
Di dalam ruangan itu, semua orang sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
“Aduh, harusnya tadi kita jangan minum bir dulu. Jadinya kita nggak bisa makan banyak. Padahal makanannya masih banyak. Aku sudah merasa kenyang banget nih” ujar Nera yang satu meja dengan Shana.
“Iya, katanya makanan-makanan tradisional Indonesia sangat enak-enak. Tapi, ternyata tidak Cuma katanya. Memang benaran enak-enak. Apakah ini karena kita dibayarin dari kantor, ya?” timpal Andin juga.
“Nggak juga. Memang enak semua kok. Eeh, aku sepertinya sudah mulai mabuk, nih. Aku keluar bentar mau cari obat penghilang mabuk dulu, ya?” sahut Shana dan beranjak dari tempat duduknya.
“Kamu mulai pusing? Mau aku temanin pergi nggak?” ujar Andin menawarkan bantuan.
“Tidak usah. Aku masih bisa jalan sendiri kok. Nanti biar aku sekalian beliin buat kalian juga" jawab Shana.
"Ah, iya. Terima kasih” ujar mereka hampir berbarengan.
Setelah kepergian Shana, suasana di antara kedua orang itu menjadi berubah hening.
“Setelah pulang dari sini, Shana sudah tidak bekerja lagi di perusahaan.”
“Iya, benar. Aku juga baru ingat” sahut Nera yang tiba-tiba merasa sedih teman kerjanya itu sudah tidakan akan bersama-sama mereka lagi.
Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba muncul menghantui perasaan mereka. Yang tadinya mereka masih merasa happy-happy, sekarang berubah menjadi seperti ada yang kurang.
Shana keluar dari salah satu apotik terdekat setelah dia selesai membeli dan meminum obat penghilang mabuknya. Dia kembali merasakan udara segar di luar yang berasal dari hembusan angin laut ke daratan.
“Ah. Dari tadi aku malah minum banyak karena merasa acara makan bersama tadi seperti acara perpisahanku saja” gumam Shana.
“Dan sampai sekarang aku masih belum punya waktu mengobrol dengan Deen. Kapan sebaiknya aku meminta maaf, ya? Ngomong-ngomong, liburannya kok tiba-tiba ke Bali, ya? Tidak pernah liburan sampai ke luar negeri. Apa ada hal istimewa yang terjadi di kantor?” bantin Shana.
Saat wanita itu akan balik ke tempat acara makan bersama mereka, Shana melihat di depan sana dua orang laki-laki sedang berbincang-bincang.
Shana ingin menyaa mereka dan bermaksud langsung menghampiri keduanya. Jadi, Shana pun dengan langkah cepat berjalan menuju kedua laki-laki itu yang dia kenal adalah karyawan perusahaan tempat dia bekerja juga.
Tetapi langkah kakinya tiba-tiba terhenti karena dia mendengar percakapan kedua laki-laki itu.
“Hei, kamu sudah dengar belum?”
“Soal apa masalah apa?” tanya salah satu si laki-laki.
“Soal liburan kita kali ini. Katanya liburan kita kali ke Bali di adakan secara tidak langsung untuk acara perpisahaan sekretaris pak Deen” timpal yang lain.
__ADS_1
“Sekretarisnya siapa namanya itu itu? Shana yang terakhir kalau nggak salah kan namanya? Sebelumnya
aku berpikir kalau dia akan tahan menjadi sekretaris Pak Deen sampai akhir. Ternyata tidak, akhirnya dia keluar juga.”
“Kalau dipikir-pikir dari jadwal liburan berasama dari kantor biasanya kan tidak sekarang. Dan kali ini tiba-tiba dimajukan. Bisa saja liburan kali ini untuk menyesuaikan dengan hari keluarnya si sekretaris itu dari perusahaan.”
“Tempat kita liburan kali ini juga sangat berbeda. Selama ini kita kan liburannya di tempat wisata dalam negeri saja. tapi kali ini kita sampai ke luar negeri. Pasti Pak Deen punya perhatian khusus kepada sekretarisnya itu."
"Waaah…! Jangan-jangan Pak Deen…?” si laki-laki satu sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Ya kita tahulah. Kalau laki-laki dan wanita sering bersama pastinya ada apa-apanya.”
“Tapi kan harusnya urusan pribadi dan pekerjaan kan tidak boleh dicampur adukkan.”
Sementara Shana yang diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua orang itu membuat perasaanya menjadi tidak nyaman.
“Sebenarnya mereka itu membicarakan apa?” batin Shana bertanya-tanya di dalam hatinya. Dari keseluruhan perbincangan kedua laki-laki itu Shana merasa mereka tidak menyukai apa yang sedang terjadi saat ini.
“Itu karena berdua yang tidak tahu malu. Kamu pernah dengarkan kalau Pak Deen tidak tahu jelas dari mana asal-usulnya. Ditambah lagi sekretarisnya yang mencoba menggoda Pak Deen yang statusnya sekarang menjadi anak konglomerat.”
Shana sangat kaget dengan apa yang dikatakan laki-laki itu. sepertinya keduanya sangat tidak menyukai Deen yang masih bisa dibilang diusia yang sangat mudah.
Tetapi sudah menjabat diposisi yang sangat inginkan oleh mereka yang berharap percayakan mengemban jabatan itu. namun karena kedatangan Deen, akhirnya mereka tersisihkan.
“Kalau pun Deen punya perhatian khusu samaku, kenapa mereka menuduh aku yang menggoda Deen” batin Shana sambil pergi berlari meninggalkan tempat itu.
Shana berlari menuju pantai dan tidak memperdulikan sekitarnya. Dia hanya ingin segera menemukan tempat untuk menenangkan hatinya. Dia yang tidak tahu apa-apa apa malah dituduh yang tidak-tidak.
Shana juga jadi teringan dengan apa yang dikatakan temannya Myesha.
“Jika tidak ingin sakit hati terlalu dalam, carilah laki-laki yang tingkatan sosialnya setara dengan kita” ujar Myesha saat itu.
“Aku juga tahu jika Deen memang berbeda denganku. Aku hanya…”
Buuggh…!!!
Shana menabrak seseorang di depannya. Karena dia tidak melihat kedepan akhirnya dia tidak melihat ada orang yang berjalan di depannya juga.
Dia hampir jantuh dan untuknya orang yang dia tabrak itu dengan sigap menangkap tubuhnya.
__ADS_1
“Shana…!”
“Kamu kenapa…?”
Ternyata orang yang Shana tabrak itu itu adalah Deen. Laki-laki itu juga sedang berjalan-jalan di sekitaran pantai yang tidak jauh dari tempat mereka makan tadi.
Deen sangat kaget melihat Shana yang berlari sedirian di sana dan terlihat sangat menyedihkan. Shana juga sama-smaa kaget. Dia mengangkat wajahnya dan melihat di depannya itu adalah atasannya.
Dengan wajah yang dibanjiri air matanya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Bahunya bergetar menahan tangisannya mengingat obrolan kedua laki-laki tadi.
Tapi setelah dia menyadari siapa yang sedang berdiri di depannya itu, Shana langsung mengusap air matanya. Lalu dia sedikit mundur ke belakang untuk menjaga jarak dari Deen.
Sementara Deen sendiri sangat khawatir dengapadan apa yang terjadi pada Shana. Dia melihat wanita itu masih dia dan menundukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Shana, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa ada orang yang mencelakaimu di sini?” tanya Deen sambil memegang pundak Shana kembali.
“Huuufff…” Shana menghembuskan napas panjangnya sebelum menjawab pertanyaan dari Deen barusan.
Deen berusaha menunggu Shana ngomong dan tidak buru-buru atau mendesak Shana supaya segera memberitahunya. Dia tahu jika wanita itu butuh waktu sebentar untuk menenangkan hatinya.
Jika dilihat Shana yang sampai menangis begitu, mungkin saja masalah yang dia alami saat ini memang sangat mengganggunya.
“Pak, saya ingin menanyakan soal liburan kali ini” ujar Shana akhirnya setelah dia merasa cukup tenang.
“Ah. Soal itu. Maaf sebelumnya aku tidak sempat memberitahumu. Tapi, kamu tidak perlu khawatir soal itu. Apa liburan kali ini terlihat sangat berlebihan, ya?” ujar Deen sambil menggaruk tengkuknya.
“Tadinya aku pikir kalau kamu sampai hari terakhirmu hanya di kantor saja, aku merasa tidak enak. Berhubung jadwal liburan karyawan perusahaan kita hanya selang satu minggu saja, jadi aku meminta dipercepat saja dan…”
“Kenapa bapak susah-susah memikirkan sampai hari terakhir saya bekerja? tanya Shana memotong kalimat Deen membuat laki-laki itu sedikit kaget.
“Apa…?
“Bapak kan masih bekerja di perusahaan. Kenapa bapak tidak berpikir sebagai pempin? Bagian bidang lain yang mengurusi jadwal perubahan liburan yang mendadak bapak minta itu akan menyusahkan mereka.”
“Dan sepertinya bapak juga tidak memikirkan nanti bagian personalia dan bidang lain menilai hubungan kita seperti apa. Harusnya bapak tidak perlu melakukan hal seperti ini kepada saya” lanjut Shana dengan kesal.
“Shana, maaf kalau…”
“Lagi pula kalau aku berhenti bekerja bukan berarti sayang akan menghilang dari muka bumi ini. Kalau bapak mau bertemu dengan saya, kapan saja bisa kok” pontong Shana lagi.
__ADS_1
“Eeh, barusan aku ngomong apa?” batin Shana yang terdiam dan malah kaget dengan apa yang dia katakan terakhir. Tak terkecuali Deen. Laki-laki itu suka sempat kaget mendengar apa yang dikatakan Shana.
Menyadari di sekitar mereka orang-orang mulai ramai, Deen pun mengajak Shana mencari tempat yang nyam buat mereka mengobrol.