupi kesalahan istrinya itu, kenyataan ini membuat wanita itu kecewa berat pada kekasihnya.


Rasanya Raina ingin marah, memaki-maki laki-laki itu di hadapan semua orang, agar mereka tahu jika Bos nya itu kini sedang menutupi sebuah fakta dan menjadikannya korban.


Lani jelas melihat kemarahan dimata Raina, Lani beranjak pergi karena jam bekerja sudah mulai, dia kembali ke meja kerjanya, dia juga prihatin atas apa yang terjadi pada Raina.


Wanita itu masuk ke ruangan kerjanya, karena untuk sekretaris mempunyai satu ruangan khusus untuk seorang diri. Raina menatap layar laptopnya, dia tidak bersemangat bekerja, tapi dia hanya ingin memaki laki-laki itu.


Saat dirinya diharuskan mengerjakan sebuah laporan, itulah kesempatan bagus untuknya.


Aku akan mengantar laporan ini, serta menanyakan apa maksud laki-laki itu melakukan hal ini padanya. Pikir Raina


Tok


Tok


Tok


"Masuk.." Raihan


"Simpan saja disini Na laporannya, kamu sudah sehat? Syukurlah.." Raihan


"Mas, kenapa kamu tidak mengumumkan masalah data perusahaan kepada semua karyawan, kenapa malah menutupinya?" Raina


"Karena masalah itu sudah teratasi meski aku harus menanggung kerugiannya, jadi lupakanlah..!" Raihan


"Lupakan? Aku tahu kamu sedang melindungi Imelda, kamu lebih memihaknya yang bahkan orang yang bersalah disini, aku kecewa Mas." Raina


"Bukan itu maksudku Na, aku punya rencana lain. Aku tidak membela dia, aku lebih peduli padamu." Raihan


"Bulsyit … ," ucap Raina sambil berlalu pergi.


Raihan mulai pusing, disatu sisi dia ingin membiarkan Imelda merasa tak dicurigai dulu, lelaki itu ingin menguak semua kejahatan istrinya itu, Raihan begitu yakin banyak hal yang disembunyikan oleh Imelda.


Kenapa dengan Raina? Bukankah tidak masalah baginya jika ini dirahasiakan dulu? Pikir Raihan


Lelaki itu melanjutkan pekerjaannya, namun saat istirahat tiba laki-laki itu bisa melihat beberapa karyawan yang sepertinya sedang demo.


Mereka ingin Raina dipecat bahkan dilaporkan ke pihak yang berwajib, ditambah mereka tidak ingin adanya PHK karena kerugian yang diakibatkan oleh masalah ini.


Raihan mulai mengerti kenapa kekasihnya sangat marah sekarang, sebelumnya dia tidak tahu jika masalah ini bocor.

__ADS_1


Siapa yang membocorkan masalah ini? Tidak mungkin jika Raina, lalu siapa, Imelda atau Riri?, aku harus bagaimana? Pikir Raihan


Bersambung….


__ADS_2