Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Shana, Aku Di Mana?


__ADS_3

Deen melihat tangan Shana yang menarik kerah bajunya dan dia tetap merasa was-was sekaligus berjaga-jaga menjaga tubuh skretarisnya itu jangan sampai jatuh.


"Pak, sebenarnya saya punya banyak uang. Aku baru menerima warisan orangtua saya yang sudah meninggal. Sebenarnya aku kurang senang menerimanya. Tetapi, karena cuma saya satu-satunya ahli waris makanya mereka memberikannya samaku."


Mungkin itu efek dari mabuk sehingga Shana mampu menceritakan hal yang termasuk privasi kepada orang lain. Dia juga harus berjinjit melihat Deen karena laki-laki itu sangat tinggi.


"Dapat warisan...?"


"Iya. Mungkin bagi bapak warisan dari orang biasa jumlahnya sangat sedikit. Tapi bagi saya yang masyarakat jelata ini, warisan itu sangat berarti bagiku karena memberikanku keberanian untuk mengundurkan diri bekerja dari perusahaan bapak."


Shana semakin mempererat pegangannya membuat Deen serasa tercekek oleh kerah bajunya.


"Eeeh...."


"Pak, coba bapak jujur. Bapak tidak tahu nama saya, kan...?"


Deen sangat kaget dengan tindakan sekretarisnya itu. Sangat berbeda di saat dia dalam keadaan normal. Kalau mabuk seperti itu, semuanya jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Unek-uneknya keluar semua.


Shana menjadi orang yang banyak bicara, terbuka dan bisa melakukan tindakan lancang seperti menarik kerah baju bosnya. Sungguh di luar dugaan. Pantas saja Nicholas mengatakan jika ingin membuat orang berkata jujur, ajak saja dia minum.


Dan terbukti. Sekarang sekretarisnya itu mabuk dan mengoceh layaknya mereka sudah sangat sedekat itu. Bahkan informasi yang pribadi saja Sahan ceritakan.


Dasar alkohol pembuat masalah. Kenapa dia minum sampai mabuk begitu. Kalau masih sedikit tidak apa-apa. Shana masih belum selesai dengan ocehannya. Dia masih melanjutkan unek-uneknya yang membuat Deen semakin tercengang kembali.


"Aku berpikir anda sombong, tuan. Selalu memanggil nona Sena terus, tidak pernah memanggil namaku dengan benar. Padahal aku sudah bekerja lima tahun bersama bapak" kata Shana dengan gaya mabuknya sambil menatap tidak suka ke arah Deen.


"Shana. Itu namamu dan aku sudah tahu itu. Maaf kalau berpikir saya sombong."


Walaupun Deen sudah memengang badan Shana, tapi wanita itu masih tetap tidak bisa diam. Terkadang bergerak asal ke sebelah kiri dan kadang ke sebelah kanan juga.


"Mmhumm...!!! Mulai sekarang bapak harus memanggil aku Shana. Tidak boleh salah panggil lagi" ujar Shana dengan nada tegas walaupun dia sedang mabuk sambil mengerakan jari telunjuknya untuk memperingatkan Deen.


"Baik" jawab Deen singkat dan berusaha mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dia berencana akan melakukan panggilan mencari taxi untuk mengantarkan Shana ke apartemennya.


Tetapi Deen berpikir lagi. Kalau dia membiarkan Shana pulang dalam keadaan mabuk seperti sekarang ini, dia yakin wanita itu tidak akan aman sampai ke tempat tinggalnya.


"Shana, di mana alamat rumahmu...?"


"Kamu jahat Pak Deen" ujar Shana dengan sesekali memukul-mukul badan Deen.


"Rumahmu di mana...?"


"Tidak tahu. Aku tidak punya rumah dan tidak-"


"Huup... hup..."

__ADS_1


Shana menahan mulutnya tetap tertutup karena dia merasa perutnya sangat bergejolak seperti ada sesuatu yang ingin keluar.


Uuweeekkk...!!!


Shana langsung berjongkok dan berusaha memuntahkan isi perutnya yang meminta untuk dikeluarkan.


"Kamu tidak apa-apak...?" tanya Deen sambil menepuk-nepuk punggung Shana dengan lembut.


Uuweekkk...!!!


"Sepertinya aku harus booking hotel terdekat di sini untuk tempat dia istirahat" batin Deen.


Tapi pikirannya berkecamuk kembali. Karena dia pernah membaca berita jika ada seorang yang wanita meninggal karena tersedak muntahan saat orang itu sedang mabuk karena dibiarkan sendirian.


"Ahh, Kalau begitu..."


Keesokan paginya...


"Huuufff...!!!"


Terdengar suara helaan napas seorang wanita yang baru bangun sambil memegangi kepalanya karena terasa pusing. Wanita itu dengan perlahan-lahan membuka kelopak matanya dan mulai melihat pantulan sinar matahari pagi dari kaca jendela kamar itu.


"Aaarrghh...!!! Kepalaku sangat pusing" gumam Shana sambil memijat keningnya.


"Jam berapa sekarang, ya. Aku harus bersiap-siap berangkat kerja" lanjut Shana sambil berusaha duduk dan mengucek-ngucek kelopak matanya.


"Haaa...!!! Ini di mana...?"


Dan tidak di sengaja Shana menyenggol sebuah bingkai foto yang diletakkan di atas ranjang di samping ranjang yang digunakan Shana tidur.


"Apa ini...? Kok semua perabotan dan forniture di ruangan ini dinominasi warna hitam dan abu-abu semua dan sangat rapi juga."


"Apa ini hotel...? Waaah, aku mabuk sampai tidak bisa memanggil taxi. Anda sangat pintar juga ya Pak Deen. Bisa-bisanya anda membiarkan wanita minum sampai mabuk berat. Tapi, kenapa aku minum sebanyak itu, ya" gumam Shana sambil mengambil bingka foto yang jatuh di atas nakas tadi.


"Eeeh...!!! Ini..."


"Ini bukannya Pak Deen...?"


Sejenak Shana terdiam dan otaknya tidak bisa berhenti berpikir. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam.


"Astaga, jangan bilang ini rumah Pak Deen"


"Aduuu...!!! Aku harus bagaimana ini...?" ujar Shana yang tiba-tiba merasa panik bercampur rasa cemas menyerangnya.


Dia kembali celengak-celinguk melihat sekeliling kamar itu. Tetapi dia kembali dikagetkan oleh suara seseorang yang sedang mandi. Suara guyuran air terdengar jelas di telinganya. Rasanya dia ingin kabur dari dalam kamaar itu. Tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimana dan seperti apa tempat tinggal bosnya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Shana mendengar suara guyuran air sudah berhenti. Itu menandakan kalau seseorang akan keluar dari kamar mandi yang pintunya menghadap ke arah Shana.


Dia pun langsung masuk kembali ke dalam bedcover dan pura-pura tidur kembali.


"Aah, kembali pura-pura tidur saja. Selanjutnya mau ngapain, nanti aku pikirkan di dalam bedcover" gumam Shana yang berusaha tetap menutup matanya.


Shana mendengarkan langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Dan dia tidak bisa menahan matanya yang dia paksa untuk terpejam. Dia tidak bisa lagi untuk menahan kepura-puraannya yang kembali tidur.


Dan untuk mengakhiri rasa penasarannya juga, apakah benar kamar yang dia tempati itu kamar bosnya atau tidak. Akhirnya dia pun membuka kelopak matanya dan menurunkan sedikit bedcover yang menutupi kepalanya. Dan ketika dia melihat siapa yang ada di hadapannya itu membuat dia hampir berteriak.


Ya, Shana melihat Deen keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan handuk melilit di pinggangnya yang menampilkan badan kekarnya dengan titik-titik air yang tersisa masih menempel di sana.


Yang tadinya Shana ingin berteriak, malah berbalik mengagumi tubuh pria yang berdiri tidak jauh dari ranjang tempat dia tidur.


"Hup...!!! Kenapa aku reflek membuka mata sih" gumam Shana sambil menutup wajahnya.


"Sudah bangun...?" tanya Deen yang melihat Shana grasak-grusuk di bawah bedcover sana.


"Aduhh, mati aku" batin Shana.


Dengan perlahan Shana mencoba duduk kembali. Tetapi dia tidak berani menatap Deen. Dia menundukkan kepalanya melihat lantai kamar itu.


"Maaf, pak. Maaf sudah merepotkan bapak. Sekarang saya juga mau pulang untuk bersiap-siap ke kantor."


Deen bukannya merespon apa yang dikatakan Shana barusan, dia malah balik bertanya.


"Bagaimana dengan perutmu...? Soalnya tadi malam kamu sempat muntah-muntah" tanya Deen sambil berjalan mendekat untuk memastikan Shana baik-baik saja.


"Tidak apa-apa. Perut saya baik-baik saja kok, pak."


Shana mengalihkan pandangannya karena tidak tahan melihat Deen berdiri sedekat itu di hadapannya dengan tubuh bagian atasnya yang tidak memakai apa-apa.


"Sepertinya kamu memang masih belum baikan. Mau aku ambilkan obat...?" ujar Deen semakin mendekat.


Shana langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Eeeh, pak. Bisa pake baju dulu nggak, pak...?"


Shana spontan berteriak membuat Deen sadar kalau tadi dia selesai mandi langsung berjalan menuju ranjangnya di mana sekretarisnya itu tidur. Deen pun melihat tubuhnya yang hanya berbalut handuk, itu pun hanya menutupi tubuhnya bagian bawah saja.


"Aah, Maaf. Saya pakai baju dulu" ucap Deen buru-buru pergi meninggalkan Shana yang masih menutup wajahnya.


Baru setelah Deen menghilang dari hadapannya, Shana membuka matanya.


"Huh, apa itu barusan...? Gila. Bisa-bisanya aku melihat atasanku sendiri dengan santainya datang menghampiriku tanpa memakai pakaian. Dan mataku juga sudah tidak perawan lagi karena melihat tubuh polosnya yang hanya melilitkan handuk doang.

__ADS_1


"Aaargghh...!!!"


__ADS_2