Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Imelda Merasa Takut


__ADS_3

Raihan memandangi Foto Pak Hendra (mertuanya) dan Pak Nino (bapaknya Raina).


Lelaki itu baru tahu jika bukan hanya anaknya saja yang bersahabat, tapi ayah mereka juga bersahabat, apakah persahabatan ayah mereka masih terjalin? Itulah yang dipikirkan oleh Raihan.


Bu Lisa mengenal Pak Hendra karena balas budi dimasa lalu, saat Pak Bram ditolong seseorang karena tenggelam di pantai. Saat itu Lisa sedang di tempat lain, ibunya datang setelah suaminya sudah berada di Rumah Sakit.


Tapi sepertinya mamah tidak mengenali Pak Nino, hanya pernah bertemu Bu Ana saja. Pikir Raihan


Nyatanya orangtua Imelda dan orang tua Raina memang tinggal di luar kota , bahkan di kota yang sama dan memungkikan sekali jika para ayah mereka bersahabat, Raihan akan menanyakan hal ini pada Raina, dia merasa penasaran.


Saat pagi tiba, lelaki itu bahkan mandi di kamar mandi kantor, jika dirasa ini keadaan yang sangat menyedihkan menurut Raihan namun setidaknya dia bisa bebas seminggu dari istrinya.


Namun saat jam kerja belum mulai, bahkan para karyawan hanya baru sebagian yang datang, istrinya datang membawakan sarapan.


"Mas… ini aku bawakan makanan, sarapan dulu Mas..! Kamu bekerja keras sekali, jaga kesehatanmu, aku tidak mau kamu sakit." Imelda


"Iya.." Raihan


Dia duduk dan langsung memakan sarapannya, kebetulan sekali dia memang sedang lapar.


"Mas, kamu yakin mau seminggu menginap di kantor? Kamu kan bisa bekerja di rumah, bukannya ada ruangan kerja khusus yang sering kamu pake?" Imelda


"Aku hanya ingin fokus , kalau dirumah aku masih saja bisa mendengar keributan, bahkan omelanmu itu." Raihan


"Mas … ," keluh Imelda.


"Udah habis, makasih ya.. dan kamu boleh pulang sekarang." Raihan


"Mas ngusir aku? Mas gak kangen sama aku?" Imelda


"Iya." Raihan


"Mas juga kangen sama aku, beneran?" Imelda


"Iya mas ngusir kamu." Raihan


Lelaki itu fokus kembali pada layar laptopnya, kembali bekerja.


Wanita itu merasa kesal, dan pergi begitu saja, dilantai bawah dia sempat bertabrakan dengan Raina yang baru datang.


"Aduh, kalau jalan pake mata dong!" Imelda


"Pake kaki lah." Raina


"Raina, Kamu masih bekerja disini? Seharusnya kamu sudah dipecat dan masuk penjara, aku akan protes pada Raihan," ucap Imelda lalu berbalik arah.

__ADS_1


Namun Raina mencoba menahan tangan mantan sahabatnya itu, dan berbicara sangat pelan di telinga wanita itu.


"Kamu tahu, Raihan saat ini menutup kasusnya karena dia ingin melindungiku, namun aku punya bukti jika kau dan Riri yang melakukannya, apa kau mau Raihan marah besar padamu, atau bisa jadi dia langsung melaporkanmu, apak kau mau?" Raina


Seketika kakinya lemas, Imelda tak menyangka jika sahabatnya yang dulu bahkan sangat mudah untuk dibodohi, namun sekarang dia lebih licik darinya.


Namun sebisa mungkin wanita itu menenangkan dirinya, mencoba membalikan keadaan.


"Kau pikir aku percaya padamu? Mana buktinya?" Imelda


Lalu Raina memperdengarkan sebuah rekaman percakapan Riri ditelepon, dan Imelda menyadari kalau itu saat dirinya menelpon Riri.


Astaga, jadi wanita j@lang ini benar-benar serius, bagaimana ini? Pikir Imelda


"Oke, kalau begitu aku tidak akan mengusikmu, biarkan aku pergi sekarang!" Pinta Imelda karena tangannya masih dicengkram Raina.


"Silahkan… ," ucap Raina sambil menampilkan senyuman manisnya pada mantan sahabatnya itu, senyuman yang berarti kemenangan untuknya.


Raina memanfaatkan rekaman itu, dan dia bisa tetap menjaga kesepakatannya dengan Raihan, dengan begitu Raihan bisa tetap berpura-pura tidak tahu jika Imelda pelakunya.


Setibanya di ruangan, wanita itu langsung mendapatkan panggilan dari sang kekasih, menyuruhnya datang ke ruangannya.


Tok


Tok


Tok


"Ada apa Mas, ini masih pagi loh, hehe.." Raina


"Hmm kau ini, aku mau bertanya sesuatu, kemarilah..!" Raihan


Raina berjalan mendekati dan duduk dikursi yang ada didepan Kekasihnya.


"Bertanya soal apa?" Raina


Lelaki itu menunjukan sebuah foto lama, dimana ada ayah wanita itu di dalam foto.


"Hmm, sepertinya ini foto lama, ini foto ayahku tapi aku tidak tahu disebelahnya itu siapa, memangnya ini penting?" Raina


"Aku hanya penasaran saja kamu kenal tidak dengan lelaki yang berada di sebelahnya." Raihan


"Tidak, aku tidak kenal." Raina


"Itu ayah Imelda, pak Hendra, ayahmu dan pak Hendra ternyata bersahabat sejak lama." Raihan

__ADS_1


"Apa? Kok aku baru tahu." Raina


Raina mulai berpikir untuk mencari tahu, dia berniat menemui ayahnya secara langsung.


Wanita itu kembali ke ruangannya, dia belum berani mendekati kekasihnya seagresif dulu, dia masih merasakan keraguan di dalam hatinya.


Saat jam makan siang, Raina makan bersama Lani, gadis itu merasa emosi pada Raihan karena kasus demo itu, namun sebisa mungkin Raina menjelaskannya, dia tidak mau ada kesalahpahaman.


"Oh, kalian lagi bekerjasama? Memangnya ada yang salah lagi sama bu Bos (Imelda)?" Lani


"Entahlah, dia memang wanita penuh tipu muslihat." Raina


"Oh gitu, ya.. asal kamu tidak dirugikan saja, aku gak mau kamu jadi korban." Lani


"Iya, enggak kok, Raihan sudah mengatasi masalah demo kemarin itu, menutupi kasus itu dan aku tidak disalahkan sebagai pelakunya." Raina


"Cie, udah baikan nih sama pacarnya?" Lani


"Ya gitu deh, tapi aku masih memberi jarak, aku masih ragu." Raina


Saat sore tiba semua karyawan bersiap pulang kecuali Raihan, dia akan menginap lagi malam ini.


Raina pulang bersama Lani, dia terlebih dahulu mengantarkan gadis itu. Saat baru saja sampai di rumahnya dia menerima telepon dari ibunya.


Bu Ana, memberitahu Jika Agus ingin uangnya cepat di transfer, karena nominal yang sangat banyak, Raina mengirimnya secara bertahap.


Wanita itu tidak mau berurusan lagi dengan lelaki bernama Agus, dia rela mengeluarkan uang banyak.


Berharap Agus tidak pernah mengganggunya lagi setelah hutang ayahnya lunas. Dia kembali menelpon ibunya untuk memberi kabar.


"Sudah aku kirim mah, bilang padanya untuk tidak mengganggu keluarga kita lagi..!" Raina


"Iya Na, makasih kamu udah mau melunasi semua hutang bapakmu." Bu Ana


"Iya mah, oh iya kalau aku libur kerja, aku boleh kan mah dateng ke rumah, aku kangen sama Farhan dan Bapak?" Raina 


"Tentu saja boleh, mamah tunggu, sebelum kesini kabari dulu, biar mamah siapkan makanan spesial buat kamu..!" Bu Ana


"Gak usah bu, biar Raina yang beli makanan di jalan dan dibawa pulang." Raina.


Malam itu menjadi malam yang damai bagi wanita itu, karena pada akhirnya dia bisa memutuskan hubungan dengan Agus, dia percaya jika setelah hutang bapaknya lunas, setidaknya pria itu akan berhenti mengganggunya.


Tiba-tiba perutnya merasa lapar, namun terbesit dipikirannya untuk mengerjai Imelda.


Dia meminta nomor Imelda terlebih dulu pada Raihan dengan cara menelponnya, bahkan lelaki itu sempat heran dengan kelakuan pacarnya itu, namun tetap memberikan nomor itu.

__ADS_1


Akhirnya dapat, aku akan membuatnya menderita. Pikir Raina


Bersambung...


__ADS_2