Jatah Mantan (Pelakor)

Jatah Mantan (Pelakor)
Mengerjai Imelda


__ADS_3

Raina menyambungkan nomor telepon itu, berharap Imelda masih bangun dan mau mengangkatnya.


"Hallo, siapa?" Ucap Imelda terdengar suaranya pelan seperti baru bangu tidur antara sadar dan tidak sadar.


"Ini aku Raina."


"Apa? Mau apa kau menggangguku malam-malam begini?" Ucap Imelda yang langsung terbangun.


"Eits, jangan marah dulu, apa kau tidak ingat rekaman itu?" Raina


Sial, dia rupanya mau memanfaatkanku. Pikir Imelda


"Iya aku ingat, lalu?" Imelda


"Kalau kamu tidak ingin aku memberitahu Raihan, kamu harus mau melakukan apapun untukku..!" Raina


"Apa? Kamu gil@ ya, aku gak mau." Imelda


"Ya udah, aku akan kirim rekaman itu sekarang." Raina


"Jangan, oke oke, kamu mau apa?" Imelda


"Untuk besok aku mau kamu membelikanku tas yang limited edition itu, yang terbaru, kamu pasti tahu lah." Raina


"Itu mahal." Imelda


"Apa sebanding dengan masuknya kamu ke dalam penjara?" Raina


Ah sial, wanita ini benar-benar licik sekarang. Pkkir Imelda


"Oke, aku usahakan besok." Imelda


"Dan untuk sekarang, kamu belikan aku soto sapi yang paling enak di restoran yang paling terkenal itu loh!" Raina


"Itu sulit, harus mengantri berjam-jam." Imelda


Namun lagi-lagi wanita itu mengancamnya, membuat Imelda terpaksa bangun, dia keluar menggunakan mobilnya bersama supir keluarga, tentu saja dia tidak mau jika harus mengantri.


Imelda menyuruh sopirnya mengantri, selama itu pula dia tidur didalam mobil.


Satu jam menunggu akhirnya dia mendapatkan 3 porsi, dia juga mau mengingat membeli ini memakan waktu yang banyak, dia juga meminimalisir jika Raina meminta yang baru atau yang pedas.


Benar saja saat sampai disana, Raina tidak mau jika soto nya tidak pedas, Imelda pun memberikan cabai ulek yang dipisah sebelumnya.


"Gak mau, aku maunya soto itu pedas sejak dari Restoran." Raina


"Oke, nih satu lagi, ini udah pedas, bye.. aku mau pulang." Imelda

__ADS_1


Ternyata wanita itu pintar juga. Pikir Raina


Sesampainya di rumah Imelda menyantap soto yang tidak pedas dengan lahap, dan dengan penuh kekesalan pada Raina.


Setelah itu dia menelpon Riri, dia harus melampiaskan amarahnya pada orang lain.


"Hallo bu, ada apa?" Riri


"Misimu gagal Ri, dan kita bisa saja masuk penjara, kamu b0doh, kerja gitu aja gak bisa." Imelda


"Maksud ibu?" Riri


"Kamu tahu gak kalau Raina mempunyai bukti percakapan kamu saat menelponku? Apa kamu tidak sadar kalau ada yang menguping?" Imelda


"Gak bu, aku merasa pekerjaanku sudah rapi dan sempurna." Riri


"Sempurna apanya? Raina punya bukti dan dia belum memberikan bukti itu pada Raihan, dia malah terus mengancamku. Sebaiknya kamu cari bukti rekaman itu di handphone dan laptopnya lalu kamu hapus!" Imelda


"Aku benar-benar tidak tahu bu, bagaimana kalau ibu menyewa hacker saja, biar data di ponsel dan laptop dia hilang, bagaimana?" Riri


"Pinter juga kamu, kamu yang urus semuanya, kan ini ulah kamu yang ceroboh!" Imelda


"Lalu uangnya bu?" Riri


"Kamu saja yang bayar hacker itu, kalau udah beres dan gak ada masalah lagi, baru aku bayar kamu!" Imelda


***


Raina bersenandung senang, baru kali ini dia merasa puas ngerjain mantan sahabatnya itu, dia bahkan bisa mendapatkan barang yang dia inginkan tanpa susah payah mencari dan mengeluarkan uang banyak.


"Bu lagi seneng ya, lagi kasmaran?" Tanya Mila (karyawan yang menginap di rumah Raina)


"Hehe.. gak kok, lagi seneng aja menang lotre," ucap Raina berlalu pergi, dia ingin bersiap-siap tidur.


Lotre? Pikir Mila penuh tanda tanya, dia benar-benar tidak mengerti, apa iya bos nya itu menang lotre.


Setelah berganti pakaian tidur yang tipis, dia merebahkan tubuhnya, namun ada video call masuk.


 "Sayang, kamu belum tidur?" Raihan


"Baru mau tidur, kalau kamu gak nelpon, mungkin aku juga udah tidur." Raina


"Aku ganggu dong, maaf deh, habisnya aku susah tidur nih, di kantor kan luas terus sepi, aku terkadang merinding kalau tengah malam." Raihan


"Gapapa kok gak ganggu, oh iya, kamu hati-hati nanti tiba-tiba dipeluk hantu lagi, haha…" Raina


"Jangan nakut-nakutin yang lagi takut Na..!" Raihan benar-benar takut.

__ADS_1


"Wah.. pemandangan yang indah." Raihan


"Memangnya kalau di kantor pemandangannya indah? Lihat apa, meja, kursi, laptop, atau kamu lahi di atap gedung? Bukannya kamu lagi di ruangan kamu ya?." Raina


"Indah pokoknya, aku betah lama-lama nelpon kamu." Raihan


"Maksud kamu apa Mas? Aku kepo, apa sih? Apa aku yang lemot, Kok aku gak paham sih?" Raina


"Hahaha, kamu ternyata gak sadar kalau bajumu seperti itu." Raihan


Raina menatap bajunya yang ternyata sudah dia ganti, wanita itu langsung menutup sambungan telepon itu.


Astaga, kenapa aku bisa lupa? Aku kembali menjadi pelakor, penggoda seperti sebelumnya, padahal aku tidak berniat begitu. Pikir Raina


Kini dia tidak bisa tidur, disaat dia ingin kembali ke dirinya yang dulu dan melupakan sikap agresifnya yang sempat dia lakukan dengan meniru adegan-adegan menggoda di drama korea, eh nyatanya dia tanpa sengaja menggoda suami orang bahkan dengan bentuk tubuhnya.


Hal itu membuatnya benar-benar malu, bahkan jika mengingat dulu caranya menggoda Raihan, dia seakan kehilangan muka didepan kekasihnya itu, ketika dia sudah mendapatkan cinta lelaki itu. Maka dia tidak perlu bersikap agresif begitu, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri namun lebih kuat dan pintar dari sebelumnya.


***


Saat pagi datang Raina teringat tas yang dipesan olehnya, dia mengirim pesan pada Imelda pagi itu.


Mel jangan lupa, tasku harus ada hari ini! Raina


Satu pesan itu bisa membuat Raina tersenyum puas, namun bisa membuat seisi kamar Imelda berantakan.


Raian pergi menuju kantor, hari ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh wanita itu, Agus sudah diatasi, masalah data perusahaan sudah diatasi Raihan, Imelda bahkan sekarang bisa dimanfaatkan.


Indahnya hari ini. Batin Raina


"Hei, lagi seneng ya, senyum-senyum mulu..!" Lani


"Iya dong, oh iya rekaman itu kamu jangan hapus ya..! takutnya rekaman punyaku hilang, bisa saja kan Riri menghapus data di ponselku, atau bahkan mencuri ponselku juga, buat jaga-jaga aja." Raina


"Ok, kok bisa Riri tau soal ini?" Lani


Raina pun menceritakan semuanya, dari mulai dia mengancam Imelda, dan dia juga berpikir jika wanita itu tidak mungkin diam saja, pasti Imelda menyuruh Riri melakukan hal lain.


"Bener juga sih, aku yakin Riri punya rencana lagi, kamu hati- hati ya Na..! Aku takut jika kamu sampai dicelakai dia." Lani


"Iya, kamu tenang aja Lan, aku pasti waspada, dan jika terjadi sesuatu pun, kamu harus membongkarnya dan arahkan semua kecurigaan pada mereka..!" Raina


"Jangan ngomong gitu ah, bukannya kamu lagi senang, kalau gitu traktir aku kopi pagi ini, oke?" Lani.


"Ok deh." Raina


Riri yang memperhatikan mereka dari jauh, dia tersenyum licik, dan langsung menelpon seseorang.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2