Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Nyali Ciut Sendiri


__ADS_3

“Aduuh, bagaimana ini…? Padahal tadinya aku hanya ingin membuatnya tidak nyaman dengan pakaianku yang seperti bertema liburan ini. Tetapi sekarang, aku malah terlihat berubah karena pengaruh akibat ditembak beberapa hari yang lalu.


Sama-samar juga dia mendengar pujian dari orang-orang yang melihatnya akibat perubahan drastis dari penampilannya dari biasanya.


“Gaya rambut Nona Shana kok bagus banget ya hari ini” bisik salah satu karyawan yang dia bertemu saat di lift.


“Nona Shana, apakah hari ini lagi musim semi ya…? Atau Nona Shana hari ini lagi ada kencan, ya…? Hari ini Nona Shana kok terlihat cantik banget siih…?”


Kalimat itu yang Shana dengar selama dia bertemu dengan karyawan di perusahaan itu. untung saja dia sudah samapai di lantai di mana ruang kerjanya berada. Kalau tidak, telinganya bisa naik beberapa centi meter nanti jika berlama-lama di dalam lift sana bersama orang-orang yang dia temui.


“Haaah…!!! Aku mengeluarkan banyak uang hanya cuma buat beginian saja” gumamnya dalam hati sambil menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya.


Sebelum memulai kerja, Shana menyempatkan diri untuk melihat beberapa postingan di aku sosial media miliknya.


“Ya ampuuun…!!! Stop, hentikan. Jika aku lama-lama melihat postingan-postingan orang ini, bisa-bisa aku akan tergiur dan berubah menjadi boros.”


“Oh, iya. Jadwal untuk konsultasi mengenai keuangan kapan lagi, yaa…?”


Saat Shana akan membuka jadwal kegiatannya, Shana mendapatkan satu notifikasi pesan. Dia pun langsung membukan pesan tersebut.


“Nona Shana, minta tolong datang ke ruanganku sebentar…?”


“Sekarang pesan teksnya juga berubah menjadi lebih panjang dari biasanya” gumam Shana.


Tetapi, Shana yang menyadari dengan penampilannya yang berubah hari ini malah membuat dia menjadi tidak tidak percaya diri.


“Aku tidak mau bertemu dia dengan tampang seperti ini. Andai saja dia nggak bilang begitu kemarin.”


“Aaah. Tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Semangat Shana.”


Setelah di depan pintu ruang kerja sang bos, Shana pun mengetok pintu di depannya itu.


Tok… tok… tok…


“Pak, ini Shana…”


“Iya, masuk saja…” ujar Deen dari dalam ruangan sana.


“Ada yang bisa saya bantuk, pak…?” tanya Shana setelah dia masuk ke dalam ruangan bosnya itu.


“Iya. Minta tolong jawad untuk minggu ini…”


Deen seketika terdiam saat dia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah wanita yang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya itu.

__ADS_1


“Nona Shana…?” tanya Deen, tetapi detik kemudian dia terdiam kembali.


“Iya, pak…?”


Mereka berdua malah saling terdiam dan menatap satu sama lain. Reaksi macam apa ini…?


“Tidak jadi, kamu boleh kembali ke ruanganmu” ujar Deen setelah dia sadar dari keterperangahannya melihat sekretarisnya sendiri.


“Yang barusan, bapak mau pindahin jadwal lagi ya, pak…? Saya akan kabarin lagi jika sudah saya ubah” jawab Shana sambil tersenyum untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka berdua.


“Utung saja cepat kelar. Karena berlama-lama di dalam aku merasa tidak nyaman. Yang penting kerjaan beres” batin Shana sambil berjalan menuju pintu.


“Panggil saja kalau ada keperluan lain lagi, pak” ujar Shana sebelum dia menutup pintu ruang kantor bosnya itu.


Sementara Deen di dalam sana berusaha menenangkan irama jantungnya.


“Huufff…!!!”


Lalu dia memutar kursinya menghadap kaca kantornya yang tembus keluar sana. Dia memijat keningnya dan memikirkan sesuatu.


“Nona Shana, kenapa terlihat cantik hari ini…?”


Hari semakin sore dan udara semakin dingin juga. Entah kenapa hari ini Shana merasakan hawa ruangannya berdeda. Padahal AC ruangan itu juga tidak pernah dia kutak-katik. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan pakaian yang dia kenakan sekarang.


“Haasyiimm…!!!”


“Duuuh, kok dingin bengini siih” gumam Shana karena dia sudah yang kesekian kalinya bersin-bersin.


“Dingin juga ternyata jam segini. Harusnya aku tetap bawa coatku tadi pagi. Kalau sudah seperti ini, sia-sia juga aku berdandan.”


Shana semakin mengeratkan kain panjang yang sudah menempel di badannya karena kedinginan.


“Enak banget ini pasti kalau sudah di apartemen, mandi dan langsung pakai selimut. Aaah, rasanya ingin cepat-cepat pulang.”


“Oh iya. Akhir-akhir ini aku sudah jarang banget masuk lembur. Sepertinya dia sengaja tidak memberiku tugas dan lembur lagi. Soal pekerjaaan…”


“Apakah aku masih perlu bekerja…?” gumam Shana sambil memejamkan matanya karena dia mulai merasakan akan bersin lagi. Tapi, untung saja tidak jadi.


“Nona Shana…?”


“Iya, pak…?


Shana pun buru-buru membuka kelopak matanya. Dan melihat Deen yang sedang melihat ke arah kain panjang yang dia kenakan. Tanpa ada sepatah kata pun, Deen kembali masuk ke dalam ruangannya. Membuat Shana terdiam, bingung melihat bosnya itu yang sekejap mata sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


“…???”


“Dia kenapa…? Dari tadi dia berbicara ragu-ragu mulu. Apa dia tidak suka melihat orang memakai kain panjang seperti ini? Aaaah… Dingin sekali. Biarkan saja aku memakai kain panjang ini lagi sampai Pak Deen datang lagi” gumam Shana sambil memakaikan kain panjang yang sempat dia lepas dari badannya.


“Lama-lama aku semakin terlihat jadi karyawan pembangkang yang sukses” ujar Shana.


Tidak lama kemudian Deen kembali ke ruangan kerja Shana sambil membawa coat di tangannya.


“Pakai ini saja. Ini lebih tebal dari kain panjang yang kamu pakai itu” ujar Deen sambil menyodorkan coatnya ke hadapan Shana.


“…???”


“Ke-kenapa, pak…?”


Deen sempat bingung dengan pertanyaan sekretarisnya itu. Kenapa wanita itu melontarkan pertanyaan kenapa kepadanya. Padahal ini sedang memberikan coatnya untuk wanita itu pakai karena terlihat kedinginan.


“Pakai saja” jawab Deen singkat.


“Ba-baik, pak.”


“Eeeh, maksudnya dipakai sekarang, pak…?” tanya Shana jadi salah tingkah.


“Iya. Sekarang.”


“Tapi, tumben dia ini tidak komen tentang baju yang aku kenakan sekarang ini. Padahal biasanya dia pasti akan menyuruhku untuk langsung menggantinya jika melihat apapun itu yang bisa membuat aku atau dia tidak nyaman.


“Sepertinya hari ini suhu udaranya sangat dingin. Nanti kamu bisa terkena flu.”


“Haaa…!!! Tumben pula dia menjadi peduli.”


“Sa-saya tidak apa-apa…”


“Haaassyiiimm….!!!”


“Aaaiish…!!! Kenapa aku harus bersin di depannya sih!”


“Apa perlu aku bantu memakainya, Nona Shana…?”


“Apa…? Ti-tidak. Tidak usah, pak. Sa-saya bisa sendiri kok” jawab Shana langsung berdiri, lalu berusaha memakai coat yang diberikan Deen tadi.


“Ah… Iya. Ya sudah kalau begitu” balas Deen yang sama sekali tidak beranjak dari tempat dia berdiri.


Sementara Shana dengan terburu-buru memakai coat yang sudah di tangannya itu. Tetapi masalahnya sekarang adalah karena dia terburu-buru, dia menjadi susah memakai coat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2