Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Belanja Bareng


__ADS_3

Keesokan paginya, Deen bagun duluan dan dia sedang memperhatikan Shana yang masih tidur di samping. Entah sudah berapa lama laki-laki itu memandangi wajah wanita yang masih terlelap di sampingnya.


Ya. Malam itu Deen membawa Shana menginap di apartemennya. Tetapi karena gerakan yang dirasakan Shana di sampingnya membuat dia terbangun. Perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.


Dan pemandangan yang pertama yang dia lihat adalah wajah tampan dari Deen yang masih menatapnya.


“Selamat pagi…?” sapa Deen sambil tersenyum.


Shana bukannya menjawab sapaan dari Deen barusan. Dia malah meraih wajah laki-laki itu dan dan langsung mencium pipinya. Deen yang mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu membuat dia kaget dan sedikit tersipu malu.


Bagaimana tidak. Baru kali ini ada wanita yang memujinya secara blak-blakan seperti itu.


“Muaaah…! Kok kamu ganteng banget sih kalau baru bangun” ucap Shana tersenyum dan kembali merebahkan kembali tubuhnya.


“Shana…” panggil Deen yang melihat Shana memejamkan matanya.


“Sepuluh menit lagi” ujar Shana.


“Ya sudah. Kamu tidur lagi, aku akan memasak sarapan” balas Deen sambil beranjak dari tempat tidur pergi menuju dapur.


Shana yang mendengar kalau Deen akan membuat sarapan buat mereka, spontan membuka matanya. Dan dia juga langsung bangun. Karena dia tidak mau membiarkan Deen menyiapkan sarapan sendirian.


Bisa-bisa nanti laki laki itu berpikir dia salah satu wanita malas yang bisanya rebahan saja. Mending dia bantu-bantu sedikit, dari pada tidak sama sekali. Karena stok bahan makanan di kulkas Deen sudah menipis, akhirnya mereka berdua mentuskan pergi ke supermarket terdekat. Terlihat Deen sedang memilih-milih bahan makanan yang akan mereka beli.


“Yang ini saja” ujar Shana menunjukkan saat dia melihat Deen seperti kebingungan. Sepertinya mereka sekalian membeli bahan-bahan makanan berat untuk beberapa hari ke depan.


“Ayo, sekarang kita beli buah” ajak Deen sambil mendorong trolly belanjaan mereka yang hampir penuh.


“Deen, tunggu” ujar Shana yang heran melihat ternyata mereka berdua sudah membeli banyak belanjaan.


“Biasanya aku tidak memakan makan berat buat serapan dan sangat jarang serapan pagi” lanjut Shana yang kemudian mengikuti Deen ke mana laki-laki itu mendorong trolly belanjaan mereka.


“Tidak bisa. Mulai besok kamu harus sarapan pagi” jawaba Deen membuat Shana kaget.


“Eeeh…!!!”


“Jangan dibiasakan tidak serapan pagi. Bisa sakit nanti kamu. Mendingan tidak makan siang dari pada harus tidak serapan. Karena bisa menimbulkn penyakit. Dan lagian bagaimana nutrisi tubuhmu terpenuhi kalau kamu tidak serapan pagi?” ujar Deen panjang lebar.


“Tapi aku tidak bisa makan makanan sebanyak ini” ujar Shana sambil menunjukkan trolly belanjaan mereka.


“Siapa yang nyuruh kamu memakan semua ini? Aku hanya membeli beberapa bahan makanan saja.”


“Lagian aku belum tahu selera makanan seperti apa yang kamu suka. Makannya aku beli bahan mentahnya sebanyak ini” lanjut Deen dan kemudian dia melanjutkan belanja lagi.


“Hari ini kan akhir pekan, harusnya kamu istirahat, bukan malah repot-repot seperti ini pergi belanja dan membuag waktu istirahatmu.”

__ADS_1


Shana mengucapkan kalimatnya sambil memegang-megang baju bagian belakang Deen karena ditinggal begitu saja. Wanita itu sudah seperti anak ayam yang ditinggal pergi oleh induknya.


“Aku tidak tega membayangkan kalau kamu tidak makan” jawab Deen tanpa melihat Shana yang mengekor di belakangnya.


 Jreeeeng…!!!


Di meja pantry apartemen Deen, sudah tersusun rapi bahan mentah yang akan Deen masak.


“Aaah, aku sudah lama tidak memasak” batin Shana yang melihat meja pantry tersebut penuh dengan belanjaan mereka dan sambil merapikan memasukkan belanjaan mereka ke dalam kulkas.


“Aku akan mencoba yang terbaik” ujar Deen sambil memakai celemeknya.


Kemudian dia melihat lengan bajunya sampai ke siku membuat dia terlihat semakin seksi berada di dapur itu. Dia mulai membersikan dan memotong-moton bahan makanan mereka. Ya. Deen memutuskan untuk memasak daging dan capcay dan bebera lauk pendamping lainnya.


Dia terlihat menakar-nakar bahan dan bumbu yang dia akan masak. Sepertinya dia tipe orang kalau mengerjakan sesuatu itu harus sempurna. Shana yang jarang memasak hanya bisa mengagumi laki-laki yang sedang sibuk di dapur itu.


Setelah satu jam lebih Deen berkutat di dapur sendirian, akhirnya dia pun selesai memasak. Shana membantu menata makanan mereka di atas meja makan.


“Waah…! Kelihatannya enak sekali” batin Shana setelah melihat semua makanan mereka tertata rapi di atas meja makan. Mereka berdua pun duduk di kursi masing-masing.


“Nah, makanlah sebelum dingin” ujar Deen mempersilahkan Shana mengambil makanannya duluan.


Shana pun mulai mengambil satu per satu makanan yang dimasak Deen barusan dan mulai mencicipinya.


“Waow…! Ternyata kamu pintak memasak juga ya. Ini enak sekali. Seperti makan makanan di restoran mahal” ujar Shana memuji kebolehan Deen memasak.


“Jika pelayan dari rumah utama keluargamu tidak datang ke apartemenmu ternyata kamu juga bisa memasak makanan semewah ini. Waah, kamu memang benar-benar sempurna. Bukan soal pekerjaan kantor saja kamu hebat. Dalam hal urusan masak memasak pun kamu sungguh hebat.”


Shana tak henti-hentinya memuji keterampilan laki-laki di depannya itu.


“Nggak. Hebat dari manacoba. Aku hanya memasak satu dua makanan saja” jawab Deen yang merasa kemampuan memasaknya biasa-biasa saja.


Di tengah-tengah aktivitas makan mereka, Shana jadi teringat waktu dia mau mulai hidup mandiri. Dia berusaha untuk hidup normal. Tidak, maksudnya berusaha untuk terlihat hidup normal.


Shana mulai terobsesi dengan masakan buatan tangannya sendiri. Dia tidak mau memakan makanan yang simple. Makanan yang bisa cepat disajikan dan yang efisien.


Atau pun makanan cepat saji dan makanan pesan antar. Teringat waktu itu dia hidup sendirian. Dia berusaha menyenangkan dirinya sendiri. Tetapi sekeras apapun dia berusaha, tetap saja makanan yang dia masak tidak seenak masakan mendiang ibunya.


Dan lama-kelamaan akhirnya Shana pun jadi berkompromi dengan dirinya sendiri dan kenyataan hidup. Shana khawatir…


Di tengah lamunan Shana tiba-tiba dia mendengar suara Deen yang membuat dia tersadar kembali.


“Aku tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan tidak berlebihan. Dan juga soal dalam pekerjaan. Sampai pada akhirnya kamu menyerahkan surat resign kamu.”


“Eh, jangan-jangan bahas masalah itu lagi. Lagian akhirnya hasiknya kan bagus” jawab Shana terburu-buru.

__ADS_1


“Hmm… Sekarang aku tahu kenapa Deen pernah bilang kalau kehidupan kami mirip” batin Shana yang melihat sedikit-demi sedikit sisi dari laki-laki di depannya itu.


Akhirnya acara makan mereka pun selesai. Piring di depan mereka hampir kosong semua.


“Terima kasih untuk masakannya hari ini. Masakanmu benar-benar enak. Dan biarkan aku saja yang membersihkannya” ujar Shana merapikan peralatan alat makan mereka yang kotor.


“Lain kali aku akan memasak makanan lagi untukmu. Walaupun tidak seenak masakanku kali ini” jawab Deen.


“Kalau masakanmu bagaimana…?” lanjut Deen berharap Shana akan memperlihatkan skill memasaknya juga.


“Eh…! Jangan terlalu berharap begitu. Aku tidak pandai sama sekali dalam urusan dapur” ujar Shana sambil nyengir-nyengir.


“Waduh, bagaimana ini?” batin Shana yang melihat Deen masih dia menatap ke arahnya.


“Deen, bagaimana kalu seandainya kita bertemu lebih cepat?” tanya Shana berjalan menghampiri Deen lalu memeluk laki-laki itu dari belakang.


“Ya bagus dong” jawab Deen dengan senag hati.


“Iiiih…! Bukan begitu maksud aku” balas Shana malu-malu.


“A-aku hanya ingin tahu dan penasaran tentang kehidupanmu sebelum mengenal aku” lanjut Shana. dia mengatkan perkataannya sambil melirik ke arah lain karena wajahnya yang tersipu malu.


Dia tidak mau wajahnya yang sudah memerah dilihat Deen. Bisa-bisa dia nanti malah diledeki laki-laki itu.


“Begitu juga dengan aku” batin Deen sambil menatap Shana dengan lekat.


“Spertinya ada album foto di rumah rumah utama. Aku akan menelepon Vina biar dia bawa ke sini. Supaya kamu tahu bagimana aku waktu kecil. Aku coba minta sama Vina sekarang” ujar Deen sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


“Sekarang…?” tanya Shana yang berpikir tidak mungkin Vina mau datang hanya untuk mengatarkan album foto mereka saja.


“Ti-tidak perlu…. Eh, tapi boleh deh. Mau melihat…” ujar Shana sambil membayangkan wajah imut Deen waktu kecil dulu.


Ting… Tong…!!!


Tiba-tiba mereka berdua mendengar bell berbunyi.


“Itu Vina sepupu kamukah? Kebetulan sekali dia datang” ujar Shana seraya bertanya.


Deen sempat berpikir sejenak.


“Mmm… Dia sebelumnya memang pernah bilang akan datang ke sini. Aku buka pintu dulu, ya?” ujar Deen yang pergi meninggalkan Shana di dapur itu dan pergi menuju pintu apartmennya.


Sementara Shana sendiri celingak-celinguk menyadari jika tampilannya sekarang lagi berantakan. Dia berusaha merapikan penampilannya supaya terlihat rapi dikit.


Sementara Deen sangat kaget melihat orang yang ada dilayar monitor di depannya.

__ADS_1


“Alamatnya ini sudah benar nggak sih” gumam orang di luar sana yang menunggu pintu dibukakan.


Orang yang selama ini Deen hindari. Kalau bisa seumur hidupnya tidak akan pernah melihat orang di luar pintunya itu. Tetapi sekarang orang itu malah muncul dengan sendirinya tanpa permitaan dari Deen sendiri.


__ADS_2