
Lisa mencoba menelepon Raihan, mencari tahu dimana rumah Raina karena wanita itu berniat menjenguknya. Sekarang Lisa merasa bersalah karena sempat memisahkan anaknya dari wanita yang ternyata baik, dia telah salah memilih menantu yang bahkan di depan matanya jelas terlihat anaknya Raihan tidak bahagia dengan rumah tangganya.
"Raina masuk kerja Mah, dia ada di Kantor." Raiha
"Apa? Bukannya dia masih sakit?" Lisa
"Dia bilang sudah gapapa mah, dia gak enak katanya kalau sering bolos." Raihan
"Ya udah Mamah ke Kantor kamu sekarang." Lisa
"Iya Mah." Raihan
Lisa berangkat dengan sopir pribadinya, namun sepertinya Imelda kepo dengan kegiatan ibu mertuanya itu. Dia mengikutinya dengan menggunakan taksi.
Hingga dimana Imelda bisa melihat ibu mertuanya masuk ke kantor suaminya.
"Tumben banget Mamah dateng ke Kantor."
Wanita itu ingat jika masih ada penyadap suara di ruangan Raina, ternyata benar dugaannya jika mertuanya itu sengaja datang menemui wanita yang dia benci.
"Is, so perhatian pake nanyain keadaannya, harusnya nama dia sudah tertulis dibatu nisan kemarin," ucap Imelda saat mendengar percakapan Lisa yang bersikap baik menanyakan keadaan Raina.
Imelda fokus kembali dengan percakapan mereka, siapa tahu dia menemukan percakapan tentang data perusahaan yang diketahui mertuanya.
"Bagaimana kabar ayah kamu?" Lisa
"Alhamdulillah baik Tante." Raina
"Tante pengen pergi lagi kesana, mengunjungi keluargamu dan meluruskan kesalahpahaman waktu itu, tante merasa bersalah." Lisa
"Silahkan Tante, nanti saya akan beritahu ibu saya lewat telepon, saya yakin keluarga saya menyambut kedatangan Tante dengan baik." Raina
"Benarkah? Makasih loh, bagaimana kalau kesana bareng sama kamu aja?" Lisa
"Emm, saya hanya bisa saat libur kerja saja Tante." Raina
"Gapapa, janji ya nanti saat libur bekerja, oke?" Lisa
"Hmm, iya boleh deh Tante," Raina
Imelda mulai bertanya-tanya untuk apa mertuanya mendatangi keluarga wanita itu, "apa Mamah menyetujui hubungan Raihan dan akan menikahkan mereka? Lalu aku bagaimana? Sial, kenapa wanita itu bisa meluluhkan hati wanita tua itu sih? Aku yakin Mamah mulai berbeda karena Raina membocorkan rahasia itu, dan cepat atau lambat Raihan akan tahu juga."
Imelda merencanakan rencana cadangan, untuk berjaga-jaga saat dimana Raihan mengetahui rencananya dan melibatkan polisi.
Imelda segera pergi dari sana, dia menuju bank untuk mengambil uang cash yang cukup banyak.
***
__ADS_1
Lisa yang sudah selesai berbincang dengan Raina, dia menemui Raihan dan memberitahu jika dia sempat keceplosan di rumah saat bersama Imelda.
"Maafin Mamah ya Han…." Lisa
"Hmm, gapapa Mah, lagian aku sudah berniat melaporkannya ke polisi, aku gak mau kalau ada yang celaka lagi, dan…." Raihan
"Dan apa?" Lisa
"Dan masalah kematian Papah, detektif Gio mencurigai jika itu juga perbuatan Imelda, tapi ini hanya kecurigaan awal ya Mah." Raihan
"Apa? Mamah gak terima kalau memang ini ada hubungannya dengan istrimu itu Han." Lisa
"Mamah tenang dulu, nanti kita selidiki lagi, dan Mamah coba tanyakan ke semua pelayan di rumah saat Imelda tidak ada..!" Raihan
"Biar Mamah tanyakan saja ketika pulang." Lisa
"Jangan saat ada Imelda Mah, pasti kan ada saksi yang diancam, kalau ada Imelda mana mau mereka jujur!" Raihan
"Iya juga sih." Lisa
Lisa pulang dengan wajah lesu, dia yang sudah mengikhlaskan suaminya itu, kini merasa terguncang kembali, apalagi kalau dia menemui Fakta yang menyakitkan tentang kematian suaminya itu.
Saat Lisa sampai dirumah ternyata Imelda sedang bersantai berenang di kolam, dia pulang lebih dulu daripada mertuanya, membuat Lisa tidak bisa melakukan penyelidikannya.
Lisa memilih pergi ke kamarnya, meninggalkan menantunya itu, dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Imelda sekarang, Lisa sudah tidak menganggap wanita itu menantu idamannya lagi.
***
"Pelan-pelan Mas bawa mobilnya!" Raina
"Ini udah pelan sayang.." Raihan
"Aku merasa ini masih kencang, lebih pelan lagi Mas..!" Raina
"Ehem, jadi kamu mau sampai rumahnya lama, biar bisa liatin wajah yang manis ini terus ya?" Raihan
"Hmm, bukan begitu maksudku, tapi aku masih mengingat kecelakaan kemarin itu, tadi pagi saja Pak Asep membawa mobilnya lebih pelan dari ini." Raina
"Oh gitu, kirain… ya udah aku pelanin lagi, pelan tapi enak dikamu." Raihan
"Maksudnya?" Raina
Raihan memegang tangan kanan Raina, " iya aku akan memperlambat laju mobilku, agar kamu enak dan nyaman, gitu.. kamu tenang aja, kamu pasti baik-baik aja, aku bakal lindungin kamu." Raihan
"Hmm, oh, iya Mas makasih.." Raina
"Oh.., emang kamu tadi mikirin apa? Omes ya? Ngaku aja, hahaha.." Raihan
__ADS_1
"Siapa yang omes? Kamu kali." Raina
Raina merasa malu karena memang dia berpikiran negatif, dia memalingkan wajahnya dan hanya fokus ke arah depan.
Cup..
Tangan kanan Raina tadi yang dipegang kini dikecup pria itu, membuat si wanita kaget namun senang.
"Suatu saat aku bakalan halalin kamu sayang, jadi sabar ya! Jangan omes mulu! Hehe.." Raihan
Raina menghempaskan tangannya dari tangan Raihan, dia kira adegan itu akan menjadi adegan romantis, nyatanya diluar ekspektasinya.
"Siapa sih yang omes?," keluh Raina yang kini mulai bad mood.
Raihan malah tersenyum puas, dia suka sekali melihat pacarnya itu cemberut, membuat pipinya yang chubby itu semakin menggemaskan.
Raihan mencubit pipi Raina dengan gemasnya.
"Mas…." Teriak Raina.
"Apa sayang? Abis kamu lucu sih, hehe.." Raihan
"Mas nyebelin." Raina
"Tapi ngangenin, ya 'kan?" Raihan
"Gak tuh, PD banget deh." Raina
Sepanjang jalan wanita itu cemberut karena Raihan terus mengerjainya. Saking asiknya niat hati mengantarkan Raina hanya sampai depan gerbang komplek, eh malah sekarang mobil itu sudah ada di depan gerbang rumah.
Dan seperti biasa, ada banyak pasang mata yang melihat Raina dengan tatapan tidak suka.
"Mas sih nganterinnya kelebihan." Raina
"Gapapa, biar kamu gak cape jalan kaki lagi, cepet masuk ke rumah, atau kamu mau aku mampir dan menginap? Hehe.." Raihan
"Gak Mas, jangan aneh-aneh deh!, makasih udah nganterin aku Mas, aku masuk dulu." Raina
"Iya, sama-sama sayang." Raihan
Pak Asep menyapa majikannya yang baru pulang, dia memberikan paket yang dikirim atas nama Raina, padahal wanita itu tidak memesan apapun, namun dia membawanya ke dalam rumah.
paket apa ya? pikir Raina
Tanpa rasa curiga, dia membuka paket itu, namun…
"Aahhh….. apa ini? Singkirkan, singkirkan benda itu!" Raina berteriak kencang bahkan suaranya terdengar sampai keluar rumah.
__ADS_1
Pak Asep yang khawatir bahkan dia berlari sangat kencang takut terjadi hal gawat, karena dia tahu kalau pekerjaannya memang mempertaruhkan nyawanya juga, berat memang tapi dia tidak boleh mengeluh karena bahkan gajinya sudah dibayar full diawal.
Bersambung…