
“Aah, perih…!!!”
Shana tiba-tiba tidak sengaja berteriak karena merasakan perih di lukanya. Deen pun menghentikan aktivitasnya dan membiarkan sekretarisnya itu istirahat sebentar supaya perih yang dirasakan mereda dulu.
“Maaf. Sakit, ya…? Kalau aku menekan terlalu kuat ngomong saja, jangan diam” ujar Deen sambil menatap ke arah Shana.
Melihat cara Deen menatapnya, Shana merasa tidak asing melihat cara bosnya itu menatapnya. Dia seperti pernah melihat Deen menatapnya seperti itu. Dan tidak menunggu lama, Shana pun mengingat kapan dia melihat tatapan itu.
“Kamu kenapa terlihat menggemaskan sih kalau lagi tidur, Nona Shana.”
“Tunggu, sebentar. Kenapa aku malah mengingat mimpi itu lagi sih…?” batin Shana yang tersentak kaget setelah ingat kalau dia pernah melihat Deen menatapnya seperti sekarang ini adalah saat dia memimpikan bosnya itu tadi pagi.
Sebelum pertemuan antara bos dan sekretaris itu dimulai beberapa waktu yang lalu, Deen yang biasanya selalu melihat Shana sudah datang lebih awal tapi malah melihat pagi ini kursi sekretarisnya itu kosong melompong. Padahal sudah jam delapan pagi.
Deen pun masuk ke dalam ruang kantornya dan setelah setengah jam berlalu, tetap saja dia tidak melihat tanda-tanda kemunculan sekretarisnya itu. Untuk memastikan dia pun keluar dari ruang kantornya.
Dan benar saja, dia melihat meja kerja sekretrarisnya itu masih kosong.
“Heumm…!!! Nona Shana sepertinya dia terlambat. Ada apa sebenarnya yang terjadi, ya…?” gumam Deen sambil memperhatikan ruang kantor sekretarisnya itu.
“Parah. Gejalanya semakin lama semakin parah sepertinya. Aku harus bagaimana lagi, ya…?”
Deen semakin bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia mengingat kembali buku yang dia baca. Dari buku yang dia beli dan secara random dia baca menjelaskan bahwa seorang pemimpin/atasan/orangtua, boleh memberikan perhatian kepada orang berubah perilakukanya ke hal yang kurang baik.
Untuk tahu akar masalahnya, dia juga dianjurkan untuk menyelidiki. Dan dari hasil yang Deen perhatikan selama ini, Shana sudah selalu ada menyambut di kantor. Dan jam pulang kerjanya juga tidak menentu karena dia sering lembur.
Deen mengingat kembali saat dia pertama sekali bertemu dengan Shana. Dia merasa kalau kepribadian dirinya dengan sekretarisnya itu sama. Sama-sama fokus dalam pekerjaan, ternyata Deen salah. Dia benar-benar keliru selama ini.
Deen baru benar-benar menyadari jika dia berbeda dengan sekretarisnya itu, dia seorang direktur utama di perusahaan itu, dan Shana adalah sekretarisnya. Pekerjaan yang dia bebankan selama ini mungkin sungguh terlalu berat dan membuat kehidupan sekretarisnya itu menjadi tertekan.
Pembahasan yang kedua Deen baca adalah seorang atasan/pemimpi/orangtua harus bisa menyenangkan hati bawahannya/anak. Jangan pelit memberi pujian. Contohnya dari hal sepele, seperti mengucapkan terima kasih. Karena lebih baik mengajarkan dari pada menghajar.
__ADS_1
Dan Deen pun sudah melakukan itu. Mengucapkan terima kasih dan mengingatkan sekretarisnya itu dengan baik saat salah menyebut namanya.
Setelah Deen menyadari di mana letak kesalahannya, akhirnya dia mulai merubah sedikit demi sedikit sifatnya yang terlalu kaku.
Sambil menunggu kedatangan Shana, Deen kembali baca tips berikutnya di ponselnya. Ternyata buku yang dia beli kemarin itu sudah ada dalam bentuk elektronik sehingga dia lebih gampang untuk membacanya.
“Sekarang aku paham, ternyata begini caranya. Sekarang saatnya membaca tips berikutnya. Apa yang harus aku lakukan lagi” gumam Deen sambil mengulir-gulirkan layar ponselnya.
Jreeeeeng…!!!
Usahakan selalu berkomunikasi dan boleh juga mengajak makan bersama.
“Apa…? Makan bersama…?”
“Ah, iya. Aku sama sekali tidak pernah mengajaknya makan bersama. Begitu juga dengan karyawanku yang lain” batin Deen setelah mengingat-ingat kalau dia hanya datang ke kantor dan tiba waktunya pulang kerja. Dia baru pulang. Palingan sesekali dia pergi berkunjung ke rumah kakeknya.
Selama ini dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak pernah memperhatikan sekelilingnya. Pantasan saja Nicholas, sepupunya mengatai dia manusia robot. Aktivitasnya itu-itu saja setiap hari. Monoton kaya jalan toll.
Saat dia masih fokus menatap layar ponselnya, dari sudut matanya dia melihat sekretarisnya itu akhirnya muncul juga. Satu hal yang langsung dia ingat adalah tidak boleh marah. Sehingga pertanyaan yang muncul di kepalanya adalah…
Saat obrolan mereka hampir selasai. Tadinya Deen berencana untuk mengajak langsung Shana untuk makan bersama dengan dia. Tetapi, pandangannya tertuju kepada luka yang ada di lutut sekretarisnya itu.
Sekilas dia jadi teringat dengan bayangan saat dia waktu kecil dulu yang sering melihat mamanya mendapat luka di sekujur tubuh sang mama ketika sedang memeluknya. Karena dia yang tidak bisa melihat luka di lutut sekretarisnya itu, alhasil di sini lah dia mencoba mengobati kaki sang sekretaris yang terluka itu.
Deen masih fokus membersihkan luka pada lutut sekretarisnya itu.
“Tadinya aku ingin mengajak dia makan bersama, tetapi aku malah melihat kakinya yang terluka. Nanti saja itu dipikirkan lagi” gumam Deen yang mulai menuangkan obat cair ke atas kapas.
“Aku akan mengoleskan obat. Tahan ya, ini pasti akan sakit” ujar Deen.
“Iya” jawab Shana singkat.
__ADS_1
“Aaah, perih. Aduuuh, sakit…” ringis Shana sambil memejamkan matanya menahan rasa perih di permukaan kulit lututnya.
“Sudah selesai” ujar Deen saat dia memakaikan plester untuk merekat perban luka pada lutut Shana.
“Terima kasih banyak, pak. Jam kerja bapak jadi terganggu karena luka saya.”
“Tidak apa-apa. Menolong orang yang sedang terluka kan tidak ada larangan.”
“Aaah, hehehe… Iya, pak. Kalau begitu saya buatkan kopi bapak dulu” ujar Shana yang terlihat canggung di depan Deen yang tersenyum ke arahnya.
“Terima kasih” balas Deen juga.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong…”
Belum selesai Deen berbicara, Shana sudah kabur pergi menuju pantry. Deen hanya bisa menunda lagi untuk mengajak sekretrisnya untuk makan bersama.
Dua minggu setelah kejadian itu, Shana pergi kebagian konsultasi keuangan. Dia ingn mengatur rencana keuangannya. Karena uang yang telah dia klaim dari asuransi sudah ditransfer ke rekeningganya.
Dan juga, jika dia tidak pintar-pintar mengatur keuangannya, bisa-bisa semua warisan, dan uang asuransi yang ditinggalkan kedua orangtuanya akan habis begitu saja dengan sia-sia.
“Jadi, boleh saya tahu tujuan rencana keuangan anda seperti apa?” tanya konsultan itu kepada Shana ketika dia bertatap muka langsung.
“Tujuan, Rencana…?” ulang Shana karena masih asing dengan bahasa-bahasa seperti itu.
“Oh, maaf. Maksud saya, apa yang akan anda lakukan dengan uang anda kedepannya…? Contohnya, mungkin anda akan membeli mobil, rumah, atau mungkin untuk persiapan pernikahan.”
Shana sendiri masih bingung mau dia apakan itu uang. Memang, dia mau rencana membangun sebuah café. Tetapi dilihat dari kondisinya saat ini, sepertinya dia akan dua kali berpikir lagi untuk keluar dari perusahaan.
“Saya, saya masih tidak punya rencana.”
Kata-kata itu yang mengakhiri obrolan dia dengan konsultan keuangan tadi. Akhirnya, Shana pulang dengan tidak melakukan perencanaan apapun karena kebodohan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Shana, kamu memang bodoh sekali. Kenapa sekarang kamu malah jadi seperti ini, sih…? Malu-maluin saja” gerutu dia di dalam hati.
“Sekarang sudah punya uang banyak, tetapi tidak tahu cara menginvestasikannya. Bahkan tidak tahu mau beli apa.”