
Imelda, hanya satu nama yang ada dipikiran Raina, dia harus mencari bukti untuk masalah ini.
Raihan tak tinggal diam, dia segera menyelidiki kasus ini, menyuruh Raina untuk tetap berhati-hati.
"Pak Asep, lain kali tolong ya lebih hati-hati! Cek terus keadaan mobil." Raihan
"Baik Pak." Pak Asep
Beruntung kali ini mereka tidak terluka parah, Pak Asep merasa pekerjaannya kali ini sangat berat karena nyawanya yang kini dipertaruhkan.
Pantas saja Pak Raihan membayarku 10 kali lipat, ternyata ini alasannya, aku terlanjur menandatangani kontraknya. Pikir Asep
***
Raina yang hanya pingsan, dia akhirnya memilih pulang dan istirahat dirumah, dia masih syok dengan kejadian tadi sore. Dia berbaring di ranjangnya, berharap hari esok menjadi hari yang lebih baik, dan dilindungi dari marabahaya.
Pagi pun tiba, dia bersiap-siap bekerja namun dia melakukannya tanpa semangat, dia bahkan sarapan hanya dengan segelas susu hangat.
"Pagi Pak Asep?" Raina
"Pagi Non." Pak Asep
"Sudah diperiksa 'kan pak? Semuanya baik-baik saja?" Raina
"Sudah Non, aman." Pak Asep
Saat diperjalanan, Raina yang masih takut, dia meminta sopirnya itu menjalankan mobil dengan perlahan yang penting sampai kantor dengan selamat.
Raihan menelponnya, menyuruhnya untuk diam dirumah saja dan mengambil cuti, namun Raina ingin bekerja hari ini. Dia sempat cuti saat pergi ke kampung halamannya, dia merasa tidak enak jika sering bolos kerja.
Akhirnya mobil itu sampai di parkiran kantor, Raina turun dengan perlahan, dia hampir saja datang terlambat akibat mobil yang melaju lambat.
"Hey, tumben kamu datangnya siang, biasanya juga selalu duluan?" Lani
"Iya nih, mobilku sengaja jalannya kayak keong." Raina
"Haha, naik becak aja sekalian." Lani
"Hmm, kamu gak tau sih kemarin aku tuh hampir celaka, rem mobil aku tiba-tiba gak berfungsi." Raina
__ADS_1
"Rem blong maksudnya?" Lani
"Iya." Raina
"Kok bisa?" Lani
"Gak tahu, makanya sekarang aku lebih hati-hati." Raina
"Astaga cobaan hidupmu berat banget, masalah terus, sabar ya..!" Lani
"Hmm, iya, aku masuk ke ruanganku ya?" Raina
Lani menganggukan kepalanya, gadis itu merasa kasihan dengan kehidupan Raina yang selalu ditimpa masalah berat.
Raihan yang sudah berada di ruangan itu, dia mendapatkan tamu di pagi hari. Namun kedatangan detektif itu membuatnya senang.
"Silahkan duduk Pak Gio..!" Raihan
"Terimakasih.." Gio
"Apa ada masalah lain lagi? Saya juga kebetulan membawa informasi baru." Gio
"Astaga, sepertinya Bapak tidak boleh menunda nya lebih lama lagi karena akan timbul bahaya lain, bu Imelda sebaiknya dilaporkan sekarang saja Pak! Info tentang bu Imelda yang dicurigai atas kasus meninggalnya ayah anda, saya merasa curiga, coba bapa selidiki, siapa tahu salah satu pembantu disana ada yang melihat kejadian yang sebenarnya..!" Gio
"Apa? Tapi apa mungkin dia setega itu?" Raihan
"Bisa jadi, jika kasus rem blong bu Raina saja bisa dilakukan." Gio
"Saya tidak pernah membayangkan kematian papah saya itu karena kesengajaan seseorang, saya berharap papa saya meninggal karena memang jatuh dengan sendirinya, saya gak kuat menahan perasaan saya jika papa meninggal dengan cara dibunuh." Raihan
"Sabar Pak, kita cari buktinya bersama-sama, apa bapak setuju jika melaporkan kasus data perusahaan itu sekarang?" Gio
"Iya silahkan jika itu yang terbaik." Raihan
***
Imelda yang sedang marah di kamarnya karena rencananya gagal lagi.
"Kenapa wanita itu selalu saja beruntung?" Ucap Imelda.
__ADS_1
Imelda memang sengaja merencanakan itu semua, agar terlihat hanya sebuah kecelakaan mobil biasa, lagi pula ada supir, supir itu bisa disalahkan karena kelalaiannya.
Namun rencana itu harus gagal karena sopir yang dipekerjakan Raina sangatlah lihai dalam berkendara.
Wanita itu keluar dari kamarnya, mencoba mendekati ibu mertuanya untuk mengambil hatinya kembali, bersikap manis di hadapan ibu mertuanya itu.
"Bu, biar aku bantu merawat bunganya?" Imelda
"Tidak usah, nanti kamu tertusuk duri mawar itu!" Lisa
"Aku akan berhati-hati bu." Imelda
"Terserah, yang penting sudah ibu ingatkan." Lisa
Wanita tua ini ketus sekali, biasanya dia akan bersikap manis padaku, kenapa beberapa hari ini rasanya dia berubah ya? Pikir Imelda
Pagi itu dia membantu mertuanya merawat bunga, menyiram dan memotong daun yang sudah mulai mengering.
Namun Lisa berpikir untuk menemui Raina, dia ingin menjenguk wanita itu, entah mengapa dia sekarang mendukung Raihan dengan Raina.
Lisa beranjak dari sana, lalu melangkah pergi.
"Mah tunggu, mau kemana? Aku ikut belanja ya Mah?" Imelda
Anak itu, selalu saja menghamburkan uang ku, memang dia wanita matrealistis. Pikir Lisa
Lisa berhenti sejenak, lalu menengok ke arahnya, "pakai saja uang mu, bukannya keuntungan dari menjual data perusahaan itu besar!" Lisa
"Apa? Maksud Mamah apa?" Imelda berjalan mendekat, dia ingin memastikan apa yang dia dengar.
"Bukan apa-apa." Lisa
Astaga aku keceplosan lagi, padahal Raihan memintaku merahasiakannya dulu. Batin Lisa
Lisa berlalu pergi, sementara Imelda terpaku disana, aku gak salah dengar kan? Mamah tahu soal data perusahaan itu, pasti dari Raina, pantas saja sekarang dia dekat dengan ibunya Raihan. Pikir Imelda
Awas kau ya Raina, kemarin mungkin gagal tapi lain kali kamu pasti tamat! Batin Imelda
Bersambung...
__ADS_1