
Berbeda di kediaman Kingsly. Tuan Nixon dan putrinya Vina sedang duduk di ruang keluarga. Sang ayah sedang fokus menonton berita di televisi sedang Vina sendiri sedang sibuk melihat-lihat sesuatu di layar ponselnya.
“Ayah, menurut ayah cincin ini bagaimana? Bagus nggak ayah?” tanya Vina tiba-tib sambil menyodorkan ponselnya dan menunjukkan apa yang dia lihat dari tadi kepada Tuan Nixon.
“Ya…?”
“Baguskan ayah?
Vina menunjukkan sebuah cincin bermata berlian dengan desain yang sederhana, tetapi tetap telihat elegan.
“Ah, kelihatannya sangat bagus. Tapi, kok kelihatannya sanga berbeda dengan yang kamu pakai?” tanya Tuan Nixon setelah memperhatikan lebih teliti setiap ukuran dan model cincin yang ada di layar ponsel putrinya itu.
“Tentu saja sangat berbeda, ayah. Rencananya aku akan memberikan cincin ini sebagai hadiah untuk kak Deen dan kak Shana” ujar Vina menjelaskan.
“Hmm…? Shana, siapa dia itu…?”
“Aduh…! Kenapa aku keceplosan sih. Tidak mungkin kan aku mendahului kak Deen mengatakannya kepada ayah” batin Vina.
“Itu… Anu…”
“Mmm… Sepertinya mereka akhir-akhir ini baik-baik saja. Kalau begitu aku boleh bilang, kan?” lanjut Vina masih mempertimbangkan di dalam hatinya.
“Kak Deen sudah punya pacar. Ayah belum tahu, ya?”
Akhirnya Vina memutuskan untuk memberitahukannya. Dan Tuan Nixon sangat kaget mendengar berita itu.
“Apa…?”
“Iya. Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Sepertinya dia wanita yang baik” jawab Vina menjelaskan apa yang pernah dia lihat.
“Astaga, akhirnya anak itu…” ujar Tuan Nixon menggantung kalimatnya.
“Ah, aku juga sepertinya harus melakukan sesuatu. Siapa tadi namanya? Apa mungkin Deen akan memperkenalkannya dalam waktu dekat ini?” tanya Tuan Nixon.
“Shana. Nama pacar kak Deen itu Shana. Nama lengkapnya siapa, ya? Nama lengkapnya bagus juga” jawab Vina sambil mencoba mengingat-ingat.
“Ah, aku baru ingat. Nama lengkapnya Shana Savita Yashvi” ujar Vina memberitahukan setelah dia ingat benar nama lengakap Shana.
Tuan Nixon sangat kaget mendengar nama yang disebutkan putrinya itu.
__ADS_1
“Shana Savita Yashvi…” gumam Tuan Nixon.
Laki-laki paruh baya itu menjadi teringat dengan kejadia dua puluh tahun yang lalu.
Flasback On
Saat itu Tuan Nixon sedang di sibuk bekerja di kantor dan asistennya tiba-tiba datang memberitakan kabar. Kabar bahwa Desmon, ayah Deen terlibat kecalakan tabrak lari.
“Dasar bajingan itu. Dia bahkan membuat orang lain kehilangan nyawa. Apakah dia tidak merasa cukup sudah kehilangan istrinya. Kasihan Deen punya ayah seperti laki-laki kurang ajar itu” ujar Tuan Nixon waktu itu sambil mengurut keningnya yang tiba-tiba merasa kepalanya pusing.
“Tuan…” panggil sang asisten.
“Huuff…! Silahkan lanjutkan” ujar Tuan Nixon setelah dia merasa sedikit enakan.
“Baik. Kecelakaan itu terjadi di jalan pinggiran kota X. Di dalam mobil korban ada sepasang orangtua muda dan seorang anak balita perempuan. Mereka satu keluarga.”
“Karena mobil yang mereka kendarai terlempar dan menggelinding sejauh kurang lebih dua puluh meter, ayah dan ibu dari naak itu meninggal di tempat. Dan yang selamat hanya anak balita perempuan itu saja.”
“Apakah anak itu sudah terindentifikasi?”
“Ya, sudah tuan. Nama anak itu Shana Savita Yashvi.”
Flasback off
“Tidak… Anak ini dan Deen…”
“Tidak… Ini tidak boleh” batin Tuan Nixon saat mengetahui kebenarannya. Tuan Nixon yang selama ini telah merawat dan mejaga Deen seperti anaknya sendiri merasa jika kedua anak muda itu saling berhubungan pada akhinya tidak akan berakhir bahagia. Terlebih jika keduanya mengetahui kejadian yang menimpa kedua orangtua masing-masing.
Deen dan Shana sedang di dalam mobil. Keduanya sedang menuju suatu tempat.
“Aduh, kenapa hari ini terasa panas sekali ya. Untung saja kamu datang menyelamatkan aku” ujar Shana sambil membuka kaca jendela mobil dan menikmati hembusan angin yang langsung menerpa wajahnya.
“Tidak terasa sudah musim panas saja ternyata, ya?” ujar Deen yang tetap fokus menyetir walaupun dia menanggapi omongan dari Shana yang duduk si kursi di samping kemudi.
“Aku tidak sabar juga untuk memikmati musim gugur dan musim dingin bersamamu, Shana” lanjut Deen dengan perasaan sedikit malu-malu sambil melirik sekilas ke arah Shana.
Shana sangat mendengarnya. Dia tersenyum melihat Deen dari samping yang kembali fokus melihat ke depan.
“Kamu kamu tiba-tiba berubah menjadi sangat romantis sih” tanya Shana sangat penasaran tanpa mengalihakan tatapannya dari wajah Deen.
__ADS_1
“Hahaha…! Oh, iya Shana…”
“Iya” jawab Shana.
“Kamu baik-baik saja, kan? Soalnya dari tadi aku memperhatikan kamu kelihatannya sangat gugup” tanya Deen yang melihat tangan Shana dari tadi tidak lepas memegang seatbeltnya.
“Ah. Kamu tidak ingat ya aku cerita kalau aku pernah mengalami kecelakaan. Mungkin efek dari trauma kejadian itu belum hilang sepenuhnya. Makanya aku begini kalau naik mobil pribadi” jawab Shana menjelaskan.
Deen yang mengingat hal tersebut membuat dia kaget dan menghentikan mobilnya.
“Maaf. Kalau begitu aku akan mencari transportasi yang lain. Ayo kita turun” ucap Deen yang merasa jadi bersalah karena bisa-bisanya dia melupakan kejadia yang menimpa Shana. padahal pacarnya itu sudah pernah memberitahunya.
“Eeh…! Tidak apa-apa. Mau tidak mau aku harus membiasakannya. Sebelumnya juga kan aku pernah naik Taxi juga kok. Dan tidak kena-napa” ujar Shana yang semakin mengeratkan genggamannya di seatbelt yang dia pakai.
“Aduuuh….! Kenapa aku memberitahunya lagi sih” batin Shana yang merasa bersalah jadinya. Harusnya dia tidak perlu mengatakannya agar Deen tidak perlu merasa khawatir kepadanya.
“Masih kelihatan, ya?” gumam Shana.
“Ini memalukan sekali. Padahal kejadian itu sudah puluhan tahun yang lalu, tetap tetap saja aku masih belum bisa melupakannya. Masih suka cemas kalau mengingat kejadian itu” batin Shana.
“Aaah…! Mulai sekarang aku harus melupakannya. Iya, aku sudah lupa kok” gumam Shana lagi.
Deen langsung memeluk Shana yang melihat jika wanita itu terlihat kurang merasa nyaman.
“Maaf. Harusnya aku lebih perhatian lagi. Selama ini kamu pasti sudah kesulitan sendirian, ya?” ujar Deen seraya bertanya membuat Shana jadi mewek ketika dia merasakan usapan telapak tangan Deen di kepalanya.
Dia jadi merasa terharu melihat dan merasaka tindakan dari pria itu. Walaupun Deen bilang dia kurang perhatian, tetapi menurut Shana perhatian yang Deen tunjukkan sekarang itu lebih dari cukup dan tidak berlebihn juga.
“Waktu kamu masih bekerja di perusahaan, kita kan sering naik mobil. Sepertinya aku sungguh terlalu tidak memperdulikamu dulu” ujar Deen melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Shana sambil membelai lembut kepala wanita itu.
“Aku tidak apa-apa kok. Yang penting sekarang kamu kan sudah memperhatikan aku” ujar Shana supaya Deen tidak terlalu merasa khawatir lagi.
Melihat Shana yang sudah tidak terlalu gugup lagi, Deen pun mulai menjalankan mobilnya lagi.
“Ayo kita makan yang manis-manis” ajak Shana tiba-tiba.
“Ok, ayo” jawab Deen tersenyum setelah melihat mood Shana kembali seperti semula.
“Kamu benar-benar wanita yang kuat, Shana” batin Deen memuji wanitanya itu dengan diam-diam di dalam hatinya.
__ADS_1
Deen juga tidak mau terlalu membahas kejadian di masa lalu yang pernah menimpa Shana. Takutnya nanti itu kembali sedih lagi dan Deen tidak mau melihatnya sedih lagi.
Kecuali jika dari Shananya sendiri yang mau kembali menceritakannya, baru Deen mau membahasnya lagi.