
"Iya itu ayah Imelda, mertuaku." Raihan
"Hmm.. iya mertuamu." Raina
"Kenapa? Memang dia mertuaku." Raihan
"Berarti kamu mengakui Imelda itu istrimu, orang yang kamu cinta." Raina
"Cemburu nih?" Raihan
"Enggak." Raina
Namun Raihan benar-benar bingung, itu bukan ibunya Imelda, dan belum terdengar kabar jika mertuanya menikah lagi, walaupun benar mempunyai istri dua, harusnya dia juga tahu.
Raina menebak jika itu selingkuhan Pak Hendra, kekasihnya itu juga menyetujui ucapannya karena sangat jelas sekali mereka bermesraan bahkan di tempat umum.
Raina teringat jika dia belum menanyakan perihal persahabatan ayahnya dan juga ayah Imelda, dia berniat mengunjungi rumah orang tuanya saat libur tiba, karena jaraknya yang lumayan jauh, dia juga ingin menginap disana.
Mereka kembali ke kantor melalui pintu lain agar tidak terlihat oleh Pak Hendra.
Memang ayah dan anak itu penuh rahasia. Pikir Raihan
"Ayo Na, kita balik ke kantor..!" Raihan
"Iya Mas," ucap Raina yang masih kepo dengan kemesraan dua orang tadi, matanya masih tertuju pada meja mereka.
Mereka pergi dengan mobil yang dibawa Pak Dani, ternyata asisten Raihan hanya menunggu di mobil sedari tadi, meski mereka ingin berlama-lama atau pacaran dulu pun ada Pak Dani sebagai orang ketiga yang menghalau kecurigaan orang kantor jika pergi berdua.
***
Sepulang kerja Raina bersama Lani pergi ke toko handphone, dia berniat membeli ponsel baru sementara yang lama dia coba menunggu untuk diperbaiki.
Untuk masalah laptop, wanita itu tidak ambil pusing, toh itu cuma data yang hilang bukan rusak.
"Lan, kamu mau beli ponsel baru juga?" Raina
"Gak, aku gak punya uang untuk itu." Lani
"Yaudah aku yang bayarin, sebagai tanda terimakasih karena kamu sudah menolongku dengan merekam bukti itu." Raina
"Gak usah Na." Lani
"Gapapa ambil aja..! Ponsel lama kamu tinggal saja dirumah, itu ada rekamannya 'kan? Nanti jangan lupa kamu kirim lagi ke aku ya..!" Raina
"Bener nih? Ini gak berlebihan, takutnya kamu terbebani dengan harganya." Lani
"Gak masalah, ambil aja!" Raina
"Ya Udah, rezeki gak boleh ditolak, hehe… makasih ya Na, aku langsung kirim rekaman itu ke nomor kamu, nomornya masih pake yang lama 'kan?" Lani
__ADS_1
"Iya, untung masih bisa dipake kartunya." Raina
***
Sementara ditempat lain, Imelda mendapat telepon dari Riri mengatakan jika semuanya sudah beres.
Akhirnya, tas ini buat aku saja, sayang 'kan kalau buat cewek si@lan itu. Pikir Imelda
Namun ekspresinya berubah saat menerima pesan singkat yang ternyata itu dari Raina, gadis itu mengirim rekaman suara, juga menagih tas yang dijanjikan Imelda.
Sial, ternyata kerjaan si Riri itu gak beres. Pikir Imelda
Dengan terpaksa dia merelakan tas itu, menyuruh sopirnya mengantar barang itu sampai ke rumah Raina.
"Tolong kamu antar tas ini ke alamat ini ya!" Imelda
"Baik bu." Sopir
"Kamu menyuruh Pak Parman kemana?" Lisa yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Imelda yang terkejut, dia bingung harus menjawab apa, untung saja sopirnya itu sudah pergi.
"Emm.. gapapa mah, aku cuma menyuruhnya mengantarkan barang pesanan temanku." Imelda
"Pesen apa? Memangnya sejak kapan kamu jualan?" Lisa
"Tas mah, aku gak jualan cuma temenku pengen aku pesenin takut ketipu tas palsu katanya." Imelda
"Iya mah." Imelda
Menyebalkan, masak lagi? Astaga males banget deh. Batin Imelda
***
Raina yang sudah sampai di rumahnya, dia merebahkan tubuhnya yang lelah, menatap ponsel barunya.
Dia memang tidak suka membeli barang baru, ponselnya saja kalau tidak rusak dia tidak mau membeli yang baru, kalau tas itu sih, dia sengaja ingin membuat Imelda susah mencari barang itu.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" Raina
"Ini bibi non." Bi Sri
"Oh, iya bi masuk aja gak dikunci kok..!" Raina
__ADS_1
"Ini non ada paket untuk non." Bi Sri
"Aku gak pesan paket deh, mana coba lihat Bi?" Raina
Ternyata tas dari Imelda, syukur deh kalau ada, lumayan 'kan dapet gratisan, mahal lagi. Hehe.. pikir Raina
"Iya Bi ternyata ini paket punya saya, makasih ya Bi, Bibi menginap aja disini malam ini..!" Raina
"Baik non, kalau begitu saya permisi dulu non." Bi Sri
Raina mengangguk pada Bi Sri.
Dia menatap tas itu dengan penuh kemenangan, sepertinya wanita itu bisa menebak betapa kesalnya Imelda saat ini, rencananya juga gagal, karena ternyata rekaman itu masih ada padanya.
Dia memotret dirinya dan juga tas barunya itu, lalu mengirimkannya pada Raihan yang sedang ada dikantor, lelaki itu masih menginap disana.
| Bagaimana bagus tidak? Ini dari istrimu loh.. | Raina
|Bagus, hmm.. tetap saja itu memakai uangku.| Raihan
| Hahaha.. iya juga sih, harusnya kau tidak memberinya uang belanja yang banyak! | Raina
| Dia berisik, bawel sekali, daripada telingaku sakit mending aku beri dia uang saja 'kan? | Raihan
| Iya, kamu memang terlalu baik.| Raina
| Harusnya kamu berterima kasih padaku, itu kan uangku juga..! | Raihan
| Hahaha.. iya terimakasih Mas, setidaknya Imelda hanya meminta uangmu saja dan tas nya untukku, numpang lewat saja uangmu Mas ditangan istrimu itu. | Raina
| Iya pacar Mas memang pintar. | Raihan
Pesan itu berakhir karena Lisa menelpon Raihan, memintanya untuk pulang karena sudah 3 hari anak lelakinya tidak pulang, membuat Lisa khawatir, bahkan dia membujuk Raihan untuk pulang.
"Mamah udah memasak banyak makanan untukmu, kamu tega sama mamah, mamah udah cape-cape tapi kamu tidak menghargainya." Lisa
"Mah, 'kan aku sudah bilang kalau aku menginap seminggu saja, kenapa mamah malah masak?" Raihan
"Mamah gak mau tahu, kamu harus pulang malam ini..!" Lisa
Akhirnya Raihan memilih pulang, dia tidak mungkin tega menolak setelah ibunya bekerja keras memasak untuknya.
Dia pulang tanpa mengabari Raina, saat tiba dirumah, dia disambut hangat oleh ibunya itu. Bahkan Imelda orang yang paling senang, sepertinya wanita itu butuh teman tidur.
Raihan makan dengan lahap karena masakan ibunya itu selalu enak, setelah bersantai sejenak, dia bergegas pergi ke ruangan kerjanya, namun ponselnya tertinggal dimeja makan.
Imelda yang berniat mengembalikannya, dia malah mendapati telepon masuk, telepon dari wanita yang dia benci.
Berani-beraninya dia menelpon suamiku di malam hari pula, dasar janda gatel. Pikir Imelda
__ADS_1
Rasanya dia ingin memaki habis-habisan wanita itu.
Bersambung….