
Seketika Shana pun tertegun mendengar dukungan dari bosnya itu. Shana seolah-olah merasa jika Deen bisa melihat masa depannya.
“Karena kamu sudah pernah bekerja di bawah tanggungjawab saya. Jadi, apapun pilihanmu kedepannya aku yakin kamu pasti berhasil” lanjut Deen lagi sambil memangku dagunya sambil menatap Shana di sampinya.
“Pppfff…. Hahaha…!!!”
Shana tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Deen. Apakah itu efek rasa mabuk yang mulai dia rasakan atau memang ada yang menggeleitik perasaannnya mendengar ucapan dari Bosnya itu hanya Shana yang tahu.
“Shana, aku tidak pernah melihatmu tertawa lepas seperti itu sebelumnya” ujar Deen yang melihat sisi lain dari sekretarisnya itu.
Selama ini dia hanya melihat wajah serius dari wanita itu dan baru kali ini dia melihat ternyata wanita yang selama ini mendampinginya di kantir itu punya sisi lain yang tidak pernah dia perlihatkan.
Selain dari ngomong nyablak dab bertingkah di luar kebiasaannya saat mabuk. Ternyata Shana juga bisa mengekspresikan perasaannya senangnya juga.
“Hahaha…! Maaf. Kalau boleh jujur, mumpung saya sepertinya sudah mulai mabuk. Jujur, bekerja dengan bapak itu sangat sulit. Saya bahkan sudah merencanakan resign dari kantor sampai berkali-kali dalam satu hari.”
“Walaupun aku bisa menebak apa yang kamu katakan itu, tetap saja aku selalu kagret mendengarnya. Dan walaupun sulit dan akan merasa tidak nyama, aku akan tetap mendengarnya dengan baik-baik” balas Deen yang mencoba tetap membuat Shana menceritakan keluhannya selama ini.
“Walaupu sangat lelah, aku juga jadi merasa senang karena fokus dengan masalah pekerjaan saja. Sebelum saya masuk bekerja di perusahaan bapak, banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan saya.”
“Kehilangan orang-orang yang saya cintai dan berharap bisa bersama dengan mereka selamanya. Cepat atau lambat itu memang akan terjadi bagi semua orang tanpa terkecuali. Tetapi ini terlalu mendadak di saat saya belum siap.”
“Di saat saya tidak bisa melakukan apa-apa, mereka pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun untuk saya. Dan saya tidak bisa menyalahkan mereka. Karena kepergian mereka juga bukan kemauannya.”
Deen menoleh melihat Shana yang terlihat sedih. Untuk saat ini Deen hanya bisa sebagai pendengar saja. tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, Deen juga punya masalah tersendiri.
“Sekarang saya sudah tidak merasa kesal lagi dengan apa yng terjadi kepada mereka. Saya malah bersyukur karena saya jadi bisa cepat belajar dan beradaptasi denga keadaan."
"Saya juga bisa bicara leluasa seperti ini karena saya akan keluar dari kantor dalam waktu dekat. Jadi, saya merasa lega sedikit saat saya sudah cerita sama bapak” ujar Shana sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Sejenak, Deen juga memikirkan sesuatu. Di dalam hidupnya juga selama ini banyak kejadian yang membuatnya trauma.
“Aku juga banyak kekurangan, ya. Saya sudah sadar dan sudah tahu kalau saya punya banyak kekurangan. Tetapi, susah sekali untuk mengubahnya. Jika kita masih kecil, ada banyak hal yang bisa mudah kita rubah.”
“Namun, makin kita dewasa makin sulit kita mengubahnya. Rasanya aku seperti naik kapal di atas ombak yang sama sekali tidak bisa aku kendalikan. Aku jadi sadar, ada banyak hal di dunia ini yang tidak berjalan sesuai keinginan saya.”
Deen sedikit menceritakan pengalamannya juga mulai dari dia masih kecil hingga dewasa sekarang. Memang ada beberapa kejadian juga yang terjadi di dalam hidupnya yang dia sendiri tidak menginginkannya.
“Pengunduran dirimu salah satunya” lanjut Deen jujur.
“Aaa…” Shana hanya tertegun mendengar pengakuan dari bosnya itu.
“Aku harus berterima kasih samamu. Saya jadi sadar kalau masih banyak hal yang harus diperbaiki dan diubah. Saya jadi bisa intropeksi diri karenamu.”
“Ah. Hehehe…! Saya tidak berbuat apa-apa kok, pak. Saya hanya mengeluarkan unek-unek saya selama ini saja. Jangan bapak terlalu dimasukkan ke dalam hati” ujar Shana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku hanya mau bilang, untuk mencoba hala-hal baru itu butuh keberanian yang banyak. Maksud aku, kapan dan di mana pun itu kamu pasti akan sukses, Shana.”
Shana terhenyak saat sadar dirinya sedang memandangi Deen saat berbicara. Dia merasa malu tiba-tiba dan memalingkan wajah melihat ke arah lain.
“Walaupun bapak berkata seperti itu, aku tidak akan memberi bapak hadiah, loh” ujar Shana mencoba menenangkan perasaannya.
Wajah Deen yang terlihat serius tapi terkesan lembut barusan belum hilang dari pandangan matanya.
“Aku juga tahu kok” jawab Deen.
Tidak mungkin lah dia akan mendapat hadiah hanya Cuma berkata seperti itu. mereka hanya Sali berbagi cerita saja.
“Oh, iya. Tadi bapak kan mau ada yang dibicarakan” ujar Shana mencoba mengalihkan obrolan mereka.
__ADS_1
“Aah. Soal itu…”
“Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah kita tetap behubungan walaupun kamu sudah keluar dari kantor?” ujar Deen dengan nada suaranya yang sedikit kaku dan tidak yakin dengan permintaannya.
“Maksud saya, bolehkah kita berteman? Makin dewasa sepertinya makin sulit untuk mengutarakan.”
“Heummm, maksud aku…”
Deen terlihat semakin gugup setelah mengutarakan niatnya barusan. Dia hanya mencoba keluar dari zona nyamannya selama ini. Dia juga tidak mau ke depannya akan menyesal karena tidak bisa mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
Lebih baik di awal dia jujur dari pada akhirnya dia akan menyesalinya. Karena hanya menyimpannya sendiri rapat-rapat di dalam hatinya.
Sementara Shana yang mendengarkan penuturan dari bisnya itu membuat pikirannya berselancar ke mana-mana. Umurnya yang saat ini telah menginjak dua tujuh puluh tahun.
Berencana resign dari tempat kerjanya. Mungkin saja orang lain yang seumurannya juga ada yang pindah kantor baru bahkan ada yang menganggur.
Ada juga yang sedang merencanakan pernikahan. Atau mungkin saat ini juga ada yang melakukan pernikahan dini. Ada yang menikmati hasil jerih payahnya dan saat ini sedang libur ke luar negeri.
Mungkin ada juga orang-orang yang ingin mencoba hal-hal baru. Arus kehidupan diumur dua puluhan kelihatannya memang sangat mudah untuk dilewati. Tetapi, masa-masa itulah masa yang tersulit dilewati.
Mungkin di ujung jalan sana yang tidak bisa kita lihat hanyalah jurang. Dan kita bisa jatuh ke sana kalau kita hanya tergesa-gesa.
Tadinya Shana berpikir yang bisa dia lakukan hanya berenang saja. berenang secepatmungkin dan sekeras mungkin sambil menahan napas. Hingga membuatnya lupa akan apa yang sebenarnya dirinya inginkan. Melupakan untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Dengan tenggelam dalam pikiranya yang dalam itu, entah keberanian dari mana setelah mendengar permintaan dari Deen tadi. Shana tanpa ragu langsung meraih kedua sisi wajah Deen.
Dan dalam hitungan detik kemudian tanpa ada keraguan, Shana langsung mencium bibir atasannya itu. Hingga membuat Deen kaget dengan apa yang barusan saja terjadi.
Entah keberanian dan dorongan dari mana, Shana bisa menyambar bosnya itu. bahkan dia tidak berpikir dua kali melakukannya.
__ADS_1
“Untuk kali ini, biarkan aku terseret arus ombak saja” batin Shana sambil memejamkan kedua kelopak matanya.