Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Bermimpi


__ADS_3

“Nona Shana…!!!"


"Kamu kenapa sangat menggemaskan kalau lagi tidur, Nona Shana.”


“Nona Shana…!!!”


Shana yang tadinya masih larut dalam mimpinya, tiba-tiba dia langsung membuka kedua kelopak matanya karena melihat wajah laki-laki yang begitu sangat dekat dengannya. Dia langsung berulang kali menepuk pipinya dengan kedua telapak tangannya.


“….???????”


Dengan perlahan-lahan, Shana pun mendengar suara alarm ponselnya berdiring.


Kriiing… Kriiing… kriiing….


Shana mengusap-usap kelopak matanya dengan pelan-pelan. Lalu menatap ke langit-langit kamarnya dengan wajah bingung dan bertanya-tanya, ada apa dengan mimpinya barusan.


“Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa si bos sampai terbawa ke dalam mimpiku. Ini tidak mungkin” gumam Shana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ini sepertinya efek dari aku minum alkohol tadi malam. Tapi tetap saja, kok bisa aku memimpikan bosku sendiri. Ini sangat memalukan.”


Shana menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya karena dia tiba-tiba merasakan kulit wajahnya terasa panas. Dan dia juga berusahaan kembali mengingat apa yang dia lakukan tadi malam.


Flashback On


“Myesha, bagaimana bisa aku terlambat pergi berangkat besok ke kantor! Selama ini aku manusia paling tidak suka dengan yang namanya terlambat.”


“Waah, kamu ternyata karyawan paling loyal juga, ya. Hebat kamu. Tapi, justru mulailah dari hal-hal yang kecil dulu. Pelan-pelan saja.”


"Baiklah. Tetapi, aku butuh sesuatu untuk membuat aku lama tidur. Aktivitas apa yang akan aku lakukan malam ini ya supaya aku bisa bergadang...?”


“Aah. Sepertinya aku masih punya bir kaleng yang aku beli beberapa hari yang lalu. Mungkin itu bisa membatu aku malam ini supaya besok pagi lama bangun.”

__ADS_1


“Iya, itu ide bagus. Ya sudah, kita akhir dulu obrolan kita ya. Soalnya aku mau tidur, sudah mengantuk.”


“Baiklah kalau begitu. Selamat beristrirahat.”


Setelah keduanya mengakhiri obrolan mereka, Shana pergi ke dapur. Dia membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa kaleng bir dari dalam sana. Dia kembali ke ruang tengah apartemennya dan menyalakan TV.


Dia mulai meminum bir kaleng tersebut sambil ngedumel dan mengocehi Deen yang sampai sekarang masih tidak menyetujui dan memberikan dia izin untuk resign. Setelah Shana cukup mengantuk dan dia juga sudah puas memarahi atasannya itu.


Dengan langkah terseok-seok, Shana pun pergi menuju kamar tidurnya. Dia langsung merebahkan badannya dengan asal di atas ranjangnya tanpa memperdulikan posisi tubuhnya sudah nyaman atau belum.


Dia lebih memilih langsung tidur karena dia sudah merasakan pusing dan kedua kelopak matanya terasa sangat berat seperti menahan beban berat yang ukurannya berkilo-kilo. Entah sudah berapa lama dia tidur dan tiba-tiba merasakan usapan tangan seseorang di keningnya.


“Sayang…”


“Sayang, kamu capek, ya…? Apakah tidurmu nyenyak…?”


“Iya.”


“Ya sudah. Kamu kembali tidur lagi kalau masih mengantuk. Aku sudah menidurkan anak kita di ranjangnya.”


Shana di dalam mimpinya terasa terperangah. Betapa kagetnya dia melihat orang yang lagi duduk di sisi ranjang di sampingnya itu adalah Deen. Dan dia pun mulai membuka kedua kelopak matanya. Dia bingung apakah yang barusan dia rasakan itu hanya mimpi saja. Karena tadi betapa nyatanya dia bisa merasakan usapan tangan dari bosnya itu.


“Kamu masih mengantuk, ya…?”


“Ini aku lagi bermimpi di dalam mimpi atau bagaimana sih…? Kenapa dia ada di dalam kamarku…? Da-dan anak siapa yang dia maksud…?” kata Shana di dalam hati.


“Nona Shana…!!!"


"Kamu kenapa sangat menggemaskan kalau lagi tidur, Nona Shana.”


“Nona Shana…!!!”

__ADS_1


Baru yang terakhir dia mendengar suara alarmnya berbunyi.


 Flshback Off


“Aaaargggh…!!! Shana kenapa kamu bisa memimpikan mimpi seburuk itu sih…?!!!”


“Ini tidak boleh dibiarkan. Tidak boleh…!!! Aku harus segera berkemas untuk berangkat kerja lagi" gumam Shana dan beranjak dari ranjangnya. Kalau dia masih berlama-lama di atas ranjangnya dan mengingat mimpi buruknya tadi, bisa-bisa dia gila sendiri.


Perusahaan Kingsly Group…


Shana berjalan memasuki depan lobby perusahan di mana dia bekerja. Dia melirik jam tangannya masih menunjukkan setengah sembilan pagi. Itu tandanya dia hanya melewatkan beberapa moment saja dan tidak terlalu menggangu pekerjaannya. Boleh dikatakan tidak telat-telat amat. Kata-kata “TERLAMBAT” juga terngiang-ngiang di dalam kepalanya.


Itu kata-kata yang paling anti sebenarnya untuk dia lakukan. Dia sangat senang ketika dia mendapat pujian dari mamanya dulu saat dia tidak pernah telat apalagi absen ke sekolah. Mamanya yang selalu memujinya dengan kata anak yang baik dan rajin menjadikan dia menjaga kepercayaan orangtuanya untuk selalu bersikap baik walaupun tidak dilihat kedua orangtuanya.


Saat pemakaman kedua orangtuanya juga, Shana sempat mendengar kekhawatiran orang-orang yang melayat yang mengatakan dia akan berubah menjadi anak nakal setelah kepergian keduanya orangtuanya.


Dari kejadian itu juga membuat dia selalu berusaha menjadi orang yang baik dan hidup bahagia walaupun tanpa kehadiran mama dan papanya di sisinya. Hingga pada akhirnya dia menyelesaikan kuliah jurusan sekretarisnya dan bekerja di perusahan yang terkenal, dia tidak penah mengenal kata terlambat.


Itu salah satu prinsip yang dia pegang di dalam hidupnya. Walaupun hal itu kelihatannya sepele, tetapi sangat berpengaruh di dalam kehidupan Shana yang membuat dia bisa bertahan hingga sekarang ini.


Eeeh… bukan hingga sekarang lagi. Lebih tepatnya hingga hari kemarin, karena hari ini dia sudah melanggar prinsip hidupnya itu. Yaaa, dia telat setengah jam demi bisa resign dari perusahaan di depannya itu.


Dengan langkah lunglai Shana berjalan dengan wajahnya yang terlihat masih kurang tidur. Bagaimana tidak dia kurang tidur. Tadi malam dia bergadang minum alkohol sambil beraksi mengomeli bosnya hingga dia teler sendiri. Dan alhasil yang dia dapat kantung mata yang menghitam dan telat setengah jam sampai ke kantornya.


“Aku… Te-terlambat…???”


“Aku masih belum percaya kalau aku datang terlambat hari ini. Hari pertama seumur hidupku datang terlambat. Aaaah… Tolong. Kenapa aku tiba-tiba jadi merasa takut begini sih? Apakah seperti ini rasanya jika datang terlambat…?” gumam Shana yang merasa gusar sendiri di dalam hatinya.


“Mentalku. Tolong selamatkan aku. Tolong dukung aku sekali ini saja” batin Shana yang merasa bersalah terhadap dirinya sendiri sambil masih berjalan sambil menundukkan wajahnya tanpa memperhatikan jalan di depannya. Akhirnya dia merusak reputasinya sendiri sebagai orang baik setelah datang terlamabat ke kantor hari ini.


Mungkin bagi anak berandalan dan bagi beberapa orang di masa-masa sekolah dulu, terlambat itu sesuatu hal yang mengasyikkan. Tetapi, bagi Shana yang pertama sekali merasakan terlambat malah membuat dirinya seperti membuat kesalah yang sangat fatal.

__ADS_1


Dia menjadi malu melihat dirinya sendiri. Hanya gara-gara untuk mencari cara untuk bisa keluar dari tempat kerjanya, dirinya sendiri melakukan segala cara. Bahakan reputasinya yang baik selama ini sudah dia bagun, hancur hanya dalam satu hari.


Shana menggeleng-gelengkan kepalanya karena terlalu memikirkan apa yang telah dia lakukan.


__ADS_2