
Shana juga semakin merasa geram ketika mendengar kata-kata dari Nandra berikutnya.
“Lagi pula pad akhirnya semua manusia akan hidup sendrian, kan? Orang-orang seumuran kita sudah terlalu tua untuk mencoba hal-hal baru. Menurut saya lebih baik fokus pada apa yang sudah kita miliki sekarang. Buat apa kita menysahkan diri kita lagi” ujar Nandra.
Shana mengepalkan telapak tangannya di bawah meja. Perkataan laki-laki di depannya itu barusan seaka-akan mematahkan semangatnya dalam melanjutkan kehidupannya.
“Umur saya masih dua puluh tujuh tahun.”
“Yaaa…?”
“Kalau pun saya gagal dalam setahun kedepan, umur saya masih dua pulu delapan tahun. Dan walaupun saya kehilangan lima tahun dalam masa hidup saya, umur saya masih tiga puluh tahuanan.”
“Dan kalaupun saya menyia-nyiakan hidup saya sepulu tahun dari umur saya sekarang, saat itu aku masih berumur empat puluh tahunan. Saya masih punya banyak waktu.”
“Selama ini juga aku sudah bekerja keras dan sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu katena aku juga tidak mau. Satu lagi, aku adalah salah satu wanita mandiri yang bisa berdiri di atas kakiku sendiri” jawab Shana membuat Nandra kaget dengan apa yang dia dengar.
“Ah… Begitu, ya” balas laki-laki itu dengan perasaan tidak nyaman dan dengan wajah yang memerah.
Tidak lama kemudian pesanan makanan mereka pun tiba. Pelayan restoran itu datang mengantarkan makanan mereka. Dan menata di hadapan mereka.
“Pesanan anda” ujar supelayan restoran dengan ramah.
“Sial. Ternyata aku malah bertemu dengan wanita yang kepribadiannya keras begini” batin Nandra malu sendiri.
“Waah, makanannya sepertinya enak sekali” ujar Shana tanpa memperdulikan laki-laki di depannya itu.
Dan tidak lama kemudian saat sipelayan restoran masih menata makanan mereka di meja, Nandra terlihat buru-buru merapaikan barang-barangnya dan langsung pami pergi kepada Shana.
“Saya tiba-tiba ada pemeberitahuan untuk urusan penting dari kantor. Maaf, saya segera balik dulu” ujar laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Shana dengan perasaan setengah malu.
“Sial. Hari ini aku benar-benar sial” bati Nandra berjalan meninggalkan restoran itu.
“Aaah, iya” jawab Shana mencoba santai hingga pria itu menghilang dari pandangannya.
Detik kemudian Shana pun pergi ke toilet untuk menenangkan hatinya. Di depan kaca westafel toilet restoran itu, Shana pun memandangi wajahnya.
“Siala…!!! Walaupun aku tidak berniat sama sekali menjalin hubungan dengan laki-laki itu, tapi kenapa aku seperti ini ya? Padahal apa yang dia bolang itu ada benarnya juga.”
“Kalau dulu aku pasti langsung setuju dengan omongan laki-laki itu. tapi sekarang…”
“Kenapa aku merasa jadi sulit bernapas?”
Shana jadi teringat dengan perkataan salah satu dosennya dulu.
“Shana, orang-orang begitu banyak yang berlari seumur hidupnya untuk mengerjar sesuatu yang mereka impikan. Mereka terlihat cepat dan hepat. Tetapi dari mereka ada beberapa yang kesepian.”
“Mereka sama sekali tidak bisa melihat sekitar mereka. Terkadang aku harus meluangkan waktu untuk meihat bunga liar yang ada di pinggir jalan. Kadang kamu harus kembali ke jalan yang sudah kamu lewati.”
__ADS_1
“Karena pada akhirnya kita semua sama saja. yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi kekosongan dalam hidup kita.”
Itu kata-kata yang dia ingat dari salah satu dosennya dulu. Dan dia juga kembali mengingat apa yang dikatakan Deen terakhir kalinya.
“Shana, aku lebih suka kamu tidak bekerja.”
Shana tersadar dari lamunannya. Tidak terasa Shana meneteskan air matanya.
“Aah, dasar aku cengeng. Gitu aja aku malah nangis begini” gumam Shana sambil buru-buru menyeka air matanya.
Shana bingung juga kenapa diamenagis begitu. Apakah karena ini baru petama kalinya dia bertemu dengan lawan jenisnya, tetapi sama sekali tidak berjalan dengan lancar.
Atau mungkin karena dia teringat dengan semua perjuangannya selama ini di dalam hidupnya.
“Aaah, biarin sajalah. Nanti aku bilang sama Myesha yang sebenarnya saja” batin Shana yang memutuskan pergi meninggalkan restoran itu.
Saat Shana keluar dari dalam restoran itu, dia tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia hanya fokus berjalan di halam depan restoran menuju jalan di depan untuk memanggil taxi sambil menundukkan kepalanya tanpa menyadari kalau dia berjalan melewati Deen yang berada di depannya.
“Shana, a-apakah kamu menangis?”
Seketika Shana menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Dia tidak menjawab pertanyaan dari bosnya itu. Malah dia sengaja bertanya balik untuk mengalihkan pertanyaan dari laki-laki itu.
“Bapak kok ada di sini? bukannya tadi masih di dalam?” tanya Shana dengan perasaan kaget.
“Aku sengaja menunggumu di luar” jawab Deen sambil memegang tengkuknya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Ada yang mau saya bicarakan” balas Deen dengan memberanikan dirinya.
Keduanya sempat terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya Deen kembali membuka obrolan mereka.
“Ini sudah petang. Bagaiaman kalau kita mencari angin segar di tempat lain saja” ajak Deen yang disetujui Shana.
Mereka berdua pun duduk di sebuah tempat tongkrongan yang biasa dikunjungi anak-anak muda. Tempat itu tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak terlalu ternganggu dengan sekitarnya.
Sebelumnya mereka juga membeli minuman kaleng dan makan ringan untuk menemani mereka mengobrol. Terlihat keduanya bersulang sebelum minum.
“Ternyata Pak Deen orang kaya raya seperti dia bisa juga minum di tempat tongkrongan umum seperti ini” batin Shana sambil meminum minumannya.
Detik kemudian Shana melirik ke arah Deen yang duduk diam di sampinnya. Laki-laki di sampingnya itu sedang fokus menatap ke depan sana.
“Maaf soal lengan bapak. Aku sangat senang melihat lengan bapak sudah sembuh dan bapak sudah bisa beraktifitas seperti biasanya” ujar Shana membuka obrolan mereka bedua.
“Tidak apa-apa. Itu bukan kesalahan kamu sepenuhnya. Aku juga kurang hati-hati saat menuruni tangga dulu” jawab Deen yang kemudian meneguk minumannya.
Menit kemudian suasana di antara mereka terasa canggung lagi karena tidak ada yang melanjutkan obrolan lagi. Sesekali mereka merasakan hembusan anggin sepoi-sepoi menerpa kulit mereka.
“Shana.”
__ADS_1
“Iya…?”
“…”
“Tidak jadi” ujar Deen lagi.
Entah apa yang mau laki-laki itu sampaikan hingga dia mengurungkan niatnya. Shana pun jadi diam dan bingung dengan apa yang dirasakan pria itu.Tetapi, tidak lama kemudian Shana kembali mendengar suara bosnya itu.
“Tadi itu…”
“Saya kencan, pak” jawab Shana langsung.
“Oh, begitu ya…” balas Deen.
“Eeeh, tadi bapak mau nanya hal itu bukan?” tanya Shana memastikan lagi karena dia hanya langsung potong kalimat Deen tadi. Shana merasa dia terlalu to the point.
“Tidak. Tapi aku juga penasaran kok” jawab Deen sambil menatap Shana yang kelihatan panik sendiri dengan jawaban barusan.
“Ah. Hahaha…! Sepertinya saya sudah menunjukkan sisi buruk saya di hadapan bapak” ujar Shana dengan tawa yang dipaksakan.
“Seperti yang bapak lihat tadi, tidak berjalan dengan lancar. Sepertinya aku tidak siap bertemu dengan orang-orang baru.”
“Tinggal seminggu lagi, kan?”
“Ah. Iya benar, pak. Dan berkencan seminggu sebelum keluar dari kantor” jawab Shana dengan perasaan sedikit tidak nyaman karena menyinggu rencana resignnya.
“Setelah kamu keluar dari kantor, apa rencanamu?” tanya Deen penasaran.
“Dalam hidup ini ada waktunya kita untuk sendiri, kan? Dan seumuran kita terlalu tua untuk mencoba hal-hal baru. Dan lebih fokus dengan apa yang kita miliki sekarang.”
“Eeeh, anu…” Shana jadi merasa ragu-ragu mendengar kembali apa yang dikatakan Deen barusan.
“Ah…! Kenapa jadi begini sih? Apa aku jujur saja?” batin Shana.
“A-aku masih belum punya rencana” jawab Shana akhirnya.
“Sial…! Ini membuat aku terlihat seperti tidak punya tujuan” batin Shana lagi.
“Sepertinya aku aku salah, ya? Harusnya aku fokus untuk mengembangkan karir. Saya malah mau berhenti disaat orang-orang lagi sibuk-sibuknya bekerja. bahkan aku tidak punya rencana apa-apa.”
“Seumur hidup saya, saya tidak pernah begini. Saya juga bingun dengan diri saya sendiri” ujar Shana menjelaskan sebenarnya apa yang dia rasakan.
“Aah. Saya tidak menyangka. Setahu aku, kamu selalu punya target dan rencana” balas Deen yang selama ini di matanya kalau sekretarisnya itu telihat sangat displin.
“Hahaha…! Itu untuk urusan pekerjaan di kantor, pak. Tapi tidak dengan urusan pribadi saya” jawab Shana yang jujur dengan perasaanya.
“Apapun itu, aku yakin kamu akan berhasil” balas Deen meyakinkan dan menenangkan hati sekretarisnya itu.
__ADS_1