
Lisa dan Raihan kini mereka duduk ditepi ranjang dengan menghembuskan nafas kasarnya.
"Sepertinya istrimu kabur Han, baju-bajunya gak ada sebagian, perhiasannya juga gak ada semua." Lisa
"Iya, menantu kesayangan Mamah kabur." Raihan
"Ish.. bukan menantu kesayangan, gimana dong Han? Periksa deh apa ada surat-surat yang hilang! Surat tanah, surat rumah, surat - surat penting gitu Han." Lisa
"Memang menantu kesayangan 'kan?, biarin aja dia kabur, besok juga dia akan jadi buronan polisi kok Mah." Raihan
"hmmm..." Lisa
Memang dari hari kemarin Pak Gio sudah melaporkan kasus data perusahaan itu ke polisi ditambah dengan kasus rem mobil blong milik Raina, namun masih diproses belum ada tindakan penangkapan.
Raihan merasa jika sebentar lagi istrinya itu akan benar-benar menjadi buronan polisi.
***
Hari berganti hari, tak terasa besok sudah waktunya libur. Raina yang berjanji menemani Lisa ke rumah orang tuanya sembari berlibur, dia sudah menyiapkan semua perlengkapan, kopernya pun sudah terisi penuh.
Dia menunggu mobil jemputannya datang.
"Raina.. ayo masuk..!" Lisa
"Iya Tante makasih…" Raina
Wanita itu pun masuk ke dalam mobil dia duduk di kursi belakang, namun dia terkejut saat melihat ternyata Raihan juga ikut bersamanya.
"Raihan…" Raina
"Aku boleh ikut 'kan?" Raihan
"Hmm.. iya , gak masalah sih." Raina
Wanita itu hanya takut saja bapaknya nanti berpikir yang negatif mengingat status Raihan yang masih memiliki istri. Bahkan memang dia sudah diwanti-wanti oleh bapaknya agar menjauh dari Raihan.
Gimana nih? Aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat buat bapak ketemu sama Mas Raihan. Pikir Raina
Lisa meminta berhenti disalah satu rumah makan saat ditengah-tengah perjalanan. Perut mereka memang sudah waktunya diisi makanan, Lisa begitu memperhatikan Raina, membuat anak lelakinya itu merasa senang dengan perlakuan ibunya pada kekasihnya itu.
kalau saja sejak dulu Mamah mau mengenal Raina lenih jauh, pasti semau tidak akan seperti ini. pikir Raihan
Namun Raina sedikit canggung saja, bagaimana tidak? Sangat jauh sekali perbandingan perlakuan Lisa yang dulu dan sekarang. Jika dulu Raina akan dihina dan dicaci, namun sekarang malah digandeng dan diajak makan bersama, bahkan sekarang Lisa nampak ramah padanya, selalu melemparkan senyum manisnya pada Raina.
Setelah selesai makan merekapun melanjutkan perjalanan, Raihan sempat bernyanyi di dalam mobil membuat Lisa dan Raina kompak untuk protes.
__ADS_1
"Berisik Han..!" ucap Lisa dan Raina.
"Apakah suaraku sejelek itu ditelinga kalian?" Raihan
"Iya, lebih baik kamu fokus menyetir bila perlu diam saja lah!" Lisa
"Fftt.. Mas ngobrol aja kalau bete, asalkan jangan menyanyi..! Bikin telinga sakit tahu, hehe.." Raina
"Oke oke, aku diam biar kalian merasa puas." Raihan
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Raina, namun wanita itu ragu untuk turun karena kekasihnya malah ikut turun.
Aduh gimana ini? Pikir Raina
"Ayo sayang..!" Raihan
"Mas… apa sebaiknya Mas," ucap Raina yang tak sempat dilanjutkan karena ternyata orang tua Raina sudah melihat mereka dari teras rumah.
Lisa begitu bersemangat, bahkan menarik lengan anak lelakinya itu.
Mereka dipersilahkan masuk ke dalam oleh bu Ana, disuguhi minuman dan juga makanan ringan.
"Pak, ini Bu Lisa yang waktu itu, beliau datang untuk silaturahmi, meminta maaf, dan juga menjelaskan kesalahpahaman waktu itu." Raina
"Iya Pak, saya benar-benar minta maaf, dulu memang saya mengira Pak Hendra lah yang menolong suami saya, bahkan Pak Hendra sering meminta uang dengan alasan balas budi, saya benar-benar minta maaf karena selama ini bersikap kasar pada putri kalian, saya salah paham juga padanya karena hasutan seseorang, emm.. oleh Imelda" Lisa
"Benarkah bu, Pak Hendra begitu? Astagfirullah saya gak nyangka." Bu Ana
"Saya juga tidak menyangka selama ini saya dimanfaatkan mereka." Lisa
"Imelda itu siapa?" Pak Nino
"Anak pak Hendra yang dulu minta dinikahkan dengan anak saya, bahkan itu juga Pak Hendra sedikit memaksa dengan alasan balas budi, saya kira tak ada salahnya karena Imelda baik, ternyata sikapnya diluar dugaan saya." Lisa
"Hmm, iya gapapa itu masa lalu, saya sudah memaafkannya. Dan ini anak ibu yang dulu kekasih anak saya itu 'kan?" Pak Nino
"Iya Pak, dunia memang rasanya sempit, ternyata anak saya menyukai anak bapak, dan mempertemukan saya dengan penolong suami saya yang sebenarnya." Lisa
"Iya, tapi saya tidak mau anak saya dekat dengan anak ibu yang masih berstatus suami orang ya Bu..!" Pak Nino
"Hmm, Bapak … ," keluh Raina.
Pak Nino permisi untuk melanjutkan pekerjaannya, membiarkan istrinya yang menghadapi Lisa.
Sikap Pak Nino menunjukan ketidaksukaannya jika Raina menjalin hubungan dengan Raihan, membuat pria itu lesu seketika.
__ADS_1
Lisa menepuk pundak anak lelakinya, seolah memberi anaknya itu dukungan dan menyuruhnya bersabar dulu.
Lisa merasa semua kesalahan ada padanya, kalau saja dulu saya merestui kalian, pasti Raihan akan bahagia bahkan aku pasti sudah memiliki cucu yang menggemaskan, ah penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Batin Lisa
Mereka berdua mencari penginapan di dekat pantai, mereka setuju untuk menikmati liburan dulu disana, Lisa juga ingin menghilangkan rasa traumanya pada laut, mencoba mengikhlaskan kepergian suaminya, mencoba membuka lembaran baru.
"Han, kamu harus sabar ngadepin bapaknya Raina! Mamah tau jika pak Nino pasti kecewa dan sakit hati dengan perlakuan Mamah dulu. Maafin Mamah ya.." Lisa
"Iya gapapa ko Mah, aku juga baru memproses surat perceraianku. Jika nanti sudah resmi bercerai, aku berharap mendapatkan sedikit harapan dari pak Nino." Raihan
"Iya, Mamah doakan supaya lancar. Oh iya, apa ada kabar soal Imelda?" Lisa
"Aamiin, belum ada Mah, wanita itu pandai bersembunyi." Raihan
"Tapi biarkan saja Han, toh dia hidup dengan tidak tenang karena menjadi buronan." Lisa
"Iya Mah, tapi dia sudah membawa banyak uang cash waktu itu, makanya tidak ada jejak penarikan kartu atm lagi." Raihan
"Emhh, berarti dia memang sudah punya rencana matang untuk kabur Han, bahkan tempat persembunyiannya pasti sudah disiapkan." Lisa
"Iya, paling kalau uangnya habis dia akan berakhir dijalanan jika bersikeras tidak memakai kartu ATM nya, aku sengaja tidak memblokirnya, siapa tahu suatu saat ada jejak." Raihan
***
Sementara di kediaman pak Nino, bu Ana sedang berbincang-bincang dengan anaknya.
"Na, Mamah kemarin sempat ditelepon oleh Bi Ruminah, katanya ada teror lagi, apa itu ulah Agus lagi?" Bu Ana
"Emm, aku gak tahu Mah, karena memang isinya cuma boneka yang berdarah gitu, gak ada surat apapun." Raina
"Kamu pindah rumah aja, disana udah gak aman Na..!" Bu Ana
"Nanti aku pikirkan lagi ya Mah." Raina
Datanglah Pak Nino dari arah dapur yang sempat mendengar pembicaraan mereka.
"Paling kalau gak Agus ya itu ulah istrinya Raihan, istri mana yang terima jika suaminya dekat dengan wanita lain."
ucapan itu seperti smabaran petir disiang bolong, membuat hati Raina mengakuinya. Memang dia yang menjadi wanita pengganggu diantara pernikahan mereka.
Pak Nino merasa kecewa kepada putrinya yang bersikukuh dekat dengan Raihan yang berstatus suami orang, padahal dirinya sudah sempat melarangnya. Terlepas bagaimana dulu Imelda merebut Raihan, namun yang jelas sekarang dialah istrinya yang sah, dan anaknya yang menjadi penggoda.
Bapak kecewa sama kamu na. Batin Pak Nino
Bersambung...
__ADS_1