Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Liburan Ke Bali


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Shana masih masuk ke kantor dan sekalian menghabiskan sisa hari masa kerjanya. Serah terima tugas dengan Andin sebagai sekretaris baru Deen pun sudah selesai Shana lakukan.


Akhir-kahir ini dia sudah tidak banyak kerjaan lagi, karena Andin sudah mulai mengambil tugasnya. Shana hanya membantu-bantu dikit saja kalau Andin butuh batuan. Untuk Deen, sejauh ini bosnya itu tidak pernah ada komplen.


Tidak tahu yang sebenarnya, apakah dia suka cara kerja Andin ayau tidak. Sejauh yang terlihat dia biasa-biasa saja. Mungkin saja dia berusaha menahan egonya seperti yang dia katakan akan berusahaa mengubah kebiasan-kebiasaannya dulu yang memberatkan bawahannya.


Hari ini Shana lagi santai. Tetapi ada satu hal yang ingin dia selesaikan.


“Ba-bagaimana ini? Aku sampai sekarang tidak bisa menemukan waktu yang tepat untuk meminta maaf” gumam Shana yang satu harian ini diam-diam memperhatikan Deen yang super sibuk sekali.


“Tapi, tunggu dulu. Kalau aku perhatikan kenapa dia terlihat baik-baik saja, ya? Terlihat normal seperti tidak terjadi apa-apa. Kok bisa? Apa dia tidak ingat sama sekali? Masa aku harus menjelaskan terlebih dahulu kejadian waktu itu baru meminta maaf?”


Shana ngebatin di dalam hatinya sambil meminum kopi dengan tatapan yang tidak lepas dari Deen yang sedang berbicara tidak jauh dari meja kerjanya.


“Huuh, bagaimana caraku menjelaskannya, ya?”


Shana masih sibuk dengan pikirannya yang pusing sendiri. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika Nera ada di sampingnya.


“Shana…!”


Panggil Nera. Entah sudah panggilan yang keberapa kali Nera memanggil Shana. Akhirnya dia mentoel lengan Shana hingga teman kerjanya itu sadar dari lamunannya.


“Lagi mikirin apa sih? Kelihatannya serius banget” ujar Nera.


“Ah, i-iya. Maksud aku ada apa?” jawab Shana gelagapan.


“Kamu lagi mikirin apa? Sepertinya serius banget sampai gelamun gitu? Lagi ada masalah?” tanya Nera penasaran.


“Tidak, tidak. Aku baik-baik saja kok” jawab Shana langsung.


“Ngomong-ngomong, ada masalah apa sampai mencariku ke sini?” tanya Shana yang menyadari kehadiran teman beda divisi itu ada di ruang kerjanya.

__ADS_1


“Ah, iya benar. Aku hampir lupa tujuan aku datang ke sini mau ngapain. Jadi gini, akhir bulan sebelum kamu berhenti kerja perusahaan kan mengadakan liburan tahunan. Kamu tahu nggak kita pergi liburannya ke mana?” ujar Nera seraya bertanya.


“Selama ini kan kita banter-banternya paling jauh liburan antar pulau doang. Tapi kali ini kita akan liburan ke luar negeri. Coba tebak mau ke mana?” ujar Nera lagi membuat Shana makin penasaran.


“Tidak tahu” jawab Shana yang sama sekali tidak punya ide di kepalanya.


“Kita akan liburan ke Bali, Indonesia. Ciiiaaah… Pasti seru banget liburan di sana. Katanya di sana pantainya bagus-bangus banget. Aaaah, sudah lama aku tidah merasakan hembusan angin laut” ujar Nera yang sangat terlihat senang membayangkan di depannya sekarang hamparan lautan bebas sambil menghembuskan napasnya.


“Oh, iya…! Maaf, aku tidak tahu sama sekali soal itu. Karena belakangan ini aku sangat sibuk bolak-balik ngurusin rencana pengunduran diriku ke bagian personalia” ujar Shana jujur.


Tetapi, otaknya masih belum loading penuh ke mana nanti mereka akan liburan.


“Apa…??? Bali….???”


“Iya. Asyiiik kan…? Bos kita emang ter the best lah” ujar Nera yang sangat kelihatan bahagia sekali.


Dan di sinilah mereka. Trip rombongan yang pada ikut liburan ke Pulau Bali. Perusahaan mereka sangat berbaik hati memesan salah satu resort terbagus di Pulau Dewata itu, yaitu Ayana Resort.


Tidak mau membuang-buang waktu dan telah selesai merapikan barang-barang keperluan selama mereka liburan di Bali, mereka pun langsung keluar dari resort berjalan menuju pantai.


“Waaah…! Tidak salah apa yang diceritakan teman-teman yang lain. Kalau Bali rekomendasi banget untuk tempat liburan. Ayo kita foto-foto” ajak Nera.


Nera, Shana dan Andin. Mereka bertiga ini yang palin tidak bisa lepas dari satu sama lain. mereka bergantian mengambil foto dan terkadang juga mereka foto selfi bertiga.


Cuaca saat itu sangat cerah, hamparan laut biru dengan dipadukan keindahan hamparan langit biru yang tak berujung. Dan terpaan angin laut yang membuat suasana di pantai itu tidak terlalu panas.


Tapi disela-sela keasyikan mereka menikmati keindahan pantai Pulau Dewata itu, tiba-tiba ingatan Shana kembali lagi dengan Deen. Di mana sampai sekarang dia sama sekali tidak pernah lagi bertemu dengan laki-laki itu.


“Jangan-jangan dia sengaja menghindariku lagi. Aaarrgghh…! Pasti dia sudah salah paham. Padahal aku kan bukan tipe orang yang suka sembarangan mencium orang lain” batin Shana membuat mood happynya tiba-tiba hilang.


Masih dalam satu lokasi di mana di mana karyawan Perusahaan Kingsly Group menghambiskan waktu liburan mereka. Ada dua anak manusia yang menjadi seperti penguntit. Siapa lagi kalau bukan Vina dan Nicholas.

__ADS_1


Kedua orang itu sedang duduk di salah satu tempat Café di mana tempat tongkrongan tersebut juga langsung menghadap ke arah pantai. Sambil menikmati makanan dan minuman di sana, kamu juga bisa sekaligus menikmati keindahan pantainya.


“Hmm…!!! Ini aneh sekali. Benar-benar aneh sekali” ujar Nicholas yang memakai topi dan masker, tdak lupa juga kaca mata hitamnya.


“Iya, ini benar-benar aneh” sahut Vani. Wanita itu juga memakai topi selayarnya dan kaca mata. Bedanya dia tidak memakai masker.


Mereka duduk bersebrangan dan saling menyahuti perkataan satu sama lain setelah mereka melihat ponsel mereka masing-masing.


Sebenarnya kedua kakak beradik itu, sama-sama sepupu Deen tidak sepenuhnya datang ke Pulau Bali itu sebagai penguntit. Nicholas ada di sana karena dia lagi ada pemotretan brand yang sedang dia promosiin.


Dan Vani ikut ke Pulau Bali karena Deen juga ikut pergi liburan. Hal ini adalah yang langka sekali dijumpai oleh Vani.


“Hei, Vani. Ada berita baik apa yang kamu tahu dari kak Deen” tanyan Nicholas yang keduanya sudah terbiasa memanggil sepupunya itu kak, atau bro.


“Berita baik tentang kak Deen? Mmm…! Banyak, kok. Pertama-tama ada aku yang…”


“Aaaiissh, dasar adek sialan. Bukan menjawab pertanyaan, malah bertingkah aneh” potong Nicholas yang melihat Vani memainkan pose-pose imutnya.


“Ngomong-ngomong, baru kali ini aku melihat kak Deen sesenang itu” ujar Vani sambil memperhatikan Deen yang sedang menerima panggilan telepon di luar sana.


Memang benar, semenjak Vani pernah melihat Shana pernah menginap di apartemen Deen, wanita itu sudah mulai curiga dan menjadi detektif dadakan. Dan ingin mengetahui sedetail apapun informasi dari keduanya.


Karena ini langka banget. Yang selama ini Vani tahu kalau sepupunya tidak pernah dekat dengan wanita manapun, membuat dia sangat penasaran dengan hubungan keduanya.


Karena Saha dan Deen sepertinya bermain petak umpet atau malu-malu kucing. dan sama-sama tidak mau jujur dengan perasaan mereka masing-masing.


Itu membuat Vani selalu cerita kepada Nicholas setiap ada perunahan yang terjadi dengan Deen. Karena mereka berdua sangat tahu persis bagaiman masa kecil yang sangat berat Deen lalui. Hingga membentuk karakter dirinya yang sangat tertutup dan tidak terjamah di saat sudah dewasa.


Vani sangat bisa merasakan perubahan sikap dari kakak sepupunya itu. Dan Vani yakin itu ada hubungannya dengan Shana, sekretaris dari laki-laki itu. Nicholas juga jadi penasaran.


Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak, karena setiap dia mau mendekat dan mencoba mengorek informasi dari Deen langsung, sepupunya itu akan langsung menghindar.

__ADS_1


Hari pertama liburan tiba di Pulau Bali itu, mereka habiskan waktu mereka dengan bersenang-senang. Layaknya orang lagi liburan, sebisa mungkin paran karyawan perusahaan yang ikut meramaikan liburan itu menikmati setiap waktu mereka.


__ADS_2