
"Entahlah. Mungkin saja karena selama ini aku sudah berkerja terlalu keras. Aduh, aku harus bagaimana, ya...? Aku jadi teringat lagi ucapan laki-laki itu yang mengatakan aku punya potensi yang sangat luar biasa."
"Aaah... Tidak apa-apa. Apa pun alasannya, aku akan tetap mengundurkan diri. So, mari kita berangkat kerja" batin Shana yang setelah merasa dirinya sudah rapi langsung menyambar tas kerjanya dan pergi berangkat ke kantor.
Sementara Deen yang masih bersiap-siap, dia sedang merapikan dasinya masih saja diintili adik sepupunya, Vani. Masih penasaran ada hubungan apa antara kakak sepupunya itu dengan gadis yang tadi, Shana.
Dia berpikir tidak mungkin hanya hubungan antara atasan dan bawahan saja. Padahal keduanya sudah menginap di atap yang sama tadi malam.
"Kak, kelihatannya kakak merasa senang."
"Benarkah...?"
"Maksud aku, kakak terlihat lebih senang dibandingkan dulu. Apa karena pacar kakak yang tadi itu...?"
Vani masih saja mencoba mengorek-ngorek informasi tentang hubungan kakak sepupunya itu dengan Shana. Padahan rahang Deen sudah sampai terasa kaku menjelaskan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Sudah berapa kali aku bilang. Dia bukan pacarku, dia sekretarisku yang sudah lama bekerja di perusahaan."
"Masa sih...? Tapi, kenapa yang aku lihat sangat berbeda dengan apa yang kakak katakan barusan, ya...?"
"Apa jangan-jangan waktu kakak yang menanyakan di mana tempat makan yang bagus waktu itu ada hubungannya dengan pertemuan kita hari ini...? Iya, benar kan, benar kan...?"
"Aaah, kamu makin didiamin makin ke sana ke mari otaknya. Udah, nggak usah dibahas lagi masalah itu, nggak selesai-selesai nanti. Sebenarnya kamu datang kesini mau ngapai...?" tanya Deen untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Kepalanya bisa pusing tujuh keliling jika membiarkan Vani terus-terusan membahas topik yang itu-itu saja dan tidak jelas.
"Aah, iya. Aku datang kesini untuk mengantarkan sesuatu."
Vani merogoh-rogoh tasnya dan menacari-cari sesuatu di dalam sana. Dia pun mengeluarkan sebuah amplob berukuran sedang dan menyerahkannya ke Deen yang terlihat penasaran.
"Ini…"
__ADS_1
Deen agak ragu menerima amplob tersebut.
"Sebenarnya aku tidak mau memberikannya kepada kakak. Tetapi, dia mengirimkannya ke rumah karena kakak tidak pernah bisa dihubungi."
"Dasar tidak tahu malu. Kok bisa-bisanya kakak punya ayah seperti dia. Isi surat itu pasti kakak sudah bisa tebak. Kakak tidak perlu selalu berbaik hati kepadanya. Kalau aku menjadi kakak, sudah kublender itu laki-laki."
"Tapi, sebelumnya aku minta maaf, ka. Karena aku penasaran, aku sempat membaca isi surat itu. Katanya dia kan kembali ke sini lagi."
Deg...!!!
Mendengar omongan dari Vani barusan, Deen kaget bercampur perasaan cemas. Ada perasaan yang tidak bisa dia sembunyikan yang selama ini sudah berusaha dia kubur sedalam-dalamnya. Dan kembali mencuat ke permukaan lagi setelah mendengar ayahnya akan kembali lagi ke negara mereka.
Deen meremas amplob tersebut hingga menjadi gulungan bola kertas. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana persisnya perasaannya sekarang.
"Dia mau kembali ke sini...???"
Beberapa hari kemudian setelah pertemuan keduanya. Shana telah memantapkan keputusannya jika dia akan tetap dengan rencana awalnya. Dia akan tetap mengajukan surat pengunduran dirinya.
Dan sekarang dia duduk di depan laptopnya untuk mengetik kembali surat pengunduran dirinya yang baru.
"Huufff...!!! Kenapa waktu pertama kali aku menyerahkan surat resignku sangat berani sekali, ya. Berbeda sekali dengan sekarang. Kalau aku buat karena alasan pribadi...?"
Shana terdiam beberapa saat untuk memikirkan apakah alasan dia mau resign itu sudah cocok apa belum.
"Aku pasti bisa. Walupun aku tidak punya rencana yang detail kedepannya bagaimana, tapi yang jelas aku tetap mau keluar."
"Ayo, Shana. Pikirkan pelan-pelan. Alasan aku mau keluar dari kantor adalah karena aku punya perasaan sama atasan...!!! Aduuuh, itu nggak mungkin banget. Aku tidak mau bilang seperti itu."
"Uuugh...!!! Lagian tidak adil sekali, kenapa wajahnya begitu ganteng, siih..."
"Nona Shana, aku tidak mau kehilangan kamu. Aaaarggh...!!! Jadi teringatkan kata-katanya itu. Setelah aku mengatakan mau mengundurkan diri, dia jadi berubah seratus delapan puluh derajat."
__ADS_1
"Awalnya aku pikir dia akan menekanku seperti yang dibilang Myesha waktu itu. Tetapi, dia malah berubah baik tanpa alasan. Sial, Aku juga sempat berpikir kalau dia manusia robot yang tidak punya perasaan. Tak kusangka dia malah memiliki sikap semanis itu."
"Aaah, entahlah..."
"Bagaimana bisa fokus kerja kalau kondisi seperti ini terus. Kalau pun terjadi seperti kisah di film-film dan hubungan kami semakin dekat. Lalu bagaimana ke depannya. Deen bukan direktur biasa. Dia keturunan keluarga konglomerat, orang yang berbeda dari duniaku."
"Bisa-bisa nanti keluarga besarnya akan memperlakukan aku seperti yang di drama-drama itu. Aaah...!!! Tidak mau, tidak mau. Aku tidak mau begitu."
Perasaan Shana campur aduk. terkadang dia merasa takut dengan kehidupannya kedepan bagaimana. Tetapi terkadang juga dia terlihat sangat bertekat untuk melakukan sesuatu."
"Kali ini aku harus benar-benar keluar. Semangat Shana. Lagi pula Vani sudah salah paham. Jadi, tetap lanjut saja."
Di kantor, Shana mencari-cari waktu yang tepat untuk menyampaikan surat pengunduran dirinya yang baru. Dari semenjak tadi pagi dia sudah memperhatikan sang atasan. Tetapi, hingga siang ini juga Shana tidak menemukan waktu yang tepat.
Tidak ada waktu yang tepat untuknya mengajak Deen berbicara.
"Bagaimana ini...? Kapan lagi surat resignku ini akan ku berikan" batin Shana dari balik meja kerjanya yang melihat Deen dari tadi mondar-mandir sambil mengobrol dengan seseorang lewat ponselnya.
"Pokoknya hari ini aku harus bicara" ujar Shana penuh tekat sambil kembali memperhatikan bosnya yang masih sibuk dengan teleponnya.
"Kenapa hari ini sih dia sibuknya. Padahal hari-hari sebelumnya aman-aman saja. Ada saja halangan, uuuffff...!!!"
Shana memperhatikan pembicaraan sang bos dengan lawan bicaranya di seberang sana. Entah siapa itu, tetapi terlihat mereka semakin serius mengobrol. Dia sesekali mendengarkan Deen memberikan perintah. Mungkin ada sesuatu masalah yang harus diselesaikan sepertinya.
"Tapi kalau aku tidak bicara hari ini, kedepannya aku akan ragu lagi. Pasti akan menunggu beberapa hari kedepan, seminggu kedepan, satu bulan kedepan, hinga nanti aku nggak jadi keluar."
"Aaaah, TIDAK...!!!"
"Behubung dia lagi super sibuk, lebih baik aku langsung kebagian personalia saja. Kesannya memang tidak sopan. Tetapi mau gimana lagi. Tadinya aku mau bicara langsung dengannya karena sudah begitu perhatian samaku."
"Tidak apa-apa. Nanti aku jelaskan dengan baik-baik samanya. Sekarang langsung ke personalia saja" gumam Shana yang tidak mau menunda waktunya lagi.
__ADS_1
Dia pun memasukkan surat penguduran dirinya ke map file. Dan buru-buru beranjak dari kursinya. Deen yang kebetulan keluar dari ruang kantornya pun melihat sekretarisnya yang tergesa-gesa itu pun memanggilnya.
"Shana...!!!"