Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Tidak Mau Kehilangan


__ADS_3

Keesokan harinya saat waktu istirahat, Shana dan dua rekan kantornya pergi ke cafetarian perusahaan untuk istrirahan sekalian makan siang. Mereka bertiga duduk setelah memesan makanan mereka.


“Shana, terima kasih sudah mentraktir kami makan siang” ujar Nera. Dia adalah salah satu karyawan yang bekerja dan dekat dengan Shana.


“Ngomong-ngomong kamu sebentar lagi akan keluar dari perusahaan, ya? Sedih sekali kita akan berpisah” lanjut Nera.


“Iya. Aku belum pernah bertemu dengan orang seprofesional kamu dalam bekerja” timpal Andin sekretaris baru yang masih magang yang akan menggantikan Shana jika dia telah keluar.


“Hahaha… Jangan ngomong seperti itu. kalian juga pada profesional kok kerjanya. Bukan Cuma aku saja” balas Shana.


“Tadinya aku merasa khawatir karena akan keluar secara mendadak. Tetapi setelah melihat kalian baik-baik saja, jadi aku pun sudah tidak khawatir lagi” lanjut Shana menatap kedua wanita di depannya itu.


“Shana, sebenarnya kamu mau keluar dari perusahaan karena mau pindah ke perusahaan lain dan bagaimana?” tanya Nera penasaran.


“Iya. Atau jangan-jangan kamu tiba-tiba ketiba rezeki nomplok lagi?” timpal Andin.


“Aah, hahaha… Mana mungkin” jawab Shana sambil terkekeh.


“Ngomong-ngomong, aku berbicara seperti itu karena aku tahu kamu akan benaran berhenti bekerja. Dulu saat aku pertama sekali mau ngelamar bekerja di sini, aku melihat komenan orang kalau pemimpin perusahaan ini orangnya sangatlah keras” lanjut Nera.


“Hehehe… Iya. Aku juga dengarnya begitu. Aku pikir kamu mau keluar gara-gara itu. tapi, aku melihat kalau pak Deen tidak sekeras yang diberitahukan. Malah dia aku lihat orangnya sopan dan baik” timpal Andin lagi.


“Pak Deen juga orangnya tampan.”


“Iya. Selain kita datang bekerja ke kantor, kita juga bisa sekalian cuci mata” balas Andin dengan suara berbisik.


“Entahlah. Aku juga kurang tahu pasti” jawab Shana.


“Aku juga penasaran kenapa dia bisa berubah seperti itu” batin Shana.


Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba ponsel Shana berbunyi.


“Tunggu sebentar, ya. Sepertinya telepon dari Pak Deen” ujar Shana kepada Nera dan Andin.


Shana pun langsung mengambil ponselnya. Dan benar saja kalau yang menelopon itu adalah Deen.


“Kalau begitu kami duluan saja balik ke kantor, ya” ujar Nera.


“Sampai nanti di kantor, ya” timpal Andin juga yang ikut pergi bersama Nera.


“Iya, sampai nanti” jawab Shana lalu menganggkat teleponnya.


“Iya, pak…?”


Shana menunggu beberapa menit karena Deen tidak ngomong lagi. Shana sempat bertanya-tanya dalam hatinya ke ada apa kenapa Deen diam saja.


“Pak, maaf sepertinya sinyalnya tidak baik. Boleh aku telepon nanti lagi” ujar Shana sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.

__ADS_1


“Shana…”


Shana kaget mendengar suara Deen karena terdengar berat di telinganya.


“Pak, ada apa dengan suara bapak? Apakah bapak lagi sakit?” tanya Shana khawatir.


“Iya, aku tidak kenapa-napa. Hari ini kamu datang ke apartemenku, kan?”


“Aah, iya pak. Saya nanti mampir ke apartemen bapak sekalian mau menyerahkan pekerjaan yang mau bapak periksa hari ini.”


“Sepertinya bapak harus butuh istirahat. Kedenganrannya bapak lagi kurang sehat. Nanti saya akan jadwalkan ulang lagi pertemuan bapak dengan klen bapak.”


“Tidak perlu. Istirahat sehari pasti sudah sembuh. Uhuuuk… Uhuuk…”


“Bapak sepertinya benar-benar lagi kurang enak badan. Bapak tunggu saja, nanti aku sekalian bawa obat batuk buat bapak” ujar Shana yang mendengar Deen batuk.


“Iya, terima kasih.”


Mereka pun mengakhiri obrolan mereka. Deen masih bekerja dari apartemennya. Dia dengan pelan-pelan menyandarkan kepalanya yang terasa pening. Tubuhnya juga terasa panas.


“Apakah ini yang dimaksud Nicholas dengan sakit hati? Sakitnya sampai tidak sadar kalau badanku sakit seperti ini? Apa ini benar sakit hati…?” gumam Deen sambil meletakkan lengannya di atas keningnya.


Wajahnya sudah dipenuhi oleh keringat. Badannya juga lama kelamaan mulai terasa lemas.


Sementara Shana yang sudah selesai urusannya dari kantor langsung pergi menuju apartemen Deen. Dia menaiki taxi dan meminta si pengemudi langsung jalan dan mempercepat laju mobilnya.


“Tak lama lagi aku akan keluar dari kantor. Tetapi perasaan seperti ada yang tidak beres” batin Shana yang merasa tidak senang.


“Dia memang seseorang yang workholic. Dan akhir-akhir ini dia juga sering membantu mengerjakan pekerjaanku juga. Benar saja. justru aneh kalau dia baik-baik saja, padahal dia bekerja keras seperti itu.”


“Huuufff…” Shana menghela napas


“Aku jadi kesal jika teringat masa dulu. Tapi sebelum aku keluar dari perusahaan, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. A-aku tidak lagi tidak mengkhawatirkannya, kok” batin Shana.


Dia pun turun dari dalam taxi sambil menenteng bawaannya.


“Pak, ini Shana” panggil Shana setelah dia membuka pintu apartemen Deen.


Tetapi dia sama sekali tidak mendengar sahutan dari pemilik apartemen itu.


“Dia lagi ke mana? Kenapa dia tidak bersuara sama sekali?” gumam Shana yang melihat apartemen Deen yang terasa sangat sepi sekali. Bahkan jika jarum pun jatuh ke lantai itu akan terdengar saking sepinya.


“Dia ke mana, ya…?”


“Pak…?” panggil Shana lagi.


“Pak, dokumen yang aku bawa dari kantor aku taruh di meja ruang tengah sa-”

__ADS_1


Ucapan Shana terhenti ketika dia berjalan dan melihat Deen terkapar di sofa ruang tengah itu. Shana melihat wajah Deen yang memerah dan badan laki-laki itu penuh dengan keringat, hingga baju yang dipakainya terlihat basah.


“Pak…!!!” teriak Shana sambil memeriksa kening Deen yang terasa seperti bara api.


“Aduuuh…. Ternyata kondisinya lebih parah dari yang kukira. Aku harus segera menelepon 119” gumam Shana yang panik merogoh ponselnya dari dalam tasnya.


“Shana…” panggil Deen denga suara lirik.


“Aaah, bapak sudah bangun? Bapak minum dulu obat, ini aku ada bawa.”


“Ini aku lagi mau menelepon 119 biar bapak ke Rumah Sakit. Tunggu sebentar ya, pak?” ujar Shana mau pergi ke dapur untuk mengambil air minum sekalian.


“Shana, jangan pergi” ujar Deen tiba-tiba memegang tangan sana.


“Di sini saja” lanjut Deen sambil mengeratkan genggamannya.


Deeeg…!!!


Perasaan Shana sangat kaget dan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang saat dia merasakan tangan Deen yang semakin mengeratkan genggamannya.


“Pak, bagaimana kalau kondisi bapak makin parah. Tangan bapak saja terasa sangat panas bengini.”


“Tolong di sini saja. Jangan pergi ke mana-mana. Aku takut kehilanganmu.”


“Eeeh…!!! Dia lagi mengingau, ya?” batin Shana sambil melihat ke arah Deen yang masih rebahan dengan kelopak mata tertutup.


“Ba-baiklahlah, pak. Tapi tolong bapak lepaskan dulu tangan saya.”


“Jadi…?”


“Iya. Aku tidak akan ke mana-mana” ujar Shana baru kemudian Deen melapaskan tangannya.


Ternyat dia tidak sedang mengigau” batin Shana.


“Jadi bapak takut kehilangan saya, ya? Padahal selama ini aku bekerja tidak punya target dan tidak mengharapkan apa-apa. Saya hanya khawatir dipecat seperti senior-senior sayang yang terdahulu. Karena saya bekerja untuk bertahan hidup.”


“Makanya saya berusaha menyesuaikan diri dengan cara bapak bekerja. Tapi bapak malah berpikir kalau saya berbakat. Dan bapak malah sampai sakit begini karena saya mau resign.”


“Kenapa aku malah berbicara seperti itu sama orang yang sedang sakit sih” batin Shana.


“Ini namanya malah curhat sama orang sakit” gumam Shana sambil menundukkan wajahnya.


“Bukan.”


“Yaaa…?” gumam Shana kaget.


“Aku lebih suka kalau kalau kamu tidak bekerja” jawab Deen dengan suara lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2