Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Insiden Di Cafe Coffee


__ADS_3

Di sebuah cafe Shana dan Myesha dan Shana duduk sambil menikmati minuman kesukaan yang barusan saja mereka berdua pesan.


Suasana cafe yang tenang dan tidak terlalu ramai dengan ditemani alunan musik klasik, membuat tempat itu menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita.


Sesekali Myesha melirik ke arah temannya yang terlihat penampilan lesu yang duduk di depannya. Myesha ingin menanyakan bagaimana pertemuan Shana dengan laki-laki yang bernama Nandra itu.


Tetapi, Myesha agak ragu mau bertanya karena melihat kondisi temannya itu. Semakin terlihat lesu, bahkan tidak bersemangat.


Namun, karena rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa kekhawatirannya, akhirnya Myesha pun memutuskan untuk bertanya.


"Ehemm...!!!"


Myesha berdehem seakan-akan dia meminta Shana fokus melihat ke arahnya.


"Shana, bagaimana pertemuan mu dengan Nandra kemarin? Apakah berjalan dengan lancar?"


"Atau kamu suka nggak sama laki-laki itu? Benar kan yang aku bilang, Nandra itu lumayan ganteng juga?"


Shana sebenarnya sudah tahu kalau Myesha cepat atau lambat akan mempertanyakan hal tersebut.


Tadinya dia mau langsung cerita bagaimana hasil pertemuannya dengan laki-laki bernama Nandra itu yang tidak berjalan dengan lancar.


Tetapi, ada hal lain yang yang sangat mengganggu pikirannya hingga detik itu juga. Kejadian yang sama sekali tidak bisa dia lupakan sampai seumur hidupnya.


Betapa lancangnya dia tadi malam. Dan bisa-bisanya dia melakukan hal diluar kebiasaannya.


"Huuufff...!!!" Shana menghela napas panjang lalu kemudian menyeruput minumannya dengan ogah-ogahan.


"Hehehe...! Sepertinya tidak berjalan dengan lancar, ya? Memang benar-benar Nandra itu seleranya ibu-ibu. Makanya aku juga tidak mau."


"Anggap saja pertemuan mu kemarin itu hanya pelatihan. Ya, hanya pelatihan. Jangan terlalu dipikirkan" ujar Myesha yang tiba-tiba merasa bersalah melihat Shana yang tidak bersemangat itu.


"Myesha."


Panggil Shana membuat Myesha kaget dengan suara panggilan temannya itu. Dengan penuh perhatian dia wanita itu pun langsung duduk sambil memfokuskan dirinya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Shana berikutnya.


Karena kegagalan pertemuan temannya itu kemarin, hingga membuat Shana terlihat tidak bersemangat dan lesu. Membuat Myesha akan mendengarkan cerita Shana dengan sepenuh hati.


"I-iya...?" jawab Meysha.


"Sepertinya aku kemarin melakukan kesalahan yang sangat fatal setelah minum dengan Deen."


Air muka Shana seketika berubah menjadi malu-malu dan suaranya juga terdengar serak dan rendah. Shana juga tidak berani menatap wajah Meysha.


"Huuufff...!!! Aku mencoba menghubunginya karena kepikiran terus-menerus" ujar Shana sambil mengalihkan pandanganya ke luar sana.

__ADS_1


Menatap orang-orang yang berlalu-lalang melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Seketika keheningan terjadi di antara mereka berdua. Shana yang melihat ke luar sana. Sementara Myesha sibuk menatap Shana dan diam-diam menilai temannya itu.


"Shana" panggil Myesha.


Shana pun langsung menoleh ke arah temannya itu dan melihat Myesha medelikkan jari telunjuknya tandan meminta dia mendekatkan badannya ke arah Myesha.


"Eeeh, kenapa?" tanya Shana bingung.


"Pokonya ke sini saja" jawab Myesha yang masih menggerakkan jari telunjuknya meminta Shana agar mendekat secepatnya.


"Kok kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?" ujar Shana yang penasaran dengan apa yang akana dilakukan Myesha kepadanya sambil memajukan badannya ke depan.


Myesha juga memajukan badannya hingga wajah keduanya bertemu di atas pertengahan meja yang menghalangi jarak keduanya.


"Dasar kamu...!!!" ujar Meysha tiba-tiba sambil menggebrak meja hingga suara Meysha mengundang perhatian pengunjung cafe yang lain.


Mata orang-orang yang ada di dalam cafe itu secepat kilat menoleh ke arah meja di mana keduanya duduk.


"Aaarrkhhh...!!!" Shana sendiri pun sangat kaget dengan tindakan temannya itu yang tiba-tiba.


"Kamu ini kenapa sih? Memangnya kamu seputus asa apa sih hingga menelepon bos mu iti?" ujar Myesha. Dan detik kemudian Shana mendapat geplakan telapak tangan Myesha di pundaknya.


"Aaah, sakit" sahut Shana mencoba menghindar, tetapi tidak berhasil.


"Kamu jangan sampai menjadi pemeran dalam drama-drama sinetron yang ujung-ujungnya nanti malah kamu yang tersakiti" lanjut Myesha lagi dengan suara masih berteriak hingga keduanya menjadi pusat perhatian di cafe itu.


"Aarrghh...! Maaf-maaf. Maafkan aku" ujar Shana sambil mengelus-ngelus pundaknya yang terasa nyut-nyutan akibat pukulan dari telapak tangan Myesha tadi.


"Huuuuh...!"


Myesha membuang napasnya dengan kasar. Kemudian wanita itu kembali duduk di kursinya. Dan Shana pun ikut menyusul.


Setelah keduanya merasa tenang, akhirnya Myesha pun menghilangkan suasana keheningan di antara mereka berdua. Wanita itu sama sekali tidak menghiraukan tatapan dari orang-orang pengunjung cafe itu.


Justru dia sangat gemes melihat Shan temannya yang satu itu. Rasanya dia ingin memberikan jitakan di kepala Shan saking gemesnya.


"Coba sekarang kamu ceritakan apa yang telah kalian berdua lakukan? Apakah kesalahan yang kamu maksud itu masih bisa untuk diperbaiki?"


Myesha bertanya sambil bersedekap melipat kedua lengannya di depan dadanya sambil duduk tegap dengan punggung menyender di senderan kursi.


Seketika itu Shana merasa ruangan cafe yang tadinya terasa nyam dan kondusif itu berubah menjadi ruang interogasi polisi yang mencekam. Membuat dia ragu-ragu melirik ke arah Myesha yang sudah menunggu jawabannya.


"I-itu..."

__ADS_1


Shana jadi merasa ragu dan tidak yakin menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dengan Deen kemarin malam itu.


"Kami berciuman saja" ajar Shana dengan malu-malu.


Myesha yang mendengarnya sempat terdiam. Tetapi tidak lama kemudian dia tertawa.


"Hahaha...! Ternyata kalian melakukan hal yang biasa saja. Kecuali kalau dia berasal dari keluarga konglomerat" ucap Myesha.


"Tapi kan itu masalah besar" ujar Shana dengan perasaan tidak nyaman.


"Hei, ciuman antar dua orang dewasa yang saling mencintai itu bukan masalah besar. Justru itu hal yang biasa terjadi" balas Myesha sambil terkekeh.


"Bagiku masalah besarlah. Selama ini aki kan orangnya tertutup. Bukan seperti kamu. Tetapi aku malah berani mencium Deen duluan."


"Ah. Bagaimana ini."


Shana menggeleng-geleng kan kepalanya sambil menjambak rambutnya.


"Hei. Maksudmu kamu tipe wanita tertutup. Tetapi mencium bos mu yang sebentar lagi akan kamu tinggalkan, begitu?" ujar Myesha seraya bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Shana dengan berbisik.


"Entahlah. Saat itu aku sedang banyak pikiran. Seperti yang kamu bila kalau aku punya modal buat biaya hidup."


"Tetapi, tetap saja aku tidak tahu mau buat apa. Aku jadi cemas pa aku bisa jadi begini. Aku bingung dengan diriku sendiri karena tidak tahu mau melakukan apa."


"Mungkin itu penyebabnya. Aku marah dan kesal kepada diriku sendiri, sehingga aku berani menciumnya duluan. Maafkan aku karena kamu jadi mengkhawatirkan aku" ujar Shana panjang lebar.


"Ah. Aku paham kok. Orang dewasa kan boleh saja berciuman. Aku akan menganggapnya biasa saja."


"Lagian, kamu juga kan sudah mau keluar dari perusahaan. Kalau pun kalian bertemu di luar, ya anggap saja dia bapak-bapak seperti orang lain" ujar Myesha.


"A-apa...? Seperti bapak-bapak...?" gumam Shana.


"Iya. Juga bilang saja kamu lagi mabuk dan tidak sengaja menciumnya. Maaf ya pak, begitu. Mungkin saja dia tidak ingat" balas Myesha sambil memberikan saran sambil tersenyum menjentikkan jarinya.


"Iya. Aku harus meminta maaf" jawab Shana dengan perasaan lesu.


"Bagaimana mungkin dia tidak ingat. Dari yang sudah-sudah, sepertinya dia lebih kuat minum dari pada aku" batin Shana.


"Baiklah. Aku akan meminta maaf dulu" ulang Shana lagi menyakinkan dirinya, lalu akan meminum minuman coffeenya.


"Syukurlah. Kamu sudah tidak seperti yang dulu lagi" batin Myesha yang diam-diam menilai temannya itu di dalam hatinya. Dan melihat ada perubahan dari diri Shana.


Myesha tersenyum memberikan respon atas apa yang dikatakan temannya itu barusan.


Shana yang selama ini dia lihat kehidupan temannya itu begitu datar. Sekarang sudah agak berwarna sedikit.

__ADS_1


Tidak melulu lagi pekerjaaan yang dia khawatirkan, tetapi juga soal laki-laki pikir Myesha.


__ADS_2