
Raina merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar itu, da terus memikirkan perkataan bapaknya.
Memang benar Pak, aku seorang wanita yang berusaha merusak rumah tangga orang lain, aku sama saja dengan Imelda dulu saat merusak hubunganku dengan Raihan, bahkan aku lebih parah darinya. Pikir Raina
"Astaga, aku malu sekali jika ingat saat aku menggoda Raihan di kantor, bahkan di mobilnya, untung aja gak sempat terjadi hal yang intim sekali, aku pasti menyesal untuk kedua kalinya," ucap Raina pelan, bahkan dia menyembunyikan wajahnya dibawah bantal, dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.
Aku memang bodoh. Batin Raina
Jika dulu wanita itu selalu membenarkan egonya dengan alasan jika Raihan memang seharusnya menikah dengannya jika tidak direbut oleh Imelda, namun sekarang dia sadar kalau itu hanya sebuah pembenaran di atas keegoisannya untuk memiliki laki-laki yang dicintainya.
"Sepertinya aku memang harus pindah rumah, membuka lembaran baru, menjadi Raina yang baru." Raina
Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia rasanya ingin tidur untuk mengistirahatkan semua pikiran yang ada saat ini, bahkan banyak pesan yang datang dari Raihan, namun diabaikan oleh wanita itu.
***
Pagi hari tiba, Raina bangun dengan wajah yang sama, tidak bersemangat mengingat perkataan Bapaknya kemarin, dia pamit untuk pergi ke pantai.
"Apa ini tidak terlalu pagi Na?" Bu Ana
"Gapapa Mah, aku disini cuma sebentar jadi ingin memanfaatkan waktu saja Mah." Raina
"Hmm.. ajak Farhan aja Na biar ada temen, kalau Mamah sih gak bisa nemenin kamu, ada perkumpulan ibu-ibu." Bu Ana
"Gapapa Mah, aku sendiri aja." Raina
Wanita itu memang lagi ingin menikmati kesendiriannya, merenung dan mengambil keputusan atas kehidupannya kedepan.
Saat melewati teras rumah, dia juga berpamitan pada Pak Nino, namun lelaki itu nampak acuh, karena ini kekecewaan untuk kedua kalinya.
Bapak masih mendiamkan aku, aku memang salah, dulu aku membuatnya kecewa karena memberikan keperawananku pada Raihan, dan sekarang dengan suka rela melemparkan tubuhku, menggodanya saat masih berstatus suami orang. Pikir Raina
Akhirnya Rainqa sampai di pantai, meski masih dingin, namun wanita itu tetap menelusuri pasir pantai yang basah. Berjalan dan terus berjalan memikirkan semua yang terjadi pada hidupnya.
__ADS_1
Saat Raina sedang sarapan pagi dengan semangkuk mie kuah hangat di warung makan yang ada di pinggir pantai, dia dikejutkan dengan kedatangan Raihan.
"Sayang, dari semalam kamu gak bisa dihubungi, kamu gapapa kan?" Raihan
"Hehe, iya semalam aku kelelahan dan langsung tidur, sekarang aku juga gak bawa ponsel, kamu kok tahu aku disini?" Raina
"Aku sempat ke rumahmu dulu, cuma ada Farhan disana, dia bilang sejak pagi kamu pergi ke pantai, yaudah aku nyusulin kamu kesini." Raihan
Raina hanya tersenyum, entahlah dia merasa kali ini perasaannya hambar, selalu teringat perkataan Bapaknya.
"Bagaimana kabar Imelda, sudah ketemu? Lalu perceraiannya gimana?" Raina
"Belum ketemu, dia memang pandai bersembunyi, soal perceraian masih proses, hmm.. kamu udah gak sabar ya pengen nikah sama aku, sekarang juga bisa kok, kan memang lelaki boleh punya istri dua, hehe.." Raihan
"Hehe, gapapa aku cuma nanya aja, aku maunya menikah saat kamu sudah resmi bercerai Mas." Raina
"Hmm.. oke." Raihan
Lelaki itu menemani kekasihnya sarapan, sesekali menghibur kekasihnya yang lesu itu, Raihan sedang tidak ingin menyinggung kekasihnya, dia hanya berperan sebagai penghibur kekasihnya tanpa mengorek apa yang membuat wanita itu tidak semangat hari ini.
Raihan dengan setia menemani kekasihnya sampai sore tiba, dia menggenggam tangan Raina, mengecup punggung tangan itu.
Aku akan berusaha untuk meyakinkan Bapak kamu Raina. Batin Raihan
Mereka pulang, namun Raina menolak diantar Raihan, dia tidak mau jika Raihan bertemu Bapaknya, dan membuat Pak Nino semakin berpikiran negatif.
"Kamu baru pulang? Dari mana saja?" Pak Nino
"Dari pantai Pak, cuma dipantai kok karena besok aku mau pulang lagi." Raina
"Oh, Bapak harap kamu jangan bekerja lagi diperusahaan lelaki itu, kamu kan punya usaha sendiri, bisa jadi Bos dan gak perlu capek-capek, kamu juga pikirkanlah tentang pindah rumah, rumah itu gak aman buat kamu, jangan buat ibumu khawatir setiap malam..!" Pak Nino
"Iya Pak.." Raina
__ADS_1
Dia masuk ke dalam rumah, bergegas mandi, mengganti pakaian dan ikut makan malam bersama keluarganya, dia sebisa mungkin tersenyum saat ibu dan adiknya melihatnya.
"Kakak mau pulang besok?" Farhan
"Iya Dek, Kakak kan harus kerja." Raina
"Makanya kamu berhenti kerja, lebih baik kembangkan usahamu dan kamu punya waktu bebas, tidak seperti ini." Pak Nino
"Bapak…" Bu Ana
Bu Ana merasa suaminya terlalu keras pada Raina, ibu itu ingin anaknya menjalani semuanya sesuai keinginan Raina sendiri.
"Apa Bu? Memang benar begitu kok, anak kita gak kekurangan uang, kenapa mesti bekerja di perusahaan orang lain?" Pak Nino
"Hmmm… iya Pak, Raina akan fokus dengan usaha Raina." Raina
Wanita itu memang sudah menomor duakan usahanya, mungkin memang perkataan Bapaknya itu benar, Raina akan benar-benar menuruti apa yang diinginkan Bapaknya itu.
***
Pagi-pagi sekali Raina sudah pamit, dia pulang menggunakan kereta, sebelumnya dia sempat mengirimkan pesan pada Raihan jika dia akan pulang sendirian saja, lagipula Lisa sudah ada Raihan yang menjaga dan menemani.
"Kamu kenapa Han?" Lisa
"Lemes Mah, tadi Raina mengirim pesan kalau dia pulang duluan naik kereta." Raihan
"Ko bisa? Apa dia marah sama kamu? Kamu apain dia?" Lisa
"Gak aku apa-apain Mah, tapi dari kemarin sikapnya sedikit aneh." Raihan
"Yaudah siang ini kita pulang, kita pamitan dulu ke rumah Pak Nino..!" Lisa
"Iya Mah.." Raihan
__ADS_1
Dia kenapa ya? Aku salah apa? Apa aku memang melakukan kesalahan yang tidak aku sadari, tapi apa? Pikir Raihan
Bersambung….