
Malam harinya Shana sedang rebahan di atas sofa yang ada di ruang TV. Malam ini temannya Myesha sedang menginap di apartemenya. Dari tadi temannya itu sedang bercerita. Sementara Shana bengong sendiri menatap langit-langit apartemennya sambil memeluk bantal guling.
“Shana, apakah kamu mendengar apa yang aku ceritakan barusan?” tanya Myesha sambil sedikit menoleh ke belakang karena dia duduk di lantai membelakangi Shana.
“Shana, kamu dengar tidak…?” tanya ulang Myesha dengan menaikkan sedikit nada suaranya kerena tidak mendapat sahutan dari Shana.
“Hah…!!! A-aapa…? Kamu punya pacar…?” ucapa Shana asal dan sedikit panik karena dia tidak mendengar dari tadi apa yang diceritakan temannya itu.
“Aaaiiishh…! Benaran deh kamu itu mau bikin aku gila. Kok kamu lari banget sih ke topik lain?” ujar Myesha.
“Ngomong-ngomong kamu kok aneh banget sih semenjak aku datang tadi? Kamu diomelin Deen lagi, ya? Dasar tuh ya laki-laki” ucap Myesha nyerocos asal.
“Bu-bukan. Bukan dia” jawab Shana buru-buru untuk tidak membuat temannya itu berpikiran buruk lagi tetang Deen.
“Truuuss…”
“Sha, rasanya aku seperti mau mati.”
“Kok kamu tiba-tiba ngomong seperti itu? kenapa…? Ada orang yang menipumu?” tanya Myesha penasaran dan langsung memutar badannya supaya menghadap Shana.
“Iya. Sepertinya aku ditipu juga.”
“Apaaa…? Berapa banyak kamu ditipu? Semua warisan orangtuamu itu ditipu? Bagaimana kronologinya kamu bisa ditipu? Siapa yang menipumu, kamu sudah lapor polisi belum?” tanya Myesha dengan perasaan panik.
Masih dalam posisi rebahan Shana menjawab Myesha. Dengan sedikit perasaan tidak yakin dia melanjutkan omongannya.
“A-aku sepertinya…”
“Iya, lanjutkan” ujar Myesha yang mendengar suara Shana melambat dengan nada suaranya semakin terdengar hampir berbisik.
“Sepertinya aku suka sama Deen” ujar Shana dengan perasaan malu. Wajahnya tiba-tiba terasa
panas dan memerah.
“APAAA…???”
__ADS_1
Myesha berteriak kaget mendengar apa yang dikatakan Shana barusan.
Beberapa menit kemudian Shana duduk seperti disidang setelah selesai menceritakaan kalau dia menunda resign. Dia juga tidak berani menatap Myesah sehingga dia mengalihkan perhatiannya dengan meneguk minuman kaleng di depannya.
“Yaaa Shana Savita Yashvi, ka-kamu ini…” Meysha langsung menghampiri Shana dan menari kerah baju Shana.
“Kamu bila sudah capek, bosan. Bahkan kamu sudah menyerahkan surat pengunduran dirimu. Kenapa tiba-tiba berubah, haaa…?” teriak Myesha sambil menggoyang-goyangkan badan Shana.
“Ma-maaf…”
“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja kalau kamu bilang pak Deen sakit karena ulahmu? Sudah berapa kali aku ingatkan kan, jangan terlalu sering menonton sinetron nggak jelas” ujar Myesha dengan perasaan sedikit kesal.
“Aku tahu. Aku juga tidak seharusnya begini” jawab Shana dengan raut wajah sedih.
“Huufff…!!! Baiklah. Walaupun keahlianku bukan tempat konsultasi cinta. Aku tidak bisa membiarkan temanku menjadi pemeran utama dari drama sintron. Sekarang coba ceritakan sejelas-jelasnya.”
Hemm….” Shana berpikir keras akan memulai dari mana dulu. Dia terlihat berpikir.
“Awalnya aku juga berpikir dia sedang menekanku seperti apa yang kamu katakan. Tapi, aku sendiri juga tidak bisa memastikan hal itu. Selama ini aku tidak pernah mengobrol tentang masalah pribadi samanya. Tapi…”
“Truusss…?”
“Kami berdua jadi sering berkomunikasi. Tiba-tiba aku juga jadi berpikir dis sebenarnya orang yang lebih baik dari yang aku kira.”
“Tapi, selama ini kan kamu selalu bilang kalau dia membuatmu bekerja keras mati-matian hingga kamu sering diminta untuk lembur. Coba maksudnya itu apa?” tanya Myesha menyelidik Shana sambil menujuknya.
“I-itu… itu sepertinya dia memang orang yang workholic. Tidak kenal lelah bekerja. Jadi, akibatnya aku pun jadin ketularan” jawab Shana terkekeh nggak jelas.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, apakah hanya itu saja?” tanya Myesha dengan nada penuh curiga.
“Eeeh…!!!” gumam Shana sambil menatap temannya itu yang menanti penjelasannya yang lain.
“Di-dia juga ganteng. Itu juga salah satu alasannya. Maaf…” ujar Shana yang langsung menundukkan wajahnya dan duduk bersimpuh di depan Myesha.
Myesha hanya bisa menghirup napas panjang sambil memejamkan kedua kelopak matanya.
__ADS_1
“Bagus. Itu jawaban yang mau aku dengar” ujar Myesha setelah menghembuskan napasnya.
“Jadi, ceritanya kamu sekarang ini lagi terjebak nih?” ujar myesha seraya bertanya.
“Aaah. Rasanya mau gila. Aku harusnya tidak boleh begini karena sebentar lagi aku mau keluar dari kantor” balas Shana dengan nada sedih.
“Kalau sudah seperti ini masalahnya yang mau aku bilang, pertama aku akan menghargai apapun keputusanmu. Jika kamu mau terus mendekatinya atau mau melupakannya.”
“Tapi, sebenarnya aku juga khawatir. Kalau kamu akan menyukai seseorang yang status sosialnya lebih tinggi dari kita. Takutnya dibelakang nati kamu malah akan merasa terlalu sakit jika ada masalah.”
“Bukan tidak suka kamu menjalin hubungan dengan orang kaya raya. Tapi, aku hanya tidak mau melihatmu menderita lagi. Karena selama ini aku tahu bagaimana perjuanganmu seorang diri.”
“Myesha…” gumam Shana memanggil nama temanya itu.
Apa yang dikatakan Myesha barusan ada benarnya juga.
“Benar. Aku tidak mungkin bermimpi menjadi seorang princes. Seorang putri yang sangat diagung-agungkan. Jika aku masuk ke dalam dunia mereka, aku aku akan terbentur ke sana ke mari. Hinggak suatu saat akan terinjak dan hancur. Aku tidak mau mencari masalah lagi.”
“Setelah sekian lama bertahan dan hidupku semakin membaik, tidak mungkin aku menghancurkannya lagi. Makanya…” batin Shana berpikir keras.
“Myesha, kamu tidak usah khawatir. Mulai sekarang aku akan hidup dengan tenang. Sepertinya aku hanya kecapean saja. Dan kata-kata Deen membuat aku mungkin jadi berkesan di hatiku.”
“Dia bahkan mengatakan terima kasih dan bahkan memujiku membuat aku lengah menjaga hatiku. Berkat nasehatmu aku menjadi merasa lega. Terima kasih, ya” ucap Shana sambil tersenyum.
“Yaa, kok kamu ngomong bikin aku mau nangis sih? Kalau begitu gatiin aku pergi kencan, ok?” ujar Myesha sambil memeluk Shana.
“Apaaa…?”
“Kau…! Padahal suasananya lagi sedih juga. Malah nyuruh orang pergi kencan. Kau jahat” ujar Shana dengan wajah cemberut.
“Iya, tapi kau kan akan banyak waktu karena sebentar lagi akan berhenti bekerja. Jadi kamu itu harus bertemu dengan orang-orang baru juga. Biar kamu jangan dekatnya sama bosmu saja, sekalian cari angin segar kan bagus” ujar Myesha menyakinkan Shana.
“Mmm…” Shana seperti mempertimbangkan saran dari temannya itu. Dan kayaknya dia memang sudah terbujuk.
“Lagian kamu kan tidak mau kalah dengan bosmu itu. Kamu jangan terlalu serius begitu. Kalau kamu tidak suka mita maaf saja dan langsung pulang” ujar Myesha.
__ADS_1
Berhubung hari yang di kasih tahu Myesha untuk pertemuan dia dengan laki-laki teman kencannya kebetulan hari dia libur membuat Shana mengiyakan. Lagian dari pada dia hanya hanya diam di apartemennya, mending dia seperti yang dibilang temannya itu sekalian mencari udara segar di luar sana.