
Bu Lisa menenteng makanan, dia memasuki ruangan Raina, bukan ruangan anaknya yang berada di sebelah sana. Membuat wanita itu berpikir jika ibu kekasihnya itu ingin membuat perhitungan padanya lagi.
"Tante Lisa, a-ada apa ya Tante? Ruangan pak Raihan sebelah sana bu," tunjuk Raina.
"Saya kesini mau ketemu kamu kok, ini tante membawakanmu makanan, jam segini pasti kamu belum makan, tapi sebentar lagi 'kan waktunya makan siang." Lisa
Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba menjadi baik? Pikir Raina
"Oh, makasih Tante, aku jadi ngerepotin gini." Raina
"Gapapa kok, Tante seneng, sekalian mau minta maaf sama kamu, tentang ayahmu juga, sampaikan permintaan maaf tante ya! Tante bener-bener gak tahu kalau sebenarnya ayah kamu yang menyelamatkan mas Bram." Lisa
"Hmmm, iya nanti saya sampaikan." Raina
"Dimakan ya..! Tante mau menemui Raihan dulu sambil memberikan makanan ini juga buat dia." Lisa
"Iya Tante." Raina
Lisa keluar dari ruangan itu, membuat Raina bisa bernafas lega. Setelah tahu jika ternyata Bapaknya Raina yang menolong suaminya, Lisa merasa dia harus meminta maaf dan berterimakasih dengan cara yang benar, namun dia terlebih dahulu harus bersikap baik pada Raina.
Tok
Tok
Tok
"Masuk..!" Raihan
"Han, ini Mamah bawakan makan siang buat kamu." Lisa
"Tumben Mah." Raihan
"Ish, kamu kok begitu diperhatiin Mamah, ya Mamah inget kamu aja pas tadi pagi masak terus inget Raina juga, jadi sekalian aja bawain kalian makanan." Raihan
"Buat Raina juga? Hmmm… Mamah makin aneh." Raihan
"Ya ampun, kamu gitu amat sama Mamah, padahal Mamah hanya ingin memperbaiki semuanya, kesalahpahaman ini." Lisa
__ADS_1
Raihan mengangguk, dia melanjutkan pekerjaannya, selama itu pula Lisa bercerita pada Raihan tentang kelakuan Imelda dulu yang sering menghasutnya untuk membenci Raina saat berpacaran dulu.
"Mamah terlalu gampang percaya sama wanita itu, andai Mamah menyelidikinya dulu, Hendra juga, sampai sekarang dia gak pernah muncul." Lisa
"Pak Hendra sedang liburan sama istri mudanya Mah." Raihan
"Apa? Kok Mamah gak tahu dia nikah lagi?" Lisa
"Ya nggak , namanya juga sembunyi-sembunyi, aku juga baru tahu saat detektif sewaanku yang mencari info, bahkan dia memakai uang hasil menjual data perusahaan ini untuk bulan madu." Raihan
"Apa? Keterlaluan sekali, Mamah pikir itu benar-benar kelakuan Raina." Lisa
"Kalau Mamah gak percaya aku punya banyak bukti, hanya saja belum saatnya." Raihan
Lisa membujuk anaknya agar mengijinkan Raina pergi bersamanya, sangat sulit memang, karena ini masih jam kantor, namun karena Raihan merasa terganggu dengan ibunya yang cerewet, akhirnya dia mengizinkannya.
"Iya, Raina boleh pulang sekarang." Raihan
Mamah semakin aneh. Pikir Raihan
"Udah Tante, ini aja udah kebanyakan, udah cukup kok." Raina
"Hmm, oke.. tapi kamu nyalon dulu ya sama Tante?" Lisa
"Iya Tante, aku temenin." Raina
"Jangan nemenin aja tapi harus ikutan! Tenang aja Tante yang bayar." Lisa
Astaga, apakah aku harus senang jika calon mertuaku mendadak baik begini? Tapi ini sungguh merepotkan, aku juga lelah, sabar Raina..! Pikirnya
Mereka melanjutkan acaranya dengan pijatan SPA dan juga nyalon, bagi Lisa itulah cara memanjakan dirinya.
Lisa tidak tahu jika Raina juga sekarang telah sukses, yang sebenarnya tidak perlu ditraktir ini dan itu, namun Raina tak enak hati jika menolak. Biarlah Lisa menganggapnya sebagai Raina yang dulu yang tak punya apa-apa.
Setelah puas, dan hari juga mulai gelap, mereka akhirnya pulang. Namun Raina memilih pulang naik taksi saja dengan semua barang yang dibelikan Lisa.
***
__ADS_1
Imelda yang masih bisa mendengarkan percakapan Raina di ruangan kantor. Dia mendengar suara mertuanya dagang dan membawakan makanan, seketika wajahnya memerah.
"Sial, kenapa wanita tua itu jadi baik sama dia?" Teriak Imelda
Imelda tidak tahu kalau Lisa mengetahui kebenaran tentang masa lalu Hendra yang membohonginya, karena dia tidak mendengarkan percakapan itu sampai selesai, dia terlanjur marah. Lagipula sebenarnya Imelda tidak tahu masalah hutang budi yang dimaksud ayahnya dulu.
Imelda benar-benar tidak diberitahu ayahnya mengenai penipuan masalah itu.
Aku harus bergerak lebih cepat. Pikir Imelda
Wanita itu keluar dari kamarnya, dia bergegas menuju pintu utama saat mendengar ada suara seseorang baru datang sambil bernyanyi.
"Mamah darimana saja?" Imelda
"Habis belanja." Lisa
"Kok gak ngajak aku sih Mah? Terus gak ngajak aku ke kantor Mas Raihan lagi." Imelda
Males banget ngajakin dia, diajak belanja pasti dia memborong semua isi toko. Pikir Lisa
"Oh, tadi Mamah buru-buru ke kantor Raihan, jd gak sempet ngajakin kamu." Lisa
"Oh, Mamah gak bawa oleh-oleh buat aku?" Imelda
Astaga, oleh-oleh? Yang benar saja? Bahkan saat belanja aku tidak ingat sama sekali dengannya. Pikir Lisa
"Oh iya, Mamah lupa, hehe… yaudah Mamah masuk dulu ya? Capek nih." Lisa
"Iya Mah." Imelda
Setelah Lisa jauh dari pandangannya, Imelda memperlihatkan tatapan kebenciannya, tatapan itu bahkan sempat dilihat oleh salah satu pembantu disana.
Aku akan menghabisi dia dulu atau Raina ya? Pikir imelda
Imelda sudah tidak tahan dengan Lisa, dia juga tidak mau jika rahasianya dibocorkan oleh Raina, maka dua wanita itu akan menjadi target wanita itu. Harus bisa menutupi kejahatannya dengan kejahatan lainnya, sudah terlanjur sampai di titik ini, membuat Imelda tidak bisa mundur lagi.
Bersambung...
__ADS_1