
Dikediaman Raina sudah dipenuhi banyak orang, ada beberapa tetangga sekitar juga yang datang.
Raihan yang ikut hadir, disambut hangat oleh Farhan dan bu Ana, namun tidak dengan Pak Nino yang mengabaikan lelaki itu, bahkan menganggapnya tidak ada seperti makhluk tak kasat mata.
Namun Raihan berusaha sabar dan menanggapinya biasa saja.
Sepertinya aku harus lebih bekerja keras untuk mendapatkan restu. Pikir Raihan
"Maafin Bapak aku ya Mas…" Raina
"Iya gapapa, aku mengerti kok, aku yang seharusnya meluluhkan hati calon mertuaku kan? Hehe…" Raihan
Raina tersenyum, entah mengapa dia merasa senang karena diperjuangkan oleh lelaki yang dicintainya.
Tak berselang lama datanglah Lisa yang berbaur dengan semua orang, bahkan berusaha mengakrabkan diri dengan Pak Nino.
"Apa kabar Pak Nino? Padahal saya dan anak saya berniat mengunjungi kalian, namun setelah mendapat kabar kalau keluarga Raina datang kemari, saya begitu senang dan segera datang kemari." Lisa
"Kabar saya baik Bu, iya silaturahmi itu penting, bagi siapapun itu, bahkan dengan tetangga pun kita harus bersilaturahmi." Pak Nino
Astaga, sepertinya dia masih tidak menganggap aku calon besan. Batin Lisa
"Hehe… iya juga ya Pak." Lisa
Tiba-tiba Bu Ana datang menghampiri, menyambut kedatangan tamu baru.
"Bu Lisa baru datang? Ayo silahkan masuk dan nikmati jamuannya Bu..!" Bu Ana
"Terimakasih Bu Ana, apa Bu Ana melihat keberadaan anak saya Raihan?" tanya Lisa sambil celingukkan mencari keberadaan anaknya.
"Oh iya, Nak Raihan sedang bersama Raina dan Farhan di sebelah sana," tunjuk Bu Ana
"Oh iya itu dia, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, saya ada keperluan penting dengan anak saya." Lisa
"Iya , silahkan Bu.." Bu Ana
Setelah kepergian Lisa, Pak Nino menegur istrinya agar tidak terlalu ramah dan akrab dengan Lisa.
"Jangan begitu Pak, dia kan tamu kita juga, memangnya Bapak kenapa gak suka dengan Bu Lisa?" Bu Ana
__ADS_1
"Gak suka aja Bu, dulu kan dia sangat tidak menyukai Raina dan bahkan menghinanya, Bapak masih sakit hati saja." Pak Nino
"Itu kan masa lalu Pak, Raina juga sudah memaafkannya." Bu Ana
"Hmm.. Bapak mau membereskan yang sebelah sana dulu sebelum acara dimulai." Pak Nino
***
"Raihan," panggil Lisa, dia bahkan menepuk punggung anak lelakinya itu.
"Mamah? Mamah datang Kesini juga?" Raihan
"Iya, Mamah nyusulin kamu." Lisa
"Aku bukan anak kecil Mah." Raihan
"Bukan itu maksud Mamah, Mamah punya info penting tentang Imelda, info rumah keluarga asli dia, karena ternyata Bu Sonya itu hanya ibu angkat dia, mungkin Imelda bersembunyi di rumah orang tua aslinya." Lisa
"Benarkah? Kita kesana aja Mah setelah acara ini selesai..!" Raihan
Lisa mengangguk, dia menyetujui apa yang dikatakan Raihan, karena semakin cepat akan semakin baik.
Raihan sudah membayangkan jika dia akan bisa menangkap Imelda, lalu dia akan fokus mendapatkan restu calon bapak mertuanya itu.
Kapan selesainya ya? Mudah-mudahan Imelda benar-benar ada disana. Pikir Raihan
Satu jam berlalu akhirnya acara itu selesai, membuat Raihan terburu-buru berpamitan pada keluarga Raina, begitu pun dengan Lisa.
"Lihat Mah, mereka seperti gak niat berbesanan, terburu-buru pulang begitu..!" Pak Nino
"Jangan gitu Pak, mungkin ada urusan mendesak." Bu Ana
Raihan yang sudah janjian dengan Gio, membuat Detektif muda itu sudah ada didepan rumah Raina untuk berangkat bersama ke tempat tujuan.
Ternyata alamat itu lumayan jauh, bahkan mereka harus melewati jalan yang sepi, minim kendaraan dan semakin ke dalam daerah itu semakin sepi, hanya ada pepohonan dan lahan tanah yang kosong.
"Mah , ini bener kan alamatnya? Kok pelosok gini?" Raihan
"Mamah juga gak tahu, tapi mana mungkin Sonya memberikan alamat palsu." Lisa
__ADS_1
"Bisa saja, meski Imelda anak angkatnya tapi mungkin Bu Sonya sangat menyayangi dia dan mencoba melindunginya." Raihan
"Iya sih, tapi kita coba aja dulu Han..! Iya kan Gio?" Lisa
"Iya Bu, sebaiknya kita coba cek dulu." Gio
Sekarang mereka melalui jalan yang lumayan jelek, membuat Lisa merasa tak nyaman, badannya merasa sakit.
"Ini alamatnya bener gak sih? Astaga jalannya ampun deh.." Lisa
"Hmm, bukannya Mamah yang ngasih alamat, kok malah nanya ke aku?" Raihan
"Mamah gak nanya sama kamu Han, Mamah hanya mengeluh saja." Lisa
Perjalanan itu bagaikan siksaan untuk Lisa, lama, jauh, jalanan yang jelek, dan situasi yang sepi.
Hingga mereka sampai di depan Rumah yang sederhana, rumah kayu yang lumayan bagus, dan nyaman.
Mereka mulai mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum…" Lisa
Namun tidak ada jawaban, hingga Raihan mengulangi apa yang dilakukan ibunya itu.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, permisi, apa ada orang didalam?" Raihan
Lisa berdiri dengan gelisah, dia penasaran apakah ada Imelda didalam sana, jika iya, dia akan menyeret perempuan pembunuh itu, tangannya mengepal keras.
__ADS_1
Pintu itu mulai terbuka, membuat jantung Lisa dan Raihan berdetak tak karuan, dan munculah wanita berpenampilan sederhana dengan daster selutut, namun mampu membuat Lisa dan Raihan kaget.
Bersambung...