Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Hasutan


__ADS_3

Lani berusaha mencari surat titipan dari Pak Raihan Bos nya itu.


"Ini Na, surat dari pacar kamu, sepertinya karena nomor ponselmu tidak aktif jadi dia nitip ini deh." Lani


"Hmm.. benarkah?" Raina


Isi surat itu mengenai permohonan maaf dari kekasihnya itu, sepertinya Raina tahu jika pacarnya itu sedang merasakan penyesalan yang amat dalam, hati kecil Raina ingin sekali memaafkan kekasihnya itu, namun masih ada keraguan, tubuhnya sedikit gemetar ketika dia mengingat kejadian terakhir kali bertemu pria itu.


"Kenapa kami malah bengong?" Lani


"Gapapa, aku hanya merasa masih sedikit takut saja sama dia." Raina


"Maksud kamu?" Lani


"Raihan, aku membicarakannya." Raina


"Kenapa kamu jadi takut, apa jangan-jangan dia berbuat hal yang emm … ," ucap Lani yang tak mampu ia teruskan namun yakin jika sahabatnya itu akan mengerti.


"Gak lah, ini masalah fitnah itu, hari itu dia marah besar, membentak dan bahkan tidak percaya padaku, sampai trauma ku kambuh." Raina


"Astaga, jadi kamu kemarin pingsan gara-gara itu?" Lani


"Iya, makanya aku menghindar dulu beberapa hari darinya, mencoba menenangkan diriku sendiri dan mencoba berdamai dengan keadaan, aku tidak mau jika harus ketakutan jika mendapatkan perlakuan kasar laki-laki, seharusnya aku bisa melawan." Raina


"Kamu benar Na, kamu harus berubah agar hidupmu lebih baik, semangat besty..!" Lani


"Hahaha.. makasih semangatnya besty." Raina


Mereka tertawa bersama, Lani juga menceritakan bagaimana caranya dia mempunyai rekaman suara Riri.


Hari ini dia juga bercerita jika Bos nya masuk kerja namun wajahnya sedikit pucat.


"Sepertinya dia sakit Na, kamu yakin akan mematikan ponselmu terus? Siapa tahu dia butuh semangat dari kamu juga, bukankah perusahaannya lagi bermasalah?" Lani


"Iya sih, mungkin besok baru aku aktifkan, aku juga mulai bekerja lagi besok." Raina


"Iya semangat Na, kita kan pencari rupiah, harus tetap kuat..!" Lani


Lani tidak tahu jika usaha Raina banyak, dia tidak bekerja diperusahaan itu pun uang akan mengalir ke tabungannya. Namun Raina menanggapinya dengan senyuman.


Setelah dirasa cukup menjenguk dan menghibur sahabatnya itu, Lani pamit pulang.


***


Keesokan harinya Raina masuk kantor seperti biasanya, karyawan tidak ada yang tahu mengenai data perusahaan yang bocor itu, membuat Raina tidak mendapatkan masalah hari ini.

__ADS_1


Wanita itu hanya menjaga jarak dari Raihan saja, dia masih ragu untuk mempercayai laki-laki itu lagi.


Tiba-tiba ponselnya berdering, namun wanita itu mengabaikannya karena itu panggilan dari Raihan.


Setelah dia mengaktifkan ponselnya, lelaki itu terus saja mencoba meneleponnya, bahkan sampai berpuluh-puluh kali, akhirnya karena kesal Raina mensilent handphonenya.


Namun Raihan tidak menyerah, dia mengirim pesan untuk mengajaknya makan diluar, tapi hanya penolakan yang lelaki itu dapatkan.


Sepertinya butuh proses, butuh waktu lama untuk membuat Raina bisa bersikap seperti dulu lagi. Pikir Raihan


Jika biasanya wanita itu sangat Agresif, namun kini kekasihnya itu bersikap acuh tak acuh padanya, membuat hati Raihan tersiksa.


Saat pulang kerja, ketika beberapa karyawan telah pulang dan keadaan kantor lumayan sepi, Raihan menghampiri Raina.


"Na, aku sudah tahu jika bukan kamu yang melakukannya, maafkan aku..!" Raihan


"Sudah terlambat, kamu memang tidak percaya padaku dari awal." Raina


"Tapi Na, keadaanku sangat kacau waktu itu." Raihan


"Kamu pikir keadaanku waktu itu tidak kacau karenamu?" Raina


Wanita itu berlalu pergi, dirinya untuk saat ini hanya ingin menjauh dulu dari pria itu, namun hati kecilnya merasakan sakit, karena sebenarnya dia mencintai lelaki itu.


Kalau Raihan tetap seperti itu maka hubungan kedepannya nanti pasti banyak percekcokan.


***


Sementara Raihan sedang berada pada masa yang kacau, meski kini perusahaannya bisa ia stabilkan lagi, dan dia harus menutupi kerugian perusahaan, namun itu bisa dia atasi dengan baik.


Hanya saja untuk kekasihnya itu, dia belum menemukan jalan keluar, hanya mampu berusaha terus meminta maaf dan menunggu Raina memberinya kesempatan lagi.


Semua ini gara-gara Imelda. Pikir Raihan


Lelaki itu melajukan mobilnya menuju rumah, dia tidak punya tempat lain untuk pergi, bisa saja dia pergi ke club malam.


Tapi itu bukan kebiasaannya, dia hanya bisa nongkrong bersama teman-temannya di cafe, namun untuk saat ini mereka sangatlah sibuk dengan urusan masing-masing.


Sesampainya dirumah, dia bisa melihat ibu dan istrinya menyambutnya, bahkan menyiapkan makanan di meja makan.


"Han.. ayo makan dulu..!" Lisa


"Iya mah." Raihan


Lelaki itu kini duduk diantara dua wanita yang sudah menyambutnya.

__ADS_1


"Han, kenapa wajahmu kusut begitu?" Lisa


"Gapapa ko mah, hanya ada masalah kecil saja." Raihan


"Apa kamu sudah memecat sekretarismu itu Mas?" Imelda


"Kenapa harus dipecat? Sebenarnya ada masalah apa sih?" Lisa


"Itu mah, ada yang menjual data perusahaan kita ke perusahaan lawan, Mas Raihan rugi besar dong, bahkan terancam bnagkrut, iya kan Mas?" Imelda


"Sudahlah tidak usah dibahas lagi, urusan itu sudah beres, lagipula masalah perusahaan kini semuanya baik-baik saja." Raihan


"Tapi ini bukan masalah ringan Han, kurang @jar sekali sekretaris itu, biar mamah laporin aja ke polisi Han." Lisa


"Udahlah mah, aku pusing." Raihan


"Tahu gak mah ternyata sekretaris Mas Raihan itu mantannya yang waktu itu loh mah, Raina." Imelda


"Apa, gadis miskin itu? Yang matre, yang berniat jahat menginginkan harta keluarga ini? Astaga kenapa kamu baru bilang Mel?" Lisa


"Dia tidak seperti yang mamah pikirkan." Raihan


Lelaki itu pusing mendengarkan ibunya yang mengomel, apalagi kalau tentang Raina, ibunya akan semangat memaki dan menghina kekasihnya itu, padahal jelas Raina lebih baik dari Imelda menurut Raihan.


Raihan berdiri dan pergi menuju kamarnya.


"Han.. kamu makan dulu..! Malah pergi sih?" Teriak Lisa.


Sementara Imelda terlihat tersenyum licik di balik pertengkaran ini.


"Mamah harus buat perhitungan pada wanita itu." Lisa


"Iya mah, aku setuju, wanita itu memang mempunyai niat tidak baik mah dari awal." Imelda


"Kamu benar Mel." "Lisa


Bagus mah, emosi mamah itu akan semakin membuat wanita itu terluka, tidak akan ada kesempatan untuk wanita itu dekat lagi dengan Raihan. Pikir Imelda


Imelda sengaja membuat mertuanya itu membenci Raina, karena mau itu dulu atau sekarang dirinya harus bisa menyingkirkan wanita itu, dia tidak mau melepaskan Raihan.


Lelaki yang dia inginkan, dia cintai. Imelda jika harus disuruh memilih, dia lebih menyukai harta suaminya itu. Tapi untuk saat ini dia harus mendapatkan keduanya, sampai titik darah penghabisan.


Raina, bersiaplah..! Kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan, kehancuran..!hahaha.. Batin Imelda


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2