
“Huh. Aku turuti saja apa yang dia bilang, dari pada dia nanti salah paham lagi” batin Shana yang tangannya masih kesusahan mencari lubang lengan coat itu.
“Ini mantel besar sekali, siih…!!! Jadi bingung mencari lubang lengannya di sebelah mana” lanjut Shana yang masih berkutat dengan coat yang sudah tersampir di badannya. Tetapi, tangannya sendiri masih grasak-grusuk mencari lubang lengan coat tersebut.
Deen yang dari tadi melihat wanita di depannya itu seperti cacing kepanasan. Sudah hampir sepuluh menit berlalu, hanya perkara memakai mantel saja tidak selesai-selesai. Dia pun tanpa diminta tolong langsung membantu sekeretarisnya itu.
“Pak, biar saya saja yang…”
Shana tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena melihat Deen diam saja dan fokus membantunya memakai mantel tersebut. Perasaan Shana semakin tidak karuan karena sedekat itu dirinya dengan bosnya. Bahkan dia bisa merasakan hembusan napas laki-laki di depannya saking dekatnya jarak di antara mereka.
Dia harus mendongak supaya bisa melihat wajah bosnya itu yang terlihat sangat serius membantunya. Tidak butuh beberapa menit, mantel tersebut pun sudah terpasang rapi di tubuhnya.
“Ma-maaf, pak…” ujar Shana dengan suara kakunya.
“Tidak masalah. Kamu tidak tidak perlu meminta maaf. Hari ini kamu pulang cepat, dan langsung istirahat. Dan ingat, jangan sampai sakit…”
Selesai mengatakan kalimatnya itu, Deen langsung kembali masuk ke dalan ruang kantornya. Sementara Shana berdiri dengan wajah bengong melihat kepergian bosnya itu yang seperti angin berlalu.
“Aah… Apa-apaan sih dia…!!! Sudah bikin orang jantungan, hidup tidak nyaman malah pergi begitu saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa” gerutu Shana di dalam hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Deen masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada di depannya. Dia tidak memperdulikan kehadiran sepupunya, Nicholas yang kira-kira setengah jam yang lalu datang lagi ke kantornya.
Nicholas duduk bersenandung ria sambil mengoyang-goyangkan kakinya dan tidak menghiraukan permintaan dari Deen yang memintanya untuk diam. Karena kehadirannya di ruang kantor tersebut hanya mengganggu konsentrasi kakak sepupunya itu.
“Bro, kenapa kau lembur terus padahal kau yang punya perusahaan ini. Cepat selesaikan pekerjaanmu biar kita pergi minum-mi…”
Nicholas seketika menghentikan obrolannya karena dia melihat wajah datar dari kakak sepupunya itu yang seakan-akan mengatakan…
“Pergi kau dari hadapanku.”
“Bisa nggak jangan memelototiku seperti itu…?” pinta Nicholas yang tidak menghiraukan tatapan tajam yang dilontarkan Deen kepadanya.
__ADS_1
“Abaikan saja” batin Nicholas.
“Ngomong-ngomomg, Nona Shana di mana, Bro…? Biasanya jam segini dia masih ada” tanya Nicholas tetapi Deen sama sekali tidak merespon pertanyaan dari Nicholas barusan.
“Huuufff…!!! Sepertinya si nona manis itu salah menemukan atasan. Kasihan lembur terus” lanjut Nicholas berusaha memancing Deen supaya buka mulut.
Semenjak kedatangannya dari tadi, dia sudah seperti manekin yang hanya dipanjang saja duduk sediri di sofa yang ada di ruangan kerja Deen tersebut. Dia berusaha mengajak Deen mengobrol, tetapi laki-laki itu lebih memilih diam.
“Dia sudah aku suruh pulang duluan.”
Deen jadi teringat kembali saat dia melihat sekretarisnya itu memakai kain panjang. Hingga dia berinisiatif memberikan coatnya untuk sekretarisnya itu pakai.
“Nona Shana. Sepertinya dia lagi tidak enak badan. Kenapa dia tidak mematikan AC ruangannya kalau sudah tahu dia kedinginan. Padahal aku masih ingin dia di sini lebih lama lagi. Tapi, dia lagi sakit. Mau bagaimana lagi.”
“Sepertinya untuk sementara ini aku suruh aja dia bekerja di ruanganku. Mungkin saja AC-nya yang bermasalah juga, makanya dia sampai kedinginan begitu” batin Deen.
Sementara Nicholas yang melihat gelagat dari kakak sepupunya itu berbeda dari biasanya, dia dengan secepat kilat menghampiri Deen hingga membuat laki-laki itu kaget.
“Bukan urusanmu” jawab Deen dengan singkat.
“Coba aku tebak. Sepertinya kau punya masalah dengan Nona Shana kan…?”
Deen hanya bisa memijat keningnya mendengar ocehan-ocehan Nicholas dari tadi yang membuat gendang telinganya mau pecah.
“Jadi, tebakanku benar, ya…? Serius ini…?”
“Bro, kamu ketahuan. Hahaha….” ujar Nicholas tertawa puas melihat kakak sepupunya itu mati kutu di hadapannya.
Sementara Deen semakin merasakan kepalanya nyut-nyutan mendengar Nicholas si anak keras kepala yang kerjaannya ngoceh aja dari tadi. Dan dengan santai juga Nicholas duduk di atas meja kerja Deen sambil memulai ocehannya kembali.
“Bro, pasti ini gara-gara buku yang kau beli itu. Buku itu kan mendidik anak-anak. Memangnya Nona Shana masih anak-anak? Tidak mungkin berhasil lah” ujar Nicholas sambil bersedekap.
__ADS_1
Sementara Deen kembali meminta Nicholas untuk tidak duduk di atas mejanya lagi. Tetapi, anak itu tetap saja mulut tidak diam dan tidak mau bergerak.
“Kalau mau ngedekati orang dewasa itu, caranya juga berbeda. Contohnya ajak dia jalan atau minimal ajak makan sambil minum. Karena biasanya orang dewasa itu akan berkata jujur saat mereka sedang minum” lanjut Nicholas memberikan saran kepada Deen tanpa jeda.
“Kamu ngomong apa sihh…? Pergi sana, jangan ngomong ngawur nggak jelas. Lagipula akui tidak suka minum-minum sepertimu.”
“Aaalah… Bilang saja kau tidak bisa minum. Hahaha…” ejek Nicholas sambi tertawa senang.
“Tapi, ngomong-ngomong, sebenarnya kamu dan Nona Shana lagi ada masalah apa sebenarnya, heumm…? Bro, kalau mau cerita, aku siap loh sebagai pendengar.”
“Aduuh, anak satu ini, ya. Mulai kumat lagi” gumam Deen yang tidak menghiraukan Nicholas yang mondar-mandiri di depan meja kerjanya membuat dia semakin tidak bisa konsentrasi bekerja.
“Tadi aku sempat lihat Nona Shana. Dandanannya hari ini cantik, ya…? Apa dia sudah punya pacar, ya…? Soalnya tadi dia aku lihat pake mantel laki-laki loh.”
Deen sangat kaget mendengar ocehan Nicholas barusan. Kenapa bocah tengil di depannya itu bisa menghubungkan pacar sama mantel. Memangnya sudah ketentuan ya kalau seorang gadis memakai mantel laki-laki tandanya punya pacar, nggak kan?
“Eeh… Padahal aku hanya asal ngomong loh barusan. Tapi reaksimu itu seperti…”
“Bro… Kau tidak mungkin cemburu sama Nona Shana kan…?” tanya Nicholas yang pindah duduk di atas meja menghadap Deen sambil menjewer kedua pipi kakak sepupunya itu dengan jarak wajah mereka yang lumayan dekat.
“Apakah adek sepupumu ini belum cukup untukmu, Bro…?” lanjut Nicholas lagi seraya menggoda Deen.
“Apa sih yang kamu lakukan. Awas, sana pergi kau dari hadapanku. Nganggu aja…”
Pluuuk…!!!!
Kedua laki-laki itu spontan menoleh ke arah suatu benda yang terjatuh. Ya, benda yang jatuh itu adalah ponsel Shana. Dia sangat kaget melihat interaksi kedua laki-laki di depannya. Wajar saja Shana perpikiran kalau kedua pria itu ada apa-apanya.
Karena Shana melihat dari posisi Nicholas yang menghadap Deen dengan posisi kedua tangannya sedang memegang pipi atasannya itu. Dan jarak wajah keduanya yang lumayan dekat
“Aaah… Ma-maaf saya mengganggu kalian berdua. Mmm… Permisi” ujar Shana dengan perasaan syok dan langsung keluar dari ruang kantor bosnya itu.
__ADS_1