Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Vani Salah Paham


__ADS_3

Shana masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi. Tadinya dia yang kaget melihat bosnya bertelanjang dada di hadapannya. Sekarang dia malah membayangkan bagaimana tinggi tubuh sang bos, otot-ototnya yang terlihat jelas di matanya, kulit putih mulus, dan terlihat kekar.


"Aaah, ini gila. Barusan aku mikirin apa sih...?"


"Uuhuuuk... Uhuuk...!!!"


Shana terbatu-batuk menyadari dirinya yang berani-beraninya membayangkan tubuh bosnya sendiri. Tidak sopan. Pipinya juga jadi berubah menjadi merah merona karena malu sendiri.


Shana tiba-tiba merasa mual gara-gara terlalu gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa membayangkan mau dia sembunyikan ke mana wajahnya nanti kalau bertemu dengan Deen.


Buuughh...!!!


Di luar kamar terdengar suara seperti benda yang dijatuhkan sembarangan di lantai. Dan beberapa detik kemudian Shana mendengar suara seseorang sedang berlari sambil memanggil...


"Kak...!!!"


"Eeeh...!!! Itu siapa, seperti suara perempuan" pikir Shana sambil menutup mulutnya. Dia mendengar suara langkah kaki orang tersebut semakin mendekat ke arah pintu kamar yang dia tempati.


"Ini Vani. Kakak kenapa tidak bisa dihubungi sih...?"


Shana yang mendengar suara itu semakin jelas pun membuat dia panik sendiri. Dia mau mencari tempat persembunyian, tetapi dia sendiri tidak tahu mau bersembunyi di mana. Dia jadi gusar sendiri karena bingung mau melakukan apa, sementara orang di luar sana sudah hampir meraih gagang pintu kamar tersebut.


Cekleek.....!!!


"Kakak tidak lupa kan kalau aku mau da...."


"....tang?"


Suara Vani dari yang tadinya tedengar keras lama-lama menjadi seperti suara orang berbisik. Dia pun sangat kaget melihat jika di kamar Deen kakak sepupunya itu ada seorang perempuan yang sama sekali tidak pernah dia lihat.


"Si-siapa kamu...?"


Vani bertanya dengan perasaan kaget dan tidak menyangka jika Deen bisa juga membawa seorang perempuan menginap ke apartemennya. Padahal selama ini dia tidak pernah melihat kakak sepupunya itu dekat dengan seorang perempuan.

__ADS_1


Menyadari adanya sesuatu yang terjadi di apartemen itu, Vani pun mengedip-nedipkan kelopak matanya supaya dia terlihat biasa saja. Sementara Shana sama kagetnya juga melihat seorang perempuan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Iii-ini...."


Belum sempat Shana memperkenalkan dirinya, Deen yang sudah selesai berpakaian keluar dari ruang closetnya kembali ke kamarnya yang masih sama-sama di dalam satu ruangan di dalam kamarnya.


"Shana, kamu makan di sini saja untuk menghilangkan rasa...."


"....mabukmu."


Deen sangat kaget melihat kedua wanita yang ada di hadapannya itu. Dia tidak tahu jika Vani akan datang ke apartemennya sepagi ini.


Sementara Shana sangat tercengang saat pertama sekali dia mendengarkan Deen memanggilnya dengan namanya "Shana."


"Beberapa hari belakangan ini dia selalu memanggilku dengan embel-embel Nona, tetapi sekarang hanya dengan Shana. Dan aku hanya merasa hanyalah sekretarisnya saja. Tetapi, saat dia memanggilku dengan nama pangilanku saja, perasaanku kenapa sangat berbunga-bunga" batin Shana."


Teeee...!!!


"Shana...??? Apa peraturan panggilan kantor sudah diubah...? Kenapa harus memanggil namaku di situasi seperti ini...?" Shana bertanya-tanya di dalam hatinya.


Vani adalah adik sepupu dari Pak Deen. Beberapa hari yang lalu Deen mengirimkan pesan kepadanya. Menanyakan dan meminta saran tempat yang bagus untuk mengajak seseorang untuk makan malam.


Dan pagi ini barulah Vani menyadari jika seseorang yang ingin diajak Deen untuk makan bersama itu adalah gadis yang ada di kamar kakak sepupunya yang sekarang berdiri di depannya langsung.


"Hallo, kakak sayang...!!!" sapa Vani tersenyum dengan nada menyeringai menatap Deen seolah-olah dia meminta penjelasan dari kakak sepupunya itu.


Sementara Deen sendiri merasa heran melihat adik sepupunya itu yang baru kali ini juga dia memanggilnya dengan sebutan kakak sayang. Dan suara adik sepupunya itu sangat menggelikan terdengar di telinganya.


Akhirnya mereka bertiga pun pindan ke ruang makan. Shana duduk di samping Vani sementara Deen duduk di seberang mereka.


"Aaah, aku pikir kakak sukanya sama laki-laki loh. Bahkan aku sudah sempat mengira kalau kakak mendaftarkan diri jadi biksu muda berikutnya."


"Maksud kamu apa...? Kamu mau meledek aku, apa gimana...?" tanya Deen yang keget mendengar omongan dari Vani barusan. Bagaimana bisa adik sepupunya itu begitu ngampang menyimpulkan dan menilai seseorang yang hanya melihat dari luarnya saja.

__ADS_1


"Iyalah. Selama ini kan aku tidak pernah melihat kakak berteman dengan wanita mana pun. Jadi, aku berpikir kalau kakak itu ada kelainan istimewa gitu" balas Vani dengan sedikit ragu takut Deen mengamuk mendengarkan perkataannya.


"Vani, aku bukan orang seperti yang kamu bayangkan itu. Aku laki-laki normal" jawab Deen sambil menghela napas. Dia tidak habis pikir adik sepupunya itu bisa berpikir seperti itu.


"Kalau begitu, untuk kak Shana, walau kak Deen itu orangnya agak kaku, tapi sebenarnya dia orangnya baik kok. Tolong bantu, ya...?" ujar Vani sambil memegang kedua tangan Shana.


"Eeeh...!!! Sepertinya kamu salah paham" jawab Shana, tetapi apa yang dia katakan itu tidak didengar sama sekali oleh Vani.


"Ooh iya ka, ayah belum tahu, kan...?"


Ayah Vani adalah salah satu pemegang jabatan yang penting di perusahaan juga. Sudah menjadi rahasia umum di kantor jika Deen semenjak kecil telah diasuh oleh keluarga dari pihak ibunya.


Dan keluarga itu adalah pemilik Perusahaan Kingsly Group. Boleh dikatakan keluarga itu adalah salah satu konglomerat di negara mereka. Melihat keduanya yang sedang berdebat, Shana jadi merasa tidak pantas berada di ruangan itu.


"Vani, senang bertemu denganmu dan sudah menyempatkan diri datang ke sini. Tapi, kami tidak bisa berlama-lama karena harus berangkat ke kantor" ujar Deen yang sudah mulai bosan mendengarkan pertayaan-pertanyaan yang dilontarkan adik sepupunya itu.


"Apa kakak bilang tadi, kami...? Waaah...!!! Manis sekali ya kakak menyebut kata kami. Kalian berdua sudah seperti pasangan saja" ujar Vani sambil tersenyum lebar.


Shana pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan izin pamit untuk pulang.


"Sepertinya saya juga harus pulang sekarang. Mohon maaf kejadian tadi malam, pak. Selamat bertemu di kantor" ujar Shana membungkuk pamit untuk pulang.


"Eeeh... Shana...!!!" panggil Deen untuk menahannya, tetapi Shana langsung bergegas, tidak mendengarkan suara panggilan dari Deen barusan.


Di depan meja riasnya, Shana mengeringkan rambutnya yang masih basah sambil memikirkan kejadian tadi.


"Konglomerat. Mereka adalah yang membangun bisnis turun-temurun dan sangat kaya. Apa mereka keluarga-"


"Aaah... pantas saja selama ini dia tidak pernah bicara tentang keluarganya. Aku pikir dia hanya dari keluarga yang memang kaya saja. Ternyata dunianya juga sangat berbeda" gumam Shana yang selesai mengeringkan rambutnya, lalu menyisirnya supaya lebih rapi lagi.


"Terus kenapa...? Hubungan kami kan cuma atasan dan bawahan saja. Walaupun akhir-akhir ini terjadi hal yang membuat salah paham. Aaarggh...!!! Gara-gara warisan saja pikiranku sudah melambung tinggi. Membayangkan hal-hal yang aneh juga dengan keturunan seorang konglomerat."


"Aku juga, akhir-akhir ini semangat kerjanya semakin turun. Bekerja semakin tidak profesional dibandingkan dulu. Apa karena aku sudah memiliki harta warisan dari kedua orangtuaku...? Atau memang aku yang sudah mulai tidak cocok bekerja di perusahaan lagi."

__ADS_1


__ADS_2