
“Buuughh…!!!”
“Eeeh…. Aduuh…!!!”
Shana mengerang kesakitan karena dia terjatuh hingga membuat lututnya tergores lantai hingga mengeluarkan darah.
“Huuuh, dasar kamu Shana. Sepertinya apapun yang akan kamu lakukan sepertinya tidak akan pernah berhasil untuk keluar dari perusahaan ini” batin Shana berusaha berdiri dengan pelan-pelan.
Dan berpikir jika dia terjatuh barusan hingga membuat luka pada lututnya adalah sebuah pertanda untuk tidak resign dari perusahaan itu. Akhirnya lift yang membawa dia ke lantai di mana ruang kerja berada telah sampai.
Tiiing…!!!
Dengan pelan-pelan dia berjalan tertatih-tatih menuju meja kerjanya.
“Haah…!!! Akhirnya sampai juga” gumamnya dengan suara lirih sambil merongoh tasnya untuk mengambil poselnya.
Shana membuka jadwal kegiatannya selama satu hari ini. Sibuk dengan menggulir-gulirkan layar ponselnya dan memeriksa kegiatannya hari ini.
“Ah. Ternyata ini masih jam dia mau rapat pagi. Padahal aku sudah berusaha telat datang supaya melewatkan beberapa kegiatan pagi ini. Nyatanya aku masih datang seperti jam sebelumnya. Apa gunanya aku bergadang tadi malam.”
“Nona Shana, kamu datang terlambat, ya…?”
Karena kaget mendengar suara yang sangat tiba-tiba dari belakangnya, ponsel yang ada di tangannya jatuh dan tergelatak di lantai. Untung saja tidak kenapa-napa. Kalau tidak, dia bisa double rugi hari ini. Deen berjalan menghampiri Shana dan mengabil ponsel sekretarisnya itu. Lalu memberikannya.
“Ma-maaf, pak…”
Shana menjawab menundukkan kepalanya sambil mengambil ponselnya dari tangan Deen. Shana menundukkan wajahnya karena tidak tahan melihat tatapan dari bossnya itu. Apalagi dia teringat kembali mimpinya tadi pagi sebelum dia terbangun.
“Kamu kesiangan…?”
“Heumm. Iya, pak” jawab Shana dengan suara lirih.
“Memangnya kamu tadi malam tidur jam berapa…?”
“Haah…? Kenapa dia malah banyak bertanya sih…?” batin Shana yang ingin bossnya itu cepat-cepat menghilang dari hadapannya. Ditambah lagi lututnya yang terasa sakit dan nyut-nyutan.
“Mmm… sekitar jam dua subuh, pak.”
“Biasanya kamu tidur jam berapa…?”
“Sekitar jam sebelas atau jam dua belas malam, pak.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tidur larut malam…?”
“Aaargggh…!!! Kenapa dia malah bertanya terus-menurus sih…!!!” batin Shana dengan perasaan kesal di dalam hatinya.
“Karena bapak sering membuat saya kerja lembur.”
Shana menjawab dengan nada kesal hingga dia tidak menyadari apa yang dia katakan. Sementara Deen hanya terdiam dan menatap Shana yang menundukkan kepalanya.
“Oh… Begitu rupanya” jawab Deen setelah beberapa menit mereka terdiam. Dia tidak menyangka sekretarisnya itu akan jujur mengakuinya kalau dia sering membuat dia kerja lembur.
“Aduuuuh…!!! Kenapa aku malah keceplosan begini sih…” kata Shana merutuki dirinya sendiri karena mulutnya yang tidak bisa diajak kerjasama.
“Aku tidak akan memintamu kerja lembur lagi. Jadi, lain kali jangan tidur larut malam lagi ya, Nona Shana.”
“Eeeh…!!!” Shana spontan megangkat wajahnya dan melihat bosnya itu.
“Aaah. Iya, pak. Sa-saya lain kali tidak akan terlambat lagi” jawab Shana yang langsung kembali menundukkan kepalanya.
Beberapa menit mereka terdiam dan Deen masih berdiri di depan sang sekretarisnya itu sambil memperhatikan penampilan wanita itu.
“Kamu, apakah lututmu itu terluka…? Sepertinya berdarah juga.”
“Sial…!!! Kenapa dia bisa tahu sih. Padahal aku sudah berusaha menutupinya.”
Beberapa detik kemudian, Shana melihat tangan Deen terulur di hadapannya. Dia bingung dengan maksud bosnya itu. Kenapa laki-laki itu mengulurkan tangan kepadanya.
“Pa-pak…?"
Shana masih menatap Deen dengan wajah kebingungan.
“Kamu masih melihat apa…? Ayo pegang tanganku, apalagi yang kamu tunggu” ujar Deen yang masih mengulurukan tangannya di depan sekretarisnya itu. Sementara Shana sendiri semakin kaget.
“Haaa…!!!”
Deen kembali mengayunkan tangannya supaya Shana menggenggamnya.
“Ba-baiklah kalau begitu” gumam Shana dengan suara lirih.
“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menolak” batin Shana dengan ragu-ragu mengulurkan kembali tangannya.
Belum sampai tangan Shana menyentuh tangan bosnya itu, si bos malah langsung meraih tangan Shana dan menggenggamnya membuat wanita itu kaget setengah mati.
__ADS_1
“Ayo” ajak Deen dengan singkat.
“Eeeh…!!! Pa-pak, kita mau ke mana…?” tanya Shana yang tiba-tiba di tarik oleh bossnya itu.
“Apa-apaan ini…? Dia kenapa lagi sih…? Aku jadi takut kalau dia bertindak spontan seperti ini tanpa aba-aba” batin Shana yang mengikuti langkah Deen dari belakang.
Deen ternyata membawa dia ke dalam ruangan kerjanya.
“Duduk di sini” ujar Deen sambil menujukkan salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
“Baik, pak…” jawab Shana menurut begitu saja.
“Huuuf…!!! Kenapa lagi dia…? Ada apalagi yang terjadi sebenarnya kepada laki-laki ini…? Apakah ini salah satu bentuk cara dia menekan aku lagi…?” batin Shana sambil memperhatikan Deen yang sedang mencari-cari sesuatu di dalam salah satu laci meja di ruangan itu.
“Kontak P3K-nya di simpan di mana, ya…? Kok, nggak ada di sini…?” tanya Deen yang masih sibuk mencari-cari di dalam laci.
“Di laci yang satu lagi, pak…” sahut Shana yang memang dia lebih hapal letak-letak barang di ruangan bosnya itu. Berhubung karena dia yang selalu merapikan ruangan tempat bosnya itu bekerja.
“Eeeh…!!! Pak, biar saya saja” teriak Shana setelah sadar apa maksud dari bosnya itu menyuruh dia duduk diam di sofa dan menanyakan kotak P3K tersebut.
Tetapi, Deen tidak mengubris sama sekali. Dia berjalan menghampiri sekretarisnya itu sambil membawa kotak P3K di tangannya. Lalu dia berjongkok di hadapan Shana dan mulai memeriksa lutut sekretarisnya yang terluka tadi.
Shana semakin merasa canggung melihat bossnya yang langsung turun tangan mengobati lukanya.
“Sepertinya darahnya sudah mulai berhenti” ujar Deen setelah selesai memeriksa.
“Pak, bi-biar saya saja yang bersikan. Saya bisa sendiri kok, pak”
“Apakah kamu tidak percaya aku bisa melakukan pengobatan ringan seperti ini…? Aku sangat paham melakukan perawatan luka seperti ini tahu” jawab Deen menatap tajam yang merasa dirinya diremehkan dan tidak dipercaya oleh sekretarinya itu.
“Aaah. Baiklah, pak…” jawab Shana akhirnya mengalah. Dia tidak tahan melihat tatapan maut dari bosnya itu.
Deen pun mulai dengan membersihkan luka pada lutut Shana dengan cairan khusus, kemudian mulai membersikan sisa-sisa darah yang menempel di sana.
“Kok, tumben sih ini laki-laki jadi seperti ini” batin Shana sambil melirik ke arah Deen yang sibuk membersihkan lukanya. Memang bossnya itu terlihat cekatan dan tidak terlihat seperti baru saja dia melakukannya.
“Aaah, apakah dia berusaha menunjukkan tampangnya sekarang…? Curang sekali. Eeh…!!! Tapi, kalau diperhatikan dari jarak dekat seperti ini dia memang tampan sih” lanjut Shana sambil mulai fokus melihat dan memperhatikan wajah bossnya itu.
Baru kali ini dia bisa melihat bagaimana wajah atasannya itu dari jarak dekat.
“Aah, perih…!!!”
__ADS_1