Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Melabrak


__ADS_3

Di dalam kamar Raihan merasakan kepalanya sakit, mungkin dengan semua masalah yang datang membuat pria itu kewalahan dengan semua beban pikirannya.


Kenapa mamah selalu menganggap Raina wanita seperti itu? Pikir Raihan


Lelaki itu sebenarnya ingin tegas dengan apa yang telah dilakukan Imelda istrinya itu, dia juga ingin segera menceraikannya, namun dia berpikir ulang untuk menjebloskan perempuan itu ke dalam penjara dengan maksimal.


Raihan akan mencari semua bukti kecurangan Imelda dulu, agar hukuman dipenjara akan lama dan tentunya laki-laki itu akan puas.


"Sabar… gue harus sabar dulu ngadepin wanita licik itu..!" Raihan.


***


Raina yang baru sampai dirumah, dia disambut hangat oleh Bu Ana, langsung mengajaknya makan bersama.


"Kamu pasti lapar, kita makan bersama ya?" Bu Ana.


"Iya bu," ucap Raina sambil tersenyum.


Sore itu setelah makan Raina mendiamkan dirinya sejenak untuk beristirahat, setelah itu mandi dan mengecek pesanan pelanggan di toko online nya, meski sudah ada karyawan kepercayaan yang menghandle nya tapi Raina akan menyempatkan untuk mengecek ulang.


"Wah.. bulan ini pesanan membludak, syukurlah … ," ucap Raina tersenyum menatap handphone nya.


Sore itu sampai malam tiba, wanita itu sengaja menyibukkan diri agar tidak teringat perlakuan terakhir dari kekasihnya itu, dia membantu karyawannya mempacking barang pesanan.


"Na, besok ibu pulang ya? Kasian Farhan adikmu itu, kalau berangkat sekolah dan pulang sekolah pasti harus membeli makanan dulu, bapakmu juga gak ada yang mengurus, kamu gapapa 'kan ibu tinggal?" Bu Ana


"Iya bu, Raina sudah baik-baik saja kok." 


Tingnong


Tingnong


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Bu Ana.


"Aku cek dulu ya bu?" Raina.

__ADS_1


Wanita itu melangkah pergi tanpa rasa curiga, dia begitu santai membuka pintu rumahnya.


"Tante … ," ucap Raina dengan ekspresi terkejutnya.


"Oh jadi sekarang rumahmu disini? Aku cuma mau ngingetin kamu ya wanita g@njen, jangan ganggu anakku! Apa kau tidak malu memanfaatkannya, sampai membuat perusahaan Raihan merugi?" Bu Lisa


"Bener tuh, dasar janda g@tel." Imelda.


"Jadi kamu sudah berstatus janda juga? Astaga, kamu ngaca dulu dong, udah janda, miskin, deketin suami orang, nipu lagi, parah banget." Bu Lisa


"Aku memang janda tante, tapi aku tidak menipu anak tante, apa itu karena masalah yang terjadi di perusahaan? Soal data perusahaan yang bocor. Karena dijual seseorang?" Tanya Raina.


Raina yang dulu mungkin akan ketakutan, tidak berani menjawab satu kata pun jika Bu Lisa berbicara, namun kali ini berbeda, dia harus membela dirinya sendiri.


"Halah, aku pastikan kamu akan masuk penjara!" Ancam Bu Lisa.


"Siapa yang masuk penjara?" Tanya Bu Ana yang baru datang, karena khawatir dengan anaknya yang membuka pintu untuk tamu namun tak kunjung kembali.


"Anak kamu lah, dia sudah melanggar hukum, membuat perusahaan anakku rugi besar." Teriak Bu Lisa.


"Tidak bu, itu fitnah, biarkan saja mereka bu, nanti juga malu sendiri karena ternyata menantunya lah yang masuk penjara." Ucap Raina dengan senyuman sinisnya.


"Maksud kamu apa hah?" Imelda


"Tuh kan yang ngerasa pasti marah, hahaha…" Raina


Saat itu Imelda emosi dia mulai menyerang Raina, namun dengan cepat Bu Ana memanggil 2 pengawal yang berjaga di luar, menyeret Imelda keluar sementara Bu Lisa terpaksa mengikuti menantunya itu keluar dari rumah Raina.


"Awas kau ya, dasar pelakor!" Teriak Imelda, wanita itu membuat keributan di malam hari, membuat beberapa orang datang.


Dengan terpaksa mereka pulang, mereka yang seharusnya memberi pelajaran pada wanita itu, namun malah berbalik, sehingga merekalah yang dipermalukan.


Sepertinya keadaan wanita itu sudah berubah, rumahnya lumayan besar, penampilannya juga lebih cantik terawat dan elegan. Pikir Lisa


Sesampainya di rumah, Imelda masih dengan kekesalannya, dia membanting tasnya ke sofa.

__ADS_1


"Ahh… kenapa jadi begini?" Imelda.


"Kamu jangan marah-marah di rumah, berisik!" Lisa


"Maaf mah, aku benar-benar kesal." Imelda


"Duduk!" Bu Lisa menyuruh menantunya itu duduk berhadapan dengannya. "Maksud wanita itu apa? Dia bilang kamu yang akan masuk penjara, jangan bilang kalau kamu terlibat dalam masalah ini? Jangan bilang kamu menjebak dia, dengan mengorbankan perusahaan suamimu sendiri?" Tanya Lisa.


Imelda gugup dengan tatapan sengit dari mertuanya itu, "ti-tidak mah, pasti dia mau fitnah aku."


"Ok, awas saja kalau kamu sampai berbohong!" Bu Lisa


Lisa berlalu pergi, dia merasa sia-sia telah pergi melabrak wanita itu, jika dipikirkan kembali sebenarnya dia bisa berpikir secara dingin, mencari tahu terlebih dahulu, dan bukan malah mendatangi rumahnya langsung, apalagi di malam hari.


"Astaga, b0doh sekali aku, mau-maunya diajak melabrak wanita itu tanpa bukti yang kuat, dasar Imelda." Keluh Lisa


Sementara Imelda yang masih kesal itu memasuki kamarnya, namun tidak melihat suaminya disana. Setelah mengecek ke ruang kerja, kini dia bisa melihat suaminya yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Mas, kamu kok belum tidur?" Imelda


"Kamu duluan aja, aku masih banyak pekerjaan, ini semua gara-gara data yang sempat bocor itu," keluh Raihan, dia sengaja bilang begitu agar Imelda merasa sedikit bersalah dan segera pergi.


"Oh gitu, yaudah aku tidur duluan Mas." Ucap Imelda lalu dengan terburu-buru keluar ruangan itu dan menutup pintu.


"Ck … , terlihat sekali jika dia tidak mau membahas atau mendengar masalah kekacauan data perusahaan." Raihan


Imelda terburu-buru masuk ke dalam kamarnya, membantingkan tubuhnya di ranjang. Ranjang yang besar untuk ditiduri seorang diri.


"Huh, aku selalu khawatir jika Mas Raihan berbicara tentang data itu," keluh Imelda.


Kemudian Imelda teringat akan ucapan Raina yang begitu santai, wanita itu sama sekali tidak khawatir dengan ancaman penjara.


Kenapa dia bisa menuduhku? Apa dia tahu aku pelakunya? Apa dia punya buktinya? Pikir Imelda


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2