Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Pengakuan


__ADS_3

Di depan apartemen Deen, Shana sedang menunggu taxi datang. Sesekali dia melihat ponselnya dan memeriksa sesuatu. Tidak di sangka ternyata Deen ikut turun dan menyusul Shana keluar.


“Shana” panggil Deen dengan napas yang ngos-ngosan.


Deen berdiri di depan Shana sambil mengatur napasnya. Shana sendiri sangat kaget kenapa Deen menyusulnya keluar. Dia jadi merasa tidak enak karena dengan tangan sang bos yang masih memakai arm sling sambil mengerjar dia, pasti membuat atasannya itu kesulitan.


“Pa-pak…!!!”


Sebenarnya Deen juga bingun dengan dirinya sendiri kenapa harus mengerjar sekretarisnya itu sampai keluar. Padahalkan Shana tadi sudah bilang kalau dia mau pulang karena ada urusan mendadak.


Tetapi Deen menghiraukan rasa bingunggnya itu. Dia tidak bisa menjelaskan kenapa dia sekarang malah merasa bersalah melihat kepergian Shana dari apartemennya.


“Shana, ini salahku tidak memberitahu Nicholas sebelumnya. Maaf membuat tidak nyaman dan-”


“Tidak apa-apa, pak. Sungguh aku memang ada urusan mendadak makanya izin pulang. Bukan karena aku merasa tidak nyaman berada di sana” jawab Shana mencoba meyakinkan Deen.


“Nona Shana, ini ada yang ketinggalan.”


Tiba-tiba Nicholas juga muncul di belakang Deen sambil menunjukkan mantel Shana.


“Saya tidak akan mengintrogasi kalian berdua. Tenang saja nona Shana. Aku juga tidak akan bilang ke siapa-siapa baik itu ke teman kantor kalian berdua. Jadi, jangan khawatir” lanjut Nicholas.


“Kalian berdua semoga hidup dengan bahagia. Aku merasa tidak nyaman telah mengganggu waktu kalian.”


Mendengar perkataan Shana barusan, kedua laki-laki itu kebingungan. Terlebih Deen sangat syok dengan kalimat yang barusan keluar dari mulut sekretarisnya itu.


Sementara Nicholas sendiri hanya bisa terdiam melongo menatap Shana yang menunduk dan terlihat tidak nyaman.


Apartemen Deen…


“Hahaha….”


Nicholas tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit. Ya. Mereka bertiga kembali ke dalam apartemen Deen lagi untuk meluruskan kesalah pahaman Shana melihat hubungan Deen dan Nicholas.


Nicholas tertawa sambil memegangi perutnya sambil memukul-mukul sofa kosong di sampingnya.


“Kamu pikir kami ada hubungan, pacaran karena ingin mau menoton berdua? Aaah, kamu lucu banget sih” ujar Nicholas sambil menyeka wajahnya dengan kasar.


Shana hanya bisa tersenyum canggung melihat laki-laki itu mentertawakannya. Dia duduk di antara kedua laki-laki itu dan terlihat seperti orang bodoh.


“Bukan hanya karena itu saja. Di kantor juga aku sudah pernah melihat kalian berdua duduk berdekatan dengan posisi yang sangat mesra” batin Shana.

__ADS_1


“Aaah, rasanya aku mau sembunyi saja” lanjut Shana sambil menguyah makanan yang sudah Deen pesan tadi.


“Nona Shana memang sangat lucu. Hahaha…” Nicholas masih belum berhenti tertawa karena melihat Shana yang terdiam dengan mulut penuh sambil mennduk. Dan membuat dia semakin terlihat menggemaskan.


“Yang mau kami tonton itu film aku sendiri. Aku baru menyelesaikan syuting film terbaruku. Biasanya aku selalu meminta pendapat Deen dan mengajaknya menonton filmku kalau ada yang selesai.”


“Soalnya respon dan mimik mukanya itu kalau dimintai pendapat atau kritikan sangat cocok. Dan ini sudah kebiasan kami kami berdua. Eeh, bukan. Maksud aku kebiasaanku sendiri meminta pendapat dia.”


Akhirnya Nicholas menjelaskan dengan detail.


“Aah, begitu rupanya. Aku tidak tahu” jawab Shana masih dengan wajah tidak nyamanya yang telah salah pahan selama ini tentang kedekatan kedua laki-laki itu.


“Kalau kamu mau ikut menonton juga nggak apa-apa kok. Maaf ya nona Shana” ujar Nicholas sambil tersenyum ke arah Shana.


“Aku tidak menyangkan jika kamu salah paham sampai sejauh ini” timpal Deen.


“Maaf, pak. Pikiran saya yang sudah berlebihan” balas Shana sambil menundukkan kepalanya.


Sementara Nicholas diam-diam melihat interaksi kedua orang itu yang akatanya atasan dan bawahan. Justru menurut Nicholas Deen dan Shanalah yang ada sesuatu.


“Waah… Mereka berdua ini. Sepertinya benar-benar ada sesuatu, ya?” gumam Nicholas diam-diam menilai.


“Katanya ada urusan penting” ujar Deen mengingatkan Shana yang tidak mau jika urusannya itu nanti malah bermasalah.


“Aaah, iya. Benar, pak. Saya lagi ada urusan dan saya harus segera pergi” jawab Shana buru-buru.


“Aku harus segera cepat kabur dari situasi memalukan ini. Aku sudah dua kali salah paham dengan Deen. Mengira dia sudah menikah dan punya anak. Dan sekarang mengira dia memiliki hubungan khusus dengan sepupunya.”


“Ayo aku antar” ujar Deen sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Ti-tidak usah, pak” jawab Shana langsung menolak.


“Ini sudah malam loh” ujar Deen.


“Tidak apa-apa, pak. Saya bisa sendiri. Lagian mesan taxi kan sangat gampang. Kalau begitu saya pulang dulu. Terima kasih traktiran makan malamnya, pak” ujar Shana sambil membungku.


“Nona Shana, kamu juga sudah bekerja keras hari ini. Hati-hati di jalan, ya” ujar Nicholas sambil melambaikan tangannya.


Sementara Deen sendiri malah bengong melihat kepergian Shana. Nicholas yang memanggilnya berulang kali sampai tidak di dengan laki-laki itu.


“Deen…!!!” panggil Nicholas lagi dengan suara yang cukup keras dan akhirnya Deen tersadar dari lamunannya. Deen pun menoleh ke arah Nicholas sambil duduk kembali.

__ADS_1


“Shana…? Sejak kampan kamu memanggil nama sekretarismu itu dengan benar. Padahal dulu kamu sekali pun tidak pernah memanggilnya dengan benar. Bisa kamu jelaskan kenapa?” pinta Nicholas yang melihat perubahan dari sepupunya itu dengan diam.


Terpaksa Deen pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. karena jika Deen tidak memberitahukan Nicholas, laki-laki itu nanti bisa membuatnya pusing sendiri.


Namanya juga Nicholas si bocah tengik.


“Ooh, begitu ya?”


“Heumm…” Nicholas bergumam sambil menatap wajah Deen dengan seksama. Dia sedang memikirkan sesuatu.


“Ternyata kamu sudah dewasa rupanya. Sudah berani membawa wanita yang kamu sukai ke apartemenmu sendiri.”


“Uhuuk… uhuuk…” Deen terbatuk karena kesedak mendengar kalimat dari Nicholas barusan.


“Aku tidak membawa dia ke apartemenku. Aku hanya meminta dia bekerja dari sini supaya lebih menghemat waktu saja” jawab Deen sambil menyeka bibirnya.


“Berarti kalau wanita yang kamu suka, benar dong? Soalnya barusan kamu tidak ada menyangkalnya” balas Nicholas lagi dengan kecepatan angin sebelum Deen mengoreksi jawabannya.


Deen pun dibuat kaget setengah mati dengan cerocosan pertanyaan sepupunya itu. Tetapi, detik kemudian Deen mengubah raut wajahnya seperti orang yang ketangkap basah melakukan sesuatu.


“Aku memang… Kelihatan banget, ya?” ujar Deen lagi.


“Aku kan tahu kamu. Dari tatapanmu yang dipenuhi sinar bulan bertaburkan bintang-bintang itu kelihatan jelas, loh” ujar Nicholas sambil terkekeh penuh dengan percaya diri.


“Kamu ngomong apa sih? Aku tidak seperti itu, kok” balas Deen dengan sedikit kesal karena tanpa dia sadari Nicholas bisa menilai dirinya.


“Sebenarnya dari tadi aku sangat penasaran, itu tanganmu kenapa? Kamu kan orangnya sangat berhati-hati” ujar Nicholas seraya bertanya.


“Aaah, ini. Aku sedang mau menghentikannya.”


“Apa…? Menghentikan bagaimana maksudmu?” tanya Nicholas bingung.


“Hei, kamu…? Ternyata benar, ya. Kelakuanmu ini bisa dibilang seperti obsesi bukan? Hati-hati, jangan samapi kelewat batas” lanjut Nicholas lagi.


“Aku tahu” jawab Deen spontan.


“Aku… Mulai sekarang aku akan menghormati keputusan Shana. Memaksa seseorang agar menyukai kita dengan menggunakan jabatan adalah penyalah gunaan kekuasaan.”


“Haaah… Begitu rupanya” gumam Nicholas mendengar jawaban Deen barusan.


“Tapi kalau dipendam sendiri dan kamu malah sakit sendiri, loh? Sakit hati, tahu nggak?”

__ADS_1


“Kondisi kesehatanku lebih baik dari kamu” jawab Deen tidak mau kalah.


“Aaaiissh, dasar. Orang lagi serius juga. Ayolah, nonton filmku saja” ujar Nicholas menyudahi obrolan mereka.


__ADS_2