Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Double Syok


__ADS_3

Sepeninggalan Shana, Pak Deen duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Dia duduk sambil memperhatikan berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Walaupun pandangannya tertuju kepada berkas yang di atas meja kerjanya, tapi pikirannya buka ke situ.


Tiba-tiba Pak Deen merasakan keheningan di dalam ruangannya itu. Bola matanya kembali tertuju ke secangkir koping yang dibawa Shana, sekretarisnya tadi. Dengan perasaan ragu dia mengambil dan meminum kembali sedikit kopi asing yang dibuatkan sekretarisnya itu. sambil memikirkan sesuatu.


“Uuugghh, asin sekali. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya” gumam Pak Deen dengan muka kecut setelah merasakan kembali rasa asin yang menyerang sampai ke ubun-ubunnya.


Dia buru pergi ke westafel yang yang ada di ruangannya untuk berkumur-kumur membersihkan sisa rasa asing yang masih terasa pekat di lidahnya.


Satu harian ini Pak Deen bekerja tidak tenang. Pikirannya bercabang memikiran pekerjaannya dan memikirkan perubahan sikap sekretarisnya. Saat di dalam mobil mau pulang pun, Deen masih tetap memikirkan sebenarnya apa yang membuat Shana berubah aneh dan tiba-tiba meminta resign dari perusahaan.


Saat di tengah jalan menuju apartemennya, Deen memperhatikan di sepanjang sisi jalan banyak bangunan tinggi dan beberapa kilo meter kemudian dia melihat banyak di sisi jalan ada bebagai macam toko.


Matanya tertuju ke salah satu toko di sana. Dan spontan dia pun menghentikan mobilnya di sisi jalan. Dengan pelan-pelan dia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju toko buku yang ada di depannya.


“Haaa… Ada apa sebenarnya dengan dia, ya?”


Deen bertanya-tanya di dalam hatinya. Sambil berjalan ke dalam toko buku tersebut. Deen mengingat kembali dari awal mula Shana menjadi sekretarisnya.


“Dua berubah seperti itu kayaknya bukan karena sakit. Beberapa tahun ini, dialah satu-satunya yang bisa mengikuti bagaimana cara kerjaku. Dia tidak pernah membuat kesalah, pekerjaan seberat apapun dia bisa mengerjakannya. Dia salah satu orang yang aku percaya di perusahaan. Dia adalah salah satu sekretaris idaman.”


“Dia wanita yang sehebat itu, sangat teliti. Bagaimana bisa dia membuat kesalahan hanya untuk membuat kopi yang sudah biasa dan berulang kali dia lakukan? Aaaah, itu pasti suatu pertanda kalau ada sesuatu yang terjadi padanya.”


“Kalau aku ingat para sekretaris sebelumnya yang tidak sekompeten dia, bagaimana bisa aku kehilangan karyawan seperti dia. Aku tidak bisa….”


“Ah, aku tidak mau kehilangan orang berbakat seperti dia. Benar. Aku tidak boleh melepaskan dia begitu saja tanpa ada asalan yang jelas dan yang masuk akal. Kenapa dia mau berhenti bekerja dari perusahaan. Aku harus memperbaiki kemungkinan yang selama ini aku telah lewatkan.”


Pikiran Deen masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran dengan apa yang terjadi terhadapa sang sekretarisnya.


Lumayan lama Deen mencari buku-buku yang dia butuhkan. Semua buku yang bisa membantunya untuk menyelesaikan masalahnya dengan dengan Shana dalam hubungan pekerjaan mereka, Deen beli.


Setelah dia merasa cukup dan sudah hampir semua judul buku bagaimana cara memperbaiki hubungan seorang atasan dan bawahan, pemimpin dengan sekeretarisnya dan masih banyak lagi buku-buku lain Deen bawa ke meja kasir.


Sampai-sampai penjaga kasir saja kaget melihat banyaknya buku yang diborong oleh dia. Ya, Deen memutuskan untuk membaca dan mempelajarinya demi untuk bagaimana cara mempertahankan sekretarisnya Shana supaya tidak jadi resign dari perusahaan.


Dia tidak sanggup mengganti sekretaris baru lagi yang kemampuan dan cara kerjanya tidak sama dengan Shana.


“Pak, yakin bapak membeli semua buku ini?” tanya si petugas kasir.


“Iya, saya bawa semua buku ini ke sini itu tandanya saya mau beli” jawab Deen.


Baru kali ini ada penjaga toko merasa khawatir melihat ada pembeli datang memborong banyak buku. Mungkin karena hal itu jarang terjadi, makanya penjaga kasir itu merasa heran bercampur perasan bingung melihat kostumernya kali ini.

__ADS_1


Yaaah, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya semoga banyak orang seperti Deen yang selalu memborong membeli buku yang mereka perdagangkan.


Bahkan orang-orang yang juga mengantri di belakang Deen pun ikut kaget melihat banyaknya buku yang dia beli dan harus bersabar menunggu hingga giliran Deen selesai.


“Kalau begitu apakah ada kartu anggota bapak sebagai pelanggan di toko ini, pak?”


“Tidak ada” jawab Deen singkat.


Di dalam hatinya benar-benar dia bertekat untuk memperbaiki dan mulai mengubah sedikit demi sedikit bagaimana selama ini dia bekerja Bagaimana dia memperlakukan bawahannya dan karyawannya yang lain.


Keesokan harinya….


Shana kembali masuk kerja seperti biasanya. Malah tanpa sadar dia keluar dari apartemennya menuju perusahaan di mana dia bekerja dengan perasaan biasa saja. Tetapi, saat kakinya sudah menginjak lantai lobby perusahaan itu baru dia kembali merasakan langkahnya seperti tertahan kembali.


“Haaa…!!! Tanpa merasakaan apa-apa aku datang lagi ke kantor” batin Shana yang seketikan wajahnya menjadi murung.


Seperti biasanya pun dia berpapasan dengan bebera karyawan yang juga sudah datang. Mereka saling menyapa satu sama lain seperti biasanya.


“Balas dendamku yang kulakukan kemarin sepertinya…”


Ingatan Shana kembali dengan misi yang dia lakukan dan sama sekali tidak berhasil kemarin. Dia mengingat kembali bagaimana ekspresi sang atasan yang sangat diluar dugaannya menyuruh dia dengan santai kembali ke meja kerjanya.


Tanpa ada protes, amarah, bentakan dari atasannya itu. Padahal dia sudah melakukan kesalahan yang bisa dibilang akan membuat laki-laki itu marah padanya dan kemungkinan bisa memecatnya. Shana malah mempertanyakan apa maksud dari tindakan bosnya itu kemarin dengan begitu perhatian memeriksa keningganya.


“Ya, sudah. Kalau kemarin gagal, trus kenapa? Aku tidak perduli karena masih banyak lagi waktu kok untuk melakukan rencanaku hingga dia lelah dan akhirnya dia akan menuruti permintaanku” lanjut Shana dan mengubah raut wajahnya kembali bersemangat lagi.


Dia berjalan menuju Cafetarian yang ada di perusahaan itu. Shana akan memesan serapan buat Pak Deen, sang atasan.


“Mau pesan apa, kak…?” tanya si penjaga café melihat Shana datang di depannya.


“Aku mau mesan sandwich pakai acar dan saus sambalnya yang banyak. Kalau ada sambal cabai benaran juga nggak apa-apa, bu. Untuk minumannya kopi latte saja” ujar Shana sambil tersenyum sumringah.


“Waaah, sepertinya kamu suka makan makanan yang pedas ya. Padahal ini masih pagi-pagi loh” balas si penjual.


“Tidak apa-apa, bu. Aku memang suka makan makanan yang pedas” jawab Shana sambil tersenyum meyakinkan ibu si penjual.


Dia kali ini tidak boleh gagal lagi. Dan dia sudah berencana akan mengubah cara kerjanya seperti diawal-awal dulu yang banyak membuat kesalahan.


Setelah Shana sampai di meja kerjanya, dia meletakkan tasnya dan merapikan meja kerjanya. Dia juga mempersipkan file-file yang akan dia kerjakan berikutnya. Kemudian dia melihat jam tangannya.


“Sepertinya si bos sudah ada di dalam kantornya. Aku tinggal memberikan serapannya ini saja” gumam Shana dengan suara rendah.

__ADS_1


Tok… tok… tok…


“Masuk…”


Benar. Mendengar suara dari dalam tebakannya tidak salah kalau bosnya sudah datang. Mungkin karena dia mampir ke Cafetarian tadi makanya dia tidak melihat kedatangan atasannya itu.


Dia pun dengan perlahan membukan pintu di depannya dan berjalan dengan pelan-pelan menuju meja kerja Deen. Dengan keberanian penuh, Shana meletakkan serapan yang sudah dia pesan di depan Deen.


“Pak Dan, ini serapan bapak.”


“Apa lagi responnya kali ini, ya? Aku sangat penasaran” batin Shana penasaran.


Sesaat saat dia meletakkan serapan sang bos, dia kembali dikagetkan oleh kata-kata yang disampaikan oleh sang atasan. Dan seumur-umur dia bekerja baru kali ini dia mendengarkannya.


“Terima kasih, Shana”


“…??? Ya…!!!?” gumam Shana dengan wajah kaget setengah mati. Dia hampir terjatuh karena tiba-tiba merasakan kakinya lemas.


“Apa…? Te-terima kasih…?” gumam Shana sambil bertanya-tanya di dalam hatinya.


“Oh iya. Namaku Deen Neal Kingsly. Kamu boleh panggil Deen atau Neal. Nyamanmu saja” lanjut laki-laki itu lagi meralat panggilan sekretarisnya itu sambil tersenyum ke arah Shana.


“Eeeh…???”


Shana semakin kaget. Dia tidak menyangkan bosnya itu akan langsung mengklarifikasi.


“Jadi, apakah dia sudah tahu kalau aku sengaja melakukannya?” batin Shana.


“Tidak apa-apa. Namaku memang sendikit membingungkan dan itu wajar. Karena setiap orang juga pernah melakukan kesalahan” jawab Deen dengan santai.


“Shana, nanti sore aku akan ada rapat di luar. Tolong kamu siapkan berkas yang akan ku bawa” lanjut laki-laki itu lagi sambil tersenyum.


“Haaa…??? Tadi aku tidak salah dengar kan…?” gumam Shana dengan wajah melongo. Tetapi dia langusung mengubah mimik wajahnya menjadi biasa saja.


“Ooh iya, pak. Tetapi sebelum bapak nggak ada jadwal rapat atau bertemu dengan klaen di luar, pak. Kalau begitu saya akan mengubah jadwal bapak untuk nanti sore” jawab Shana dengan nada suara yang dia atur tetap seperti biasanya.


“Tidak perlu. Kamu juga tidak perlu ikut. Aku pergi sendiri, dan kamu istirahat saja” balas Deen tersenyum kembali.


Praaang….!!!


Nampan yang di bawa Shana terlepas dari pegangannya mendengar perkataan bosnya barusan.

__ADS_1


Double syok…


“Apa…? A-ada apa ini…?” batin Shana dengan telapak tangan menutup mulutnya sambil kedua bola matanya melotot melihat dan tidak percaya ke arah sang atasan yang masih menampilkan senyuman ke arahnya.


__ADS_2