Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Jujur Satu Sama Lain


__ADS_3

Mereka berdua pun menghindar dari keramaian itu dan memilih tempat yang lebih menjorok ke pantai. Karena di sana orang tidak ada dan mereka bisa menikmati angin laut yang sangat sejuk.


Lagian juga Deen tidak mau ada orang atau hal lain yang mengganggu obrolan mereka.


“Sepertinya kita perlu pergi sejauh ini. Tidak ada orang lagi, kan?” ujar Shana seraya bertanya.


Deen yang tersenyum melihat reaksi Shana yang seperti celingak-celinguk memastikan orang tidak ada di sekitar mereka lagi.


“Shana, a…”


“Pak…! Soal yang waktu itu, saya tidak sengaja melakukannya. Dan sekarang saya meminta maaf” potong Shana langsung sambil membungkukkan badannya.


“Kalau bapak merasa tidak nyaman, atau merasa tersinggung, mungkin saja jadi merasa malu. Saya sangat meminta maaf akan hal itu. Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya


dengan sengaja” lanjut Shana lagi.


“Eeeh…”


Deen menatap cara Shana yang berlebihan meminta maaf kepadanya.


“Tidak, kok. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kalau kamu meminta maaf, aku juga harus meminta maaf juga” jawab Deen yang masih menatap Shana.


“Jangan. Bapak tidak perlu meminta maaf. Bapak kan tidak melakukan apapun” ujar Shana sambil melambai-lambaikan kedua telapak tangannya di depan Deen.


“Tidak melakukan apa? Justru akau juga ingin melakukannya” jawab Deen membuat Shan diam dan bengong menata laki-laki di depannya itu yang mendekatkan wajahnya menatap Shana.


Ingatan Shana pun kembali di saat dia yang duluan menc*um Deen. Sebelumnya dia memang lupa detailnya apa yang mereka lakukan. Tetapi saat Deen mengatakan pria itu juga ingin melakukannya, baru Shana sadar jika atasannya itu juga malah membalas c*umannya.


Deen sama sekali tidak menolaknya atau mendorongnya. Laki-laki itu malah semakin memperdalam c*uman mereka dan memegang kedua sisi wajah Shana.


Mengingat kembali kejadian itu, wajah Shana seketika itu juga berubah menjadi merah merona. Dia langsung menyembunyikan wajahnya yang terasa panas itu di balik kedua telapak tangannya.


Deen yang melihat itu pun jadi bingung sendiri melihat Shana yang tiba-tiba


malu-malu kucing setelah dia mengungkapkan yang sebenarnya.


"Bapak yakin dengan apa yang bapak barusan bilang? Kenapa...?"


"Bapak kan salah satu keluarga konglomerat di negara ini. Bukankah harusnya bapak mempertimbangkan pendapat dari keluarga bapak?"

__ADS_1


"Biasanya penilaian dari keluarga itu sangat penting terutama seperti keluarga bapak. Belum lagi nanti reputasi akan terlihat buruk" ujar Shana sambil menatap Deen dari sela-sela jari-jarinya yang masih menutupi wajahnya.


"Ah, soal itu. Apakah aku boleh menceritakan sesuatu. Mungkin apa yang akan aku sampaikan ini bisa menghilangkan rasa kekhawatiran yang kamu rasakan" ujar Deen.


"Iya, boleh" jawab Shana sambil menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.


"Pertama, aku adalah anak adopsi. Dari informasi yang aku dengar, orangtuaku mengadopsi aku saat masih di Amerika dulu."


"Saya kembali dari Amerika ketika waktu itu ibu saya meninggal karena kecelakaan. Ibu saya sangat baik."


"Saat masih tinggal di Amerika dulu, saya tidak punya banyak kenangan baik yang bisa aku ingat. Karena ayah mengurung saya sendirian di rumah dan dia beralasan tidak mau repot-repot mengurus saya."


"Ibu yang selalu membela dan memperhatikan saya saat beliau masih hidup. Tetapi karena ada masalah antara ayah dan ibu. Dan mungkin ibu menjadi sakit hati, membuat ibu sakit dan berakhir meninggal karena kecelakaan."


"Saat ibu sudah tiada, ayah saya pernah bilang. Eh, dia tidak pantas dipanggil sebagai ayah. Laki-laki itu bilang penyokong dananya sudah tidak ada. Ternyata selama ini dia hanya menggunakan ibu sebagai sumber keuangannya."


"Dia itu laki-laki jahat yang berpikir jika uang dan kekuasaan bisa didapat dengan mudah tanpa harus bekerja keras. Dia pikir ibu yang berasal dari keluarga kaya bisa dia perasa selamanya."


"Tapi laki-laki jahat itu sangat berbeda dengan paman, abang dari ibu saya. Paman bilang kalau jabatan itu diberikan hanya untuk sementara saja."


"Jika ada orang yang berkompeten, dia siap memberikannya kapan saja. Dan dia benar-benar melakukannya. Walaupun paman sangat menyayangiku dan menganggap aku sebagai anak kandungnya sendiri."


"Saya juga tidak akan mengecewakan paman yang sudah membesarkan saya seperti anaknya sendiri. Yang tidak pernah membedakan aku dengan Nicholas dan Vina."


"Jadi, kesimpulannya adalah aku ini hanya konglomerat sementara saja" ucap Deen mengakhiri ceritanya yang lumayan panjang.


"Tapi kan tetap saja bapak berasal dari keluarga konglomerat. Dan mungkin saja sudah banyak wanita lain yang mengantri menunggu bapak."


"Tapi, kenapa bapak malah..."


"Saat pertama kali dulu kita bertemu, saya sempat berpikir kalau kita punya kesamaan" potong Deen.


"Haaa...? Kita punya kesamaan dari mananya" tanya Shana yang menurutnya tidak masuk akal dengan ucapan dari Deen barusan.


"Tapi aku mengubah pendapatku yang dulu itu dan sadar ternyata kita berbeda. Hingga aku menerima surat pengunduran dirimu. Maaf..."


"Awalnya aku berpikir untuk menghalangi mu supaya tidak jadi resign. Karena kamu sangat kompeten dalam pekerjaanmu. Sampai-sampai aku rela membeli buku dan mempelajarinya agar bisa membuat kamu tetap bekerja di perusahaan."


"Aku juga jadi berusaha unyuk mengubah kebiasaan ku yang mungkin bisa jadi membuat tidak betah bekerja. Karena aku tiba-tiba merasakan perubahan dalam sikapmu. Dulu kamu seorang yang sangat penurut dan berhati-hati. Dan terkadang terlihat takut."

__ADS_1


"Tapi aku malah jadi senang melihat kamu yang seperti itu. Aku jahat bukan? Tapi, karena perubahan yang kamu tunjukkan akhir-akhir ini membuat aku ingin melakukan lebih."


"Dan aku berharap bisa lebih dari sekedar atasan untukmu. Aku ingin bisa tetap melihatmu walaupun nantinya kamu tidak bekerja lagi di kantor."


"Apakah maksud dari penjelasan yang aku sampaikan bisa kamu pahami? Apakah itu sudah cukup jelas?" tanya Deen yang melihat wajah Shana tertegun menatapnya.


Tapi Shana cepat-cepat menyadarkan dirinya dan mengubah posisi duduknya agar terlihat biasa saja


"Ehem... Ehem...."


Shana pura-pura berdehem agar tidak terlihat canggung setelah mendengar penjelasan dari Deen barusan. Dia hampir terhanyut dan tersentuh mendengar penjelasan atasannya itu.


Sampai-sampai bosnya itu mau berubah demi dirinya. Dan itu sama sekali Shana tidak sadari. Dia justru salah paham dengan semua perubahan Deen selama ini.


Dan entah dorongan dari mana, Shana juga mulai bercerita tanpa memikirkan hal lain. Dan untungnya Deen juga tidak memotong sama sekali cerita dari Shana.


"Pak, saya juga salah satu wanita yang kaya mendadak. Seperti yang bapak bilang tadi. Aku juga wanita kaya sementara saja."


"Saya bisa mendadak kaya karena dapat warisan dari orangtua saya yang sudah meninggal kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Mereka meninggal karena kecelakaan juga. Sama seperti ibunya bapak."


"Makanya saya sampai sekarang masih trauma jika ada orang menyalakan klakson apapun yang terlalu lama. Oh, ada lagi. Saya juga kalau mabuk berubah menjadi tidak sopan, bertindak sembarang dan juga menjadi banyak makan. Mungkin bapak sudah tahu itu."


Shana mengatakan itu karena dia sudah pernah mabuk dilihat langsung oleh bosnya itu. Dan bahakan karena dia pernah mabuk jadi berakhir menginap di apartemen sang bos.


Melihat Shana yang sudah berhenti berbicara, baru laki-laki itu menanggapinya.


"Soal dapat warisan aku sudah mengetahui hal itu" ujar Deen membuat Shana kaget.


"APAAA....???!"


"Ka-kapan aku pernah cerita sama bapak soal saya dapat warisan?" tanya Shana dengan wajah kaget dan tidak percaya.


"Kapan...? Jangan-jangan saat kita makan berdua waktu itu..." tebak Shana yang di jawab dengan anggukan kepala dari Deen.


"Dasar kamu sudah gila, Shana...." batin Shana merutuki dirinya sendiri sambil memegang jidatnya dan berpikir dia sudah melakukan hal yang aneh saat itu.


"Ngomong-ngomong, saya juga suka sama bapak" ujar Shana dengan suara rendah.


Dan Shana mengutarakan perasaannya itu sambil melihat ke arah lain. Karena dia malu menatap laki-laki di depannya itu.

__ADS_1


Rasanya dia tidak sanggup mengakui perasaannya yang ternyata sama-sama suka juga kepada atasannya sendiri.


__ADS_2