
Raihan akhirnya benar-benar pergi ke kamar mandi, dia berendam air hangat untuk membuat pikirannya lebih rileks.
Semua masalah hari ini adalah kejutan tak menyenangkan untuknya.
Raihan teringat kesalahannya pada kekasihnya itu, dia tahu jika pacarnya itu trauma, namun dia sekarang malah menjadi pemicu rasa sakit dan traumanya wanita itu.
"Maafkan aku Na … ," ucap Raihan pelan.
Dia memejamkan matanya, membayangkan kali terakhir dia melihat kekasihnya menangis karena dibentak olehnya.
"Maaf, karena tidak percaya padamu, maaf karena membuatmu sakit, ya.. bahkan kamu pingsan di kantor, tapi aku tetap saja tak peduli, aku memang b0doh Na," Raihan berbicara sendiri, sambil memejamkan matanya.
Tanpa terasa dia bahkan tertidur di bathtub, sampai 2 jam berlalu Imelda menggedor pintu kamar mandi itu. Wanita itu merasa khawatir pada suaminya, dia berusaha melupakan tatapan marah suaminya itu agar dia tidak gugup.
Raihan keluar dengan badan yang sudah kedinginan, air yang tadinya hangat pun telah berubah menjadi dingin.
"Kamu kok mandinya lama banget Mas, aku kira kamu kenapa-kenapa?" Tanya Imelda.
"Aku hanya terlalu pusing saja makanya berendam, tapi malah ketiduran." Raihan
"Astaga Mas, itu sih nyari penyakit kalau berendam sampe 2 jam gini, cepat pakai bajunya..! Aku mau ambil dulu teh hangat untukmu." Imelda
Wanita itu berlari keluar dari kamar, segera menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.
Raihan ternyata demam akibat berendam yang kelamaan itu, teh hangat tak mampu membuatnya merasa lebih baik, dia meminum obat pereda demam lalu tertidur pulas.
***
Pagi hari datang, Raina sarapan bersama ibunya. Wanita itu lemas tidak ada semangat pagi hari ini.
"Kamu kenapa Na? Kamu mau makan sama apa, nanti mamah buat 'kan?" Bu Ana
"Gak usah mah, aku memang sedang tidak ingin makan saja." Raina
"Makanlah walau sedikit, kamu harus bisa sehat lagi, mamah lihat pipimu yang chubby mulai menghilang, ayo makan…!" Bu Ana
"Masa sih mah sakit sehari aku udah kurus aja? Haha.. mamah ini bikin aku khawatir saja, ya sudah kita sarapan bersama." Raina
Tingnong
__ADS_1
Tingnong
Tingnong
Suara bel berbunyi.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi sekali?" Bu Ana
"Ibu kedepan dulu ya?" Bu Ana
"Iya mah.." Raina
Tak berselang lama kemudian Lani datang memeluk tubuh Raina secara tiba-tiba, dia merasa sangat khawatir karena terakhir kali dia melihat keadaan sahabatnya itu sangat kacau sekali, ditambah ponsel temannya itu tidak aktiv, membuat Lani berpikir yang tidak-tidak.
"Kamu gapapa? Ponsel kamu kenapa mati? Aku khawatir tau gak sih?" Lani
"Hehe.. makasih loh udah perhatiaan sama aku, aku gapapa, ponselku memang sengaja aku nonaktifkan selama aku masih sakit." Raina
"Oh, tapi kamu sudah dengarkan rekaman yang aku kirim?" Lani
"Sudah, aku juga sudah mengirimkannya pada Raihan, aku tidak tahu tanggapan dia, karena aku langsung mematikan ponselku." Raina
Lani hanya mampir sebentar dia kemudian pamit untuk segera menuju ke kantor, dia tidak mau jika dirinya mengalami masalah karena datang terlambat, namun Lani janji akan datang lagi setelah pulang dari kantor.
"Aku bete seharian di rumah," keluh Raina.
Raina akhirnya memilih mengecek jualan onlinenya, tempat usahanya itu tidak jauh dari rumahnya, dia berjalan kaki hingga sampai disana, dia menghabiskan waktu disana sampai siang hari, bahkan membantu mempacking pesanan.
"Bu.. biar aku saja, bukannya ibu sedang tidak sehat?" Della (salah satu karyawan Raina)
"Gapapa, aku baik-baik saja." Raina
Selama di tempat itu Raina berbaur dengan semua karyawannya, bahkan mentraktir mereka makan siang bersama.
Sebenarnya dia tidak kekurangan uang, meski tidak bekerja di perusahaan Raihan pun dia akan baik-baik saja, namun dia hanya ingin memuaskan hatinya bertemu laki-laki itu.
Bukankah aku sudah tidak punya alasan untuk pergi ke kantor? Kamu sudah membuatku takut Mas… Batin Raina
Dia kembali ke rumah, rasanya siang itu dia mengantuk berat, saat perjalanan pulang, dia bertabrakan dengan seorang laki-laki.
__ADS_1
"Agus…" Raina
"Hai mantan istriku," ucap Agus dengan senyumannya yang aneh itu.
Astaga, aku harus bagaimana? Tubuhnya mulai gemetar.
Raina dengan cepat berlari menuju rumahnya, namun Agus hanya diam, dia hanya ingin membuat mantan istrinya itu takut saja, karena dia mempunyai urusan lain yang lebih penting.
Raina sampai dirumah dengan keringat yang bercucuran hingga membuat Bu Ana panik.
"Na… kamu kenapa?" Bu Ana
"Ada Agus mah, aku melihat Mas Agus." Raina
"Dimana?" Bu Ana
"Di jalan … ," ucap Raina yang tak sanggup dia lanjutkan, lalu dia pingsan seketika.
Bu Ana membawa anaknya itu ke dalam kamar, membopongnya dengan dibantu pelayan yang kebetulan sedang bersih-bersih di rumah.
Dokter pun sengaja dipanggil kerumah, memeriksa keadaan Raina, namun sepertinya Raina hanya syok, jadi dokter membiarkan Raina istirahat, dan meresepkan obat penenang untuknya.
Sore itu Raina baru sadar, entah mengapa dia lupa kejadian tadi saat bertemu Agus.
"Aku kenapa mah?" Raina
Kenapa dia tidak ingat?, tapi itu lebih baik untuknya. Pikir Bu Ana
"Kamu hanya pingsan Na, ayo makan salad buahnya, kamu kan sangat suka dengan makanan ini..!" Bu Ana
"Iya mah, pasti enak dan segar." Raina
Saat itu Lani datang berkunjung sesuai janjinya, dia tersenyum manis pada sahabatnya itu, dia menunggu sampai Bu Ana pergi dari kamar itu.
Setelah kepergian Bu Ana, Lani langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu, dia mencoba mencari sesuatu yang dia butuhkan.
Dimana ya, apa tertinggal dikantor? Pikir Lani
"Kamu mencari apa Lan?" Raina
__ADS_1
Bersambung...