
Shana yang melihat Deen hanya melihat layar monitor di depannya tanpa membuka pintu di depannya membuat wanita itu bertanya-tanya. Ditambah lagi Shana melihat tangan Deen yang lain terkepal hingga bergetar.
“Deen, ada apa…?” tanya Shana dari belakang yang berjalan menghampiri Deen yang masih berdiri dan terdiam.
Shana semakin heran melihat tubuh Deen yang semakin lama ikut bergetar juga. Shana jadi penasaran dan ikut melihat siapa yang di luar sana yang menekan bell apartemen pacarnya itu.
“Dia siapa…?” tanya Shana yang suaranya terdengar keluar sana lewat intercom pembuka pintunya di depan mereka ketika Shana melihat seorang laki-laki paruh baya di luar sana.
“Aaah, ternyata kamu ada di dalam. Ingatanku juga benar kalau kau masih tinggal di apartemen ini” ujar seorang laki-laki paruh baya dari luar.
“Apa kamu tidak mau membuka pintunya? Padahal kamu sudah sangat lama tidak bertemu dengan ayahmu ini” lanjut si laki-laki paruh baya itu sambil tersenyum licik.
Ya. Laki-laki paruh baya di luar sana adalah ayah Deen, Desmon. Semenjak dia terlibat dengan sebuah kecelakaan di masa lalu, dia memutuskan menyembunyikan dirinya dan tidak pernah menampakkan dirinya lagi.
Tetapi setelah hampir duapuluh tahun lamanya, Desmon kembali menunjukkan wajahnya. Dan itu membuka luka lama hingga trauma yang dialami Deen. Dia berpikir tidak akan pernah lagi bertemu dengan laki-laki jahat itu.
Namun perkiraannya salah besar. Tanpa dia minta, laki-laki paruh baya itu sekarang telah berada di depannya. Hanya pintu saja yang memisahkan mereka sekarang.
Melihat sang ayah muncul lagi di depannya membuat Deen teringat kembali di saat dia waktu masih kecil.
Saat itu dia terbangun dari mimpi buruknya. Dia posisinya dikurung di dalam rumah dan tidak diperbolehkan keluar oleh sang ayah. Walaupun itu hanya sekedar keluar dari pintu rumah saja.
Deen serasa seperti hidup di dalam kurungan penjara. Waktu itu ibunya sudah meninggal dan keluaganya seperti kakek, pamannya tidak mengetahui kondisinya yang sebenarnya di Amerika. Bagaimana ayahnya memperlakukannya, mereka sama sekali tidak tahu.
Deen bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Untuk menghilangkan rasa takut yang dia rasakan, dia mengalihkan pikirannya dengan membaca-baca buku secara randon milik ibu dulu.
Dan kebetulan dia membaca bagaimana mendidik anak yang masih kecil. Walaupun saat Deen masih umur setara dengan anak SD, tetapi setelah membaca buku itu dia paham jika apa yang dilakukan ayahnya selama ini kepadanya bukan perbuatan baik.
Desmon, sang ayah yang sering main fisik, sering juga menyakiti lewat verbal juga. Hingga tindakan kekrasan yang dia alami berulang kali membuat dia trauma.
“Lama sudah tidak bertemu, Deen” sapa ulang laki-laki paruh baya itu lagi dari luar sana.
“Shana…” panggil Deen.
__ADS_1
“Iya…”
“Aku mau keluar sebentar. Ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan dengan laki-laki yang di luar itu. cuma masalah kecil kok” ujar Deen yang berusaha menguatkan dirinya sebelum bertemu dengan Desmon.
Tetapi Shana tidak membiarkan Deen pergi begitu saja. Dia tahu ada yang salah dengan Deen. Dia langsung meraih dan menggenggam tangan Deen dan menahan laki-laki itu.
“Kamu tidak apa-apa? Dia… bukannya laki-laki yang pernah kamu ceritakan itu? orang yang menyakitimu sewaktu kamu masih kecil dulu?” ujar Shana seraya bertanya.
“Iya, benar” jawab Deen
“Aku tidak mau kamu bertemu dengan orangtua seperti dia. Jadi…”
Belum selesai Deen ngomong, ucapannya langsung dipotong Shana.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menemanimu” ujar Shana yang membuat Deen kaget.
“Suruh saja dia masuk ke dalam. Jangan kamu yang pergi ke luar” lanjut Shana meyakinkan Deen. Karena Shana melihat Deen yang masih seprti menyimpan kekhawatiran bertemun dengan ayahnya yang masih menunggu mereka membukakan pintu.
Dan akhirnya di sinilah mereka, duduk di ruang tamu apartemen Deen. Desmon duduk sambil menyilangkan kakinya seolah-olah dia yang berkuasa.
“Waah… apartemenmu ini sangat bagus, ya. Sepertinya aku tidak cocok datang ke tempat ini” ujar Desmon basa-basi.
Shana tiba-tiba merasa kalau keberadaan dia tidak cocok di sana. Tapi, Shana baru kali ini melihat Deen begitu gugup. Dan dia punya firasat bahwa dia tidak boleh meninggalkan Deen sendirian menghadapi laki-laki yang pernah membuat pacarnya itu trauma.
“Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang” batin Shana sambil berpikir keras.
“Biar bagaimana pun keluarga tetaplah keluarga. Mungkin saja mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dengan berbicara baik-baik.”
“Kenapa ayah masih balik ke negara ini? Bukannya aku sudah berkali-kali bilang jangan pernah balik lagi ke sini” ujar Deen di tengah-tengah keheningan mereka bertiga. Dan perkataan Deen barusan membuat Shana terlonjak kaget.
Dia berpikir sepertinya Deen sama sema sekali sudah tidak mau bertemu dengan sang ayah. Bahkan mungkin sekarang bertemu dengan ayahnya itu adalah salahan besar.
Dengan mencoba santai dan mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja, Desmon pun tersenyum.
__ADS_1
“Ayah sudah berkali-kali juga mengirimkanmu surat. Tetapi kenapa kamu sama sekali tidak pernah membalasnya. Makanya ayah datang ke sini dan menemuimu langsung.”
Deen teringat dengan Vina yang beberapa waktu yang lalu membawa surat dari ayahnya. Mungkin selama ini pamannya selalu menyembunyikan surat-surat yang lain dari dirinya. Karena mereka juga berpikir jika itu tidaklah penting untuk ditunjukkan kepada Deen.
“Rupanya…” Desmon menggantung kalimatnya lalu melirik ke arah Shana yang duduk di samping Deen.
“Rupanya kamu sudah punya pacar yang cantik. Sepertinya kamu sudah banyak berubah dan tidak seperti dulu lagi” ujar Desmon.
Sementara Shana masih berusaha mendengarkan percakapan anak dan anak itu.
“Oh iya, maaf aku lupa dan baru mau memperkenalkan diri. Saya Desmon ayah Deen. Namamu siapa…?” ujar Desmon sambil menjulurkan tangannya.
Plaaakkk….!!!
Deen langsung menepis tangan Desmon hingga tangan laki-laki terlempar. Desmon meringis kesakitan akibat dari tepisan tangan Deen yang sangat kuat. Deen tidak mau jika tangan kotor ayahnya itu sampai menyentuh Shana.
“Aaargghh…” ringis Desmon sambil mengelus tangannya.
“Katakan saja apa mau dan tujuanmu datang ke sini. Jangan sampai aku bertindak lebih jauh lagi, karena sekarang aku masih berusaha menahan tidak mencek*kmu” ujar Deen dengan geram. Dia sama sekali sudah tidak bisa menyembunyikan emosinya melihat kedatangan sang ayah yang berpura-pura hubungan mereka baik-baik saja.
“Dasar anak kurang ajar. Kamu sekarang sudah besar ya makanya bisa ngomong tidak sopan seperti itu” ujar Desmon dengan nada marah. Karena dia baru melihat jika Deen sudah berani melawannya.
“Kau sudah lihat kan, nak?” lanjut Desmon sambil menatap Shana.
“Eh, ya? Kenapa?” tanya Shana yang tiba-tiba Desmon mengajaknya berbicara.
“Aku sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu dengannya. Kami hilang kontak dan tidak bisa berkomunikasi. Padahal dia adalah anakku satu-satunya. Ayah mana yang tidak khawatir?”
“Tetapi sekali kami bertemu dia malah mengatakan akan mencekikku. Hahaha…. Kelihatannya saja dia keren mengatakan seperti itu. padahal sebenarnya dia hanyalah sampah. Mirip sekali denganku. Kalau kamu tidak mau hidupmu rusak seperti istriku…”
Belum selesai Desmon berbicara, Shana reflek mengambil gelas yang berisi air putih di depannya. Dan dia langsung menyiramkan air minum itu ke muka Desmon.
Shana sangat geram dengan apa yang dikatakan laki-laki paruh baya itu. Bagaimana bisa dia mengatai anaknya sendiri dengan sebitan sampah, sementara dia orangtua yang membuat anaknya sendiri trauma.
__ADS_1
“Aah, dasar anak tidak tahu sopan santun” ujar Desmon sambil melap wajahnya yang basah penuh dengan air.
“Tuan. Walaupun anda ayahnya sendiri, tidak pantas anda berbicara seperti itu. Iya kan Tuan Desmon?”